Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 4 - Dipecat


__ADS_3

Matahari sudah menunjukkan wajahnya yang riang. Ntah untuk keberapa kali raut wajah riangnya amat berbanding terbalik denganku. Wajahku muram melihat jarum jam yang terus mengejek mengisyaratkan aku kesiangan.


Aku harus bagaimana sekarang? Aku harus pergi ke tempat kerjaku, namun aku belum membuatkan sarapan untuk ibu. Tanpa berpikir panjang lagi, aku lari ke dapur dan langsung membuatkan makan untuk ibu lalu menyuapi beliau.


"Mama, Ara kerja dulu ya." kataku. Lantas mencium kedua pipi dan kening ibuku lembut sambil tersenyum.


Aku bergegas berangkat ke Toko Roti tempatku bekerja. Namun ntah mengapa rupanya hari ini keberuntungan sedang tidak berpihak kepadaku.


Lihatlah, tak ada satu angkutan umumpun yang menuju ke arah tempatku bekerja. Aku melirik jam tangan lantas melotot dan berlari secepat yang ku bisa. Masa bodoh dengan sepatu baru ini.


"M-maaf nyonya, s-sa-ya telat." kataku sesampainya di toko.


Bosku yang masih berusia 35tahun bermata sipit itu memandangku dengan tatapan seakan mengatakan 'Sekarang apa lagi?' kepadaku. Aku berkali-kali meminta maaf namun raut wajahnya tetap begitu adanya.


"Saya sudah sering sekali memberimu kelonggaran waktu bekerja selama ini. Namun jika terus-terusan seperti ini, toko saya akan cepat gulung tikar. Jadi seperti janji saya minggu lalu jika kamu telat lebih dari satu jam ke sini, kamu saya pecat." kata Nyonya, sang pemilik toko.


"Maaf nyonya, saya janji tidak akan mengulangi hal yang sama." kataku untuk terakhir kali. Mencoba memasang wajah paling miris yang aku punya.


"Tidak. Sudah terlalu banyak janji yang saya dengar dari mulut kamu Ara, sekarang terima uang pesangon ini. Dan mulai saat ini kamu bukan lagi karyawan di sini." kata Nyonya menyodorkan amplop coklat, lantas melangkahkan kaki ke ruangan pribadinya.


"Tapi, Nya!" aku tak setuju. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi.


Tidak. Aku tidak mau dipecat untuk saat ini, besok, lusa, atau kapanpun. Tidak. Aku tidak Mau.


"Jangan pecat saya, Nya." kataku mencoba berteriak.


Bosku itu sudah masuk ke dalam ruangannya. Aku langsung berlari mengejar namun ruangan itu langsung dititup dari dalam.


"Nya, tolong jangan pecat saya.." seruku memohon.


Namun tak ada sautan. Hanya rakan kerjaku yang menghampiriku menepuk punggungku, lantas kembali bekerja sambil menatapku dengan tatapan iba.


Aku memutuskan untuk keluar. Kadang di saat-saat seperti ini. Aku hanya ingin menangis dalam pelukan seseorang. Kepalaku tiba-tiba terasa pening. Air matakupun terus menderas. Aku hanya bisa berjalan lunglai hingga sebuah benda padat menimpa kepalaku. Mau tak mau kesadaranku pulih kembali.


"Aw!" ringisku sambil memegangi kepalaku.

__ADS_1


Aku langsung mengedarkan pandanganku dan mencari orang yang telah melemparkan benda padat sialan itu kepadaku.


Dan tak jauh dari keberadaanku. Aku melihat ada seorang laki-laki.


Wajahnya tak asing dipenglihatanku. Laki-laki bermata bening. Bukan. Aku tidak membahas mengenai novel karya Habirrahman El Shirazy itu lagi pula judulnya Bidadari Bermata Bening bulan Laki-laki bermata bening.


Cukup. Aku tidak mau pembahasan ini kian tidak menemukan titik temu. Aku harus cepat sadar. Dan di sinilah aku dengan kesadaran yang seratus persen pol.


Aku membalas mata laki-laki itu yang benar-benar bening. Dia orang yang sama, seseorang yang sangat menyebalkan dan menyenangkan dalam satu waktu.


Biar kugarisbawahi, menyenangkannya hanya karena dia mau membelikan sepatuku tidak lebih.


"Elo?"


"Kamu?!"


"Iya kamu."


"Hahaha!" tawanya renyah.


