
Hari terus berlalu. Aku dan Ghifari masih membohongi keluarga Ghifari terkait calon istri palsu. Sejak kejadian di mobil waktu itu, Ghifari tidak pernah mengajakku ke rumahnya seperti biasanya. Mungkin dia berencana menghentikan kebohongan ini. Siapa tau.
Namun, memikirkan Ghifari yang ingin menyudahi kebohongan ini membuatku merasa sedih ntah mengapa.
"Temenin gue meeting sebentar ya." pinta Ghifari.
"Ogah ah. Gue mau pulang aja." kataku menolak permintaannya.
Aku tentu tidak berpendidikan tinggil, dan aku bahkan hanya pernah mendengar istilah meeting tanpa tahu arti apa yang dilakukan orang-orang dalam aktivitas meeting tersebut.
"Yaudah gue ngambek aja sama lo." kata Ghifari. Menyebalkan seperti biasanya.
"Ya, bodo amat. Gue nggak peduli." kataku. Aku malas. Aku tidak mau menjadi 'kambing conge' saat menemaninya meeting.
"Oh, lo gitu? Yaudah, gue gak mau anterin lo pulang. Gue turunin aja di jalan tol. Biar lo jalan kaki ke rumah." katanya sadis.
"Yaudah, gue lompat aja sekarang." kataku mencoba menggertaknya.
"Yaudah sana silakan." katanya dengan wajah acuh tak acuh.
Bukan ini maksudku. Aku hanya ingin menakutinya bukan benar-benar melompat. Melihat jawaban enteng Ghifari akupun marah.
"Ih, lo ngeselin banget si!" seruku kepada dirinya.
"Jadi, mau lompat gak?" tanyanya malah jadi menantangku. Tentu saja aku tidak akan pernah mengakhiri hidupku dengan jalan ninja orang-orang seperti ini. Aku masih harus bersama ibuku.
"Ck. Gakpunya hati." kataku sambil berdecak sebal.
"Lonya aja yang gak pernah mau liat hati gue." katanya.
"Jijiiikk." kataku.
"Oh, yaudah gue turunin." katanya balas mengancamku.
Keadaan sekarang adalah di Jalan Tol. Kalau tidak di Jalan Tol aku masih bisa memberhentikan mobil tapi kalau di Jalan Tol yang ada alih-alih memberhentikan mobil, aku pasti sudah memberhentikan nyawa. Koit. Meninggal.
"Eh iya-iya, gak jadi-gak jadi." kataku. Aku tidak tahu apakah dia serius atau tidak karena wajahnya terlihat datar dan serius.
"Hahahaha." seketika tawanya meledak.
Sial. Ternyata hanya guyon saja. Padahal aku sudah menganggapnya serius. Dasar menyebalkan.
"Dasar gak berperikemanusiaan." kataku.
__ADS_1
"Gue berperikeperian." katanya.
"Bodooo!" kataku kesal sampai ubun-ubun.
"Hahahaha." dia tertawa lagi.
Aku mendesah kesal namun aku tetap harus menuruti apa yang di minta. Bila kupikir-pikir sebenarnya ini bagus. Kalau aku mengikutinya meeting. Aku bisa menggaet laki-laki kaya. Jadi kalau Ghifari meninggalkan aku, aku masih punya lelaki cadangan.
Aku meringis dalam hati memikirkan otakku yang licik ini. Namun, ini bukan licik, hanya antisipasi saja. Istilahnya sedia payung sebelum hujan.
"Ini meeting gue pake baju begini?" tanyaku. Aku masih memakai gamis dan kerudung panjang.
"Udah gitu aja gakpapa." kata Ghifari.
"Gue lepas kerudung ya?" tanyaku.
"Gak, lo lepas gue turunin." katanya galak.
"Iya-iya nggak." kataku.
"Anak baik." katanya.
Lagi-lagi aku hanya bisa berdecak saja. Lagi pula ini masih jam kerja menjadi calon istri pura-puranya jadi aku akan membantunya.
Kami mulai memasuki area parkir. Setelah parkir, kita pun keluar mobil.
Aku membelalak. Ini adalah kafe milik Tama. Pratama. Mantan pacarku. Tempat aku berteriak-teriak meminta penjelasan kepadanya yang berujung diusir satpam. Kini Ghifari sudah berada di depanku. Aku buru-buru mencekalnya.
"Ghif?" kataku cepat.
Ghifari melirik tanganku. Namun, dia tidak mau melepaskannya.
