
Malam berbintang
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam ini...
Langit tak lagi mendung,
Bintang menyinari, dan bulan mendampingi,
Angin berbisik seakan ingin bertanya.
Begitu banyak cerita,
Yang tidak bisa terukir dan di gapai,
Andainya semua harapan akan terwujud,
Hingga semua bisa terlihat dengan jelas.
Mengukir sebuah cerita,
Tanpa megubah alur dengan cela,
Bagaikan malam berbintang,
Yang selalu ada bercahaya di tempat yang sama,
Walupun tengelam di waktu lain,
Cahayamu....
Yang akan mengukir sebuah kisah,
Kisah yang akan menjadi sebuah sejarah,
Dan akan membuktikan, bahwa diriku
Telah memimilihmu.
By. Kelinci imutπ°
πΊπΊπΊπΊπΊ
Lovisa yang duduk di meja belajarnya sembari menatapai langit, dan menulis sebuah puisi. Tidak lupa untuk memberi nama pena dalam puisinya, karena tidak ingin namanya yang tercantum di sana.
Pagi hari yang begitu cerah. Seorang gadis yang masih terlelap dalam tidurnya dengan posisi yang begitu berantakan.
"Dringggg.....dringgggg....dringgggg....." Bunyi ponsel.
Victoria meraba-raba ponselnya di dekat bantal, dan segera menerima panggilan dengan wajah yang masih mengantuk.
"Halo." Dengan suara yang begitu ngantuk berat.
__ADS_1
"Victoria, apa kamu sudah gila? Apa kamu sudah merasa hebat sehingga pergi ke tempat orang-orang gila itu?" Suara yang membentak dari dalam ponsel.
Victoria terkejut dan duduk, sembari menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia mengerutkan dahi, dan mematikan ponselnya.
"Huuuu..... dia akan selalu mengomel. Entah apa hebatnya dia sebagai seseorang yang terkenal?" Tidur kembali.
"Dringgg.....dring.....dringggg....." Ponsel Victoria berdering tak henti, sehingga membuatnya kesal dan menonaktifkan hp segera.
Apartemen Brown
πΊπΊπΊπΊπΊ
Seorang pria parubaya yang berdiri di dekat jendela dengan raut wajah yang begitu kesal. Dia mengantongi kembali ponselnya dan menghela napas.
"Anak ini benar-benar membuatku emosi." Gumanya sembari memandangi kota tersebut dari tempat dia berdiri.
Ayah Victoria yang sudah terkenal sejak beberapa puluh tahun lalu, dan bercerai dengan istrinya sejak Victoria berumur 5 tahun. Hal itu membuat ayahnya tidak ingin kehilangan anaknya, dan memberikan semua kemewahan pada Victoria.
Namun sejak perceraian itu terjadi, Victoria tidak pernah mendapat kasih sayang yang sesungguhnya. Dia hanya bisa mengikuti semua perintah ayahnya, untuk menghindari para netizen.
"Aku nggak bisa terus-terus menekannya. Tapi bagaimana jika dia berubah pikiran dan menemui wanita itu? Aku harus menjaga harga diri, dan karierku."
Seorang wanita memeluk pria tersebut dari belakang. Pria itu membalikkan badanya dan tersenyum hangat pada wanita tersebut.
"Hany, when you give me a kids?" (Sayang, kapan kamu memberikanku seorang anak?)Β Tanya wanita itu dengan bahasa inggris.
"Cool down baby! I will you give a kids, but not now!" (Tenanglha sayang, aku akan memberikanmu seorang anak, tapi bukan sekarang!)Β Menatap wanita itu dengan lembut.
Wanita yang bersamanya seorang rekan kerjanya yang sudah lama menjalin hubungan dengan ayah Victoria. Namun tidak ada orang lain yang tau soal hubungan mereka.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Sebuah rumah yang terlihat begitu elegan, dan mewah. Dihiasi oleh beberapa jenis tanaman bunga di depan pagar, dan juga halaman rumah.
