Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 42 – Sebuah Keajaiban


__ADS_3

Keesokkan harinya, aku meminta kepada Bang Rama dan Kak Shinta untuk menjaga bibi di rumah. Aku tidak bisa terus berdiam diri di sana. Mereka berdua berniat untuk mencegahku namun bukan Ara namanya jika aku hanya menurut dan duduk diam saja di dalam rumah saat ibuku ntah bagaimana nasibnya di luar sana.


Aku pun langsung bergegas pergi ke rumah Bang Haidar. Aku tidak bisa menyebut itu sebagai rumahku walau kami adalah kakak beradik, bukan?


Aku menoleh ke telepon genggamku, sejak semalam Bang Haidar tidak juga menelepon atau mengirimkanku pesan. Hal itu membuat aku merasa takut setengah mati. Aku takut kalau sesuatu terjadi pada Bang Haidar.


"Semoga Bang Haidar baik-baik saja." Gumamku.


"Gimana, Neng?" Tanya tukang ojek yang kini aku tumpangi motornya.


Aku lupa menjelaskannya yang jelas aku sudah berada di atas ojek, motor lebih akurat ketimbang mobil di saat genting bukan?


"Eh, bukan, Bang. Saya bukan lagi bicara sama Abang." Kataku.


"Oh, oke, Neng."


Tukang ojek itu tidak bertanya lagi. Kali ini aku bersyukur karenanya. Aku bukannya tidak sopan malas menjawab pertanyaannya, aku hanya sedang cemas dan banyak sekali hal yang aku pikirkan.


Tak lama kemudian, aku sampai di dekat rumah Bang Haidar. Namun ada hal yang menurutku mencurigakan. Aku melihat ada Bude Ulfa, Ghifari, dan Ibunya Ghifari yang pergi naik kendaraan di luar rumah.


Lantas aku pun mulai bertanya-tanya dalam hati mengapa mereka tidak masuk mobil dari dalam justru menyetop taksi yang lewat di jalanan?


Apa yang terjadi? -batinku.


"Bang, tolong ikuti mereka ya!" Pintaku.


"Oke, Neng." Sahut beliau.


Selama di perjalanan aku meminta tukang ojek untuk berjalan pelan dibelakang mobil itu. Aku tidak mau kalau keberadaanku jadi ketahuan. Itu sama saja aku sia-sia melakukan semuanya.


Mengapa Ghifari bersama ibunya pergi bersa Bude Ulfa? Sebenarnya wajar saja sih kalau mereka pergi bersama karena mereka memang satu rumah tapi ntah mengapa ini sangat janggal di pandanganku.


Mobil itu jauh sekali pergi dari rumah. Aku bahkan sedikit merasa cemas akan ongkos ojek yang aku bayar. Dalam hati aku berdoa agar mobil tersebut lekas berhenti hingga berhenti pula tarif ongkos yang harus aku bayar.


"Stop, di sini aja, Bang." Kataku menepuk bahu kanan tukang ojek tersebut.

__ADS_1


Tukang ojek itu berhenti dan aku langsung membayar ongkos. Lalu aku pun langsung berjalan menuju rumah yang didatangi Bude Ulfa, Ghifari, dan Ibunya Ghifari. Namun, sebelum itu, aku mencoba mengedarkan pandangan ke segala arah.


Rumah itu benar-benar sepi. Ini adalah salah satu kompleks yang sangat sepi. Aku pun mencoba menoleh ke rumah-rumah yang ada di sekitar namun ternyata rumah-rumah itu tak berpenghuni. Aku pun langsung berjalan menuju rumah yang mereka masuki.


Ada apa sebetulnya? Mengapa mereka ada di sini? – batinku.


Jantungku berdegub dengan kencang. Kini dengan hati-hati aku berjalan menuju jendela, kebetulan rumah itu sepi di luar sehingga aku bisa dengan mudah untuk mengintip.


DEG!


Jantungku berdegub dengan sangat kencang dan cepat saat aku melihat bahwa di dalam rumah itu ada ibuku. Aku pun langsung membekap mulutku sendiri. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata …


Ternyata orang yang menculik ibuku adalah mereka? Tunggu.


Aku jadi teringat kata-kata Bang Haidar yang memintaku untuk tidak mempercayai Ghifari. Kini aku pun berpikir dan bertanya-tanya apakah Ghifari dan ibunya benar-benar terlihat. Jadi, bolehkah kusimpulkan sementara bahwa orang yang menculik ibuku adalah Bude Ulfa?