"Kenapa?" tanyanya bingung.
"Gue di mobil aja ya, please?" kataku dengan raut wajah dibuat semeyedihkan mungkin.
Biarlah Ghifari melihat wajah jelekku saat memohon kepada dirinya. Yang jelas aku tidak mau bertemu dengan Tama. Bagaimanapun penampilanku, aku tidak bisa menjamin kalau Tama tidak mengenaliku. Penampilanku memang berubah namun wajahku tidak.
"Nggak, lo harus ikut!" katanya. Kini giliran dia yang menarikku.
"Ghif, Ghifari. Gue mohon, Ghif, gue gak mau ketemu pemilik kafe ini.. " kataku mulai merengek seperti anak kecil. Masa bodoh dengan ini. Aku memilih berkata jujur agar dia mau mengabulkan permintaanku.
Mendengar ucapanku. Dia berbalik. Memandangku. Aku menghembuskan nafas, akhirnya dia mau mendengarkanku juga.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya.
"Dia-dia..." belum sempat aku menceritakan semuanya pada Ghifari tiba-tiba seseorang menepuk bahu Ghifari.
Aku membelalakkan mata melihat seseorang yang menepuk bahu Ghifari adalah Tama.
Aku menahan nafas. Ghifari melepaskan cekalan di tanganku. Aku tak siap bertemu dengan situasi ini. Tapi aku harus tenang. Aku yakin aku pasti bisa menyelesaikan semuanya.
Namun, aku takut hal ini berpengaruh pada karir Ghifari. Aku tak tau jenis pekerjaan apa yang di geluti Ghifari namun sepertinya meeting kali ini cukup penting.
Ghifari berbalik dan mereka berjabatan akrab. Lalu Tama melirik ke arahku. Aku mengedarkan pandanganku ke lain arah. Enggan melihat wajahnya.
"Lho? Ara? Ara kan?" tanyanya.
Tama mulai memandangiku dari atas sampai akhir lalu menyeringai. Wajahnya penuh ejekan. Aku tau apa yang dipikirkannya.
Aku benar-benar tidak tahu mengapa semesta hari ini tidak mau berada di pihakku dan justru mempertemukanku dengan Tama. Bila saja waktu pertemuan kami adalah sebelum aku mengenal Ghifari, aku tentu sudah mengemis meminta kembali di sisinya.
Mengingat hal tersebut aku jadi merasa bersalah pada Ghifari dan malu kepada diriku sendiri yang membuatku merasa jadi pengemis.
Mengetahui posisi ini (posisi canggung). Ghifari menengahi. Aku harus berterima kasih padanya.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Ghifari bingung.
Aku ralat, dia bukan menengahi tapi ingin tahu apa yang terjadi kepadaku dan Tama. Dia ingin tahu hubungan kami.
"Sudah. Bahkan, sangat kenal." jawab Tama sambil terkekeh. Aku hanya diam. Mengikuti arah permainannya.
Aku tidak boleh terlihat takut ataupun rendah di hadapan cowok licik macam Tama.
"Dia calon istriku." kata Ghifari.
Aku tidak lagi terkejut mendengar kalimat Ghifari yang terus mengakuiku sebagai calon istri, karena selama ini memang dia terus menyebutkan hal serupa kepada semua orang yang dikenalnya. Mungkin untuk memperlancar aksi bohongnya.
"Hahahaha." Tama tertawa. Aku tau dia mengejekku. Aku lebih memilih diam.
Laki-laki seperti Tama tidak perlu ditanggapi. Biar saja dia puas dengan apa yang ingin diungkapkannya.
"Hebat banget kamu Ara. Pinter banget cari mangsa." kata Tama.
Aku hanya diam. Dalam hati aku mengutukinya. Tapi aku harus tetap diam. Karir Ghifari terancam. Aku tak mau menghancurkan karir Ghifari.
Namun tak kusangka, Ghifari menatap Tama dengan tatapan tak suka, lantas berkata, "Maksudmu apa?"
__ADS_1
"Dia adalah mantan pacar saya, Pak Ghifari. Untunglah kalian belum menikah. Anda tau, Pak? Dia hanya butuh uangmu saja. Korbannya sudah banyak. Kemarin saat saya tau kalau dia hanya ingin menguras uang saya, saya pergi tinggalkan dia, dan benar saja dia membuat onar di kafe ini. Dia memang cantik dan pandai berakting." kata Tama.