
Aku mulai membuka mata. Suara detik jam dan juga bau khas rumah sakit mulai masuk ke pancaindraku. Aku mencoba mengumpulkan kesadaranku dengan cepat.
Mama! Ghifari! - Pekikku dalam hati.
Aku langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Orang yang pertama aku cari adalah ibuku dan juga Ghifari.
“Nak, kamu sudah bangun?” tanya seseorang.
Aku langsung mendapati Bi Shanti, beliau dengan wajah pucatnya menatapku sambil menangis, “Alhamdulillah, kamu benar-benar sudah bangun, Nak.” sambung beliau sambil memelukku setelah meletakkan Al-Quran kecil di atas meja.
Aku menganggukkan kepalaku, “Apa kabar, Bi?” tanyaku.
“Baik, Nak. Bibi baik, maafkan Bibi karena tidak ada di sampingmu dari kemarin.” kata Bi Shanti.
Aku tahu, beliau memang sedang sakit karena orang suruhan Bude Ulfa saat penculikan Mama. “Tidak, Bi. Ini semua bukan salah Bibi.” kataku.
"Ara, ..." Panggil Bang Haidar.
Bang Haidar mendekat, matanya berkaca-kaca, "Di mana, Mama?" Tanyaku.
"Mama, ..." Bang Haidar menggantungkan kalimatnya.
Aku langsung mencopot selang infus yang ada di punggung tanganku. Jantungku berdegup dengan sangat kencang. Perutku terasa sangat perih, namun aku masih bisa mengatasinya.
"Di mana, Mama?" Tanyaku.
Aku langsung mengguncang-guncang tubuh Bang Haidar.
"Mama kritis." Kata Bang Haidar.
"Di mana Mama?" Tanyaku.
"Lebih baik kamu beristirahat dulu." Kata Bang Haidar.
"Di mana Mama bang, di mana?!" Aku mengguncang-guncang tubuh Bang Haidar.
Tubuhku terasa begitu lemas. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa selain menangis. Aku ingin melihat mama.
"Mama di ICU." Kata Bang Haidar.
Aku langsung bangkit dan mencoba berjalan menuju ke luar ruangan. Bang Haidar menahanku. "Lukamu belum sembuh, Abang akan bawakan kursi roda dan memanggil suster untuk memakaikan selang infus untukmu." Kata Bang Haidar. Dia membawaku untuk duduk. Bi Shanti duduk di sampingku dan mengusap bahuku. Aku jadi ingin menangis.
Aku tentu saja gelisah setengah mati. Aku menoleh ke arah perutku, bajuku sudah mulai bernoda merah. Sakit sekali.
“Ya Allah, Nak, perutmu berdarah.” kata Bi Shanti Panik.
Aku menggelengkan kepalaku, “Tidak apa-apa, Bi.” kataku.
Tak lama kemudian, Bang Haidar datang dengan suster dan juga kursi roda. Bang Haidar membantuku menaiki kursi roda itu. Kemudian kita pergi ke ruangan Mama.
Di sana, aku melihat Mama yang kembali terbaring, ada ayahku di samping Mama.
__ADS_1
Ayah? Bukan, dia hanya Pak Faiz. Aku menggelengkan kepalaku.
Pak Faiz terlihat sedih, beliau terus menatap ibuku dengan tatapan kerinduan. Meski aku hanya beberapa kali bertemu dengan beliau, jujur aku bisa mengakui bagaimana mata itu begitu jujur mengatakan kerinduan.
"Bangunlah, An. Mari perbaiki ini semua. Kembali padaku. Ini semua salahku, kalau saja aku tidak terhasut oleh ucapan Ulfa. Kalau saja aku mempercayaimu seratus persen, ini semua tidak akan terjadi. Kita tidak akan pernah berpisah. Maafkan aku." Kata Pak Faiz sambil memegangi tangan ibuku.
Aku mengarahkan mataku ke atas agar air mataku tidak tumpah. Mendengar apa yang dikatakan oleh beliau, aku jadi sangat yakin kalau beliau bukan orang baik seperti yang semua orang katakan.
Dia tak bisa mencintai ibuku seutuhnya. Buktinya selama bertahun-tahun dia tidak mencari kami.
Aku mendongak ke arah Bang Haidar yang menatap ibuku dan Pak Faiz dengan tatapan sendu. Ada kerinduan di sana, juga ada penyesalan, juga kesedihan.
"Boleh aku bicara berdua dengan mama?" Tanyaku pada Bang Haidar.
Suaraku sampai di telinga Pak Faiz. Beliau menoleh ke arahku dan melepaskan tangan beliau dari tangan Mama. Beliau mulai berdiri. Aku sedikit terkejut sebetulnya melihat beliau yang kini sudah berdiri, padahal yang aku tahu beliau menderita stroke yang cukup lama.
Apakah ini adalah salah satu keajaiban seperti keajaiban yang mendatangi ibuku? Ntahlah. Harusnya aku tidak perlu terlalu peduli.
"Kamu mau berbicara dengan Mama, Nak?" Tanya Pak Faiz.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, aku tak mau bersitatap dengan beliau. Pak Faiz berjalan mendekatiku dan hendak mengusap kepalaku, namun aku langsung menjauhkan kepalaku dari tangan beliau.
"Ara!" Kata Bang Haidar mencoba memperingatkanku. Namun, aku tidak peduli.
