Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 35 - Pertemuan


__ADS_3

Tak lama kemudian, aku dan Bang Haidarpun sampai di depan rumahku. Aku mengarahkannya agar dirinya memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah.


Meski sudah berada di depan rumah dan sudah memarkirkan mobilnya dengan tepat, namun aku belum berniat untuk turun dari mobil.


Alasanku yang masih berdiam diri dalam mobil Bang Haidar adalah karena aku ingin memastikan sesuatu. Aku ingin memastikan sebuah kebenaran yang akhirnya membuat aku membawa Bang Haidar ke rumahku.


Bang Haidar adalah laki-laki kedua yang kuizinkan untuk masuk ke rumahku setelah Ghifari. Namun, alasanku sungguh karena aku ingin memastikan sesuatu.


Kuamati rumahku dan mulai berharap kalau ibuku keluar. Aku berharap ibuku tengah keluar rumah bersama Bi Shanti karena Bi Shanti suka mengajak ibuku berjalan-jalan.


“Kenapa gak turun?” tanya Bang Haidar.


Aku masih diam. Aku bingung ingin mengatakan apa kepada Bang Haidar karena aku singguh tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya terjadi kepada Bang Haidar. Aku belum bisa memastikannya.


Aku rasa memang biarlah semesta yang akan membantuku menjawab pertanyaan itu dengan kenyataan yang ada. Hanya saja saat ini aku hanya perlu berkelit sedikit.


“Oiya, tunggu Abang bukain pintu ya?” tanya Bang Haidar.


“Eh, nggak usah, Bang. Za bisa sendiri.” kataku kepada Bang Haidar.


Bang Haidar tak mendengarkan aku, dan langsung keluar dan membukakan pintu untukku. Aku jadi tidak enak hati kepadanya karena aku merasa seperti diperlakukan selayaknya tuan putri. Setelah pintu terbuka, mau tak mau aku langsung keluar dari dalam mobil.


“Makasih ya, Bang.” kataku sambil nyengir lebar.


Bang Haidar hanya tersenyum dan mengangguk. Lagi-lagi bukan terkekeh. Ah, sudah. Aku tidak mau melanjutkan. Aku tidak mau menyebut nama Ghifari lagi.


“Eh, ayo, Bang!” kataku.


Bang Haidar dan aku pun langsung berniat untuk berjalan ke arah pintu namun betapa terkejutnya aku melihat Mama dan Bi Shanti yang sudah menyembul dari dalam rumah.


Aku menghentikan langkahku, begitu pula dengan langkah Bang Haidar. Aku langsung menoleh ke arah Bang Haidar mencoba mencari tahu apa yang terjadi dalam raut tersebut. Aku benar-benar ingin memastikan sesuatu.


Saat aku mengamati wajahnya, Bang Haidar menoleh ke arahku. “Ada apa?” tanya Bang Haidar.


Aku menggeleng, “Eh, Nggak apa-apa, Bang.” kataku.


Aku tidak tahu harus bersyukur atau aku harus bersedih akan hal ini. Aku benar-benar berada diantara dua hal itu. Aku bersyukur karena melihat bagaimana respons Bang Haidar, bila aku lihat wajah Bang Haidar aku merasa kalau Bang Haidar tidak mengenal ibuku, itu artinya Bang Haidar bukanlah kakak kandungku. Namun, di satu sisi ada sebuah rasa kecewa karena jujur ada bibit harapan yang tak sengaja aku tanam di dalam sana.


“Mamamu yang mana?” tanya Bang Haidar sedikit berbisik kepadaku.


Pertanyaan Bang Haidar ini sontak membuat aku tersadar kalau aku harus bangun dari kenyataan. Tidak ada perubahan itu artinya hidup harus terus berlanjut. “Eh, yang di kursi roda, Bang.” Kataku kepada Bang Haidar.


Bang Haidar pun mengangguk.

__ADS_1


“Assalamualaikum!” salamku kepada Bi Shanti dan ibuku.


“Assalamualaikum!” salam Bang Haidar juga.


“Waalaikumsalam.” jawab Bi Shanti.


Aku mencium tangan ibuku dan aku langsung mecium pipi beliau. Selanjutnya aku melakukan hal yang sama kepada Bi Shanti yang juga sudah ku anggap sebagai ibuku sendiri karena beliau adalah teman dari ibuku.


Bang Haidar pun mencium tangan Mama dan Bi Shanti.


“Wah, Mbak. Lihat, Ara bawa siapa itu?” tanya Bi Shanti menggodaku.


Aku terkekeh. “Kenalin Ma, Bi. Ini namanya Bang Haidar. Bang, ini mama aku dan ini Bi Shanti, mama kedua aku.” kataku.


Bang Haidar mengangguk, “Saya Haidar.” katanya.


“Dan Haidar adalah?” tanya Bi Shanti.


Aku jadi bingung harus menjawab apa. Aku tidak bisa menyalahkan Bi Shanti yang langsung menanyakan hal tersebut kepada Bang Haidar sebab aku tahu Bi Shanti memang ntah mengapa seakan terus curiga kepada orang lain dan aku bisa menebak kalau beliau masih takut akan masa lalu mama.


“E…” aku mulai memutar otak.


“Saya dokter yang akan merawat ibunya Za maksudnya Ara.” kata Bang Haidar.


