Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 10 - Cari Perhatian


__ADS_3

Keesokan harinya aku kembali berkutat dengan kewajibanku tiap aku memiliki uang. Pagi-pagi, aku bangun, lantas pergi ke luar rumah membeli ayam dan sayuran pada tukang sayur keliling lantas kembali lagi ke dapur untuk memasak sarapan untuk aku dan ibuku. Sebuah rutinitas yang tidak pernah membosankan karena aku bisa memberikan sesuatu kepada ibu.


Setelah membeli semua bahan makanan yang aku butuhkan, selanjutnya aku pun masuk ke tahap memasak. Aku memotong sayuran terlebih dahulu, lalu menggoreng ayam. Dan setelah menggoreng ayam, baru aku akan masak sayur sop yang bahannya sudah aku potong-potong sebelumnya.


Uang yang diberikan Ghifari di muka benar-benar banyak jadi aku bisa memasak masakan yang enak untuk ibuku. Aku benar-benar senang setiap kali membayangkan ibuku bisa merasakan masakanku yang enak dan terkesan mewah.


"Assalamualaikum." seseorang memberi salam dari luar sambil mengetuk pintu.


Tumben sekali. Siapa yang mengetuk pintu rumahku pagi-pagi seperti ini?


"Waalaikumsalam. Tunggu!" teriakku.


Aku membalik ayam goreng lalu mengecilkan api dan melangkah keluar membukakan pintu. Di depan pintu aku mendapati Ghifari yang memasang senyum khasnya. Sebuah senyuman yang cukup.. Ah, lupakan saja.


"Sok ganteng banget lo nyengir begitu." kataku sambil menyilangkan tangan di dada.


"Gue emang ganteng kali. Nih." katanya menyerahkan satu kantong plastik putih yang ntah isinya apa.


"Apa ini?" tanyaku. Sambil membuka isinya.


"Makanan, kata lo gue harus bawain makanan 3x sehari." katanya.


"Makanan? Ya Allah, gue lupa gue lagi masak. Ini pegang!" kataku, menyerahkan kantong plastik putih itu kepadanya lalu berlari ke dapur.


Sesampainya di dapur aku buru-buru mematikan kompor. Ayam goreng yang kumasak gosong separuh padahal api sudah kukecilkan tadi. Aku buru-buru mengangkat ayam tersebut lalu memindahkannya ke piring.


"Hahahahaha!" seseorang tertawa di pintu dapur melihat hasil karyaku.


"Diem lo. Ini gara-gara lo tau!" kataku, tak terima ditertawakan.


"Udah nggak usah dilanjutin. Gue bawa makanan kok." katanya.


Aku menatap bahan-bahan untuk membuat sayur sop yang sudah kupotong-potong. Aku tidak punya kulkas. Kalau tidak dimasukkan kedalam kulkas nanti layu dan cepat busuk. Tapi kalau dibiarkan untuk siang sepertinya tidak memungkinkan, sayuran itu tidak akan segar lagi.


"Udah ayo!" kata Gifari, menarikku ke ruang makan.


"Piringnya di mana? Biar gue yang ambil. Lo panggil nyokap lo aja." katanya.


Pagi ini aku tak mau berdebat dengannya. Jadi, aku lebih memilih menuruti apa katanya. Akupun ke kamar menemui ibuku. Lalu membawa ibuku ke ruang makan dengan cara mendorong kursi roda beliau. Dan benar saja, Ghifari benar-benar bisa menyiapkan segalanya.


Sepertinya, terlepas dari bagaimana menyebalkannya dia laki-laki yang cukup baik.


Mataku terarah pada satu piring yang berisi ayam goreng yang gosong tadi. Aku terkejut.


Dia menggaruk tengkuknya yang kuyakin tidak gatal sama sekali. Aku melotot ke arahnya. Dia pasti sedang mengejekku lagi. Kalau posisinya sedang tidak ada ibu, sudah kucaci maki dia. Biarkan saja aku dianggap galak atau apapun yang penting aku bisa mencacinya.


Enak saja dia ingin mengejekku karena ayam yang aku masak gosong. Ayam itu gosong kan karena dia datang. Coba saja tadi aku tidak membukakan pintu, pasti ayam itu selamat.

__ADS_1


Aku hanya bisa menggerutu dalam hati.


Aku menyuapi ibuku. Dan di sana Ghifari sedang mengambil ayam gorengku yang gosong tadi, lalu menggigitnya, aku pura-pura tidak melihat.


