
Pagi ini seperti biasa Ghifari mengantarku ke toko roti. Ghifari memang seperti itu selalu saja menjemputku padahal aku sudah katakan kalau aku bisa naik angkutan umum namun dirinya terus mengatakan kalau aku berangkat bersamanya akan menghemat pengeluaran. Ntahlah, aku pusing memikirkannya.
Lagi pula benar juga apa yang dikatakannya aku bisa berhemat tapi ntah mengapa aku lebih merasa dia tidak mau melepaskanku.
"Lo gak kerja, Ghif?" tanyaku saat melihat Ghifari yang masih mengekoriku sampai ke dalam toko.
"Ini gue mau kerja." kata Ghifari sambil mengangkat sedikit laptop kecilnya yang ntah sejak kapan ada di tangannya. Aku benar-benar tidak mengetahuinya.
"Maksud lo?" tanyaku bingung.
Aku tentu tahu kalau kini keberadaan Ghifari adalah di toko roti bukan di kantornya. Bagaimana mungkin dia bisa bekerja kalau raganya ada di sini? Aku memutar otak.
Aku dan Ghifari duduk berseberangan. Aku mengamati Ghifari yang meletakkan laptopnya di atas meja. "Iya, cuma meeting doang sih." katanya.
"Oh.." kataku sambil mengangguk. Aku baru paham, dia tentu bisa meeting dengan menggunakan videocall.
Ghifari membuka laptopnya lalu menyalakannya.
"Meetingnya jam berapa?" tanyaku.
Ghifari mengecek jam di tangannya meski di laptopnya aku yakin juga ada jam. Ntahlah, suka-suka Ghifari saja. Mungkin agar terlihat keren meski sebenarnya memang keren. Ah, aku harus mencuci otakku agar bersih.
"Dua puluh menit yang lalu." kata Ghifari.
Aku terkejut. Aku jadi berasa bersalah karena ini kemungkinan karena Ghifari yang harus menjemputku terlebih dahulu. Rumahku berada di pinggir kota jadi ya benar-benar membutuhkan waktu ekstra.
"Ya ampun, beneran?" tanyaku.
Aku dengan refleks langsung mendekatinya dan menatap layar laptop dari sampingnya.
"Iya, benar. Jadwalnya sekarusnya ja, 08.00 jadi telat 20 menit." katanya sambil menujukkan jam.
Tangan Ghifari langsung membuka aplikasi untuk meeting di laptopnya, aku masih berada di sampingnya penasaran ntah untuk apa. Lalu Ghifari tidak juga mengklik mulai.
"Kok nggak di klik?" tanyaku bingung.
Ghifari menoleh ke arahku, kini jarak wajah kita begitu dekat. Aku menatapnya dengan bingung.
"Lo ngapain, Ra?" tanya Ghifari.
"Mau liat." kataku jujur.
Ghifari terkekeh mendengar jawaban Ghifari, "Kalau muka lo muncul di layar semua direksi perusahaan gak papa?" tanya Ghifari.
Aku seketika terkejut.
__ADS_1
"Eh, iya. Gue lupa. Aisha kayaknya panggil gue deh." kataku.
Aku tentu merasa malu sekali namun aku tidak mau mengatakannya kepada Ghifari. Gengsi tingkat dewa.
Ghifari hanya bisa terkekeh. Aku buru-buru berbalik kepada dirinya lagi, "Udah, meeting sana! Bangkrut gue gak tanggung jawab." kataku.
Ghifari lagi-lagi terkekeh. Aku mengepalkan tangan sambil cemberut kesal lalu aku pun masuk ke dalam dapur toko mau membantu Aisha yang sepertinya masih di dalam bagian produksi roti.
"Assalamualaikum." salamku kepada semua karyawan yang ada di bagian produksi.
Dan benar saja ada Aisha di sana.
"Waalaikumsalam!" jawab semua karyawan.
"Eh, Mbak Ara.." kata Aisha.
Aisha buru-buru menghampiriku. Aku mengangguk. "Aman kan semuanya?" tanyaku.
"Aman, Mbak." kata Aisha sambil tersenyum .
"Alhamdulillah kalau begitu. Aisha, laporan keuangan bulan inu udah ada?" tanyaku.
"Ada, Mbak, sebentar aku ambilkan." kata Aisha.
Aku pun mengangguk. Setelah aku mengangguk, Aisha langsung berlari mencari laporan keuangan yang tadi aku minta. Tidak lama kemudian, dirinya datang, lalu menyodorkan kepadaku.
