
Kemudian, aku menoleh ke arah Tante Farha. Di sana sudah ada Ghifari yang tengah mengusap pundak ibunya yang terus menangis.
Aku pun langsung berjalan ke arah beliau, "Tante ..." Panggilku.
"Maafkan Tante, Nak. Maafkan Tante." Kata Tante Farha yang terlihat begitu menyesal.
Aku pun menganggukkan kepalaku begitu saja, "Aku juga minta maaf ya, Tante. Sudah tidak sopan pada Tante."
"Tante mamang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, Nak." Kata Tante Farha.
"Selama ini, Tante Farha yang menjaga Papa dan abangmu, Nak. Beliau adalah orang yang sangat baik." Kata Ibuku.
"Tapi aku sudah merebut suamimu, Mbak." Kata Tanya Farha sambil menangis menunjukkan kalau beliau menyesal.
Ghifari masih mengusap punggung ibunya, mencoba menenangkan ibunya.
"Aku tau kamu tidak benar-benar melakukannya. Kalau kamu memang jahat, dulu kamu tidak membantuku untuk lolos dari Kak Ulfa. Kamu juga tidak merebut suamiku, karena aku tau kalau kamu hanya melakukan permintaanku untuk menjaga suami dan anakku Haidar." Kata ibuku.
Aku tersenyum, ternyata benar kalau Tante Farha bukanlah orang yang jahat. Mungkin dia pernah melakukan kesalahan di masa lalu, namun beliau tetap sahabat ibuku, yang setia kepada ibuku.
"Mbak ..." Kata Tante Farha.
"Kamu bisa saja pergi, Farha. Kamu bisa saja meninggalkan suami dan anakku, tapi kamu tidak melakukannya. Kamu tetap bertahan meski ntah siksaan apa yang kamu dapat dari kakakku." Kata Ibuku.
Ibuku memeluk Tante Farha. Melihat keduanya berpelukan, air mataku menderas lagi, namun satu senyuman terbit di bibirku. Ibu benar-benar orang baik. Aku sangat bangga kepada beliau. Kebaikan ibukulah yang membuat Bude Ulfa marah.
"Terima kasih sudah menjaga suami dan anakku, Farha." Kata ibuku.
"Maafkan kesalahanku, Mbak." Kata Farha.
Ibuku menganggukkan kepalaku. Kakekku benar, ibuku sudah memaafkan siapapun yang pernah menyakiti beliau.
Aku menoleh pada Ghifari yang tengah menatap ibunya. Aku jadi merasa kasihan. Kini dia hanya tinggal bersama dengan ibunya. Keadaan berbalik. Dahulu, aku menatap keluarganya dengan iri. Sebuah keluarga yang sangat sempurna. Namun, saat ini, aku bisa mengerti perasaannya, aku yakin kalau dia juga ingin merasakan apa yang aku rasakan sekarang, memiliki keluarga yang lengkap.
Ghifari menoleh ke arahku, aku tersenyum kepadanya. Dia balas tersenyum kepadaku dan mengangguk. Aku bisa melihat kesedihan di matanya.
"Tante, ..." Panggilku.
Ibuku sudah melepaskan pelukan beliau pada Tante Farha.
"Jangan lapor polisi lagi. Aku mohon. Tante tidak salah apa-apa. Aku minta maaf karena aku membuat Tante benar-benar lapor polisi." Kataku.
"Tapi, Tante ..."
Aku menggelengkan kepalaku, "Tante tadi meminta maaf padaku kan? Aku akan memaafkan Tante kalau Tante tidak mencoba melaporkan diri lagi." Kataku.
__ADS_1
Aku berjalan menuju Tante Farha dan memeluk beliau, "Terima kasih, Nak. Kamu benar-benar anak yang sangat baik." Kata Tante Farha.
"Sama-sama, Tante. Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku." Kataku.
Lalu aku menoleh pada Kakek dan Nenekku dari ibuku. Orang tua dari ibuku dan juga Bude Ulfa. Sosok yang harusnya paling awal aku mintai maafnya.
