Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 15 - Ara's Cake


__ADS_3

Ghifari ternyata membawaku ke sebuah toko roti. Aku mulai berpikir kalau ini adalah usaha yang Ghifari katakan kepadaku beberapa waktu lalu saat aku menanyakannya apakah dia tidak bekerja.


"Ra, lo harus selalu ingat ya kalo lo calon istri gue." kata Ghifari.


"Iya siap 87!" kataku.


"86, kocak." kata Ghifari.


"Emang iya?" tanyaku mulai berpikir. "Beda satu angka doang juga." kataku membela diri setelah sadar aku salah mengucapkan angka.


"Ayo, turun.." katanya mengajakku.


Aku mengangguk. Kami berdua pun turun dari mobil.


Aku terpaku sebentar. Toko kue ini cukup besar dengan dekorasi yang sangat bagus. Bahkan, bila kubandingkan dengan toko roti tempat aku sebelumnya bekerja, ini jauh lebih bagus.


Aku mendongak. Mencoba mencari tahu nama toko roti berdekorasi serba krem tersebut.


Kuperhatikan nama tokonya lamat-lamat. Ara's Cake. Sepertinya aku familiar dengan nama itu. Tunggu! Kenapa nama toko ini Ara's Cake? Bukankan Ara adalah namaku?


Ah, mengapa aku naif sekali. Di dunia ini, nama Ara tentulah bukan aku saja. Mungkin saja Ghifari mempunyai Ara yang lain.


Ara yang lain. Memikirkannya saja sepertinya aku tidak rela. Tunggu! Mengapa demikian?


"Ayo, masuk!" kata Ghifari.


"Eh, iya." kataku.


Ghifari mengikuti arah pandanganku lalu dia mengajakku masuk tanpa memberikan penjelasan apapun. Padahal aku ingin tahu kenapa ada nama Ara di sana dan apakah dia memiliki lebih dari satu Ara dalam hidupnya.


Argh, aku pasti sudah gila. Maksudku bukan memiliki tapi.. ah, sudahlah aku terlalu malas untuk melanjutkannya.


Aku berjalan di sampingnya.


"Assalamualaikum." Ghifari menyapa seorang gadis cantik berjilbab pink. Jilabnya panjang, bahkan lebih panjang dari jilbab yang aku kenakan saat ini.


"Waalaikumsalam. Eh, Mas Ghifari." kata gadis cantik tersebut menjawab salam Ghifari.


Ghifari melirikku membuat gadis cantik ini menoleh ke arahku. Saat melihat wajahku, dia tersenyum. Senyumnya begitu menenangkan dan penuh keramahan.


"Eh, ini pasti Mbak Ara ya?" tanyanya.


"Iya, ini Ara. Mulai hari ini dia yang hendel semuanya. Tolong bantu dia ya." kata Ghifari.


Aku terpaku di tempat. Apa maksudnya? Gadis itupun mendatangiku. Lalu menyodorkan tangannya. Mengajak aku bersalaman.


"MasyaAllah, Mbak cantik sekali. Namaku Aisha, Mbak." katanya sopan.


Mau tak mau akupun menjabat tangannya. Tangannya halus. Pikiranku kini berkelana kalau dia tidak pernah mencuci pakaian dengan tangan seperti yang biasa aku lakukan. Aku jadi sedikit iri kepada tangannya.

__ADS_1


"Ara." kataku singkat. Lalu aku menoleh ke arah Ghifari.


Aku benar-benar tidak mengerti ke mana arah percakapan ini. Ghifari belum memberikan aba-aba ataupun wejangan apapun kepadaku terkait toko ini.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanyaku pada Ghifari.


"Saya ke dalam dulu ya, Mas.. Mbak Ara.." kata Aisha. Namanya bagus sekali, cantik dan terlihat mencerminkan pribadi pemiliknya.


Aku dan Ghifari mengangguk. Aku tahu Aisha memang sengaja memberikan ruang kepada Ghifari dan Aku untuk saling berbicara.


Kamipun duduk di salah satu meja paling pojok toko roti ini. Kini kami saling berhadapan.


"Ghif, tolong jelasin ini sebenarnya ada apa?" tanyaku.


Aku tidak mau basa basi. Aku ingin tahu maksud Ghifari yang tiba-tiva memintaku menghendel toko dengan tiba-tiba.


"Toko ini punya kamu. Apa kamu nggak suka?" tanyanya.


Hatiku menghangat mendengar dia menggunakan kata ganti kamu bukan lo. Meski aku tau kita memang sudah sepakat begini.


"Ini berlebihan, Ghif. Hari ini lo-kamu berlebihan. Dari mulai Bi Shanti sampai Toko Roti ini berlebihan. Aku nggak mau berutang budi banyak sama kamu. Lagian kamu kenapa mudah betul kasih semua itu sama orang asing?" kataku.


