
Aku terkejut bukan main melihat siapa orang yang hampir saja aku gandeng. Dia bukan Bang Haidar, dia adalah ... Ghifari. Laki-laki yang kehadirannya kucoba abaikan di kepala.
Pria itu tersenyum padaku.
"Assalamualaikum, Ara." Salamnya.
"Waalaikumsalam. K-kok kamu, eh ... Ada di sini?" Tanyaku gelagapan.
Aku sendiri bingung, sepuluh tahun lalu kami masih bergue-lo. Sekarang tentu rasanya canggung sekali mengingat usia kita yang tidak lagi muda.
Ghifari tersenyum kepadaku dan bangkit dari tempat duduknya, "Kita ngobrol di luar ya?"
Aku menganggukkan kepalaku, aku tak berani menatapnya. Ghifari menyilakanku untuk jalan lebih dulu, aku gugup setengah mati, aku mencoba membuka ponselku dan melihat sebuah pesan masuk.
Jangan sedih lagi ya, Adikku.
Pesan itu dari Bang Haidar. Aku tak bisa membalasnya meski aku sangat ingin tahu kenapa dia melakukan ini padaku.
Setelah berada di luar bioskop, Ghifari berjalan di sampingku.
"Apa kabar?" Tanya Ghifari.
Aku menggigit bibirku sebentar mencoba menenangkan diri karena banyak sekali gemuruh yang ada di dada.
"Alhamdulillah baik, m ... kamu sendiri?"
"Aku jauh lebih baik hari ini."
"Aku dengar Tante Farha ..." Aku tak sanggup melanjutkan.
"Iya. Mama udah nggak ada."
Aku melirik wajah Ghifari dan mulai merasa tidak enak hati karena aku bertanya tidak tahu tempat. Ghifari tersenyum namun matanya jelas menunjukkan kalau dia masih merasa sangat kehilangan.
"Aku turut berduka. Maaf udah bikin sedih."
"Nggakpapa. Mau makan? Kayaknya banyak yang harus kita obrolin."
"Tapi, Bang Haidar?"
"Dia udah pulang."
"Dari mana kamu tau?"
"Aku yang teror dia tadi, minta dia kasih tau keberadaan kamu. Dia kayaknya emang sengaja ngerjain aku, bikin rencanaku berantakan buat jemput kamu. Padahal aku selesai siapin semuanya."
"Siapin apa?"
Jantungku berdegup dengan sangat kencang. Laki-laki di sampingku tersenyum lembut ke arahku, aku buru-buru membuang pandangan ke arah lain.
"Aku bahagia liat kamu lagi. Kamu cantik pakai jilbab gini." Katanya sambil tersenyum.
Aku sontak menggigit bibirku sendiri menahan senyuman yang akan kulepasksn, tapi aku seketika sadar sesuatu, Ghifari akan melamar perempuan lain.
"Terima kasih, tapi jangan memujiku lagi. Aku takut perasaan calon istrimu terluka." Kataku.
Ghifari menghentikan langkah dan menatapku. Aku melihat ke arahnya sebentar dan membuang pandangan ke arah lain.
"Calon istriku?"
"Iya, anak Bu Lurah."
"Anak Bu Lurah?" Ghifari menahan senyuman. Aku jadi bingung.
"Kamu lagi ngetawain aku ya, mm..." Aku ragu mulai menyebut namanya.
"Bang Haidar yang bilang aku mau nikah sama Anak Bu Lurah?" Tanya Ghifari.
"Iya, Bang Haidar bilang begitu, m..." sulit sekali untuk aku bisa menyebutnya. Aku bingung harus memanggilnya dengan embel-embel 'Mas, Kakak, Abang, atau nama'.
"Ghifariiii!"
Belum genap Ghifari menjawab seseorang berteriak memanggil Ghifari, seorang laki-laki datang menghampiri Ghifari.
"Ngapain lo di sini? Eh, ini siapa?" Tanya laki-laki itu setelah bertos-tosan ala cowok dengan Ghifari.
Aku tersenyum dan mengangguk pelan agar terlihat sopan.
"MasyaAllah, cantik banget, Ghif. Sodara Lo, Ghif? Cantik banget. Buat gue fix."
"Jangan macem-macem."
"Lah, lo yang gak boleh macem-macem, sepuluh tahun dia nungguin lo, lo malah di sini sama cewek lain. Hai, nama gue Ilman." Kata Ilman mengulurkan tangan ke arahku.
__ADS_1
Aku menyatukan tanganku di depan dada, "Zahra."
Ilman menatapku, namun itu tidak berselang lama karena Ghifari buru-buru menutup wajah Ilman hingga aku tersenyum karena tindangannya lucu sekali. "Jangan liatin dia! Dia bukan mahram lo!"
"Iya, iya, ribet lo ah."
Aku melirik ke arah Ghifari, aku bingung harus melakukan apa, "Dia Ilman, temenku, Anak Bu Lurah. Anak satu-satunya Bu Lurah." Kata Ghifari.
