
Kata-katanya begitu keterlaluan. Rasanya aku ingin teriak. Tapi aku harus bisa menahannya. Ini demi Ghifari. Aku melirik ke arah Ghifari.
Rahangnya mengeras. Ia tampak marah. Aku jadi takut. Aku tau dia pasti marah padaku. Dia terlihat begitu rekanan bisnis dengan Tama. Dia pasti percaya apapun kata-kata Tama. Tapi semua yang dikatakan Tama memang benar. Aku hanya bisa menunduk pasrah.
"Saya tidak suka dengan apa yang kau katakan. Bagaimanapun dia adalah calon istri saya. Bagaimanapun masa lalunya, saya tidak peduli." kata Ghifari.
Aku menatap Ghifari, aku benar-benar terharu mendengar kalimat yang meluncur di bibir Ghifari yang sebetulnya aku tahu kalau kalimat itu hanya pura-pura saja. Namun, apa benar hanya sebatas pura-pura?
"Anda benar-benar bodoh, Pak. Anda telah melakukan kesalahan terbesar jika Anda benar-benar meminangnya." kata Tama.
"Saya memang bodoh. Dan orang bodoh seperti saya memutuskan untuk membatalkan meeting hari ini, esok, dan seterusnya. Permisi. Mari Ara kita masuk mobil!" kata Ghifari.
Ghifari buru-buru membukakanku pintu mobil. Akupun masuk. Aku tentu tidak mau tambah memperkeruh permasalahan. Lagi pula ini kesempatan aku pergi dari Tama yang menyebalkan itu.
"Tunggu, Pak!" teriak Tama.
Ghifari hanya mengangkat tangannya menandakan kata cukup. Lalu tanpa memperdulikan Tama, Ghifari langsung masuk mobil, lalu melajukan mobilnya.
"Maafin gue ya." kata Gifari, membuka percakapan.
Aku menoleh. Terperangah dengan apa yang dia katakan. Jelas-jelas meeting hari ini batal karena aku. Tapi dia justru meminta maaf duluan.
"Yang seharusnya minta maaf itu gue. Maafin gue ya. Gara-gara gue meeting-nya batal. Maafin gue ya. G-gue.." aku bingung harus berkata apa.
"Udah. Jangan dipikirin meeting tadi. Jadi?" tanyanya.
"Jadi?" Aku balik bertanya. Aku tak mengerti arah pertanyaannya.
Jadi.. aku berpikir. Jadi untuk apa? Jadian? Ah, kewarasanku sepertinya diambil separuh.
"Mau jelasin yang tadi?" tanyanya.
Aku menahan nafas lalu menghembuskannya. Aku mencoba merilekskan tubuhku. Aku akan jujur.
Bagaimanapun aku tidak bisa merubah masa lalu sehingga aku tidak boleh menghindari masa laluku sendiri. Aku tidak boleh berbohong. Aku harus jujur meski memalukan.
__ADS_1
Untuk tanggapan Ghifari nanti aku tak peduli. Yang jelas aku tak mau dicap sebagai tukang bohong olehnya.
"Apa yang dibilang sama Tama emang bener, Ghif. Gue pacaran sama dia ataupun pacar-pacar gue yang lain cuma biar bisa nambah uang gue, karena jujur upah gue kerja di toko roti gak memungkinkan gue buat mencukupi kebutuhan hidup gue sama mama, apalagi mama gue sesekali harus check up ke rumah sakit." kataku jujur.
Aku seperti sedang berada di suatu ajang perlombaan yang mengharuskan aku bercerita tentang kehidupan susahku demi menarik simpati dewan juri.
"Terakhir, waktu Tama ninggalin gue, gue pernah buat keributan di kafe tadi, gue cuma mau ketemu sama dia minta penjelasan tapi gue malah diusir sama satpam. Trus gue ketemu elo. Kalo sekarang lo mau tinggalin gue setelah tau masa lalu gue yaudah gue terima. Toko nanti gue balikin juga." kataku, panjang lebar.
Dia tersenyum. Aneh. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tersenyum. Respons yang paling normal dalam situasi seperti ini bukanlah tersenyum melainkan marah. Apa Ghifari tidak normal?
"Kenapa lo bisa mikir kalo gue bakalan ninggalin lo setelah tau masa lalu lo?" tanyanya.