Namun, mengapa ada Ghifari dan ibunya? Apa mereka juga ikut terlibat>


Akupun menajamkan telingaku dan langsung menatap Ibuku tak berkedip. Aku ingin memastikan kalau ibuku baik-baik saja.


Hatiku rasanya sakit sekali, aku bisa mendengar nada mengejek di sana, ada suara yang mengandung hinaan.


“Sdah lama kita tidak bertemu.” Kata Bude Ulfa.


Bude Ulfa terlihat hendak mendekati Ibuku. Tanpa berpikir banyak lagi, aku pun langsung bergegas membuka pintu rumah tersebut dengan sangat kencang.


“Jangan sentuh ibuku!” seruku.


Aku tahu ini hal yang paling nekat dan tidak memiliki persiapan sama sekali, amun aku benar-benar muak dengan Bude Ulfa dan aku tidak mau kalau terjadi sesuatu yang tidak-tidak dengan ibuku. Kalau sampai hal itu terjadi, aku tentu tidak bisa memaafkan diriku sendiri.


Bude Ulfa, Ghifari dan Ibunya Ghifari langsung menoleh kea rah diriku.. mereka semua terkejut namun, Bude ulfa ltersenyum ke arahku.


Akupun langsung berlari kea rah ibuku namun Bude Ulfa menahan tanganku. Aku tidak bisa bergerak. Namun, karena aku tidak mau kalau Bude Ulfa sampai menyakiti mama akhirnya aku pun menenndang tukang kering Bude Ulfa hingga Bude Ulfa terduduk.


“Mama! Mama nggkapapakan?” tanyaku kepada ibuku. Ibuku hanya meneteskan air matanya. Matanya kembali sendu. Aku sepertimelihat ibuku yang lama. Paadahal ibuku sudah sangat memiliki kemajuan yang cukup pesat kemarin.

__ADS_1


Bude ulfa langsung menjambak krudungku dari belakang. Akupun mengaduh dan terjatuh karena aku memang tidak siap siaga.


“Bude! Cukup!” seru Ghifari yang langsung menarik Bude Ulfa.


“Anton! Tomy!” seru Bude Ulfa.


Tak lama kemudian, banyak orang yang datang menyergap mereka. “Bawa Ghifari dan ibunya pergi dari sini!” perintah Bude Ulfa.


Lalu selanjutnya Ghifari dan Ibunya pergi begitu saja, tanpa perlawana, ini harus digaris bawahi. Aku benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Ghifari dan ibunya adalah bagian dari Bude Ulfa. Dia tidak menayangka kalau semua ini terjadi kepadanya.


“Kamu jahat, Gif!” seruku.


Ghifari menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku sebentar lalu dia meninggalkanku begitu saja.


Aku mengusap air mataku sendiri. Aku tidak menyangka bahwa laki-laki yang selama ini aku anggap baik ternyata jahat. Dia salah satu dalang penculikan ini.


“Hahahahahha, kenapa? Kau terkejut karena calon suamimu juga bagian dariku?” tanya Bude Ulfa.


“Dasar Iblis! Bude apa kau tidak memiiki hati? Ibuku adalah adikmu! Kenapa kau perlakukan ibuku seperti ini! Kau benar-benar jahat!” seruku.


Aku tidak tahan dengan semuanya.


Kini bude Ulfa kembali menarik kerudungku hingga terlepas begitu ssaja. Kini rambutku tergerai begitu saja. Aku benar-benar ingin mencekik Bude Ulfa saat ini, namun aku tidak bisa melakukannya.


“Bukan aku yang jahat! Ibumulah yang membuatku menjaadi jahat! Dia yang memulai semua ini! Dia bahkan tidak memiliki hati ketika dia menjeloskanku di penjara! Kau tau bagaimana rasanya dan tersiksanya aku selama di penjara?” kata Bude Ulfaa yang terus mendekat ke arahku.


Aku mencoba menyeret tubuhku untuk mundur. Aku tidak bisa seperti ini. Di satu sisi aku merasa sangat ketakutan namun di sisi lain aku ingin melawan.


“Kau tentu masuk penjara karena ulahmu sendiri!” seruku.


Bude Ulfa langsung hendak menamparku, namun seketika ada tangan yang memegangi tangan Bude Ulfa.


“Lepaskan anakku!” seru seseorang.


Aku mengedarkan pandanganku kea rah pemilik suara. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat kalau orang itu adalah ibuku. Air mataku pun menetes.

__ADS_1


__ADS_2