Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 50 - Tak Habis Pikir


__ADS_3

Hari terus berlanjut, beberapa kali petugas datang padaku dan menyampaikan kalau ada kunjungan untukku, namun aku tak mau menemui siapapun yang datang.


Bang Haidar sudah mengingkari janjinya jadi aku pun berkomitmen untuk tidak mau bertemu siapapun. Meski aku tidak pernah mau bersua dengan keluargaku, namun aku tetap mendoakan mereka, selalu. Aku harap keluargaku diberikan kesehatan, keberkahan, dan kebahagiaan.


Aku juga merenung berhari-hari. Banyak sebetulnya yang ingin aku ketahui tentang apa yang terjadi pada keluargaku saat ini. Namun, apalah daya. Aku sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan keluargaku. Biarlah di luar sana ibuku bahagia.


"1002! Sini, lu!" Seru Ibu Farah.


Aku pun bangkit dan langsung menghampiri Ibu Farah. Ibu Farah menepuk-nepuk bahunya minta dipijat. Aku pun langsung melakukan apa yang beliau suruh.


"Gua dapet info katanya lu nggak mau dibebasin." Kata Ibu Farah.


"Belum waktunya bebas, Bu." Jawabku.


"Gede juga nyali lu ya. Bukannya bebas itu enak?" Tanya Ibu Farah.


"Bebas tapi dikurung rasa bersalah karena gak bisa tanggung jawab itu nggak enak, Bu." Kataku.


"Emang lu ngerasa bersalah abis bunuh bude lu yang jahat itu?" Tanya Ibu Farah.


Pertanyaan yang sulit, aku diam saja. Tak mau menjawab. Lagi pula, aku sedang berusaha untuk menyesali apa yang aku lakukan, perlahan. Meski jujur untuk saat ini perasaan bersalah itu belum muncul.


"Tahanan 678, ada kunjungan!" Seorang sipir datang.


Ibu Farah pemilik nomor itu pergi begitu saja. Aku pun duduk di pinggir lapangan. Di sana sudah banyak tahanan-tahanan lain yang memang melakukan aktivitas yang berupa-rupa. Namun, ada satu tahanan yang membuatku bangkit dari tempat dudukku.


Di sana, ada tahanan yang merupakan seorang ibu-ibu yang tengah ditendangi oleh dua orang tahanan lain. Ibu-ibu itu sudah cukup renta. Aku merasa sangat kasihan.


"Hei! Berhenti!" Seruku. Seperti pahlawan kesiangan.


"Siapa lu?" Tanya seorang tahanan.


"Dia ditahan karena bunuh budenya sendiri, Bos." Kata tahanan satunya lagi.


"Oh, mau jadi jagoan lu?" Tanya tahanan yang dipanggil 'Bos'.


Aku tidak terkejut melihat ada tahanan yang tahu kalau aku adalah tahanan yang ditahan karena membunuh. Semua orang yang ada di sini memang hampir hafal penyebab kami semua masuk tahanan.


Aku tetap membantu ibu-ibu itu yang sekarang menangis terisak-isak, seperti kesakitan. Aku benar-benar tidak tega.

__ADS_1


Aku membantu beliau untuk bangun dan menjauh dari mereka. Namun, tiba-tiba rambutku ditarik dari belakang.


"Aduh!" Kataku yang mau tak mau langsung melepaskan tanganku pada ibu-ibu itu, "Ibu, pergi aja Bu yang jauh! Jangan hiraukan saya!" Kataku.


Dan yang terjadi selanjutnya adalah akulah yang menjadi bahan bulian dari mereka berdua. Aku tentu ingin melawan namun ntah mengapa aku kali ini hanya diam saja. Biarlah mereka memukuliku sampai puas. Semenjak masuk penjara, aku seperti tidak mengenali diriku sendiri. Aku jadi orang yang sangat pasrah.


"Anj! Dia anak buah gua!" Seru seseorang yang langsung memukul kedua dengan menggunakan balok orang yang tengah memukuliku.


Aku menoleh ke sumber suara, ternyata Ibu Farah. Bukankah dia terlihat tidak suka padaku? Kenapa dia justru menghentikan aktivitas tahanan lain yang memukuliku?


"Bos, mending kita kabur Bos!" Kata salah satu tahanan yang tadinya memukuliku dengan ketakutan. Lalu mereka berdua pun langsung pergi begitu saja.


Ibu Farah langsung melemparkan balok di dekatku. "Dasar totol!" Katanya sambil menoyor kepalaku, "Dipukul malah diem aja. Mau mati lu?!" Seru Ibu Farah.


"Itu lebih baik kayaknya, Bu." Kataku sambil tersenyum kecut.


"Si Ulfa keponakannya tolol amat!" Kata Ibu Farah yang menoyorku kembali dari belakang. Aku hanya bisa menghela napas. Baru saja aku mau memujinya baik.


Wajahku pasti sudah babak belur.


