
"Eh.." panggilku. Aku malas memanggil namanya.
"Panggil nama gue." kata Ghifari. Sepertinya dia mulai sadar kalau aku tidak pernah memanggil namanya.
"Elah. Malesin banget si." kataku sambil memutar bola mata.
"Apa susahnya manggil nama?" katanya tidak mau kalah.
"Nama lo sama sikap lo bertolak belakang." kataku asal-asalan.
"Lho, lo nggak ngerasain hal yang sama?" tanyanya.
Telak. Lidahnya memang begitu licin. Dia selalu bisa membalikkan kata-kataku. Aku benar-benar kesal kepada dirinya.
"Kenapa si lo bisa banget balikin kata-kata gue?!" teriakku frustasi.
Dia hanya tertawa lagi.
"O iya, lain kali nggak usah bawa makanan ke rumah." kataku.
"Kenapa?" tanyanya. "Bukannya lo sendiri yang minta begitu?" lanjutnya. Dia terlihat bingung dengan permintaanku.
"Udah nggak lagi. Lo nggak usah bawa makanan 3x sehari ke rumah gue. Kalo mau ke rumah, ke rumah aja, nggak usah bawa apa-apa." katanya.
"Kasih gue alasan dulu." katanya.
"Gue nggak mau ketergantungan sama lo." kataku. "Lagian makanan luar belum tentu sehat kan?" sambungku.
"Oke. Kalo itu mau lo. Tapi gue beliin kulkas ya?" katanya.
"Nggak usah. Gue bisa nabung dari uang yang lo kasih." kataku.
Aku benar-benar tidak enak ketika dia terlalu baik kepada diriku. Aku memang bekerja kepadanya sebagai calon istri pura-puranya namun terlepas dari itu harusnya dia tidak begitu baik. Seharusnya dia bisa bersikap biasa saja.
Aku jadi bingung kepada diriku sendiri. Sebelumnya, pekerjaanku hanya menadah uang dari pacar-pacar kayaku. Namun, ketika ada orang seperti Ghifari yang datang dan tidak tanggung-tanggung memberikan apa yang aku butuhkan. Aku jadi merasa tidak enak, terlebih dia bukan siapa-siapaku, tidak ada hubungan yang mendasari sifat baiknya selain karena aku seperti karyawannya.
"Pilih gue beliin kulkas atau gue tetep kirimin lo makanan 3x sehari?" tanyanya.
Seketika aku sadar. Sebagai seorang yang tidak memiliki apa-apa, orang kaya akan selalu berkuasa. Aku jadi kesal memikirkannya.
"Dasar big bos! Nggak mau ngalah sedikit. Terserah lah terserah. Lo mau beliin gue kulkas kek, rumah kek, gue nggak peduli." kataku, kesal.
"Oh, jadi lo pengen gue beliin rumah, Ra?" tanyanya, dengan senyum menggoda.
"Enggak! Jangan mulai deh!" seruku, kesal.
"Jadi istri gue dulu." katanya.
Untuk kesekian kalinya ku katakan: Sial. Sial. Sial! Jantung ini meski tau apa yang dikatakan Ghifari hanya lelucon tetap saja berdegub lebih kencang dibanding biasanya.
__ADS_1
"Nggak mau." kataku.
Ghifari menatapku. Aku buru-buru menutup wajahku dengan blazer yang kuambil sembarangan dari lemari yang kini ada di pangkuanku.
Dia lagi-lagi tertawa melihat tingkahku. Sial, aku ditertawakan lagi.
"Lo mau jalan-jalan gak?" tanyanya.
Mataku langsung berbinar-binar. Aku memang tidak pernah berjalan-jalan semenjak putus dengan Tama. Aku benar-benar butuh piknik. Aku melupakan pikiranku tentang orang kaya menyebalkan tadi. Biarkan saja dia menyebalkan yang penting dia baik kepadaku.
Aku benar-benar tidak konsisten. Ah, biarlah.
"Enggak." kataku.
"Oh, yaudah bagus." katanya datar.
"Ih, nyebelin banget si lo. Kata lo, gue kalo ngomong suka kebalikannya? Gue bilang enggak berarti iya." kataku, kesal.
"Hahahahhahaa." kali ini dia benar-benar tertawa lepas. Sial, aku ditertawakan lagi.
"Yaudah lah nggak jadi. Kali ini beneran nggak jadi." kataku.