Aku terkejut setengah mati, sedangkan Ghifari di tempatnya terkekeh.
"Jadi?" Tanyaku tak percaya.
"Iya, kamu dibohongin Abang kamu, Ra." Kata Ghifari.
"Astaghfirullah, Abang Haidar." Ringisku. "Maaf ya, Mas, aku nggak tau." Kataku kepada Ghifari.
Seketika Ghifari terlihat sedikit terkejut, namun kemudian senyuman Ghifari mengembang begitu saja. Seketika aku sadar. "Eh, maksudku ... "
"Mas juga bagus. Aku suka." Kata Ghifari.
Ilman menoleh ke arah Ghifari lalu menoleh ke arahku, "Tunggu. Lo tumbenan baik sama cewek? Eh, jangan-jangan dia ..., Oh oke-oke, gue pulang." Ilman terkekeh dan langsung melambaikan tangan setelah mengucap salam tanpa meninggu kita selesai membalas salamnya.
Aku jadi teringat apa yang Ghifari katakan tadi. Aku jadi malu, pantas saja dia menahan tawanya saat aku mengatakan kalau dia mau menikah dengan anak Ibu Lurah.
"Kita makan dulu?" Tanyanya.
Aku menganggukkan kepalaku begitu saja. Kemudian dia mengajakku ke salah satu restoran. Setelah makan, kamu pun terdiam sebentar.
"Hari-hari kamu di sana pasti sangat berat ya, Ra?"
"Berat sih, tapi Alhamdulillah aku punya teman-teman yang baik di sana."
"Syukurlah kalau begitu. Boleh aku tanya sesuatu?"
Aku menganggukkan kepalaku. "Boleh."
"Kenapa kamu gak izinin Bang Haidar buat tanya kondisi kamu?"
Aku terdiam sebentar. Aku memang melarang Bang Haidar menjelaskan kondisiku kepada Ghifari, karena tahun-tahun awal, tubuhku selalu memiliki lebam karena melindungi beberapa tahan di rumah tahanan.
"Aku cuma takut kalau kamu khawatir."
Ghifari menghela napas. "Harusnya kamu tau kalau aku justru lebih khawatir tanpa mendapatkan berita apapun darimu. Rasanya berat sekali selama bertahun-tahun menunggu. Tapi syukurlah karena kamu bisa di sini lagi, kita bisa sama-sama."
"Aku udah tunaikan semua janjiku, Ra. Sekarang aku mau kamu tunaikan janjimu." Kata Ghifari.
Ghifari langsung menyodorkan sebuah kotak beludru yang sudah dia buka. Aku melihat sebuah cincin di sana. Cincin yang sangat indah.
"A-apa kamu tidak malu dengan status aku yang ..."
"Enggak. Nggak ada rasa malu sedikitpun. Aku gak peduli semua yang mereka katakan. Aku cuma peduli sama kamu. Menikah denganku ya, Ra?" Tanya Ghifari.
Sebuah air mata jatuh begitu saja, lalu aku menghapusnya dengan menggunakan tangan kanan, "Harusnya kamu cari yang lebih muda dari aku."
"Umur kamu baru 30, Ra. Kamu juga masih muda."
"Kamu bisa cari yang lebih cantik."
"Aku udah keliling dunia tapi yang paling cantik cuma kamu."
"Harusnya cari yang lebih baik."
"Nggak ada yang lebih baik dari kamu, Ra."
Aku terdiam, "Padahal kamu bisa mencari perempuan yang masa lalunya tidak kelam seperti aku."
"Aku nggak butuh masa lalu, Ra. Aku butuh masa depan dan itu sama kamu."
Aku menatap Ghifari mencoba mencari keseriusan di mata itu. Dan aku memang mendapati kalau dia memang sangat serius.
"Selama sepuluh tahun, rasaku gak pernah sedikitpun berubah sama kamu, Ra. Itu membuktikan kalau aku benar-benar mencintai kamu. Kamu juga merasakan hal yang sama kan?"
Aku pun menangis mengusap air mataku. Apa yang dikatakannya memang benar. Karena bukan hanya dia yang masih merasakan cinta, melainkan dirinya juga merasakan hal serupa.
"Kenapa kamu menangis, Ra? A-apa kamu udah punya laki-laki lain?" Tanya Ghifari.
Aku hanya bisa mengusap air mataku. Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan laki-laki di dalam rutan? Dia memang ada-ada saja.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Trus?" Tanya Ghifari.
Aku menatap mata Ghifari, "Udah baikan sama Bang Haidar?"
__ADS_1
Senyum Ghifari mengembang, dia langsung mengambil ponselnya dan menyodorkannya ke arahku, aku melihat ada foto Ghifari dan Bang Haidar yang dijadikan walpaper. Hal itu membuat aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku.
"Gimana? Lolos kan?" Tanya Ghifari.
Tiba-tiba seseorang mengambil ponsel milik Ghifari dari tanganku. Aku pun langsung mendongak berusaha memprotes. Namun di sana sudah ada Bang Haidar.
