Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 10


__ADS_3

Suasana kelas 10 B.


Victoria yang duduk seperti biasanya, dan siswa lain yang asik bercerita satu sama lain. Suasana di pagi hari yang masih ceria dan semangat.


"Egmont, seseorang memberikanmu ini!" Menyodorkan sebuah kotak bekal.


Seorang siswi memberikan sebuah bekal pada Egmont.


"Siapa yang memberikanya?" Tanya Egmont penasaran.


"Tetanggaku." Kembali duduk ke tempatnya.


"Kamu jangan ngada-ngada?" Kebingungan.


"Iya, aku benaran gak bohong. Dia ada di kelas 11 B, orangnya lumayan cantik kok tapi iya gitu suka nampol."


Tidak lama kemudian Jiera dan Lovisa masuk ke dalam kelas. Victoria yang melihat Lovisa dan ingin menanyakan hubungan apa di antara Lovisa dan  Arion.


"Lovisa, bisa aku bicara denganmu sebentar?" Ajak Victoria.


"Wah, kamu di ajak oleh Victoria." Jiera merasa senang untuk temannya itu.


"Mengapa dia ingin bicara denganku? Bukankah selama dia ada di kelas ini, dan tidak pernah berbicara denganku?" Merasa curiga.


Jiera menyuruh Lovisa dengan senang. Dia pergi duduk ke tempatnya dan meletakkan tasnya. Jiera yang melihat Egmont memperhatikan kotak bekal di hadapanya, lalu mengambil dan membukanya.


"Apa-apaan sih? Kembaliin!" Mengambil kembali dari tangan Jiera.


"Dimana Lovisa? Apakah dia belum datang?" Tanya Egmont.


"Victoria mengajaknya bicara." Jawabnya dengan kesal karena bekal tersebut.


"Victoria? Lalu mengapa kamu membiarkanya pergi sendirian?" Berdiri dan mencari Lovisa.


"Aishh,,, dasar cowok yang gak bisa apa-apa. Emang dia pikir Victoria langsung mencakar-cakar Lovisa?" Meletakkan tasnya.


Arion pergi mengambil buku bacaan lain dari perpustakaan. Sebagai ketua kelas dia begitu sangat perhatian dengan kelasnya.


"Arion, masih pagi udah ke perpustakaan aja?" Tanya penjaga perpustakaan.


Arion hanya menoleh, lalu mencari buku yang dia inginkan. Suasana perpustakaan sekolah yang begitu besar dan luas serta tersedia khusus ruangan untuk membaca.


"Lovisa? Aku ingin mananyakan sesuatu untukmu, tapi kamu harus menjawab dengan jujur!"


Wajah yang mulai kesal dan berdiri sembari berpura-pura mencari buku.

__ADS_1


"Iya." Jawab Lovisa dengan cepat.


Arion yang mendegar Lovisa di perpustakaan merasa ingin kabur, menginggat kejadian tadi pagi.


"Apakah kamu dan Arion punya hubungan khusus?" Wajah yang terlihat begitu serius.


Lovisa kaget dan gugup untuk menjawab. "Ngg...nggak." Kwatir.


Arion yang mendegar perkataan mereka, merasa penasaran. Arion pun berdiri di sebelah rak buku dekat Lovisa dan Victoria.


"Benarkah? Apa kamu begitu percaya diri untuk membohongiku?" Menyilangkan kedua tanganya di depan dada.


"Apakah Victoria sudah mengetahuinya?" Bicara dalam hati.


"Aku nggak bohong. Aku benar-benar nggak punya hubungan khusus dengan kak Arion." Jawabnya dengan cepat.


"Oh baguslha. Aku peringatkan agar kamu menjaga jarak dengan Arion! Kamu tau kan aku ini siapa? Melihat dengan sombong.


Dan juga aku sudah berkencan dengan Arion. Jadi, klo kamu ingin merebutnya maka tidak sulit untukku mengeluarkanmu dari sekolah ini." Menatap dengan tajam, dan sinis.


Lovisa tertunduk, dan menghela napas. " Oke. Aku pikir kak Arion tidak punya kekasih dengan tempramennya yang buruk seperti itu.


Arion yang mendegar hal itu terlihat begitu kesal, dan mengangkat tanganya seraya ingin memukul.


Victoria menghentakkan tanganya, dan menujuk wajah Lovisa dengan  kegeraman, dan pergi.


"Victoria hati-hatilha dengan timpramen buruknya! Kamu akan menyesal jika mengetahuinya lho. Wheheheh."


Arion meletakkan kembali buku bacaan yang di tanganya ke rak buku. Lalu menghampiri Lovisa dengan wajah penuh emosian yang telah membara.


"Fiuhhhh,,, ternyata aku bisa bicara seperti itu pada orang lain." Merasa senang dengan apa yang di lakukan.


"Mungkin Victoria juga akan membully ku jika aku diam terus."


"Apakah kamu ingin kembali ke desamu?" Arion yang tiba-tiba muncul di dekat Lovisa dengan wajah emosioanl.


"E...ehh, kak Arion sejak kapan disana?" Kwatir.


"Apakah dia mendegar perkataanku tadi?" Berbisik pada diri sendiri.


"Apa kamu pikir aku orang bodoh yang tidak mengetahui apapun?" Berdiri dengan kedua tangan di dalam kantong celana.


"Duh... ******. Pasti dia sudah mendegarkan perkataanku terhadap Victoria." Bisik dalam hati dengan wajah menyesal.


"Dasar orang zaman sekarang benar-benar tidak tau berterima kasih, dan menjelekkan orang yang telah membantunya..."

__ADS_1


Belum selesai bicara Lovisa beranjak merasa kwatir, dan malu di saat menginggat kejadian tadi pagi.


"L O V I S A" Menyebut nama Lovisa dengan huruf satu persatu. Lovisa berhenti. Arion mendekati Lovisa dengan kesal.


Lovisa bingung, dan merasa ketakutan. Dia mundur dan mentok ke rak buku di belakangnya.


"Mengapa dia terlihat begitu marah? Apakah dia benar-benar ingin membunuhku saat ini juga?" Bicara dalam hati.


"Ada apa dengan wajahmu? Apakah kamu sudah takut? Atau hanya berpura-pura?"


Arion semakin mendekat dan menempelkan kedua tanganya pada rak buku. Dia tersenyum sinis dan tatapan yang penuh kebencian.


"Ka...kak Arion. Ak...aku, aku nggak bermaksud menjelekkanmu, tapi aku hanya tidak punya kata-kata untuk ku katakan." Ketakutan dan badan yang mulai gemetaran.


"Pandai sekali kamu berbohong?"


"A..ak...aku tidak bohong, aku benar-baner tidak bermaksud untuk menjelekkan Kak Arion..." 


Lovisa gagap, dan belum selesai bicara Arion merasa marah dan mengayunkan kedua tanganya dengan keras ke rak buku.


 "Brakkk...." Suara keras yang di pantulkan rak buku tersebut.


Lovisa terkejut dan menundukkan kepala merasa ketakutan. Dia semakin gemetaran, dan menutup matanya.


"Ada apa disana. Tanya penjaga perpustakaan." Sembari pergi untuk melihat.


Penjaga tersebut melihat buku-buku yang goyang dan ingin terjatuh. Panik lalu menari Arion.


"Braakkk...."


***


Hmmm,,, kira-kira apa yang akan terjadi iya?


A. Pertengkaran hebat.


B. Percintaan.


C. Keharmonisan.


D. Jawab sendiri!


Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komentar, like, rate dan vote juga iya!😊


~Salam hangatku~

__ADS_1


__ADS_2