"Emang lo gak takut gue manfaatin?" tanyaku.
"Lo mau manfaatin gue juga gakpapa. Uang gue banyak. Manfaatin aja selama lo mau. Gue gak peduli. Yang penting lo nyaman deket gue." katanya enteng sekali.
"Walahhh, sombongnyaaa." kataku sambil tertawa.
"Siapa dulu. Ghifariii!" katanya persis seperti anak kecil.
Kini Ghifaro mengantarkanku ke toko kue. Di sana kita turun. Lalu duduk di meja dekat kasir. Aku meninggalkannya sebentar untuk mengambilkan makanan. Dia tak menolak. Setelah itu aku kembali lagi.
Aku bisa saja menyuruh Aisha mengambilkan makanan hanya saja aku tidak tega, ia pasti lelah seharian di toko.
"Tumben baik sama aku?" tanya Ghifari saat aku membawa beberapa kue dan minuman kesukaannya ke meja.
Aku seketika sadar kalau Aku-Kamu adalah jalan ninja kami dalam melancarkan aksi kebohongan ini.
"Aku selalu baik kok." kataku.
Aku tau. Alasan dia melakukannya adalah karena tempat duduk kami dekat dengan kasir dan Ghifari menggunakan aku-kamu pasti agar Aisha tak curiga.
"Ghif, aku mau tanya deh, tumben akhir-akhir ini kamu gak ngajak aku ke rumah?" tanyaku.
Ghifari bergeming di tempatnya. Lalu kembali memakan kue, seakan tak ada apa-apa. Meski begitu, aku tau, ada yg disembunyikannya.
__ADS_1
"Kamu mau ke rumah?" tanyanya. Matanya terarah ke arah lain yang bukan aku.
"Aku cuma tanya." kataku.
"Nanti aku jawab. Nggak sekarang ya." katanya.
Akupun mengangguk.
Kami kembali bercanda seperti biasanya. Namun, tak lama kemudian seseorang yang kukenal masuk ke dalam toko. Dia, Bang Haidar.
Saat mata kami bertemu, ia melangkah menghampiri kami. Melihat aku terkejut, Ghifari langsung menoleh. Dan saat matanya mendapati Bang Haidar yang sedang menuju meja kami, tangannya mengepal. Ada apa ini?
"Eh, Bang Haidar. D-duduk bang duduk.." kataku menyambut Bang Ghifari. Lalu menyuruh Bang Haidar untuk duduk di samping Ghifari.
Rasanya aku ingin menyuruh Aisha untuk mengambilkan makanan dan minuman untuk Bang Haidar namun ternyata dia tak ada di kasir. Mungkin ke toilet.
Jadi, kuputuskan untuk beranjak masuk ke dalam. Meski jauh di dalam sana ada rasa takut meninggalkan kakak beradik tersebut. Mereka terlihat sedang panas, apalagi tokoku sedang sepi pengunjung. Aku jadi mikir yang tidak-tidak.
"Sebentar ya, Bang, Ghif." kataku. Langsung masuk ke dalam.
Saat aku berada di dalam aku mendengar keributan dari luar. Sontak aku lari mencari sumber keributan. Dan benar saja.
"Rencana apa kali ini? Hah? Rencana apa?!" kali ini Bang Haidar tengah memegangi kerah baju Ghifari.
"Abang.. udah.. lepasin Ghifari, Bang!" kataku. Sambil menyentuh tangan Bang Haidar. Aku benar-benar takut.
Melihat tanganku menyentuh tangannya. Bang Haidar pun melepaskan tangannya. Aku mendesah lega.
"Jangan dekati dia lagi, Za. Menjauhlah. Dia berbahaya." kata Bang Haidar dengan wajah serius.
Aku tak mengerti dengan apa yang dikatakan Bang Haidar. "Abang pulang dulu." katanya sambil mengusap kepalaku. Lalu pergi meninggalkan toko.
Aku buru-buru menghampiri Ghifari. Wajahnya merah padam. Aku hendak memeriksa lehernya, namun tiba-tiba dia seakan ingin menangkis tanganku.
Namun, saat ia melihat wajahku, ia mengurungkan niat itu. Lalu dia kembali diam, menunduk. Dan membiarkan aku melakukan apapun yang aku mau kepada dirinya. Ada apa sebetulnya?
__ADS_1