"Lo belum lolos! Lo kira ade gue cewek apaan?" Tanya Bang Haidar.
"Bang, ayolah, lo udah janji bakalan bantuin gue." Kata Ghifari.
"Kalau mau ngelamar ya dateng ke rumah. Yuk, Ra, kita pulang." Kata Bang Haidar yang langsung mengajakku pulang.
"Oke, Bang. Nanti malam gue datang ke rumah."
***
Jantungku berdegup dengan sangat cepat, aku tidak tahu apakah Ghifari benar-benar akan datang ke keluargaku atau tidak, namun yang jelas aku tidak merasa gugup setengah mati.
Aku mengamati gerbang dari balkon kamarku di lantai dua dan seketika aku langsung melihat ada mobil yang datang ke rumah dan aku melihat kalau Ghifari turun dari mobilnya.
Aku langsung masuk ke dalam kamar jantungku benar-benar berdegup dengan kencang.
Toktoktok!
Aku langsung berjalan menuju ke pintu dan membukanya
"Nak, ada Ghifari, kamu siap-siap trus turun ya, Sayang." Kata mama.
"Baik, Ma." Ucapku.
"Dandan yang cantik." Mama mencoba menggodaku.
"Mama ..." Rengekku.
Mama terkekeh dan turun ke bawah. Aku langsung bersiap-siap. Aku berganti pakaian dan memoles wajahku sedikit agar terlihat lebih fresh.
Setelahnya, aku pun langsung turun dan bergabung dengan keluargaku di bawah. Saat aku turun, Ghifari tidak bisa melepaskan pandangannya dariku hingga aku merasa malu dan takut ada yang salah dengan pakaianku.
"Nak, sini duduk samping papa dan mama." Kata ayahku.
Aku menganggukkan kepalaku dan duduk di samping papa dan mama
"Papa, sebelumnya Ghifari ingin mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan papa kepada Ghifari dan mama. Papa juga tidak pernah membeda-bedakan Ghifari dengan Bang Haidar. Pa, sebelum-sebelumnya, Ghifari datang ke rumah ini sebagai anak papa. Namun, hari ini Ghifari datang ke rumah ini sebagai laki-laki yang ingin meminta putri papa. Ghifari ingin papa bersedia untuk memberikan tanggung jawab akan putri papa untuk Ghifari. Ghifari ingin melamar Ara sebagai istri Ghifari." Ucap Ghifari.
Aku menunduk, tidak tahu harus mengatakan apa dan harus bagaimana.
"Ghifari, kamu sudah papa anggap sebagai anak papa sendiri. Papa memang tidak pernah membeda-bedakan kamu dengan Haidar ataupun Ara. Sebagai papamu, papa juga sudah tau sifat kamu luar dan dalam, jadi papa sama sekali tidak meragukan kamu. Papa sangat percaya dan yakin kalau kamu bisa menjaga Ara menggantikan papa." kata ayahku. Beliau bahkan terlihat berkaca-kaca.
Aku mengusap lengan ayahku mencoba menguatkan.
"Tapi, semua keputusan ada pada Ara, Nak. Kamu bisa menanyakan langsung padanya. Silakan tanyakan." Kata papa.
Ghifari menganggukkan kepalanya, kali ini dia menatapku, aku bisa merasakan tatapan itu meski dalam keadaan menunduk, "Ara, maukah kamu jadi istriku?"
Aku terdiam. Jantungku berdegup dengan sangat kencang.
"Bagaimana, Nak? Telah datang seorang laki-laki yang sangat papa kenal dan juga merupakan anak papa ingin menjadikanmu menjadi istrinya." tanya Papa.
Aku terdiam. Semua orang menatapku dengan tatapan menunggu jawaban.
Aku menganggukkan kepalanya, "Aku bersedia, papa."
"Alhamdulillah."
TAMAT
......................
Assalamualaikum, teman-teman. Terima kasih atas semua yang udah baca cerita ini sampai selesai. Mohon maaf kalau belum merasa puas dengan endingnya yaaa.
Novel ini adalah novel yang aku tulis dari 2017-2022, novel istimewa yang baru bisa aku selesain sekarang. Awalnya judul novel ini adalah Penjara Suci 2 di aplikasi Oren.
Sekali lagi terima kasih karena udah mau baca cerita ini sampai akhir yaaa. Terima kasih komentarnya, terima kasih hadiah-hadiahnya, dan terima kasih udah setia baca novel ini dan novel-novel aku uang lain.
Semoga kalian semua selalu dilancarkan rejekinya dan sehat selalu, Amin ya Allah.
Untuk novel ini karena udah selesai jadi aku pamit ya. Sampai jumpa di novelku yang lain.
Mampir juga ke novel baruku yaaa judulnya CINTA ANAK KOMPLEKS
Wassalamu'alaikum.❤️
Ibu Pemanis Sendu,
__ADS_1
Upi1612