
Aku membeku di dalam pelukan Bang Haidar. Air mataku seketika menderas. Aku benar-benar tidak mengangka kalau Bang Haidar mengatakan kalau aku adalah adiknya. Dan ternyata dugaanku benar.
"Enggak, Bang. Itu nggak mungkin." kataku. Sambil melepasakan tangan Bang Haidar.
Bang Haidar menatapku dengan tatapan sedih. Ini kali pertama aku melihat Bang Haidar yang terlihat sangat sedih seperti saat ini.
"Bantu Abang tes DNA, Za. Abang yakin. Abang yakin kalau Abang nggak salah kenalin mama.." kata Bang Haidar.
Bang Haidar tepat jatuh pada saat dirinya menyebut nama Mama. Aku menjadi sangat sedih melihat bagaimana keadaan Bang Haidar yang terlihat sangat menyedihkan ini.
Aku benar-benar tidak tega. Jujur saja melihat mata merah dan air mata Bang Haidar yang turun membuat aku seakan percaya kalau Bang Haidar adalah kakak kandungku yang selama ini telah melakukan banyak upaya untuk mencari keberadaanku dan Mama.
Namun, meski aku percaya dengan kata-kata yang Bang Haidar katakan, tetap saja aku harus memastikannya terlebih dahulu. Aku tidak mau Bang Haidar salah orang dan akupun salah telah menganggap Bang Haidar sebagai kakakku.
"Besok, Bang?" tanyaku.
"Bagaimana kalau sekarang juga?" taya Bang Haidar setelah mengusap wajahnya.
Aku mengangguk. Aku rasa lebih cepat lebih baik. Aku pun langsung masuk dan berpamitan kepada Bi Shanti dan Mama. Dan tak lupa aku mengambil beberapa helai rambut mama yang kebetulan rontok di bawah jilbabnya. Aku langsung mengantonginya sebelum membuat semua orang curiga.
"Ini udah malem lho, Ra. Apa nggak apa-apa?" tanya Bi Shanti.
"Bibi tenang aja. Aku aman sama Bang Haidar." katku.
Seleh meyakinkan dan bepamitan akupun langsung kembali menemui Bang Haidar dan langsung pergi ke rumah sakit.
Hingga akhirnya tes DNA pun dilakukan, Aku dan Bang Haidar hanya diam, kini kepala kami dipenuhi dengan masing-masing pikiran. Aku berharap kalau Bang Haidar adalah kakaku namun bila dia adalah Kakakku. Sungguh aku tidak mau kalau keluargaku sampai disuruh tinggal di rumahnya.
Aku tidak mau menjadi beban ataupun benalu dalan keluarga yang tidak terlihat membuka tangan untukku dan aku yakin kalau merekalah yang menelantarkan ibuku dan aku. Apa lagi aku belum mengetahui apa maksud ini semua.
Namun, aku jadi teringat kata-kata Bang Haidar yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan membawa aku dan mama ke rumah itu bahkan akan menjauhkan kami dari rumah itu untuk sesuatu yang juga belum aku tahu.
Ya Allah, aku hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Engkau. Hamba pasrah Ya Allah. - batinku.
"Ayo, kita pulang, Za." kata Bang Haidar.
"Lho, nggak nunggu hsilnya, Bang?" tanyaku.
"Hasilnya seminggu." kata Bang Haidar.
"Nggak bisa dipercepat?" tanyaku.
"Paling cepat sehari, itupun harus pakai darah." jawab Bang Haidar.
Aku terdiam. Aku tidak mungkin menyakiti Mama. Aku akan bersabar mungkin inilah jalannya, aku harus menunggu dan menunggu lagi.
"Selama seminggu, Abang mohon, jangan beritahu ini kepada siapapun. Setelahnya nanti kita bicarakan lagi. Dan Abang mohon hindari Ghifari untuk sementara dan jangan ke rumah abang dulu sebelum kita tahu hasilnya." kata Bang Haidar.
"Baik, Bang." kataku kepada Bang Haidar.
__ADS_1
Aku pun menurut. "Semoga kamu memang adikku, Za. Dalam dunia ini, hal yang paling Abang harapkan dan selalu abang doakan adalah Abang bisa bertemu dengan kamu dan Mama." kata Bang Haidar.
Aku mengangguk.
Lalu Bang Haidarpun langsung mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan aku mematikan ponselku. Aku tidak mau mengangkat dari Ghifari. Akupun mulai percaya kepada Bang Haidar.
"Abang akan datang ke rumah kamu lusa untuk menerapi mama." kata Bang Haidar.
Aku mengangguk mengerti.
Aku menoleh sekali lagi ke arah Bang Haidar. Aku benar-benar merasa dekat dengannya. Bang Haidar tersenyum, aku pun membalas senyuman Bang Haidar.