"Sama-sama ya, Mbak." kata Aisha.
Akupun memeriksa bagian awal.
"O iya, Mbak.." kata Aisha.
Aku mendongak, "Iya?" tanyaku.
"Ada Mas Ghifari ya, Mbak? Aku buatkan minum untuk Mbak dan Mas Ghifari ya?" katanya.
Sebenarnya setiap kali Aisha menyebut Ghifari dengan sebutan Mas membuatku merasa seperti ada perasaan tidak suka. Payah sekali bukan aku? Namun, aku mencoba biasa saja. Aku tidak mungkin cemburu bukan?
"Eh, iya, makasih ya?" kataku.
Aisha mengangguk.
"Oiya, dia lagi meeting, jadi langsung taro di mejanya aja ya, jangan diganggu Ghifarinya." kataku.
"Baik, Mbak." kata Aisha.
__ADS_1
Aku pun keluar dari dalam ruangan produksi. Lalu duduk di salah satu meja pengunjung, kali ini tidak duduk di hadapan Ghifari karena takut kalau dirinya merasa terganggu dengan kehadiranku. Aku sengaja memilih meja yang bisa melihat langsung wajah serius Ghifari yang sedang meeting dengan hansfree.
Aku memandangi wajahnya sebentar wajahnya benar-benar terlihat tampan ketika sedang serius.
Tak lama kemudian, Aisha langsung menghampiri Ghifari dan memberikan minuman dan sepotong roti. Tidak ada percakapan di antara mereka. Ghifari bahkan sepertinya tidak tahu kalau ada Aisha yang memberikannya makanan.
Aisha juga tidak mengganggu Ghifari. Ntah mengapa sudut bibirku tertarik sedikit.
Lalu Aisha mengedarkan pandangannya seperti mencari sesuatu, aku sontak pura-pura kembali berkutat dengan laporan keuangan tersebut.
Setelah menemukan keberadaanku, Aisha langsung berjalan ke arahku dan sampai.
"Mbak, ini.." kata Aisha sambil meletakkan minuman dan roti di atas mejaku.
"Makasih, Aisha." kataku.
"Sama-sama, Mbak. Kenapa Mbak tidak duduk di samping Mas Ghifari saja?" tanya Aisha.
"Nggakpapa. Dia lagi meeting, jadi aku gak mau ganggu." kataku jujur.
Aisha hanya bisa membulatkan mulutnya.
Tak lama kemudian ada dua orang perempuan masuk ke dalam toko. Aisha yang melihatnya langsung hendak bergegas pergi.
"Aku kembali ke kasir ya, Mbak." kata Aisha.
Aku hanya bisa mengangguk.
Setelah melihat anggukanku, Aisha langsung kembali ke tempatnya. Aku kembali berkutat dengan laporan keuangan yang ada di hdapanku sesekali meliri Ghifari yang terlihat masih serius.
Namun, sayangnya Ghifari melirikku tepat ketika aku sedang memandanginya. Dia tersenyum padaku. Aku buru-buru mengedarkan pandanganku ke arah lain.
"Anjir, malu bat gue." gumamku.
Tak lama kemudian dua orang wanita yang tadi masuk duduk di depanku menghalangi pandnaganku untuk melihat Ghifari. Ah, tidak apa-apalah anggap saja untung karena aku masih bisa ditutupi.
Aku mencoba memfokuskan pandangan ke laporan keuangan.
"Eh, lo tau gak si, kasian banget deh Si Rani." kata perempuan berbaju pink.
"Kenapa emang Rani?" tanya perempuan berbaju krem.
"Iya, diakan mau nikah sama Bagas tapi dia mau cari bapaknya dulu buat dijadiin wali." kata perempuan pink tersebut.
"Bukannya dia sama ibunya udah lama pisah sama bapaknya ya?" tanya perempuan berbaju krem.
__ADS_1
"Nah, makanya itu. Untung kita punya bapak di rumah ya jadi kalo nikah gak usah cari bapak kita lagi." kata perempuan baju krem.
Aku terdiam, aku benar-benar tidak fokus. Mendengar obrolan yang tidak sengaja itu membuat aku merasa kalau aku adalah Rani. Mengapa Rani harus mencari bapaknya ketika mau menikah? Akupun mulai berpikir apakah aku tidak bisa menikah untuk selamanya karena aku tidak tahu keberadaan ayahku?