Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 12 - Jalan-Jalan Ke Dufan


__ADS_3

Ghifari benar-benar membawaku ke Dufan. Sayangnya kami melupakan satu hal; kita terlalu pagi. Dan Dufan belum buka. Aku menengok ke sekeliling. Mengamati lapangan parkir yang seketika membuatku sadar. Kami satu-satunya pasangan yang datang. Yaampun, apa aku mengatakan pasangan barusan?


"Rajin amet si, Neng, dateng ke Dufan pagi-pagi." kata Ghifari, ku tau dia tengah menggodaku.


"Lha, gue mah ketauan nggak pernah ke Dufan. Kalo elo.. eh tunggu. Jangan-jangan ini pertama kalinya lo ke sini juga ya? Iya kan? Iya kan? Ngakuuu!" kataku tidak mau kalah.


"Enak aja lo. Gue tuh cuman nggak liat jam aja tadi." kata Ghifari.


"Ngeles mulu lo kayak bajaj." kataku.


"Suara lo tuh berisik kayak bajaj." katanya.


"Suara gue merdu yak." kataku, tidak terima.


"Merdu kalo diem." jawabnya cuek.


"Males gue berdebat sama lo. Gue tidur aja lah. Nanti kalo udah buka bangunin gue ya." kataku, menutup wajahku dengan cardigan.


"Bangun. Udah buka tuh." katanya.


Lagi-lagi dia membangunkanku saat aku baru memejamkan mata. Aku memang tidak tau jam buka Dufan jadi kukira jam bukanya masih lama.


"Ngeselin lo." kataku.


Dia hanya terkekeh melihat aku yang marah-marah. Rasanya ingin kujitak kepalanya sekarang juga melihat tawa menyebalkannya itu.


Setelah membeli tiket kami pun masuk ke dalam. Mataku benar-benar sangat bahagia melihat Dufan dari dalam dan secara langsung. Katakanlah aku norak namun aku memang benar-benar excited sekali hari ini.


"Ghif, ayo cepetan!" seruku.


Ghifari terkekeh melihatku. Masa bodoh dengan kekehannya yang penting aku senang hari ini.


"Santai kali. Orang baru buka juga." kata Ghifari.


"Gue mau naik Hysteria, Ghif.. Ayoo.." kataku.


Aku sering mendengar orang-orang menyebut nama Hyteria. Namun, aku belum pernah melihatnya secara langsung.


"Gak mau coba yang deket-deket dulu?" tanya Ghifari.


"Mau Hysteria.." kataku.


"Gak usah manja kayak cewek gitu.." kata Ghifari. Lalu berjalan mendahuluiku.


"Ghifari, gue cewek tulen yak!" seruku sambil mengejarnya.


Aku benar-benar kesal kepada Ghifari, kakinya begitu panjang. Aku yang hanya memiliki kaki yang pendek harus berlari mengejar jalan cepatnya.


"Gue kok meragukan ya?" tanya Ghifari.

__ADS_1


Aku hendak menjitak kepala Ghifari namun Ghifari dengan cepat berkelit, hingga akhirnya aku hanya bisa menjitak udara.


"Nyebelin banget sih!" teriakku geram melihat tingkah Ghifari.


Aku menghentikan langkahku dan menyilangkan tangan di dada lalu membuang muka.


Ghifari tertawa puas melihat aku yang kesal.


"Kalo cemberut gak gue temenin naik itu." kata Ghifari sambil menunjuk sebuah wahana bertuliskan Hysteria dengan dagunya.


"Eh, iya iya, ini nggak cemberut. Ayo, babang tampankuh, temenin naik itu." kataku sambil nyengir kuda.


"Babang Tampan?" tanyanya. Seketika senyum Ghifari merekah.


Aku hanya bisa tertawa dalam hati. Aku yakin dia kini mengira kalau aku benar-benar memanggilnya tampan. Padahal sebutan itu.. Ah, sudahlah, sepertinya orang kayak tidak mengenal istilah itu. Aku hanya bisa tertawa jahat dalam hati.


"Iya, Babang Tampan.." kataku sambil menarik turunkan alisnya.


"Babang Tampan ya? Babang Tampan?" tanya Ghifari sambil berjalan menuju ke arahku.


"Iya, Babang Tampan. Babang Ganteng.. tampan ganteng banget deh pokoknya." kataku.


Mau tak mau aku mundur. Aku mulai berpikir apakah Ghifari tahu apa yang aku maksud dari kalimatku. Aku hanya bercanda sungguh. Teman-temanku melakukan itu.