"Tidak apa-apa, Nak. Tidak apa-apa." Kata Pak Faiz.
Kemudian, Bang Haidar membantu Pak Faiz untuk menjauh. Kini aku menangis sejadi-jadinya sambil memegangi tangan mama. Aku sangat tidak tega dengan keadaan beliau, beliau sudah terlalu banyak menderita.
"Mama, maafin Ara. Maafin Ara, ..." Kataku.
Ini semua adalah salahku, aku tidak seharusnya berurusan dengan keluarga ibuku lagi. Apa yang dikatakan oleh Bi Shanti dan juga Bi Linda benar. Kita akan baik-baik saja kalau kita tidak berurusan dengan keluarga Mama, terutama Bude Ulfa.
"Mama ..., bangun Ara kangen." Kataku sambil menangis.
Aku tidak tahu kenapa begitu banyak tangisan di dalam hidupku seperti ini. Namun, yang jelas air mata ibuku jauh lebih banyak keluar. Aku terus menangis di sana, namun ibuku memang belum menunjukkan keajaiban apapun.
“Bi Shanti?” panggilku.
Bi Shanti memang ada di ruangan itu, terus menangis, aku bisa merasa bagaimana terpukulnya beliau mendapati ibuku seperti ini.
“Iya, Nak?” tanya beliau.
“Bagaimana kondisi Bude Ulfa? Dan berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanyaku.
“Kamu tidak sadarkan diri 2 hari, Nak. Mbak Ulfa meninggal dunia dan sudah dimakamkan kemarin sebelum kamu sadar.” kata Bi Shanti.
Aku menganggukkan kepalaku, karena perempuan tidak punya hati itu, kini aku mulai menjadi pembunuh, namun setidaknya kini ibuku aman dari orang seperti Bude Ulfa. Aku tahu tindakanku tidak bisa dibenarkan, namun sepertinya kalau diberikan waktu untuk mengulang, aku akan tetap melakukan hal serupa.
Ibuku sudah terlalu baik kepadanya, keluarga ibuku selalu bodoh mengikuti kemauan iblis itu. Dan keluarga papa tak berdaya.
__ADS_1
“Jadi, apakah polisi sudah mulai mencariku?” tanyaku.
Bi Shanti terdiam sebentar. Aku mengerti apa arti diamnya beliau, “Tidak usah dilanjutkan, Bi. Aku tahu. Dan kalaupun aku harus membusuk seumur hidupku di penjara, rasanya aku ikhlas.”
“Kita akan mencari cara agar hal itu tidak akan terjadi.” kata Bi Shanti.
Aku tersenyum saja. Aku tahu itu takkan berhasil.
“Bagaimana keadaan Ghifari?” tanyaku.
“Dia masih koma, Nak. Dia kehabisan banyak darah.” ucap Bi Shanti. “Golongan darahnya cukup langka dan saat ini pihak rumah sakit masih mencoba mencarikan pendonor.”
“Di PMI?” tanyaku.
“Di sana juga stoknya sedang kosong.” kata Bi Shanti.
“Apa golongan darahnya?” tanyaku.
Belum genap menjawab, seseorang masuk ke dalam kamar ibuku. Aku menoleh di sana sudah ada ibunya Ghifari atau Tanta Farha.
“Nak, bisa kita bicara sebentar?” tanya Tante Farha.
Dan di sinilah aku, di luar ruangan ibuku. Aku tidak mau jauh-jauh dengan ibuku. Aku tak mau melihat wajah Tante Farha.
“Maafkan tante, Nak. Ini semua salah tante.” kata Tante Farha.
“Permintaan maaf ini untuk apa? Untuk aski tante merebut suami sahabat tante sendiri?” tanyaku dengan sinis.
Beliau pun menangis, “Iya, Tante memang sangat bersalah karena hal itu. Tante minta maaf. Atas semua yang terjadi kepada ibumu pun itu salah tante. Sedikit banyak tante selalu terlibat dalam kejahatan yang Mbak Ulfa lakukan.” kata beliau.
“Kalau begitu, akuiah kesalahan tante di kantor polisi.” kataku yang langsung pergi meninggalkan beliau.
***
Aku mengamati wajah ibuku, tanganku tak aku lepaskan dari beliau, “Ma, Ara kangen.” kataku.
Tak lama kemudian seseorang masuk ke ruangan, aku menoleh ke belakangan.
“Saudari Zahra, anda kami tangkap atas peristiwa pembunuhan Saudari Ulfa.” kata seorang polisi.
DEG!
Jantungku berdegup dengan snagat kencang. Aku tidka menyangka kalau aku akan dibawa secepat ini, namun aku tidak siap meninggalkan ibuku.
“Pak, saya mohon, kasus ini biarkan kami selesaikan secara kekeluargaan.” kata Bang Haidar. “Lagi pula adik saya belum sembuh.”
“Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor kami. Dan adik anda akan mendapatkan perawatan dari dokter yang telah kami sediakan.” kata polisi tersebut.
“Pak, saya mohon, izinkan saya di sini, setidaknya sampai ibu saya sadar.” kataku meminta kepada polisi tersebut.
Namun, bagaimana pun aku meminta, Polisi tidak mau memberikanku kelonggaran.
__ADS_1
Ma, sekali lagi, maafkan Ara. -batinku.