Aku menoleh kepada Bang Haidar karena terkejut. Aku benar-benar tidak menyuruh Bang Haidar untuk berpura-pura menjadi seorang dokter meski profesinya memang demikian.


Ah, aku benar-benar tidak tahu. Maksud tujuanku mengajak Bang Haidar datang adalah untuk mencari sebuah kebenaran bukan menambah jumlah kebohongan.


“Wah, Alhamdulillah kalau begitu. Iya kan, Mbak?” tanya Bi Shanti kepada ibuku. Ibuku hanya bisa tersenyum.


Melihat bagaimana ibuku tersenyum membuat aku juga ikut tersenyum.


Kalau sudah begini artinya aku harus mengikuti apa yang Bang Haidar katakan. Lagi pula Bang Haidar adalah dokter. Jadi, aku anggap kali ini aku bukanlah sedang berbohong kepada siapapun. Tidak pada Bi Shanti tidak juga pada Ibuku.


“Ayo, masuk dulu, Nak.” kata Bi Shanti.


“Terima kasih, Bi.” kata Bang Haidar.


Kami semua pun masuk ke dalam rumah. Aku membantu Bi Shanti membuatkan minuman dan meninggalkan Bang Haidar dengan Mama di ruang tengah. Sayup-sayup aku bila mendengar Bang Haidar mengajak ibuku mengobrol.


Aku hanya tersenyum.


“Jadi, Nak Ghifari atau Nak Haidar?” tanya Bi Shanti.

__ADS_1


Senyumanku langsung luntur sektika. Aku lengsung menoleh kea rah Bi Shanti, aku juga meletakkan lagi termos air panas yang sbelunya ingin ku tuangka ke dalam gelas yang berisi gula dan the celup.


“Maksud bibi?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.


“Ya kamu sukanya sama siapa? Sama Nak Ghifari atau Nak Haidar? Bibi yakin, dia tidak benar-benar dokter mamamukan?” tanya Bi Shanti yang mulai menggodaku.


Untuk mencoba mengulur waktu, aku menuangkan air panas ke dalam gelas-gelas yang sudah kusiapkan.


Rasanya aku ingin mengatakan kepada Bi Shanti untuk tidak menyebut-nyebut nama Ghifari di rumah ini lagi. Namun, aku belum siap menjelaskan apa yang terjadi. Nantilah bila memang aku sudah siap. Aku akan mengatakannya kepada Bi Shanti bahkan akan kujelaskan semua yang terjadi.


“Nggak ada, Bi. Udah ah, jangan godain Ara. Dia beneran dokter kok, Bi. Ara ke ruang tamu dulu.” kataku menghindari percakapan kami.


Bi Shanti terkekeh di belakangku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Bila mendengar beliau terkekeh seperti ini membuat aku merasa senang.


Sesampainya di ruang tamu aku kian tahu kalau Bang Haidar memang sedang mengajak ibuku mengobrol dan aku melihat ibuku tersenyum sehingga aku bisa menyimpulkan kalau ibuku suka pada Bang Haidar juga. Juga? Ah, Ghifari lagi. Aku menggeleng sebentar.


“Ini Bang diminum dulu.” kataku.


Aku langsung meletakan minuman di atas meja.


Tak lama kemudian, Bi Shanti juga sampai di ruang tamu. Lalu kami mengobrol dengan suka cita. Aku senang kepada Bang Haidar yang ternyata bisa juga mengambil hati Bi Shanti dan Mama. Obrolannya juga lumayan asik. Ntahlah, melihat kedua orang yang kini sangat penting di hidupku tersenyum benar-benar membuat aku merasa obrolannya asik. Sesederna itu.


Setelah 30 menit kemudian, Bang Haidar pamit kepada Bi Shanti dan ibuku.


Dan di sinilah aku. Aku mengantarkan Bang Haidar ke mobilnya, aku bersiap untuk mengucapkan terima kasih kepada Bang Haidar karena sudah membuat rumahku menyenangkan dengan waktu yang singkat tadi.


“Ikut abang, Za!” bisik Bang Haidar setelah memastikan kalau di belakang kami sudah tidak ada ibuku dan Bi Shanti. Karena Bang Haidar menolah diantar keluar.


Bang Haidar menarik tanganku ke belakang mobilnya.


Sesampainya di belakang mobil, Bang Haidar menatapku. Lekat sekali, namun aku tidak bisa tahu apa arti dari tatapannya kepadaku.


“Eh, ada apa, Bang?” tanyaku bingung.


Tanpa disangka Bang Haidar langsung menarikku dalam pelukannya. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukannya.


Aku pun mencoba memberontak.


“Adikku.” katanya.


Satu kata itu sukses membuatku terdiam tidak lagi memberontak.


***

__ADS_1


***Maaf ya teman-teman, kemaren aku gak update karena kemaren laptop dibawa Abang aku gitu jadi gak bisa ngetik. Maklum laptopnya gantian hehehe. Soalnya kalau ngetik di hape keypadnya suka lama keluarnya gitu kalo kita ngetik ya gitulah hapenya cukup kentang 😂.. pokoknya bikin gak mood wkwkwkwkwk


Oiya, makasih banget buat komentarnya yang udah sampai hampir 40 komentar di part sebelumnya, asli bikin mood banget buat nulis. Aku sukaaaa 😍😍😍***


__ADS_2