
"Eh, Bang Haidar. Duduk, Bang!" kataku mempersilakan Bang Haidar duduk.
Aku memberi kode pada Aisha untuk mengambilkan sesuatu untuk Bang Haidar.
"Apa kabar, Za?" tanyanya. Sambil tersenyum.
"Baik dong." kataku.
Bang Haidar tertawa akupun ikut-ikutan tertawa. Ntah apa yang kami tertawakan benar-benar lucu atau tidak, aku tidak tahu.
"Ada apa, Bang? Tumben dateng ke sini?" tanyaku.
"Lho, bukannya Abang kemarin juga ke sini ya?" kata Bang Haidar.
"Oiya, Za lupa!" kataku.
"Dasar nenek." kata Bang Haidar bercanda.
"Nggak ada nenek-nenek cantik kayak Za, Bang." kataku.
Mendengar kata-kataku. Bang Haidar tertawa.
"Bang, boleh tanya?" kataku.
"Tanya apa?" katanya.
"Profesi Abang apa sih? Kok pakaiannya selalu rapi? Beda banget sama Gifari." tanyaku.
"Coba tebak." katanya.
"Dokter." kataku asal.
Dia menoleh dengan wajah tak percaya.
"Hahahaha keliatan banget emang ya?" kata Bang Haidar.
"Wah, dokter bagian apa tuh, Bang?" kataku lagi.
"Coba tebak lagi." katanya.
"Dokter Jiwa." kataku benar-benar asal-asalan.
Bang Haidar tertawa.
Tak lama kemudian Aisha datang dan memberikan minuman dan bongkahan roti coklat untuk aku dan Bang Haidar.
"Terima kasih." kataku dan Bang Haidar pada Aisha.
"Iya, sama-sama, Mbak, Mas." kata Aisha lalu kemudian masuk ke dalam.
Setelah Aisha pergi. Aku dan Bang Haidar kembali lagi mengobrol.
"Diminum dan dimakan, Bang." kataku mempersilakan Bang Haidar.
Bang Haidar pun menurut.
Sebetulnya aku sedang mengamati Bang Haidar, dia seperti ingin mengatakan sesuatu padaku namun terlihat tak tahu harus memulainya dari mana.
"Kenapa, Bang?" tanyaku. Tak tahan melihatnya.
"Boleh Abang tanya hal pribadi?" tanya Bang Haidar.
"Boleh, Bang." kataku.
"Boleh Abang tau nama ibu kamu?" tanya Bang Haidar.
"Boleh, Bang. Nama ibu aku Linda." kataku.
...***...
...Flashback...
"Ada apa sebetulnya, Bi Shanti?" tanyaku.
"Bibi mau tanya. Kalau ibumu ke rumah sakit, nama siapa yang ibumu pakai?" tanya Bi Shanti.
Sepertinya Bi Shanti memang benar-benar mengetahui semua kejadian yang menimpa keluargaku.
__ADS_1
"Linda, Bi." kataku.
Dulu saat Bi Linda masih hidup. Beliau selalu menegaskan padaku untuk tidak memberitahukan nama asli ibuku ke semua orang. Aku selalu diperintahkan untuk menyebutkan nama ibuku dengan nama Linda, bahkan setiap pergi ke rumah sakit. Aku selalu mendaftarkan ibuku dengan nama Linda. Tak pernah sejauh ini ada yang mengetahui nama asli ibuku.
Hanya karena kemarin Bi Shanti terlihat begitu mengenal dan menyayangi ibuku, sehingga akhirnya aku mengatakan bahwa nama asli ibuku memang Nindy, Anindya Athaya Zahran.
"Bagus. Mulai hari ini cukup Bibi yang tahu nama asli ibumu ya. Jangan sampai orang lain tahu. Bahkan Nak Ghifari sekalipun. Bila suatu saat dia tanya mengenai nama ibumu kamu harus menjawab nama ibumu adalah Linda." kata Bi Shanti.
"Tapi untuk apa, Bi? Mengapa aku tidak boleh menyebutkan nama ibuku sendiri?" tanyaku.
"Untuk sementara Bibi tidak bisa menceritakan semuanya." kata Bi Shanti.
"Apakah ibuku seorang buronan?" tanyaku.
Aku menebak-nebak apa jawaban dari pertanyaanku. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalu ingin kutanyakan pada Bi Linda. Namun, hingga saatnya beliau pergi, aku belum sempat menanyakannya.
Air mata Bi Shanti menetes. Beliau mengangguk. "Meski buronan, percayalah, ibumu hanya korban fitnah keji dari perempuan tak punya hati." kata Bi Shanti.
Aku tak mengatakan apa-apa lagi. Aku langsung memeluk Bi Shanti.
...***...
"Apa kamu yakin nama ibumu adalah Linda?" tanya Bang Haidar lagi.
"Masa aku nggak tau nama ibu aku sendiri, Bang hahaha." kataku.
Pertanyaan Bang Haidar benar-benar aneh. Mengapa dia menanyakan nama ibuku? Apa pedulinya? Maksudku, begini, sepertinya tak ada gunanya menanyakan nama ibuku, karena kami tak punya ikatan apa-apa, bukankah yang sedikit lebih berhak adalah Ghifari? Namun, lihatlah, Ghifari saja tidak pernah menanyakan nama ibuku.
Eh, pernah. Kemarin saat di rumah sakit.
"Benar juga si. Haha." kata Bang Haidat, meski tertawa namun raut wajahnya menunjukkan kalau dia kecewa.
