Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 55 - Sepuluh Tahun Kemudian


__ADS_3

Sepuluh tahun kemudian.


Waktu begitu cepat berlalu dan aku benar-benar tidak menyangka kalau aku bisa mendapatkan remisi dan bebas. Hukumanku yang awalnya lima belas tahun menjadi sepuluh tahun, aku tidak begitu memahami bagaimana caranya aku bisa mendapat sedikit keringanan namun yang aku tahu, ini murni dari pihak kepolisian.


"Bos, hari ini bos bebas?" Tanya tahanan 1212, namanya Rika.


Aku tersenyum padanya dan menganggukkan kepalaku. Semua yang ada di sel ini berkumpul dan berkerumun di dekatku. Mereka sudah seperti sahabat dan keluarga untukku karena kami selalu bersama-sama selama sepuluh tahun terakhir ini. Beberapa memang sudah ada yang bebas namun beberapa lagi masih di sana.


"Iya, aku mau terima kasih sama kalian karena kalian sudah sangat baik sama aku. Semoga kalian juga lekas dibebaskan dan kembali ke keluarga kalian. Amin." Kataku dengan tulus.


Semua teman-temanku memelukku. Aku tersenyum dan menepuk-nepuk mereka mencoba menenangkan mereka. "Bos, kalau kita keluar, kita bakalan cari Bos. Bakalan jadi anak buah yang nurut, Bos. Iya kan?" Kata Rika.


Aku tersenyum sambil menyeka air mata yang sudah ada di ujung mata. "Berhentilah memanggil aku Bos. Aku bukan bos kalian. Panggil Ara saja. Siapa pun boleh menemuiku. Berjanjilah padaku kalau kalian akan terus berbuat baik ya? Terlepas dari buruknya masa lalu kita, kita harus jadi manusia yang lebih baik lagi untuk masa depan." Kataku.


"Siap, Bos!" Semua orang menangis lagi.


Seorang sipir datang, itu menunjukkan kalau aku harus pergi saat ini juga. Aku pun langsung bangkit dan pamit kepada semuanya.


Tangis harus menyelimuti kami semua. Aku pun mulai keluar, di sel-sel lain, para tahanan pun ikut menangisi kepergianku, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka semua. Memang tidak semua orang menyukaiku namun sepertinya jumlah orang yang menyukaiku lebih besar. Aku juga tidak bisa memaksakan orang lain agar suka kepadaku.


Aku beberapa kali menyeka air mataku, bahkan jilbab yang aku kenakan sepertinya sudah basah karena sesekali aku gunakan untuk mengusap air mata.


"Selamat atas kebebasan anda." Kata sipir yang mengantarku sambil tersenyum.


Aku tersenyum, "Terima kasih, Bu." Jawabku.


"Araaa!" Seru seseorang.


Aku menoleh dan melihat keluargaku sudah berkumpul, aku langsung menghampiri keluargaku. Tangis haru kini sudah mulai menyelimuti kami. Di sana ada Kakek Labib, Nenek Aisyah, Kakek Surya, Nenek Rina, kedua orang tuaku, Bi Shanti, dan Bang Haidar.


"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah." Semua orang memanjatkan syukur kepada Allah SWT. Aku memeluk mereka satu persatu.


Di antara semuanya, aku menoleh ke kanan dan ke kiri, ada satu orang yang paling aku tunggu kedatangannya. Namun, aku tidak melihat laki-laki itu di manapun. Iya, laki-laki yang kucari adalah Ghifari. Dan ibunya, Tante Farha.


"Cari apa, Nak?" Tanya ibuku.


Aku tersenyum begitu saja dan menggelengkan kepalaku begitu saja. "Tidak cari apa-apa, Ma." Kataku.


***


Seminggu berlalu.


"Ra, ikut Abang yuk!" Ajak Bang Haidar.


"Ke mana, Bang?" Tanyaku.


"Ke Mall. Kamu gak bosen apa seminggu di rumah terus?"


Aku tersenyum, "Bukannya perempuan emang baiknya di rumah aja, Bang?"

__ADS_1


"Ya iya sih tapi kan pasti bosen. Udah, kamu ganti baju ya, Abang tunggu di bawah. Kali ini gak boleh nolak."


Aku menganggukkan kepalaku menurut saja. Tidak enak juga kalau terus menerus menolak. Aku pun berganti pakaian dan mengekori Bang Haidar untuk masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan kedua orang tua kami. Setelahnya, kita pun langsung berangkat ke ntah ke mana.


Aku menyusuri jalanan dengan mataku. Ternyata kota ini sudah sangat berubah, lebih banyak gedung-gedungnya, lebih ramai, kendaraan juga semakin banyak hingga macet ke mana-mana.


"Kamu kangen Ghifari, Ra?" Tanya Bang Haidar.


Aku langsung menoleh ke arah Bang Haidar. Aku tentu tidak bisa menjawabnya, "Kenapa Abang tanya begitu?" Tanyaku.


"Dia abis berduka, Ra. Belum lama ibunya meninggal. Sekarang dia sendirian di rumahnya." Kata Bang Haidar.


"T-tante Farha?"


Bang Haidar menganggukkan kepalanya.


Aku terkejut setengah mati, "Innalillahi wa innailaihi raajiun. Sakit atau gimana, Bang?"


"Udah lama sih sakitnya. Kasian ya? Kamu nggak mau ke rumahnya, Ra?" Tanya Bang Haidar.


