
Tidak lama setelah Arion melihat telur dadar, dan sedikit sayur di meja makan membuat selera makannya hilang.
"Untung aku masih hidup." Bicara dalam hati dan segera bergegas menemui Arion.
"Kak Arion, aku hanya mendadar telur dan menubis sayur hijau saja." Duduk dan menggambil nasi.
"Ada apa kak?" Tanya Lovisa yang melihat Arion masih berdiri dengan tatapan tajam.
"Apa kamu ingin membunuhku?" Tanya Arion dengan nada tinggi
"Ahhh." Terkejut
"A...aku hanya tidak ingin membuatmu telat makan malam." Gagap
"Aku tidak akan memakan ini." Beranjak pergi ke kamarnya.
Lovisa duduk menatap nasi di piringnya. Air matanya mulai mengalir dari kedua sudut matanya.
"Di desa hanya makan sayur saja sudah cukup. Tapi dia begitu sombong, dan tidak bersyukur. Hiksss."
Memakan perlahan nasinya, danΒ menggambil sayur yang dia masak.
"Adik-adikku pasti belum makan. Hikss...dan aku disini bisa makan-makanan enak, dan mendadar telur sesuka hati. Dan ini semua sudah lebih dari cukup, tapi berbeda dengan orang kota, mereka bahkan tidak selera melihat makanan seperti ini."
Tidak berhenti menangis. Arion berdiri di tangga dan membalikkan badan melihat Lovisa.
"Wanita ini, mengapa menangis di saat makan?" Merasa kesal
"Hei. Jika kamu tidak suka di sini kamu bisa pergi kapan saja!" Teriak Arion pada Lovisa.
Lovisa menoleh ke Arion, dan semakin sedih.
"Bagaimana ini? Ng..ngak mungkin aku pergi." Bicara dalam hati
"Apa kamu dengar? Aku tidak perlu di temani, aku sudah terbiasa sendiri."
"Aku harus berani bicara, ayo lha jangan gugup...hiksss harus bisa bertahan demi sekolah." Bicara dalam hati
Lovisa berdiri, dan menatap ke Arion.
"Aku suka di tempat ini, dan aku nggak mau pergi." Jawabnya dengan tegas
"Pembohong. Sungguh menjijikan." Bicara dengan arogant dan pergi ke kamarnya.
Lovisa merasa lebih baik karena bisa bicara tanpa gagap. Dia melanjutkan makannya dan menghapus air matanya. Tidak lama setelah dia merapikan ruang makan dan teringat akan Arion yang belum makan malam.
"Apakah dia nggak akan sakit, klo gak makan malam?" Tanya Lovisa pada dirinya.
"Tugasku untuk menemaninya berarti tidak termasuk untuk merawatnya." Masuk ke kamar.
Pagi hari
Lovisa bangun jam 5 pagi dan menyajikan sarapan. Dia menyiram tanaman sebelum pergi ke sekolah dan membuka beberapa jendela.
__ADS_1
"Wahh, segarnya." Tersenyum
"Sudah pukul segini, mengapa kak Arion belum bangun?"
Mendekati kamar Arion dan mengetuknya.
"Tokk...tok.. kak Arion, sudah bangun?" Tanyanya
Mengtuk pintu berkali-kali tidak ada jawaban. Lovisa pun mendorong pintu Arion dan,
Β "Arghkkkkk." Menutup mata dengan kedua tangan.
Arion yang berdiri dengan handuk di pinggangnya dan setengah badan yang telanjang.
"Me...mengapa kak Arion tidak menjawabku?" Gagap dan ketakutan.
Arion menyilangkan kedua tanganya di depan dada dan memperhatikan tingkah Lovisa, dengan kesal.
"Apa aku harus menjawab?"
Bu...bu...bukan begitu. Aku takut kak Arion akan telat ke sekolah jika aku tidak bagunkan." Masih menutup mata.
"Heee, dasar wanita gila. Yang telat aku atau kamu?" Dengan arogant.
"Hah? Maaf kak Arion aku nggak lihat apa-apa kok."
Β Segera pergi, dan melihat jam sudah pukul 06.30 Am. Lovisa terburu-buru, dan nggak sempat sarapan.
"Paman, nggak usah tunggu dia!" Merasa masih kesal
"Kenapa? Dia bisa telat jika menunggu bis." Jawab supirnya.
"Paman?" Dengan tatapan tajam.
"Ehh, kak Arion tunggu dulu! Paman tunggu!" Berlari secepat mungkin sembari melambaikan tangannya.
"Bagaimana ini? Aku benar-benar akan telat. Jika naik bis aku tidak tau haltenya ada di mana. Aku terpaksa harus...?" Berlari dengan cepat.
30 menit kemudian.
"Hah...ha..hah...haah...." Lovisa terengah-engah merasa kecapean berlari.Β
Kelas 11 A
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Baiklha anak-anak ibu rasa sampai di sini untuk penjelasannya."Seorang ibu guru yang memegang buku, dan mengajar dengan tekun.
"Lihat di sana!" Bisik murid di belakang Arion.
"Aku pikir dia orang bodoh. Masa datang di jam segini?" Tertawa, dan memperhatikan kedepan ruangan.
Arion melirik , dan melihat Lovisa yang berjalan dengan goyang-goyang dari gerbang.
__ADS_1
Kelas 10 B
πΊπΊπΊπΊπΊ
Suasana kelas yang sudah memulai pelajaran 10 menit lalu.
"Jiera? Mengapa Lovisa nggak hadir?" Bisik Egmont.
"Aku juga gak tau."
"Ehh itu dia." Saut Jiera yang melihat Lovisa berdiri di depan pintu kelas.
"Ahhh....haa...ha.." Napas yang masih terenggah-enggah.
Ibu guru tersebut memperhatikan dan menyilangkan kedua tanganya. Dan murid-murid berbisik.
"Apa yang kamu lakukan disana?" Tanya ibu guru.
"Ma..maaf bu. Aku ketinggalan bis." Gagap.
"Apakah kamu tau peraturan yang ada di sekolah ini?" Dengan kesal.
Lovisa diam, dengan kaki gemetaran.
"Syut...syutt." panggil Jiera.
"Pelajaran ku tidak bisa di ganggu. Kamu bisa pulang, dan klo kamu mau masih belajar sampai pulang sekolah, maka selama jam pelajaranku berdiri di tengah lapangan dan angkat satu kaki!"
Setelah beberapa menit, Lovisa berdiri di tengah lapangan dan mengangkat satu kaki di bawah teriknya matahari.
Catatan kecil
πππππ
"Author, apakah kau gak ingin menujukkanku pada mereka?" Merenge-renge
"nggak, aku tidak ingin menujukkan wajahmu."
" Kenapa? Apa karena aku jelek?" Wajah yang ingin menangis.
"Bukan karena jelek..." Terdiam dan bingung.
"Apa kamu merasa senang?" Dengan penuh tanya.
"Wahh, ternyata aku imut. Ta...tapi jika author gak ikhlas juga gak apa-apa! Kamu tidak usah menujukkan wajahku pada mereka. Tapi klo mereka kesal denganmu, iya itu urusanmu" Tegas.
"Aku ikhlas kok, yaudah aku mau tidur dulu jangan di ganggu!"
πππππ
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!π Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."β€
__ADS_1