Aku pun tertawa canggung menanggapi tertawaan Bang Haidar.
"Yaudah, Za. Abang pergi dulu ya. Abang lupa ada meeting." kata Bang Haidar.
Akupun mengangguk.
"Assalamualaikum." salam Bang Haidar.
"Waalaikumsalam." balasku.
Waktupun berlalu hingga waktu pulang pun datang. Aku membantu Aisha untuk menutup toko. Sambil menunggu Ghifari menjemputku. Setelah toko selesai tutup, Aisha pun pamit untuk pulang. Akupun mengiakan. Dia salam dan aku membalas salamnya.
Tak lama kemudian, Ghifari datang.
"Hei, maafin, gue telat ya?" tanya Ghifari yang tiba-tiba datang.
"Dari mana si emang?" tanyaku.
"Cari pacar baru." kata Ghifari dengan entengnya.
Aku menyikut perutnya kesal. Tunggu. Mengapa aku begitu kesal mendengar kalimat Gifari yang ingin mencari pacar baru?
"Cie, cemburu kan?" tanya Ghifari.
"Gak lucuuu! Krik kayak jangkrik!" teriakku.
Dia terkekeh.
"Makan dulu yuk?" ajak Ghifari.
"Lo belum makan?" tanyaku.
Ghifari pun mengangguk. "Lo?" tanyanya balik bertanya.
"Belum. Ayo, deh makan." kataku.
"Mau makan apa?" tanyanya.
"Gak tau. Yang anget-anget deh pokoknya." kataku.
"Lo mau yang anget?" tanya Ghifari.
Dia mulai melakukan tindakan konyol dengan merentangkan tangannya. Dalam hati aku tertawa. Dasar anak ajaib!
"Gak waras lo ya?" kataku. Aku tahu kalau dia sedang bercanda.
__ADS_1
Ghifari terkikik. Lalu mengajakku pergi ke sebuah rumah makan yang menyediakan menu soto bogor. Diapun memesankanku seporsi soto dan es jeruk setelah menanyakan apa yang ingin aku makan.
"Ghif, tau gak?" tanyaku.
"Enggak." jawab Ghifari cuek.
"Ih, nyebelin banget si lo. Asli." kataku.
"Apa, Sayang, apaaa?" tanya Gifari, sambil menopang kepalanya di tangan kanannya. Dia menatapku jail.
"Ih, Ghifari!" kataku. Mendecak sebal.
"Iya, Ara?" katanya.
"Tau ah gelap." kataku. Benar-benar kesal.
Diapun mendekatiku. "Enggak ini gue serius. Ada apa?" tanyanya. Benar-benar dekat denganku.
"Gak gini jugaaa!" kataku seraya mendorong wajahnya agar menjauh. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku tak mau salah tingkah.
"Bang Haidar itu kenapa, Ghif?" tanyaku serius.
"Emang dia kenapa?" kata Ghifari balik bertanya.
"Dia nanyain nama ibu aku." kataku.
"Aku?" tanya Ghifari.
"Ih, tadi gue ngomong gue, gue, gueee. Bukan aku." kataku.
Bodoh sekali aku sampai mengatakan kata Aku di depan lelaki menyebalkan macam Gifari.
"Oke. Oke. Dia nanyain gitu?" tanya Gifari.
"Iyaaa. Ada apa si sebenernya? Kok gue ngerasa kalo dia lagi coba nyari tau tentang gue ya?" tanyaku, tak tahan.
Ghifari diam.
"Dia lagi nyari adik sama ibunya." kata Ghifari kali ini wajahnya serius.
"Maksudnya?" tanyaku.
"Iya. Gue udah ceritakan kalau Bang Haidar itu bukan kakak kandung gue kan?" tanya Ghifari.
Aku mengangguk.
"Nah, dia kayaknya curiga kalo lo adik kandungnya." kata Ghifari.
Sontak aku tertawa mendengar kata-kata Ghifari. Ghifari memandangku bingung.
"Sorry sorry. Gak masuk akal. Mungkin karena itu ya dia tanya nama mama?" kataku.
Gifari mengangkat bahu. "Iya kali." katanya cuek.
Seorang pelayan membawakan kami pesanan kami. Setelah kami mengucapkan terima kasih, pelayan itupun pergi.
Melihat jus jeruk yang menggoda, Ghifaripun berniat meminumnya.
"Kalo gue beneran adik kandung Bang Haidar gimana?" kataku dengan raut serius. Aku ingin mencandainya.
Di luar dugaan. Ghifari mengurungkan niatnya untuk minum lalu mengedarkan pandangan ke arah lain.
Aku mengarahkan tanganku ke wajahnya agar dia bisa melihat wajahku.
"Gak bisa nikah dong kita?" tanyaku. Menatapnya dengan serius.
Aku ingin membuat dia cemas namun ternyata gagal.
Ghifari justru tersenyum. Bukan, dia terkekeh. "Tetep bisalah. Lo sama gue kan gak ada ikatan darah." kata Ghifari.
Tiba-tiba mata Ghifari berubah. Akupun buru-buru melepas tanganku di wajahnya. Sial. Tidak berefek.
"Oh, jadi udah berniat beneran nikah sama gue?" tanya Ghifari sambil menurun-naikkan alisnya.
Akupun mengambil sendok lalu memukulnya.
TOK!
__ADS_1
"Makan tuh nikah." kataku.