Sebentar lagi ada kegiatan keagamaan. Kami dikelompokkan berdasarkan agama kami masing-masing.


Aku baru tahu kalau di penjara ada kegiatan-kegiatan semacam ini semenjak masuk ke penjara. Mungkin kegiatan ini ditujukan agar para tahanan bertaubat dan ingat Tuhan.


Aku hendak kembali ke sel karena mau berganti pakaian, namun seorang sipir menghampiriku, "Mau ke mana kamu?!" Nadanya galak sekali.


"Mau ambil baju, Bu." ucapku. "Baju saya kotor." sambungku.


"Kamu pasti mau bolos kegiatan, kembali ke acara!" Seru Sipir tersebut.


Aku pun mau tak mau langsung berbalik. Beberapa tahanan yang melihat aku dimarahi langsung tertawa, mungkin bagi mereka ini adalah hal yang sangat lucu, padahal tidak ada lucu-lucunya sama sekali.


Aku duduk paling belakang, di belakang pintu sambil mendengarkan seorang Ustad atau Kyai di dalam Aula berceramah.


"Kenapa kamu dibelakang pintu?!" Tanya seorang sipir.


"Penuh, Bu. Nggak bisa masuk. Baju saya juga kotor." Kataku sambil menunjuk bajuku sendiri.


Memang betul, aula itu memang sempit, di pintu saja sudah banyak yang duduk. Jadi aku lebih memilih duduk di belakang pintu.

__ADS_1


Sesekali aku meringis sebab sepertinya ujung bibirku sobek karena perih sekali. Aku juga tidak bisa konsen mendengarkan ceramah karena memang keadaannya berisik sekali, banyak yang mengobrol, banyak yang tertawa, mendengarkan ceramah, dan sebagainya.


Aku butuh tisu.


Tiba-tiba, seseorang menyodorkan tisu kepadaku. Aku pun tersenyum sepertinya mudah sekali doaku terkabul, "Makasih." Jawabku.


"Sama-sama." Katanya.


Deg.


Aku membeku di tempat. Suara itu tentulah suara yang aku kenal. Suara Ghifari. Aku langsung mendongak dan benar saja, di sana Ghifari tengah berdiri di sampingku. "Elo?" Tanyaku tak percaya.


"Iyaaa ini gue." Katanya, alih-alih duduk, dia menghampiri sipir dan mengatakan sesuatu hingga sipir itu pergi. Kemudian, Ghifari kembali kepadaku dan duduk di sampingku.


"Lo ngapain di sini? Gimana bisa?" Tanyaku yang bingung setengah mati.


"Ya bisalah, lo liat siapa yang ceramah?" Tanya Ghifari.


Aku menggelengkan kepalaku, aku memang tidak melihat karena memang tidak kelihatan, "Kakek Labib. Ayahnya Papa Faiz. Maksudku Om Faiz." Kata Ghifari.


Ghifari sepertinya sudah tidak enak lagi memanggil ayahku dengan sebutan Papa. Aku menoleh ke arahnya, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Aku tau, kalau kakekku memiliki Pondok Pesantren, namun aku baru tau kalau kakekku bisa sehebat itu. Beliau bahkan bisa sampai berceramah di sini. Dan lihatlah bagaimana tahanan mau berinteraksi dengan kakekku. Aku menoleh ke belakang, situasi sudah mulai kondusif. Kakek benar-benar hebat. Tapi, apakah aku masih boleh menyebut beliau 'kakek'?


Ghifari bangun dan langsung menarikku menjauh dari Aula. Aku tidak bisa teriak, hanya bisa mengikutinya saja. Mau apa dia sebenarnya?


Aku menoleh ke arah tangannya yang menarik tanganku dengan lembut. Ntah mengapa jantungku berdegup dengan sangat cepat. Semua rasa sakit akibat 'meloloskan ibu-ibu renta tadi' ini seakan hilang begitu saja. Dia memang ajaib. Ntah apa yang membuatnya demikian.


Dia membawaku ke tempat yang sepi. Di sana hanya ada kami berdua. Kami pun duduk di bawah pohon besar. Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. Tisu, kapas, dan obat merah.


"Gue obatin ya. Sorry..." Katanya sambil membersihkan wajahku.


"Gue bisa sendiri." Kataku.


Namun, Ghifari menggelengkan kepalanya, dia mengobati luka-luka di wajahku. Jarak kami yang sangat dekat membuat aku harus tahan-tahan agar tidak menatap wajahnya, aku terus mengalihkan pandanganku ke arah lain. Dia terus mengobatiku.


Deg-deg-deg. Jantungku benar-benar berdegup dengan kencang sampai aku takut kalau dia bisa mendengarnya.


Duh, gimana cara menormalisasikan degupan jantung ini?

__ADS_1


"Sebenernya gue malu ada di depan lo." Kata Ghifari.


Kenapa malu? Aku menatapnya, lalu buru-buru menatap ke arah lain sambil berdehem, "Kenapa malu?"


__ADS_2