"Bener?" tanyanya. "Gue punya dua tiket Dufan deh kayaknya." lanjutnya.
Tangan Ghifari mulai menyentuh dashboard mobil.
"Wih iya, gue ternyata punya 2 tiket Dufan." katanya, sambil mengambil 2 tiket Dufan dari dashboard mobil. "Bener nggak mau? Yaudah gue buang aja." katanya.
"Ish. Ngapain dibuang si? Sayang tau." kataku, langsung merebut tiket itu dari tangan Gifari.
"Sayang sama tiketnya apa sama orangnya nih?" tanyanya, dengan wajah menggoda.
Aku hanya mendengus, sebal. Aku tidak akan menjawab pertanyaannya. Mengapa dia mudah sekali mengatakan hal-hal semacam itu ya? Pasti dia sudah terlatih. Aku yakin itu.
Terlatih dalam artian, dia memiliki banyak perempuan di hidupnya. Buktinya, kepadaku yang merupakan orang yang baru dikenalnya beberapa hari saja sudah begitu kelakuannya.
Ah, memikirkan itu membuatku sakit kepala. Kenapa juga aku harus memikirkan hal semacam ini?
"Kenapa lagi?" tanyanya.
"Apaan si? Kepo banget." kataku.
"Gue mau nanya deh." katanya. Kali ini raut wajahnya serius.
"Nanya apa?" tanyaku.
"Gimana kemaren di rumah gue?" tanyanya. Kali ini air wajanya benar-benar serius.
"Gimana apanya?" tanyaku.
__ADS_1
"Perasaan lo."
"Lo beneran pengen tau?"
Dia mengangguk.
"Beneran?"
Dia mengangguk lagi.
"Denger ya. Gue ngerasa bersalah. Keluarga lo begitu baik sama lo. Tapi kenapa lo tega banget ngebohongin mereka? Mereka juga baik banget sama gue, tapi kenapa gue harus boong sama mereka? Gue ngerasa jadi orang jahat banget tau gak?!" kataku, sambil mencubit Ghifari.
"Ampun. Ampun. Bar-bar banget si lo ahela." katanya.
Seketika dia diam, akupun melakukan hal serupa.
"Tapi lo nyaman nggak di sana?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk. "Tapi ada yang aneh." kataku akhirnya.
"Nenek yang pakai kerudung coklat. Beliau nangis liat gue." kataku.
Dia mendengarkanku. Tanpa merespons. Ada apa dengannya. Mengapa dia jadi diam begitu. Apa aku salah bicara?
"Hei!" kataku menyentuh lengannya.
"Hah? Apa lo ngomong apa tadi?" tanyanya.
"Gue bilang, nenek lo yang pake kerudung coklat nangis liat gue." kataku. Lalu menatapnya. Mencari jawaban.
"Hahahahaha muka lu serem kali, Ra." katanya.
Sudah kukatakan kan bahwa kepribadiannya sulit ditebak? Lihatlah, ku kira ada sesuatu yang disembunyikannya tadi ketika dia diam. Ternyata dia hanya sedang memikirkan bagaimana caranya bisa mengolokku. Kenapa harus aku simpati kepadanya tadi.
Tadinya aku ingin bertanya kepada Ghifari mengapa nenek berkerudung coklat itu terlihat tidak menyukai Ibu Ghifari. Padahal sejauh aku mengenal Ibu Gifari kemarin, beliau orang yang sangat baik. Rasanya tak ada alasan untuk membenci seseorang yang baik dan ramah seperti beliau.
Ah, mungkin ini adalah masalah keluarga Gifari, aku tak berhak untuk ikut campur karena aku hanya orang luar. Lagi pula aku tidak tau situasinya sebab tak pernah merasakan hal semacam itu. Ntah mengapa walau keluarga Ghifari begitu ramah namun aura dari semuanya mengatakan sebaliknya. Seperti ada tameng yang dibuat untuk melindungi tubuh mereka masing-masing. Begitu asing namun saling berdekatan.
Fikiranku mulai melantur. Aku mengaduh pelan dalam hati.
"Aduh."
"Kenapa, Ra?"
"Lho bukannya aku ngomong dalem hati ya?" Tanyaku polos.
"Iya kamu ngomong dalem hati, Ra." katanya, sambil menekankan kata kamu. Akupun langsung sadar.
"Nyebelin banget si lo!"
__ADS_1