
Namaku Zahra. Biasa dipanggil Ara. Dan kau tau apa yang telah terjadi pada diriku yang menyedihkan ini? Kau lihat satpam di depan kafe sana? Nah. Dia adalah pengacau. Sungguh pengacau. Tadinya aku ke kafe itu untuk menemui pacarku yang tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar, ia adalah pemilik kafe megah itu. Kau tak percaya? Jewer saja kupingku kalau aku bohong.
Aku menatap kafe itu dengan nanar. Pupuslah segala cita-cita yang sudah kurangkai sedemikian rupa agar aku bisa hidup dengannya, si pemilik kafe, Pratama. Tama. Dia anak pertama dari keluarga kaya raya yang tidak ku tau nama kedua orang tuanya. Karena selama berhubungan, aku tidak pernah menanyakan hal seperti itu, bagiku penjelasannya mengenai pemilik kafe dengan dandanannya yang selalu wah dengan mobil sportnya, sudah menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga kaya.
Keluarga kaya. Memang impian terbesarku adalah menjadi orang kaya. Sebab dengan menjadi orang serba kekurangan seperti yang kualami adalah jenis hukuman paling buruk di muka bumi. Di mana aku dituntut untuk mencari pekerjaan agar bisa tetap melanjutkan hidup dan mencari pacar-pacar kaya yang sedikit banyak kumanfaatkan untuk beberapa keperluan. Namun, sayangnya ketika aku menjelaskan asal-usulku lengkap beserta keinginanku untuk menjalin hubungan yang serius. Mereka justru mencampakkanku. Sama seperti yang kualami hari ini. Dunia memang tidak adil.
Aku berjalan menyusuri jalan. Menyesali kejadian hari ini. Aku memang miskin tapi bukan seperti itu caranya memerlakukan orang miskin. Aku kesal. Amat kesal. Saking kesalnya aku hanya bisa mematung di atas jembatan, kembali merenungi kehidupanku yang melankolia dari dalam kandungan sambil menatap air sungai yang mengalir tanpa beban. Aku mengacak rambutku frustasi. Mengumpat pelan, lantas kembali membetulkan rambutku lagi. Aku harus mencari mangsa baru.
Upahku bekerja di sebuah toko roti tak pernah benar-benar mencukupi kehidupanku. Jadi, aku mencari pekerjaan sambilan lain untuk memenuhi kebutuhanku. Namun sepertinya hari ini cukup sampai di sini. Aku lelah dan aku hanya ingin pulang. Namun, seketika hujan deras. Kau tau? Hal yang paling kubenci di dunia ini adalah hujan. Si pencipta suasana melow di hati para penderita sepi.
Aku membiarkan air hujan leluasa membasahi tubuhku yang mulai menggigil, dan yang mulai larut dalam rasa sakit. Aku menyangsikan kebaikan dunia yang hampir tak pernah kuraih. Tapi hidup harus terus berlanjut. Dan aku memiliki alasan untuk itu.
"Aku harus segera pulang!" kataku dalam hati.
Aku buru-buru berlari. Kubiarkan tubuhku basah kuyup. Namun, langkahku tiba-tiba terhenti. Karena tak sengaja aku menabrak seseorang. Aku mendongak melihat siapa yang menghalangi jalanku untuk pulang. Di hadapanku kini berdiri seorang pria perawakan bagus yang tampan rupanya. Aku yakin dia berasal dari keluarga kaya. Namun, wajahnya seakan tak asing bagiku. Laki-laki yang menabrakku, alih-alih mengucapkan maaf, ia hanya melenggang meninggalkanku. Sungguh tak sopan! Bahkan dia tidak berbalik sedikitpun.
"Hei! Dasar nggak punya sopan santun!" teriakku. Namun percuma saja, rupanya ia terus berjalan. Aku yang kesal langsung mengambil sendal yang kupakai lalu melemparkannya ke arah laki-laki tak punya sopan santun itu.
Sendal itu tepat mengenai punggungnya. Lantas ia berbalik dengan wajah geram. Dan di luar dugaanku, ia malah berniat melemparkan sendalku yang tadi kugunakan untuk melenparnya ke sungai. Aku buru-buru berlari ke arahnya untuk mengambil sendal tersebut. Aku tak punya uang walau sekadar untuk membeli sendal murahan hari ini.
"Jangan!" teriakku panik. Aku benar berharap kalau dirinya tidak membuat sandal itu ke sungai.
Namun, harapan hanyalah sebuah harapan, yang terjadi sekarang ini juga kebalikan dari doaku. Lihatlah, ia yang membuang sendalku ke sungai tenpa perasaan. "Sendal gue!" ratapku. Lalu, melihat ke arah laki-laki tersebut dengan marah. Namun yang ditatap justru menyeringai dan berbalik, lalu terus melanjutkan jalan. Sontak aku mengejarnya.
Aku berlari sekuat tenaga untuk menggapainya. Enak saja melempar sandalku sembarangan ke sungai. Iapun berlari. Kami mulai saling berkejaran dijalanan hingga menjadi bahan tontonan gratis bagi orang-orang. Aku benci mengakuinya namun rasanya ingin kulempar kepalanya dengan sandalku yang satunya lagi, jika saja aku memiliki uang.
__ADS_1
"Jangan lari, woi!" teriakku.