Aku mulai memikirkan mengapa alih-alih mengejek dia justru memakan ayam goreng gosong itu.


"Wih, enak Ra, ayam gorengnya." katanya.


Ntah berbohong atau tidak dia memakannya dengan lahap. "Sayang gosong." lanjutnya yang membuat aku menendang kakinya dari bawah meja.


Bagaimana mungkin dia memuji dan mengejek dalam waktu yang bersamaan?


"Ayam goreng itu gosong gara-gara lo. Jadi lo harus tanggung jawab abisin." kataku sambil tersenyum jahat.


"Jangan liatin dia, Ma. Dia emang begitu. Nyebelin." kataku pada ibuku.


"Saya nggak nyebelin kan ya, Tqnte? Aranya aja yang galak. Iyakan, Tante?" tanyanya pada ibuku. Ibuku tersenyum. Aku bersyukur ibuku terlihat lebih baik belakangan ini.


Setelah sarapan, aku membereskan peralatan makan yang ada di atas meja. Ghifari ikut membantuku. Kenapa dia terus menerus seperti ini? Bagaimana kalau aku tidak bisa menahan rona dipipi? Bisa hancur reputasiku di hadapannya.


Aku mengantarkan Mama ke depan rumah untuk berjemur pagi lalu kembali lagi ke meja makan.


"Udah sana lo duduk aja." kataku padanya. Yang kutau percuma.


"Oke gue bantuin." katanya.


Apa dia memiliki masalah ditelinganya? Aku hanya bisa mendengus sebal memikirkannya.


"Lo selalu ngomong hal kebalikan. Jadi, gue artiin kalo kata-kata lo tafi artinya lo pengen gue tetep di sini bantuin elo." katanya, sambil mengangkat bahu.


"Dih, pemikiran dari mana itu?" kataku. sambil tertawa sinis.


"Benerkan?" katanya.


"Enggak." kataku sambil menggelengkan kepala.


"Tuhkan gue selalu bener."


"Jelek lo."


"Gue emang ganteng dari lahir."


"Ganteng lo."


"Gue kan udah bilang gue ganteng dari lahir."


"Sialan."

__ADS_1


"Hahahahahhaha."


Diam-diam aku tersenyum. Tapi dengan sebisa mungkin aku menormalkan raut wajahku.


"Kalo mau senyum, senyum aja kali." katanya.


Aku ketahuan, sial. Aku malu sekali, benar-benar malu.


"Siapa yang pengen senyum? Gue nggak pengen senyum." kataku.


Tapi seketika aku berpikir, tunggu. Dia mengatakan kalau aku selalu berkata sesuatu yang berlawanan dengan keinginanku. Dan kali ini. Ah sial.


"Hahahahahaha." Lagi-lagi dia tertawa.


"Gue rasa lo harus ke dokter." kataku, kesal.


"Lo ganti baju gih. Bilang sama nyokap lo kalo lo mau berangkat kerja, nyokap lo nggak tau kan kalo lo abis dipecat?" tanyanya serius.


"Nanti deh gue selesain ini dulu." kataku.


"Udah ama gue aja. Sana ganti baju. Hus hus!" katanya mengusirku dengan cara menyebalkan, seperti mengusir kucing.


"Emang gue anak kucing apa digituin?" kataku, sambil memutar bola mata.


Lagi-lagi dia hanya tertawa menanggapiku.


Apa yang lucu sebetulnya? Ku rasa otaknya sudah tak waras. Tapi ntah mengapa, lagi-lagi aku menurutinya. Setelah berpakaian rapi, aku membawa masuk ibuku ke dalam rumah dan pamit kepada ibu lalu masuk ke dalam mobil. Fikiranku mulai berkelana.


Aku mengamati Ghifari dari samping.


"Kenapa lo?" tanyanya.


"Lo nggak kerja?" tanyaku, heran. Beberapa hari ini dia selalu bersamaku dan aku tidak pernah melihat dia bekerja.


Aku mulai berpikir kalau dia juga seorang pengangguran. Uang yang dia berikan kepadaku mungkin dari keluarganya yang kaya dan dia hanya berbohong soal dia yang memiliki usaha.


Aku benar-benar banyak berpikir setiap kali berada di dekatnya.


"Kerja kok." katanya.


"Kerja apaan? Dari kemaren lo ke sana- ke sini sama gue." kataku.


"Hahahahaha." Dia hanya tertawa.


"Iyak, ketawain aja gue terus." kataku jutek.


"Nanti juga lo tau." katanya.

__ADS_1


__ADS_2