Jujur aku lupa nama kakek dan nenekku dari ibuku. Sepertinya nama Rina dan Surya. Namun, untunglah aku bisa memanggil Nenek atau Kakek saja.
"Kakek, Nenek. Maafkan aku." Kataku bersimpuh di bawah kaki mereka sambil menangis dan merenungi apa yang aku sudah lakukan.
Nenek Rina tak mau memandangku. Aku tahu ada rasa kecewa di sana. Bagaimana pun, Bude Ulfa adalah anak beliau. Beliau yang melahirkan dan membesarkan Bude Ulfa.
"Maaf karena telah membuat Kakek dan Nenek kehilangan putri pertama kalian. Aku sungguh menyesal. Kalau kakek dan nenek ingin membalas apa yang aku lakukan, aku ikhlas menerimanya." Kataku sambil menangis.
Kakek Surya langsung menyuruhku berdiri, "Berdiri, Nak. Berdiri. Kami memang kecewa karena bagaimana pun kelakuannya, Ulfa tetaplah anak kami. Namun, kami sudah ikhlas, Nak. Mungkin ini semua sudah jalan-Nya. kami sudah memaafkanmu, Nak." Kata Kakek Surya.
"Terima kasih, Kakek." Kataku.
Aku menoleh ke arah Nenek Rina yang masih menangis, "Maafkan aku Nenek. Sungguh, kalau pun nenek ingin melakukan hal yang sama padaku, aku tidak keberatan sama sekali menerimanya." Kataku.
Nenek Rina mengusap air matanya kemudian memelukku. "Iya, Nenek memaafkanmu, Nak." Akhirnya.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku, "Terima kasih, Nenek." Kataku.
Aku pun beralih pada Nenek dari ayahku, istri dari Kakek Labib. Aku juga sebetulnya lupa nama beliau tapi sepertiaya nama beliau Aisyah. Bagaimana aku menjelaskannya? Aku memang beberapa kali bertemu dengan keluarga dari ibu dan ayahku namun aku tidak hafal namanya satu persatu meski Ghifari pernah memperkenalkannya.
"Iya, Nak. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Kata beliau.
"Aamiin." Kataku. Beliau pun mencium puncak kepalaku, aku bisa merasakan kelegaan yang luar biasa.
Aku pun menoleh pada Kakek dan memeluk beliau sebentar. Beliau menepuk-nepuk punggungku, "Cucu kakek. Kamu hebat mau mengakui kesalahanmu. Kakek sangat bangga sama kamu." Kata Kakek.
Aku tersenyum. "Terima kasih, Kek." Kataku.
Kemudian, aku pun langsung menoleh ke arah Bang Haidar dan juga Bi Shanti.
Aku memeluk Bi Shanti, beliau terlihat begitu mengkhawatirkan aku, "Kenapa kamu bisa jadi seperti ini, Nak. Kenapa banyak lukanya?" Tanya Bi Shanti.
Aku tersenyum. "Nggakpapa kok Bi Shanti. Ini cuma jatuh aja. Nanti sembuh sendiri. Makasih ya, Bi, atas semuanya." Kataku.
Bi Shanti pun menganggukkan kepalanya. "Iya, Nak. Bi Shanti hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu." Kata Bi Shanti.
Kemudian, aku langsung menoleh ke arah Bang Haidar. Matanya berkaca-kaca, "Kenapa ingkar janji si, Bang?" Tanyaku sambil mengusap air mataku.
"Sumpah, gue nggak tau kalau dia dateng ke sini. Dia emang batu." Kata Bang Haidar.
__ADS_1
"Lagian Abang geraknya lama." Ucap Ghifari yang memang tahu kalau orang yang sedang dibicarakan Bang Haidar adalah dirinya. Dia seakan tidak terima.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, "Sekali aja akur kenapa sih?" Tanyaku.
"Duh, gue sama Bang Haidar? Gak banget." Ucap Ghifari.
"Yeuuu, awas aja lo kalau sampe ngemis-ngemis minta restu ke gue. Gak gue kasih baru tau rasa lo!" Kata Bang Haidar.