Aku hanya diam, bolehkah aku melakukannya? Aku terlalu malu dengan Ghifari. Rasanya untuk sekadar bertemu saja aku tidak kuasa.


"Eh, jangan deh. Dia katanya mau ngelamar anaknya Bu Lurah. Kalau kamu ketemu sama dia, nanti malah batal nikah dia." Kata Bang Haidar sambil terkekeh.


Deg.


Jadi, Ghifari mau melamar perempuan lain?


Ntah mengapa dadaku terasa sesak, mataku juga terasa panas.


Aku hanya bisa tersenyum, menutupi kesedihanku. Aku memang sudah menyiapkan sedikit tempat di hatiku jika hal ini benar-benar terjadi, namun, ntah mengapa rasanya masih saja sakit. Ada yang terasa sesak di dalam sana.


Aku hanya diam saja. Hingga akhirnya kami sampai di mal, "Kok kamu diam aja, Ra?" Tanya Bang Haidar.


"Tidak apa-apa, Bang." Jawabku.


"Ra, kamu mau nonton bioskop atau makan dulu? Eh, atau mau beli baju?" Tanya Bang Haidar.


"Aku ikut Abang aja." Kataku.


Bang Haidar terkekeh begitu saja, ntah kenapa. Kemudian, "Kamu udah laper?"


"Belum, Bang."


"Oh, yaudah langsung aja nonton ya. Mau nonton apa?"


"Terserah Abang aja."


"Oke. Kamu tunggu sini ya?"

__ADS_1


Aku menganggukkan kepala. Kemudian Bang Haidar langsung membeli 2 tiket ntah film apa. Aku sedikit tidak nyaman melihat orang-orang memperhatikan aku dan Bang Haidar. Mungkin mereka mengira kalau kami adalah pasangan, atau ... Mereka mengenaliku? Ntahlah, aku hanya bisa menundukkan kepalaku sambil membuka ponsel meski ntah apa yang aku lihat di sana.


"Ra, kamu ke dalem duluan nggakpapa ya? Abang mau ke toilet dulu, Teater 3. Kamu masih ingat cara nyari bangkunya, kan?"


"Iya, Bang, masih."


Bang Haidar mengusap kepalaku aku langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, "Bang, nanti orang-orang bisa salah paham."


"Ya biarin aja, orang adik sendiri ini."


Aku menggelengkan kepalaku pelan. Kemudian Bang Haidar pergi dan aku pun langsung masuk ke dalam bioskop kebetulan pintunya sudah dibuka dan kita sudah dipersilakan untuk masuk.


Setelah mencari bangku, aku pun duduk di sana. Pikiranku kini tertuju pada Ghifari dan Tante Farha. Pasti rasanya begitu berat menjadi Ghifari. Keluarga satu-satunya pergi meninggalkan dia.


"Maaf, Ra. Lama." Kata Bang Haidar yang langsung duduk di sampingku.


Kemudian film pun diputar, judul film itu Cinta Subuh. Seperempat jam berlalu.


"Aduh, sebentar ya, Ra. Abang harus ke toilet." Kata Bang Haidar.


"Ya Allah, Bang. Abang sakit? Apa kita pulang aja?"


"Sttt, enggak kok, nggakpapa. Tunggu ya. Jangan ke mana-mana. Jangan berisik."


Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian, Bang Haidar pun keluar. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Kemudian, aku pun melanjutkan menonton.


Tak lama kemudian, Bang Haidar datang dan duduk di sampingku. Aku mendongak dan melihat Bang Haidar yang terkekeh, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.


Lima belas menit berlalu, Bang Haidar kembali pergi, "Abang tinggal sebentar ya."


Kali ini aku hanya menjawab dengan cara bergumam.


Tak lama kemudian, Bang Haidar kembali lagi dan duduk di sampingku. Tanpa melihat pun aku tahu itu Bang Haidar karena warna pakaiannya sama. Lagi pula siapa lagi kalau bukan Bang Haidar?


Kali ini Bang Haidar tidak mengucapkan sesuatu, aku juga enggan bertanya karena takut mengganggu orang-orang. Namun, ntah mengapa aku bisa mencium bau parfum yang lain, tapi aku rasa itu hanya firasatku saja.


Bang Haidar menyodorkan popcorn kepadaku, aku pun tersenyum meski tak menoleh karena filmya begitu seru, "Terima kasih, Abang."


Ini adalah kali pertama aku menonton bioskop lagi, sehingga ada perasaan senang tersendiri di dalam sana. Sebelum film dimulai aku memang begitu memikirkan Ghifari, namun, setelah film dimulai film itu seakan mengambil duniaku.


"Filmnya bagus banget ya, Bang." Kataku. Kemudian aku mengamati orang-orang yang sudah keluar. Aku tak beranjak dari tempat dudukku karena mungkin Bang Haidar ingin kami keluar setelah semua orang keluar.


Setelah semua orang keluar, aku pun bangkit namun aku melihat Bang Haidar masih duduk di tempatnya, "Abang, ayo?" Kataku yang langsung mengambil tangan Bang Haidar.


Namun, aku melihat ada jam tangan yang berbeda di sana.


Deg!


Aku langsung menatap ke wajah laki-laki yang duduk di sampingku, "Astaghfirullah al-azim." Pekikku yang langsung melepaskan tanganku dari tangan laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2