Melihat seringaian dari wajah Ghifari aku tahu kalau dia ternyata mengerti apa yang aku maksud.


"Aaaa!" teriakku sambil berlari.


"Ara, jangan kabur lo!" teriak Ghifari.


"Ngapain si ngejar gue. Orang gue panggil lo Babang Ganteng juga." kataku sambil berlari.


Untung kali ini Dufan sedang sepi kalau sudah ramai, aku yakin kalau kita berdua akan menjadi pusat perhatian.


"Gue tau ya artinya.." katanya.


Ah, sial. Kenapa dia harus tahu artinya sih! -batinku.


BUG!


"Aaa!" seruku saat tubuhku limbung, hendak jatuh.


Seseorang tiba-tiba menangkap tubuhku. Persis seperti adegan yang ada di sinetron-sinotron yang pernah aku tonton.


Ghifari langsung mendirikan aku. Ah, aku pasti sudah gila. Maksudku membantuku berdiri.


"Dasar bocil." katanya sambil mengacak rambutku.


"Ih, rambut gue berantakan!" kataku.

__ADS_1


Ghifari terkekeh. "Iya sama-sama." katanya.


Aku menggigit bibirku sebentar lalu menimbang apa aku harus mengucapkan terima kasih atau tidak. Soalnya, aku malu.


"Makasih." kataku lalu berjalan meninggalkannya.


"Apa gue gak denger?" serunya menyebalkan.


"Nggak ada pengulangan!" aku balas berseru.


Setelah acara drama itu, aku dan Ghifari langsung naik Hysteria. Ini adalah pengalaman pertamaku yang tidak pernah aku lupakan.


Aku begitu berani saat naik, namun saat ditarik keatas dan dihempaskan ke bawah aku menjadi sangat takut. Perutku benar-benar mual.


Hingga akhirnya setelah turun, aku langsung mual dan memuntahkan sarapanku pagi ini.


...***...


Setelah asyik bermain dan memaksa Ghifari untuk naik biang lala akhirnya pulang. Waktu sudah menunjukkan sore hari.


Di jalan aku harap-harap cemas memikirkan ibuku yang sendirian. Ini salahku. Ghifari telah membujukku berkali-kali untuk pulang namun dengan keras kepalanya aku justru tidak mendengarkannya.


Aku benar-benar menyesal sekarang. Aku terlalu senang dan bersemangat saat mencicip wahana Dufan yang sangat memacu adrenalin. Dan hari ini adalah hari pertama kalinya aku ke Dufan. Ntah karena norak atau karena aku tahu tidak bisa mengunjunginya lagi aku merasa terlena dan tidak mau pulang seperti anak kecil. Aku benar-benar menyesal atas segalanya.


Hingga tibalah sore dan kita masih di sini. Di jalanan penuh kendaraan yang saling berteriak lewat klakson masing-masing. Jam pulang kantor memang horor bagi siapapun, lihatlah kini jalanan disesaki oleh kendaraan yang tak sabar ingin sampai rumah.


"Gimana ini?" gumamku.


"Udah, berdoa aja semoga Mama baik-baik aja." katanya.


Dia memang tidak memarahiku secara gamblang namun dari mimik wajahnya, ia sedang menghukumku. Wajahnya terlihat dingin dia seakan mengatakan bahwa ini semua kesalahanku jadi akulah yang harus menanggung semuanya.


Aku hanya bisa cemberut mendapati tatapannya itu.


Tepat pukul 19.00 WIB aku tiba di depan rumahku. Aku buru-buru turun dari mobil dan lari ke dalam rumah. Firasatku benar-benar buruk.


"Mama!" teriakku.


Aku melihat ibuku sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


"Ma! Bangun Ma!" kataku. Terus menepuk-nepuk pipi ibuku.


Air mataku kini mengalir deras. Aku benar-benar bodoh. Aku benar-benar menyesal dengan semua yang terjadi. Andai saja aku mau mengikuti apa kaya Ghifari. Ini semua tentulah tidak akan pernah terjadi.


"Tante!" seru Ghifari.


Ghifari datang dengan tergesa-gesa. Melihat ibuku, dia langsung membawa ibuku ke dalam mobil. Aku duduk di samping ibuku.


Aku berlari mengejarnya. Lalu, dengan cekatan dia membawa mobil yang kita tumpangi ke rumah sakit. Di rumah sakitpun dia masih cekatan mengurus keperluan ibuku hingga ibuku bisa ditangani dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2