Apakah ini memang warisan dari ibuku? Sebab, seseorang pernah bilang bahwa anak yang cerdas dilahirkan oleh ibu yang cerdas dan sebaliknya. Tapi tidak. Pasti bukan dari ibuku. Ini pasti karena aku tidak pernah mau belajar.


Karena kesal ditertawakan oleh laki-laki itu. Akupun memilih untuk berjalan dan tidak memperdulikan orang aneh itu. Lagi pula aku kesal kepadanya. Siapa yang tidak kesal coba? Kalau kau ditertawakan seperti itu.


"Hidup ini ya, kayaknya nggak mau banget berteman sama gue. Padahal gue udah berbuat baik tapi kenapa hari ini gue nggak disambut sama hal baik juga?! Aih, manusia." kataku, sambil berjalan menjauhi laki-laki aneh tadi.


Meski ia telah membelikanku sepasang sepatu baru namun aku tidak mau berurusan lagi dengannya.


Gayanya tengil, terlihat sekali ia merupakan typikal seorang pria yang tidak akan pernah memberikan penghargaan terhadap wanita.


Senyumnya juga candu, itu sudah pasti salah satu aset berharganya yang ia gunakan untuk mengencani wanita-wanita murahan. Cih!


"Lo mau kemana?" tanya laki-laki itu.


Seakan tidak ingin menyudahi pertemuan kita, dia berjalan mengimbangi langkahku.

__ADS_1


"Mau nyari malaikat Izrail buat nyabut nyawa lo." kataku ketus. Aku mempercepat langkahku.


"Hahahaha.." tawanya lepas. Mau tak mau aku meliriknya.


Ya Allah, tolong jangan biarkan jantung ini seakan kerasukan makluk gaib. -batinku.


Tawanya lepas sekali terlihat sekali bahwa ia sedang bahagia, dan lesung pipinya menakjubkan begitu sempurna di pipinya.


Sial, apakah dia bahagia setelah menertawakan aku? Laki-laki kurang asem. -batinku merutuknya.


Tapi aku mengakui bahwa dia sangat tampan. 10 dari 10 bila aku boleh menilainya.


Aku mencubit lenganku, agar terlepas dari godaannya yang memikat. Aku tidak mau cepat menyimpulkan bahwa aku jatuh cinta karena jantungku yang terus mendendangkan lagu-lagi kasmaran di dalam sana.


Lagi pula, aku pun tak mau terjerat pesonanya, itu pasti akan menyakitkan, sebab dia bukan pria baik-baik dari caranya bersikap sejak awal bertemu, apa betul demikian?


"Jangan ikutin gue lagi! Kenapa si lo demen banget ngikutin gue, hah?" tanyaku, geram.


Terlihat sekali bahwa dia terus mengikutiku. Wajahnya mengisyaratkan bahwa ia ingin mengatakan sesuatu yang tak ku tau apa. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin pergi jauh-jauh dari dirinya.


"Ikut gue." katanya, seakan bisa membaca fikiranku. Dia melangkah ke depan. Dan dalam hati aku mengeluh karwna tubuhnya dari belakang sungguh mengagumkan, ia seperti artis beken yang kini sedang gencar-gencarnya digandrungi para gadis.


Seketika aku tersadar. Dia bukan seseorang yang pantas untuk aku dekati. Aku lebih memilih dekat dengan pria-pria kaya yang manis dari pada pria kaya yang sulit ditebak kepribadiannya. Aku tersenyum dalam hati, diam-diam berbalik. Biar saja dia berjalan sendirian.


Tunggu. Mengapa aku sudah bisa mengatakan kalau dia pria yang sulit ditebak? Ah, sudahlah. Yang jelas aku harus pergi meninggalkannya.


Biarkan saja dia berceloteh sendirian.


Aku berbalik sambil terkikik pelan. Lalu berjalan santai menikmati hujan yang kian deras. Tak ada yang salah dengan hujan. Dia hanya datang untuk mengingatkan sampai mana bisa kusembunyikan segala lara. Juga tempatku tenang merapalkan doa.


Kata orang ada waktu-waktu baik di dunia ini untuk memanjatkan doa salah satunya saat hujan turun.


"Gue bilang kan ikutin gue! Kenapa malah ninggalin?" katanya. Tiba-tiba dia sudah berada di sampingku.


"Nggak ada pasal yang ngewajibin gue buat ikutin semua kemauan elo ya." kataku. Sambil terus berjalan.

__ADS_1


"Ikut gue sekali. Setelah itu terserah deh lo mau pergi kemanapun gue nggak peduli." katanya, sambil menarik tanganku.


__ADS_2