
Rumah Ghifari lengang. Aku tidak tau kemana semua orang, tapi aku yakin Ghifari tidak akan membawaku ke rumahnya bila rumahnya benar-benar kosong. Walaupun tidak sealim keluarganya, bagaimanapun Ghifari hidup dalam keluarga yang kelihatan sekali mengerti agama.
"Lo mau sholat dulu?" tanya, Gifari.
"Gue lagi gak sholat." kataku, jujur.
"Ah, bohong.." kata Ghifari aku tahu dia bercanda.
"Emang lo tukang bohong." kataku.
Ghifari terkekeh mendengar aku mengatainya tukang bohong. Dia benar-benar manusia aneh. Dikatai pembohong saja dia terlihat senang.
"Bentar ya gue ke kamar dulu. Mau ikut?" katanya, sengaja sekali dia bercana seperti itu kepada dirikum
Aku memutar mata.
"Dih, ogah. Yaudah gih sana, jangan lama-lama!" kataku.
"Iyaaa." katanya, lalu meninggalkanku sendiri. "Lo duduk aja dulu tuh nonton TV." kata Ghifari.
Aku mengangguk. Diapun pergi ke kamarnya
Kini aku sendiri. Aku lupa menanyakan pada Gifari ke mana semua orang. Lagi-lagi aku merutuki kebodohanku itu. Aku memutuskan menonton tv seperti yang disarankan oleh Ghifari meski tanyangannya tidak begitu menarik.
Tiba-tiba sofa panjang yang tengah aku duduki terasa bergerak. Aku benar-benar menyadari pergerakan tersebut, lalu aku menoleh. Melihat siapa yang datang dan duduk di sampingku. Ternyata kakaknya Ghifari, Bang Haidar.
Bang Haidar tersenyum kepadaku.
"Eh, Bang?" kataku, refleks mencium tangannya. Dia terkejut. Lagi-lagi aku merutuki apa yang kulakukan.
Lalu Bang Haidar kembali biasa saja. Bila Kuperhatikan Bang Haidar memang benar-benar berbeda dengan Ghifari. Pembawaan Ghifari selalu santai dan terkesan tidak terarah. Tapi Bang Haidar menunjukkan sebaliknya. Meski hanya beberapa kali melihat Bang Haidar tapi aku tahu, Bang Haidar dewasa. Tidak seperti Ghifari.
"Sama Ghifari?" tanyanya.
"Eh, iya, Bang. Sama Ghifari." kataku sambil mengangguk.
"Ghifarinya ke mana?" tanyanya.
"Lagi ke kamarnya, Bang." kataku.
Bang Haidar seperti menatapku. Aku yang ditatap mulai bingung. Aku mengamati pakaianku. Tak ada yang salah. Namun dia tetap menatapku. Aku seharusnya mengajukan protes dan bertanya namun rasanya aku lebih memilih diam saja.
"Umurmu berapa?" tanyanya.
"21tahun, Bang." kataku menjawab seadanya.
__ADS_1
Saat Bang Haidar ingin membuka mulut, tiba-tiba Ghifari datang. Dia memandang ke arah kakaknya kaget.
"Saya masuk dulu." kata Bang Haidar kepadaku bukan kepada Ghifari. Mungkin karena aku orang baru jadi Bang Haidar lebih sedikit sopan kepadaku.
Aku hanya mengangguk. Setelah bang Haidar pergi. Aku buru-buru ingin menarik tangan Ghifari tuk duduk di sampingku namun lagi-lagi aku teringat akan pernyataan Ghifari beberapa waktu lalu, aku belum mau menikah dengannya.
"Duduk-duduk!" kataku sambil menepuk sofa di sampingku.
"Ck," Dia hanya berdecak saja lalu menuruti permintaanku.
Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya.
"Kenapa?" tanyanya sambil duduk tepat di sampingku. Jarak kita terlalu dekat. Ini tidak baik. Aku mendorongnya agar sedikit menjauh. "Tadi suruh duduk di situ." katanya sebal.
Aku hanya bisa mengabaikan kalinatnya barusan.
"Abang lo kenapa?" kataku.
"Inget ini di rumah gue. Pake aku-kamu." katanya. Aku memutar bola mata.
Aku tentu ingat tadi di pintu saat masuk kami masih menggunakan Gue-Lo. Namun, aku tidak mau memperpanjang urusan.
"Tadi Abang kamu nyamperin aku." kataku.
Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. Kita saling berpandangan lalu tertawa bersama. Menertawakan kata aku dan kamu yang masih terasa asing ditelinga kami.
Ghifari kembali memandangku. Ini tidak baik untuk kesehatan jantung. Dia menunggu lanjutan kata-kataku.
"Tadi, gak tau kenapa gue saliman sama Bang Haidar." kataku.
Lagi-lagi dia diam. Kali ini aku tidak bisa mengatakan kalau aku salah bicara. Tiba-tiba dia tertawa, "Hahaha aku aja calon suami kamu gak pernah disalimin, masa kamu salimin Abang aku?" katanya.
Aneh! Rasanya aneh sekali! -batinku mengingat keaku-kamuan ini.
Ternyata dia diam karena ingin mencaci-maki aku. Aku menyesal hampir merasa bersalah.
"Ihhh, serius!" kataku.
"Ya trus kenapa? Jantungmu degdegan pas abis salaman? Wah, aku patah hati." katanya dengan dramatis.
"Ih, ngeselin banget si." kataku cemberut. Diapun tertawa.
Karena aku tidak tahan melihat dia yang terus menertawakan aku. Akupun langsing mencari topik lain.
"Yang lain pada kemana, Ghif?" tanyaku.
__ADS_1
"Gak tau deh." kata Ghifari enteng.
"Ya, trus ini aku ke sini mau ngapain?" tanyaku bingung.
Awalnya, aku mengira dia membawaku ke sini karena aku akan disuruhnya mencari perhatian keluarganya seperti biasanya. Namun, saat ini tidak ada keluarganya hanya ada Bang Haidar, jadi aku bingung.
"Aku pernah denger orang bilang kalo makanan di luar itu gak bisa dijamin kesehatannya, jadi aku bawa kamu kesini buat masakin aku hehehe." katanya.
"Hehehe-hehehe." ketaku sambil menirukan gayanya.
"Mau ya?" tanya Ghifari.
"Oke." kataku.
Ghifari hendak melayangkan tangannya untuk mencubit pipiku. Namun, tiba-tiba sebuah tangan mencekalnya. Ternyata Bang Haidar. Seketika senyap. Ghifari juga hanya diam. Ada apa sebetulnya?
"Za, bisa masak?" tanya Bang Haidar.
Aku melirik Ghifari, dia hanya diam menatap TV dengan tatapan kosong, aku merasa bingung duduk diantara mereka berdua. Namun, satu yang pasti aku harus merespons apa yang dikatakan oleh Bang Haidar.
"Bisa, Bang. Ghifari juga mau minta dimasakin, Abang mau juga?" tanyaku.
Bang Haidar melirik Ghifari sebentar akupun mengikuti arah pandangannya. Lalu, Bang Haidar mengangguk, "Mau masak apa?" tanya Bang Haidar.
"Maunya dimasakin apa, Bang? Za bisa segala jenis makanan." tanyaku sambil menyombongkan diri sedikit. Sedikit saja tidak banyak-banyak.
Bang Haidar tersenyum. "Bisa masak ikan peda?" tanyanya.
"Bisa, Bang." kataku bersemangat.
"Yaudah Abang mau itu aja." katanya.
"Oh gitu, oke-oke. Ghifari mau makan apa?" tanyaku, bagaimanapun, di rumah ini, aku adalah calon istrinya. Jadi, aku harus memperlakukan Ghifari dengan baik. Terlebih jika ada anggota keluarga Ghifari.
"Terserah aja." jawab Ghifari.
"Oke." kataku.
Akupun beranjak. Namun Ghifari dan Bang Haidar mengikutiku. Akupun berbalik. Mereka terlihat seperti dua anak kecil yang mengekoriku sambil saling melotot. Aku tentu tidak mau berada di situasi ini.
"Ehh.. Kalian nonton TV aja. Biar aku yang masak sendiri." kataku.
"Tapi.." kata Ghifari dan Bang Haidar bersamaan. Aku terkikik geli dalam hati melihat kekompakan keduanya.
"Yaudah g-aku gak mau masak." kataku mengancam mereka berdua.
__ADS_1
Mereka menuruti permintaanku. Akupun mulai bergelut dengan dapur. Aku mulai memasak ikan peda sambal hijau. Hanya itu yg bisa kulakukan sekarang mengingat mereka terlihat kelaparan sehingga membutuhkan masakan yang cepat jadi. Apa ikan peda sambal hijau bisa cepat jadi? Menurutku iya. Ntah, menurut orang lain bagaimana.