Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 7 - Untuk Pertama Kalinya


__ADS_3

"Lo tunggu di sini!" kataku.


Ghifari memperhatikan wajahku. Aku hanya bisa memasang wajah angkuh.


"Apa liat-liat? Emang gue pisang?" tanyanya.


"Ck,.." dia hanya berdecak.


Setelah mengucapkannya aku masuk kembali ke dalam rumah.


"Mama." kataku tak kuasa menahan tangis. Aku memeluknya erat. Tanpa kusangka beliau mengusap tanganku.


"Mama, terima kasih. Ini kali pertama Ara liat mama tersenyum, walaupun orang pertama yang mendapat senyuman mama bukan Ara tapi terima kasih. Ini adalah hadiah terbaik yang mama berikan untuk Ara hari ini." kataku mencium pipi ibuku.


"Tapi Ara harus pergi," kataku. Sedih. "Ada pekerjaan yang harus Ara lakukan bersama cowok nyebelin itu." kataku. Ibuku tersenyum. Kuartikan sebuah restu.


Ya Allah, aku benar-benar berterima kasih atas hari ini. -batinku.


"Ara pergi dulu ya, Ma." kataku, lalu mencium tangan beliau. Kemudian pergi.


Aku mengusap air mataku, tak kan kubiarkan Gifari melihatnya, apa yang akan dia katakan nanti kalau melihatku seperti ini, pasti dia mengataiku cengeng.


"Lama banget si lo." katanya.


Benar saja. Yang di dalam tadi hanya akting. Sudah kukatakan bahwa kepribadiannya sulit ditebak bukan?


Tapi diam-diam aku berterima kasih kepadanya. Bagaimanapun aktingnya membawa keajaiban untuk ibuku. Dan itu bisa membuatku memaafkannya.


"Nggak sabaran banget si jadi cowok." kataku, kesal. Lalu masuk ke dalam mobilnya. Setelah menutup pintu mobilku, dia berlari masuk ke tempat kemudi. Lalu kitapun melesat ntah kemana.


"Lo tinggal berdua doang sama nyokap?" tanyanya, sesekali melirikku.


"He-eh." Kataku.


"Dari?" tanyanya, terlihat sekali kalau dia penasaran. Akupun menatapnya. Mungkin tak ada salahnya kalau aku bercerita kepadanya. Semoga keputusanku tidak ku sesali nantinya.


"Dulu awalnya gue tinggal bertiga sama bibi, tapi bibi gue meninggal, jadi sekarang gue cuman tinggal sama nyokap. Kenapa si? Kepo banget lo." kataku, pura-pura kesal.


"Bokap lo?" tanyanya.


Aku hanya menaikkan bahu. Tanda tidak tau harus harus menjawab apa karena aku memang benar-benar tidak tau keberadaannya. Jangankan keberadaan, wajahnya saja aku tidak tahu.

__ADS_1


"Terus selama ini lo yang cari uang setelah bibi lo meninggal?" tanyanya.


"Iya. Kenapa? Lo nggak percaya?" tanyaku.


"Enggak lah, lo mana bisa kerja keras begitu." katanya.


"Heh! Gue bilangin ya, gue itu bukan elo yang suka nadahin tangan minta uang sama orang tua lo. Gue mah mandiri." kataku.


"Atas dasar apa lo bilang gue suka nadahin tangan minta uang sama orang tua gue? Gue punya usaha yang gue bangun pake tangan gue sendiri." katanya tak mau kalah.


"Nggak percaya gue, udah lah gue mau tidur. Kalo udah sampe bangunin gue." kataku. Lantas memejamkan mata.


"Udah sampe." katanya datar.


"Argh. Tuhan. Kenapa harus ketemu sama cowok ngeselin ini si?" kataku.


"Hahahaha." lagi-lagi dia menertawakanku.


Aku membaca nama tempat yang sedang kita kunjungi. Aku mengenalnya. Ini merupakan salah satu butik berisi pakaian muslim milik seorang desainer muslimah ternama yang sering muncul menjadi model dari salah satu kosmetik di televisi. Tunggu!


"Tunggu. Lo nggak salah? Mau ngapain kita ke sini?" tanyaku.


"Udah ayok masuk!" katanya, sambil menyeret tanganku.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pelayan.


"Tolong carikan pakaian yang pantas untuk calon istri saya, Mbak." kata Gifari.


Aku memutar bola mata. Aku tau aku harus terbiasa untuk ini, karena ini adalah perjanjian kita. Tapi tetap saja aku enggan. Aku langsung dibawa oleh pelayan tersebut.