"Apa kabar tante?" Sapa Arion pada seorang wanita yang sedang duduk dengan segelas kopi.
"Ehhh!? Ayo silahkan duduk dulu!" Tersenyum hangat, dan mempersilahkan Arion untuk duduk.
Lovisa berdiri di samping Arion dan merasa sedikit gugup, karena sebelumnya tidak pernah ke tempat acara seperti ulang tahun atau sebagainya.
"Apakah ini pacarmu?" Tanya tante Lesi.
"Ahh, bukan." Malu dan merasa tidak terima.
"Anak zaman sekarang, pfffff. Kamu nggak usah malu! Tante tau, di umur kalian yang sekarang ini pasti banyak tantangan. Wheheheh." Tersenyum.
Lovisa terbelahak, dan hanya bisa melihat sana-sini tanpa bicara. Arion melirik Lovisa dan menariknya untuk duduk.
"Apakah Adrian masih di kamarnya tan?" Tanya Arion.
"Seperti yang kamu tau!?" Sembari mengambil ponselnya dari atas meja.
"Akhh, aku mau ke kamarnya dulu. Kamu tunggu disini!" Arion menoleh ke Lovisa, dan beranjak ingin menemui temannya.
__ADS_1
Lovisa pun tersenyum, dan merasa canggung.
"Siapa namamu nak?" Dengan nada yang lembut.
"Lovisa tante." Tersenyum dengan canggung.
"Nama yang bagus, kamu tidak perlu canggung anggap rumah sendiri!" Melihat Lovisa dengan penuh kasih sayang.
"Iya tante." Sahut Lovisa.
"Bukankah kamu wanita yang di rumah Arion? Ibu Arion pernah mengatakan tentangmu juga. Whehehh." Guman tante Lesi.
"Benarkah?" Terkejut dan melihat tante Lesi.
"Iya. Keluarga ini dengan keluarga Arion begitu dekat karena bisnis. Kami sudah saling mengenal sejak muda. Dan sekarang anak kami pun bersahabat."
"Wah,,,itu sangat hebat." Jawab Lovisa penuh senyuman.
"Hebat dimananya? Itu hanya karena bisnis, jika tidak ada bisnis kemungkinan kami nggak pernah sedekat ini." Gumannya dengan senyuman yang tak bisa di mengerti.
Lovisa tidak mengerti apa yang sedang tante Lesi bicarakan, dan dia hanya mendegarnya.
πππππ
Catatan kecil :
"Thor! kamu tega banget buat aku ada di bar dengan keadaan mabuk?" Merasa kesal.
"Aku nggak sengaja kok." Guman author dengan raut wajah berpikir keras.
"Kamu benar-benar ingin mencelakaiku. Tak ku sangka hal itu akan kau lakukan thor." Menciut, merasa sedih.
"Yaudah aku minta maaf iya!" Dengan senyuman tanpa arti.
"Aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat!" Menemukan sebuah ide, cemerlang.
"Apaan?" Merasa bingung.
"Perlihatkan wajah yang telah menyelamatkanku dari orang-orang brengsek itu!" Penuh kepercayaan diri.
"Nggak bisa, karena Egmont masih belum beruntung."
"Klo gitu, aku ingin mati aja lha." Mengambil sebuah pisau dari dapur.
"Jangan! Jangan lakukan itu! Letakkan pisaunya, maka kita bisa bernegoisasi dengan baik! " Panik dengan kebingungan.
"Aku akan meletakkannya setelah kau perlihatkan wajahnya pada mereka!" Penuh harap.
"Aku sudah memperlihatkanya. Sekarang kembalikan pisau itu pada tempatnya! Aku mau pergi mandi dulu, jangan membuat hal yang tidak masuk akal! Kamu mengerti Victoria?"
~**Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku. Semoga kalian suka dengan karyaku.π
__ADS_1
Salam hangatkuπ**