"Kamu bukan orang asing, Ra." kata Ghifari.


Hatiku. Tolong. Hatiku rasanya hangat betul seperti terkena sinar matahari.


"Kita baru kenal beberapa hari." kataku.


"Ya, tapi ini berlebihan." kataku.


"Nggak ada yang berlebihan, Ra. Tolong terima aja semua ini. Kamu pernah kerja di toko roti sebelumnya jadi aku pikir kamu pasti bisa menghendel toko ini." katanya.


"Trus aku harus balas dengan apa semua ini?" tanyaku.


"Kamu cukup terus berada di sampingku." katanya.


Apa ini sebuah ungkapan rasa cinta? -batinku.


Aku menggeleng berusaha untuk tidak tumbang dan berharap. Aku sadar semua ini hanyalah pura-pura dan aku rasa semua kepura-puraan tidak memerlukan pengorbanan yang begitu besar.


Aku benar-benar menganggap pengorbanan yang dilakukan Ghifari begitu besar mengingat dia sering kali membantuku melakukan ini dan itu.


"Kita cuman pura-pura Ghifari." kataku, pelan.


Dia menahan nafas membuang pandang ke arah lain lalu menatapku lagi.


"Oke, gini aja. Anggep aja kita impas. Lo udah bantuin gue buat mau pura-pura jadi calon istri gue dan ini balesan atas semua yang lo lakuin. Nggak lebih nggak kurang. Jadi lo nggak usah ngerasa hutang budi lagi. Lo bantuin gue dan toko ini milik lo. Titik." katanya, dingin.


Kenapa aku merasakan sebuah rasa tak rela di dalam sana ketika mendengar Gifari kembali menggunakan kata Gue-Lo kepadaku. Bukankah itu sebuah tindakan yang wajar?

__ADS_1


Tapi. Melihat bagaimana Ghifari yang terlihat dingin. Aku jadi berpikir kalau Ghifari sedang menyuarakan protesnya. Melalui kata ganti Lo-Gue dan wajah dinginnya.


Aku jadi merasa tidak enak. Aku sangat paham kalau dia sangatlah ingin membantu perekonomianku namun aku tidak mau dia menghamburkan banyak uangnya hanya untuk aku meski di awal yang pertama menuntut adalah aku.


Katakanlah aku egois tapi aku benar-benar bingung. Aku melirik Ghifari. Lalu menghela nafas. Aku tidak boleh membuatnya kecewa, dia sudah terlalu baik.


Anggaplah apa yang di lakukannya ini benar-benar upah atas pekerjaanku. Tidak lebih. Tapi meski aku menerimanya aku harus membatasi kebaikan-kebaikan Ghifari yang lain.


"Tapi dengan syarat. Bi Shanti gue yang bayar, lo nggak perlu bawain makanan 3 sehari, dan lo nggak boleh beliin gue baju tiap hari lagi." kataku.


Senyum Ghifari seketika merekah. Ghifari yang dingin seperti sebelumnya kini tidak ada lagi. Aku tersenyum dalam hati. Dia sepertinya menyetujui persyaratan yang aku ajukan.


"Oke deal." katanya tanpa berpikir lagi.


"Eh, satu lagi. Nggak usah anter-jemput gue lagi." kataku menambahkan syarat.


"Kalo itu nggak bisa." katanya sambil tertawa.


"Kenapa nggak bisa?" tanyaku.


"Anggep aja itu bonus dari gue." kata Ghifari.


"Ck, bonus dari mana. Itu namanya pembatasan ruang gerak." kataku.


Ghifari tertawa mendapatiku mengatakan hal demikian. Tawanya renyah sekali.


"Jadi, Ara's Cake emang Aranya diambil dari nama gue?" tanyaku.


Ghifari menatapku.


"Bukan dari Ara-Ara yang lain gitu?" tanyaku.


"Ara-Ara yang lain?" katanya balik bertanya.


"Ya.. kali aja lo punya banyak Ara." kataku.


"Lo cemburu ya?" tanya Ghifari.


"Dih, cemburu dari mana coba." kataku.


Ghifari terkekeh. "Tenang gue cuma punya satu Ara kok. Lo doang." katanya.


Aku mulai merasa kalau pipiku kini mulai panas.


"Untuk saat ini si satu ya, gak tau nanti sore." kata Ghifari mengutip kata-kata dari sebuah novel yang sudah difilmkan, Dilan.


"Ish! Terserah lo deh, Ghif. Gak peduli, Gue." kataku.


Ghifari hanya tertawa.

__ADS_1


Sial, tertawa saja tampan.


__ADS_2