Aku terus mempercepat langkah kakiku. Masa bodoh dengan kakiku yang sudah kupastikan lecet di akhir. Yang pasti aku harus meminta pertangggungjwaban darinya yang telah melempar sendalku ke sungai terkutuk itu. Tidak, bukan sungai yang terkutuk tapi dia, yang kini lari di depanku. Sungguh, dialah yang terkutuk. Darahku yang terus mendidih membuat langkahku semakin cepat. Hingga akhirnya aku berhasil meraih tangannya.
"Tunggu! Balikin sendal gue!" teriakku.
"Ambil sendiri sana di sungai!" katanya sambil menatapku balik.
"Elo gila ya?! Elo yang ngelempar ke sungai kenapa harus gue yang ngambil?!" kataku. Dengan nafas memburu. Aku menatapnya dengan galak. Aku benci melihat dia yang terlihat biasa-biasa saja.
"Siapa yang ngelempar duluan?!" katanya sambil hendak pergi. Aku buru-buru mencengkeram tangannya erat.
"Gue ngelempar karena lo nggak punya sopan santun! Lo nabrak gue dan langsung pergi gitu aja tanpa bilang maaf!" teriakku.
"Siapa yang nabrak siapa sebetulnya? Elo yang lari-lari, elo yang nabrak duluan." katanya. Aku membenarkan perkataanya dalam hati namun aku tetap harus mendapatkan sendalku kembali bagaimanapun caranya.
"Nggak mau. Lepas! Gue lagi buru-buru!" katanya sambil menampik tanganku.. untungnya aku tidak lengah dalam mencengkeram tangannya. Tenagaku jauh lebih kuat dari gadis-gadis di luaran sana.
Bagaimana ini? Sebetulnya adegan ini memalukan. Kalau di film-film yang pernah aku tonton, seharusnya keadaannya berbalik. Ah, masa bodoh dengan itu semua, yang penting sandalku harus kembali! Aku tidak mau nyeker berhari-hari seperti gembel pada umumnya. Hei, aku gembel kelas atas. Ah, katakanlah seperti itu.
"Kembaliin sendal gue!" kata gue.
"Sendal lo udah hanyut." katanya.
"Beliin yang baru! Gue nggak mau tau!" Kataku.
__ADS_1
"Gue nggak mau! Sekali nggak mau tetep nggak mau! Sana pergi. Harusnya lo bersyukur cuman sendal lo yang gue buang." katanya dengan nada sangat angkuh.
"Gue nggak peduli. Sekarang lo mau beliin sendal atau gue teriak?!" ancamku sambil membelalakkan mata.
"Yaudah teriak aja sana!" katanya menantang.
Aku bersiap-siap untuk berteriak namun tiba-tiba dia membekap mulutku dengan tangannya. Aku terus memberontak dan terus berteriak. Hingga mengundang perhatian seluruh pengunjung taman. Laki-laki itu menatap orang sekeliling dengan mengucapkan kata maaf. Aku terus memberontak hingga membuatnya kewalahan.
"Iya gue beliin! Puas lo?!" gumamnya di telingaku hingga nafasnya bisa aku rasakan. Sial, aku jadi merinding.
Tapi aku menyeringai. Kata orang, usaha tak pernah mengkhianati hasil. Dan inilah aku dengan segala usahaku hingga akhirnya bisa mencapai apa yang aku mau. Diapun menarikku ke sebuah toko sepatu dan menyuruhku cepat memilih sepatu yang kuinginkan. Aku tertawa, pasalnya toko ini adalah toko sepatu yang mahal, dulu mimpiku memang bisa membeli sepatu dari toko megang terma ini dan kini mimpi ini terkabul. Ku harap mimpi-mimpiku yang lain juga terkabul.
Tanpa sadar cairan bening itu turun tanpa permisi.
"Lo nangis?" tanya laki-laki angkuh itu.
Aku buru-buru menghapus air mataku dengan kasar. "Ini kelilipan." kataku. Sambil kembali memilih. Aku harus memilih yang bagus. Jangan sampai aku menyesal nantinya. Kapan lagi dapat sepatu mahal gratis.
"Cewek bar-bar kayak lo mana bisa nangis. Cepet pilih gue nggak punya banyak waktu!" katanya sambil memainkan ponselnya.
Aku mencoba beberapa sepatu hingga akhirnya aku bertemu dengan sepatu berwarna krem yang anggun. Aku buru-buru menyodorkan sepatu itu ke penjaga. Lalu, aku dan dia yang tak kutau namanya itu bergegas ke kasir. Dia membayarnya. Lalu aku langsung memakainya, mengingat kakiku yang hanya beralaskan satu sandal. Setelah membelikanku sepasang sepatu yang cantik dan mahal. Ia melenggang pergi meninggalkanku.
"Makasih!" teriakku.
Dan dia dengan seenak hatinya hanya terus melenggang tanpa merespons ucapanku. Tapi aku tak terlalu sakit hati, sebab aku senang mendapat sepatu baru. Aku tersenyum lantas berjalan menembus gerimis ke arah rumahku. Ada satu hal yang sebetulnya terlintas di benakku mengenai laki-laki itu. Ia kaya namun tak punya payung apakah masuk akal? Ah, tentu saja masuk akal. Banyak orang kayak apalagi laki-laki yang gengsi membawa payung.
__ADS_1
Masa bodohlah dengan itu. Yang penting, aku punya alas kaki baru yang sangat keren dan nyaman. Ah, lihatlah, kakiku cantik sekali.