
"Paman, hari ini aku ada les musik. Bisakah paman mengantarkanku kesana?" Tanya Arion pada supirnya.
"Baiklha. Tapi apakah kamu sudah makan siang?" Tanyanya
"Hmm. Aku sudah makan di kantin sekolah."
Lovisa tidak tau harus bicara apa. Dia ingin menanyakan bahwa dia perlu ikut atau tidak. Tapi dia merasa gugup tak punya keberanian untuk bicara. Supir itu melihat Lovisa yang sedari tadi meggengam roknya dan menundukkan kepala.
"Apakah kamu juga ikut kesana Lovisa?"
"Ehh, iya." Merasa gugup
"Kenapa dia harus ikut?" Tanya Arion pada supirnya.
"Bukankah tugas dia juga untuk menemani mu?" Saut supirnya.
"Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri, aku juga punya banyak teman di sana, dia hanya perlu menemani di rumah. Aku dengar dari ibu bahwa pekerjaan rumah juga adalah sebagian tugasmu bukan?"
"Iya. Tapi aku juga punya tugas untuk menemanimu. Aku bisa melakukan pekerjaan di rumah, setelah kembali nanti."
"Aku bilang tidak iya tidak. Apa hak mu untuk memaksaku?"
Supir tersebut pun mengalihkan pembicaraan keduanya.
"Benar yang di katakan Arion. Kamu lebih baik tidak perlu ikut, dan paman juga ingin mengajarimu beberapa pekerjaan di taman rumah."Β Tersenyum pada Lovisa.
"Baiklha." Jawab Lovisa.
Arion tidak suka dengan keberadaan Lovisa di rumahnya. Dia hanya kasihan dengan permintaan ibunya, yang memaksakan untuk mencari seseorang untuk menemaninya. Walaupun tidak punya banyak teman tapi Arion sudah terbiasa dengan kesendiriannya.
Di desa
πΊπΊπΊπΊπΊ
Ayah Lovisa yang duduk di bawah salah satu pohon yang tidak jauh dari kebunnya. Dia beristirahat di sana sejenak sebelum melanjutkan pekerjaan. Istrinya datang tidak seperti biasanya, dan membawakan minuman.
"Ada apa? Mengapa kamu kemari?" Tanya pak Darvin.
"Aku hanya ingin melihat-lihat saja."
"Ma, apakah kamu merasa Lovisa akan bahagia di sana?"
"Aku harap begitu. Tapi bagaimana pun tidak ada yang merasa bahagia tinggal dan di sekolahkan orang lain pa. Tapi aku yakin bahwa Lovisa bisa menghadapinya."
"Iya. Tapi seharusnya dia tidak terlalu pendiam. Aku takut Lovisa tidak punya teman seperti biasanya. Dan dia pasti akan merasa begitu kesepian disana."
"Aku juga begitu kwatir. Apakah kita harus menyuruhnya kembali? Aku akan bicara dengan ibu Rani untuk meminjam uangnya. Biarlha Lovisa sekolah di sini!"
"Aku juga setuju dengan pendapatmu ma, kita harus bertanggung jawab sebagai orang tua. Bagaimana pun meminjam uang untuk biaya sekolah anak, tidak lha masalah. Kita tidak perlu merasa malu jika itu untuk hal yang bermanfaat."
__ADS_1
Orangtua yang begitu cemas dan kwatir dengan putrinya. Lira adik Lovisa datang menghampiri ibunya.
" Ibu kak Lovisa ingin bicara denganmu!"
"Hah? Apakah dia datang?"
"Nggak, dia menelpon ke ponsel tante Elin."
Mereka segera bergegas dengan penuh kebahagiaan. Setelah 10 menit orangtuanya sampai dirumah. Yang seharusnya di menghabiskan waktu selama hampir setengah jam dari kebun, tapi di saat mendegarkan putrinya menelpon mereka pun bisa bergegas lebih cepat.
Ibu Elin yang duduk di depan rumah Lovisa dan bicara dengan adik Lovisa yang paling kecil. Orangtuanya tergesa-gesa, melihat hal itu ibu Elin tersenyum dan menyuruh mereka untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
Ibu Elin menghubungi Lovisa dan setelah terhubung memberikannya pada ibu Lovisa. "Halo, ibu?"
"Halo, Lovisa apa kamu baik-baik saja nak?"
Air mata ibunya mengalir, dan merasa begitu merindukan putrinya itu.
"Hmm, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan keadaan kalian ibu? Mengapa ibu menangis?"
"en...engak. Ibu hanya merasa bahagia saja. Ibu pikir kamu tidak akan menelpon ke sini."
"Whahahah. Ibu mengapa bicara seperti itu? Emangnya aku seorang anak yang durhaka?"