Aku menoleh ke arah Ghifari. Meminta pertolongan. Aku tidak mau mengikuti pelayan ini, tapi Ghifari justru mengisyaratkan aku harus mengikuti pelayan itu lewat tatapan matanya.


Singkat cerita, tak lama kemudian aku keluar dari ruang ganti menggunakan pakaian yang dipilih oleh sang pelayan. Lengkap bersama kerudung yang sungguh menyebalkan karena dililit-lilit membuatku tak nyaman. Aku berani bertaruh aku tak akan pernah bisa memakainya sendiri jika sudah dilepas.


Ghifari di sana. Menatapku dari atas sampai bawah. Dengan tatapan yang tak bisa kujelaskan dan maknai. Tapi aku buru-buru menghampirinya. Kukatakan padanya aku tidak nyaman menggunakan jilbab yang dililit-lilit. Tenggorokanku rasanya seperti sedang dicekik.


"Tolongin gue. Gue nggak mau pake kerudung.." kataku.


Mendengar kata-kataku, dia memandangku sinis.


"Okelah, gue kalo emang gue harus pake kerudung tapi gue nggak mau pake kerudung yang dililit-lilit ini, mbak-mbaknya gue bilangin baget. Gue nggak mau pake kerudung begini-begini." kataku protes.

__ADS_1


"Yaudah tunggu di sini." katanya.


Dia berjalan menghampiri pelayan yang sedari tadi membantuku memilih pakaian. Lalu berbincang sebentar. Aku tidak dapat mendengar apa yang dikatakannya tapi kurasa dia mengikuti apa kemauanku. Tak lama kemudian pelayan itu kembali membawaku ke ruang ganti dengan beberapa pakaian di tangannya.


"Mbak, ini nggak salah?" tanyaku memandang pakaian juga kerudung yang aku pakai. Warnanya biru laut. Motifnya sederhana tapi elegan. Tapi bukan motif yang aku keluhkan. Aku memang meminta kerudung yang langsung bisa kupakai tanpa menggunakan jarum-jaruman. Tapi jilbab ini panjang sekali.


"Nggak mbak, ini model terbaru kami dan cocok sekali dipakai sama mbak." kata pelayan itu.


Baru aku akan protes lagi. Dari luar Gifari sudah memanggilku. "Cepet Ara, kita nggak ada waktu lagi." katanya.


Aku mengeluh dalam hati. Mau tak mau aku keluar dengan pakaian serba panjang ini. Bukankah pakaian seperti ini hanya bisa dikenakan oleh wanita-wanita muslimah yang taat beragama? Aku merasa jadi orang munafik seketika. Biarlah, aku hanya mengikuti apa mau Ghifari.


Pelayan itu juha memberikanku sepatu dan tas senada.


"Kepanjangan." keluhku sambil merajuk manja. Berharap dia luluh.


Dia tertegun. Lalu membuang pandangannya. "Jelek banget si lo. Kita nggak ada waktu lagi. Udah pake itu aja. Ayo." katanya meninggalkanku.


Rasanya aku ingin menggetoknya dari belakang. "Tadi aja di rumah lu bilang gue cantik sekarang lo bilang gue jelek. Labil banget si lo." kataku.


"Tadi gue cuman bohongan." katanya.


"Mata lo kayaknya bermasalah. Semua orang bilang gue cantik, cuman elo yang bilang jelek. Besok lo harus ke dokter mata." kataku kesal.


Kita sudah keluar butik.


Dia hanya tertawa menanggapiku. Sialan.


Di dalam mobil aku gelisah. "Kita mau ke mana?" tanyaku.


"Ke rumah gue. Mulai sekarang pake aku-kamu. Biasain. Kalau gue-lo semua orang bakal curiga." katanya.


"Ngapain ke rumah lo?" tanyaku.


"Makan siang sama keluarga gue." katanya.


"Gue harus ngomong apa di sana?" tanyaku.


"Lo diem aja di sana. Cukup jawab pertanyaan mereka kalau ditanya." katanya.


"Kalau ditanya gue kerja di mana gue harus jawab apa?" tanyaku.

__ADS_1


"Bilang aja lo sekretaris gue." jawabnya.


Aku gusar. Baiklah kalau memang aku harus diam. Itu lebih baik. Aku hanya perlu tersenyum ramah bukan? Berbasa-basi sedikit lalu pulang. Ghifari memberikan sesuatu kepadaku saat kami dalam mobil. Ia memberikan sebuah bingkisan yang nantinya harus aku serahkan kepada ibunya untuk mengambil hati perempuan malang yang tega dibohongi anaknya sendiri.


__ADS_2