Akupun langsung mengganti pakaianku dan langsung melaksanakan salat isya. Magrib sudah kulaksanakan tadi bersama Bang Haidar di salah satu Masjid.
Setelah salat dan berdoa, akupun langsung merebahkan tubuhku di atas kasur, di samping ibuku. Aku memeluk beliau dengan erat dari belakang.
Aku ingin sekali bercerita kepada beliau mengenai semuanya namun aku tidak mau menambah beban kepada ibuku yang kini keadaannya mulai membaik.
Mama, Ara bingung. -batinku.
Aku semakin memeluk ibuku dengan erat.
***
Keesokkan harinya aku mulai menyalakan ponselku. Dan pesan dan beukti telepon dari Ghifari mulai memenuhi ponselku. Aku hanya membacanya. Namun, aku menemukan satu pesan yang membuatku merasa bingung harus berbuat apa.
Gue bakal sampai rumah lo 15 menit lagi. -pesannya.
Dan seketika akupun merasa tahu harus berbuat apa. Akupun memilih untuk pura-pura sakit saja untuk menghindari pertemuan kami.
Lagi pula rasanya aku ingin menangis mengenang apa yang Ghifari katakan kepda Ibunya.
Aku memang sangat penasaran dengan apa yang diucapkannya itu namun jujur aku merasa apa yang diucapkan oleh Bang Haidar benar adanya, aku hanya perlu menghindari Ghifari untuk sementara waktu hingga hasil tes tersebut keluar.
Selanjutnya nantilah kita akan pikirkan lagi.
Aku benar-benar bingung saat ini.
"Assalamualaikum!" salam Ghifari.
Aku tak akan salah mengenali suaranya. AKu berani bertaruh kalau dirinya sudah sampai di depan rumah.
Lalu akupun menenggelamkan tubuhku dalam selimut. Aku tidak mau bertemu dengannya. Aku ingin terbebas dari sakit hatiku saat ini untuk sementara waktu.
Aku tidak mau mendengar apa yang selanjutnya Ghifari katakan dan lakukan.
Tak lama kemudian, Bi Shanti masuk ke dalam kamar.
"Nak, ada Nak Ghifari di luar." kata Bi Shanti.
__ADS_1
"Tolong bilang saja kalau aku sedang tidak enak badan, Bi." kataku.
"Kamu sakit, Nak?" tanya Bi Shanti yang terlihat cemas melihatku seperti ini.
Aku hanya bisa menggeleng. Bi Shanti memeriksa suhu di dahiku dengan cara menempelkan tangannya di dahi.
"Ya Allah, kamu panas banget." kata Bi Shanti.
Ntahlah aku benar-benar tidak tahu kalau suhu tubuhku bisa sepanas ini. Aku hanya bisa tersneyum, aku hanya merasa sedikit pusing, mungkin ini efek karena banyak yang kini aku pikirkan.
"Yaudah bibi bilang sama Nak Ghifarinya ya?" tanya Bi Shanti.
Aku mengangguk.
Akupun bisa bernafas lega. Aku jadi tidak perlu berpura-pura di hadapan Ghifari. Rasanya mual sekali mengingat apa yang dikatakannya kemarin.
Namun, nafas legaku hanya berselang beberapa menit karen akini aku melihat Ghifari mengetuk pintu kamar yang terbuka yang sepertinya lupa Bi Shanti tutup.
"Lo sakit?" tanya Ghifari yang langsung masuk ke kamar.
Aku hanya mengangguk.
Rasanya aku benar-benar ingin meludahi Ghifari saat ini juga. Aku benar-benar muak dengan sikap baiknya. Semakin dia bersikap baik kepada diriku, aku semakin memikirkan kata-katanya dan terus menganggap dirinya adalah seorang pembohong. Iya, pembohong yang sangat kejam.
"Kenapa nggak bilang." kata Ghifari.
Aku hanya diam saja, tidak menangapi.
"Kalo gitu gue bilang Aisyah deh nanti." kata Ghifari.
Dasar Jahat! -seruku dalam hati.
"M-makasih." kataku suaraku seketika serak.
"Lo mau makan sesuatu?" tanya Ghifari dengan lembut.
Rasanya aku ingin menangis saat ini juga. Memikirkan kebaikannya hanya sebatas setingan dan penuh kebohongan membuat dadaku rasanya sesak. Aku benar-benar ingin menerjang Ghifari dan menamparnya.
Aku menggeleng.
"Yaudah, gue di depan deh. Lo istirahat ya?" kata Ghifari.
Aku mengangguk.
Ghifaripun keluar dari kamar dan menutup pintu. Aku menggigit bibrku untuk menahan tangis, namun satu butir air mata tetap keluar dari sudut mataku.
***
Guys, maaf ya baru bisa update lagi dan satu part dulu yaaa.. Dari kemarin belum sempet ngetik soalnya ☹️ Sehat selalu semuanya ❤️❤️❤️
__ADS_1
***