Semua orang langsung tertawa. Mau tak mau aku pun juga tertawa karena mereka memang sangat lucu. Tertengkar terus.
"Maafin Abang ya, Ra. Gak bisa jagain kamu." Kata Bang Haidar.
Aku kembali berkaca-kaca. Kemudian Bang Haidar memelukku.
"Walaupun Abang gak suka sama Ghifari tapi Abang akuin kalau dia emang cerdas dan sangat memperjuangkan kamu." Bisik Bang Haidar di telingaku.
"Aku tau." Kataku sambil menganggukkan kepalaku.
"Alhamdulillah akhirnya atas kuasa Allah SWT kita bisa kembali bersama lagi. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan selalu berada di dalam lindungan-Nya. Aamiiin." Kata Kakek Labib.
"Amin ya Rabbal Al-Amin." Semua pun mengusap wajahnya masing-masing.
"Bude Ulfa ada nitip pesan." Kata Ara. Lalu Ara menoleh ke arah Kakek Labib, Kakek Labib yang mengerti arti lirikan itu memberikan surat milik Ulfa kepadaku.
"Terima kasih, Kakek." Ucapku.
"Aku mendapatkan surat ini dari tahanan di dalam sana yang bernama Ibu Farah. Dia adalah teman dari Bude Ulfa saat Bude Ulfa masuk penjara. Mungkin untuk kronologisnya kalian semualah yang lebih tau dari pada aku. Ini surat yang ditulis oleh Bude Ulfa di rumah sakit sebelum beliau menghembuskan napas terakhir, surat ini Bude Ulfa tulis dengan bantuan seorang suster yang bernama Nina. Anak dari Ibu Farah yang dibiayai hidupnya sampai lulus kuliah oleh Bude Ulfa." Kataku.
Nenek Rina sudah menangis. Di tempatnya. Terharu karena dari semua keburukannya, anaknya masih memiliki sisi baik.
Aku membuka surat itu. Tadinya aku ingin membacakan semuanya. Namun, itu akan kembali memperburuk citra Bude Ulfa dan juga akan menyakiti banyak pihak. Cukuplah Kakek Labib, Ghifari, dan aku saja yang mengetahui isi dari surat tersebut secara utuh. Aku tak mau semakin mengungkapkan aib Bude Ulfa.
Terlebih, kalau aku bacakan dari awal Kakek Surya dan Nenek Rina akan malu di hadapan semua orang. Kasian beliau.
Apa kamu tau, Anak nakal?
Dalam keadaan sakit ini, aku sadar kalau selama ini aku salah. Selama ini aku berubah menjadi iblis.
Pada akhirnya Nindy memang sosok yang punya keistimewaan, mungkin doa-doa yang dia rapalkanlah yang menyelamatkannya dari kejahatan yang datang padanya.
Aku tidak akan pernah memintamu untuk menyampaikan permintaan maafku kepada kedua orang tuamu, terutama ibumu, sebab aku tahu, kalau mereka akan kembali memaafkanku. Lagi pula ketika membaca surat ini kau tentu sedang berada di dalam penjara, bukan? Tapi kau tenang saja, tak akan ada yang berani membunuhmu di sana.
Dan ... Kalau aku benar-benar mati, kau jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu, ini memang sudah takdir. Aku juga tidak akan memaksamu untuk memaafkan kesalahanku karena aku tau itu adalah hal yang sulit.
Kalau kau bebas nanti, katakan pada ibu dan ayahmu kalau kepergianku adalah hadiah dariku untuk kebahagiaan mereka. Suruh mereka menikmati hidup, tidak plin-plan, dan bersungguh-sungguh dalam menjaga apa yang seharusnya mereka jaga.
__ADS_1
Sampaikan maafku kepada kedua orang tuaku. Kalau ini, aku sungguh berharap. Kalau kau tak sanggup mengatakannya, minta tolonglah pada Haidar dan Ghifari.
Semua orang di ruangan itu menangis. Ternyata diakhir kisah Bude Ulfa, Bude Ulfa masih memiliki sisi kebaikan, beliau mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada kami semua.