Ibunya merasa senang mendegar hal itu. Lovisa tidak pernah tertawa, dan akhirnya ibunya bisa tenang di saat bicara pada putrinya.
Ibunya segera memberikan ponsel tersebut pada suaminya. "Halo nak?"
"Ayah? Ada apa dengan suara ayah? Apakah ayah sakit?"
"Nggak. Ayah hanya sedikit batuk-batuk."
"Apakah ayah sudah banyak minum air putih?"
"Iya, ayah selalu banyak minum air putih. Bagaimana dengan sekolahmu disana apakah kamu merasa senang, dan suka?"
"Iya. Aku senang banget yah. Aku juga punya teman yang baik, dan pintar. Mereka semua sangat baik, berbeda dengan orang di desa. Disini semuanya ramah, dan aku juga tinggal di tempat yang bagus. Jadi ayah tidak perlu kwatir."
"Baguslha, kami jadi bisa merasa senang."
"Apakah ayah ke kebun sendirian? Bagaimana dengan kedua adik-adik? Apakah sekolah mereka baik? Dan mau membantu ibu dan ayah?"
"Iya mereka sudah bisa di andalkan."
"Baguslha. Jika mereka nakal, ayah dan ibu harus segera menghukum mereka. Biar gak membuat masalah."
Setelah beberapa menit mengobrol orangtua Lovisa merasa lebih tenang.Β Ibu Elin tersenyum merasa bahagia dan mengatakan " Kan aku sudah katakan, pasti dia akan merasa bahagia di sana. Lovisa begitu beruntung bukan? Kalian tidak perlu kwatir, lihat saja setelah 2 minggu tinggal di kota, cara bicaranya saja sudah mulai berbeda lebih ceria. Jika kalian ingin bicara dengan Lovisa, datanglha kerumah! Aku tidak keberatan untuk meminjamkan kalian ponselku. Whehehe."
"Terima kasih banyak Elin."
__ADS_1
Di vila green house
πΊπΊπΊπΊπΊ
Lovisa duduk di kamarnya dan menangis. Dia begitu sangat merindukan kedua orangtuanya, dan juga adik-adiknya. Tapi dia tidak bisa melihat orangtuanya merasa sedih, dan berbohong bahwa dia merasa senang dan suka di tempat itu. Dia menundukkan kepalanya dan memeluk kedua kakinya dengan air mata di pipi.
"Aku merindukan kalian. Hiksss....hikssss. aku tidak ingin jauh, dan aku ingin membantu ayah berkebun. Hikss...hikss.... Ayah pasti sangat kecapean sendirian untuk berkebun."
Arion yang tidak sengaja mendegar Lovisa menangis di kamarnya. Dia terdiam berdiri di depan kamar tersebut, lalu pergi. Arion duduk di meja belajarnya dan menggambil sebuah buku dan membacanya.
Lovisa melihat jam dinding yang sudah pukul 18.30 Pm , dan segera memasak makan malam. Karena waktu makan Arion tepat pada pukul 7 malam, tidak bisa telat dan juga cepat. Peraturan itu salah satu yang dibuat oleh Arion sejak kecil.
"Aku tidak bisa telat menyajikan makan malam. Aku harus menyajikan yang cepat di masak saja. Tapi apa iya?" Membuka tempat penyimpanan makanan.
"Aku dadar telur aja deh." Mengambil 3 butir telur dan daun bawang.
setelah 15 menit kemudian Lovisa memanggil Arion untuk makan malam. Dan menyiapkan alat makan.
"Kak Arion makan malamnya sudah disajikan." Memanggil dari depan kamar dengan gugup
"Tunggu 15 menit lagi! Masih terlalu cepat."
"Oh. Baiklha, aku akan menungumu di bawah!"
Lovisa duduk di ruang tamu sembari menonton Tv.
"Andaikan di desa ada Tv pasti kedua adikku akan senang." Merasa sedih
Volume Tv yang tiba-tiba terdegar keras.
"Aduh, bagaimana cara mengecilkanya?" Kaget
"Kenapa ribut di bawah?" Tanya Arion di dalam kamarnya
Lovisa mencari tau cara untuk mengecilkan volume Tv tersebut. Dia tidak mengerti dan takut salah. Dia beranajak ingin meminta bantuan Arion.
"Slipp." Mati.
"Ehh, kak Arion?" Berdiri dengan remote Tv di tangan.
"Jangan menyentuh barang apapun di rumah ini, jika kamu tidak bisa menggunakannya!"
"Ma...maaf kak Arion. Aku tidak akan menyalahkan Tv lagi lain kali."
"Menjijikan." Lalu pergi ke ruang makan.
πππππ
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!π Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."β€
__ADS_1