
Aku benar-benar berutang budi kepada dirinya. Bila saja Ghifari tidak menemaniku ke rumah sakit, aku pasti bingung mengurus ini dan itu di rumah sakit karena keadaanku benar-benar diliputi kepanikan.
"Ini salah gue." kataku jatuh terduduk ke lantai rumah sakit.
Ghifari buru-buru berjongkok di hadapanku. Air mataku menderas lagi.
Aku tidak mau terlihat lemah, namun ntah mengapa kelemahan itu justru mulai unjuk gigi.
Aku benar-benar takut kalau sesuatu terjadi pada ibuku. Ibuku adalah satu-satunya keluarga yang aku punya, dan aku tidak mau sampai kehilangan beliau.
Di hadapanku, Ghifari menggeleng. Dia tidak menyetujui ucapanku. Dia mengusap air mataku dengan lembut. Dia benar-benar anak baik.
"Ini salah gue yang ngajakin lo pergi." kata Gifari.
"Lo udah nyuruh gue pulang dari tadi." kataku.
"Mungkin ini udah jalannya, Ara. Yang penting kita jadiin pembelajaran aja buat kedepannya." kata Ghifari.
Aku menatap Ghifari. Dia benar-benar laki-laki yang baik. Seketika aku kembali merasakan kalau aku kembali merasa terjerat dalam pesonanya.
"Jangan tatap gue kayak gitu." kata Ghifari.
Aku diam saja.
Kemudian, dia meraih tanganku, "Ayo berdiri." katanya. Lalu menarikku untuk berdiri. Aku menurut dan dia membawaku duduk di atas bangku.
Beberapa menit kemudian dokter keluar. Aku dan Ghifari buru-buru menghampiri dokter tersebut guna mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Bagaimana keadaan Mama saya, Dok?" tanya Dokter tersebut.
"Kalian keluarganya?" tanya Dokter.
"Iya, Dok. Saya anaknya." kataku.
"Dan ini?" tanya Dokter tersebut.
Aku benar-benar tidak tahu kalau Dokter menanyakan Ghifari juga. Ah, benar saja. Kalau saja tadi aku tidak menggunakan kata 'saya' tentu dokter tersebut tidak akan bertanya lagi. Harusnya kukatakan 'kami' saja.
Aku mulai memikirkan jawaban untuk pertanyaan dokter itu. Aku harus menjawabnya apa? Teman? Ayolah, tidak ada pertemanan antara anak laki-laki dan perempuan. Atau pacar? Calon Suami? Ya ampun, cukup aku berbohong kepada keluarga Ghifari saja, yang lain jangan.
"D-dia.." kataku hendak menjawab.
"Saya Kakaknya." jawab Ghifari.
Deg!
Ghifari benar-benar orang yang tidak bisa ditebak. Rasanya sedih sekali mendengar dia mengakuiku sebagai Kakak bukan sebagai calon istri seperti biasanya.
Aku mencubit lenganku sendiri untuk menyadarkan diriku.
"Jadi, bagaimana keadaan beliau, Dok?" tanya Ghifari.
Aku mengangguk membenarkan pertanyaannya.
__ADS_1
"Ibu kalian tidak apa-apa. Dia hanya telat makan. Ibumu punya penyakit mag, jadi tidak bisa telat makan." kata Dokter tersebut.
"Alhamdulillah." kataku dan Ghifari memanjatkan syukur.
"Terima kasih, Dok." kata Ghifari.
Dokter tersebut mengangguk, "Silakan lengkapi administrasinya ya.." kata dokter tersebut kepada Ghifari.
"Baik, Dok." kata Ghifari.
Mendengar dokter tersebut mengatakan bahwa ibuku telat makanlah yang membuat beliau pingsan. Hatiku sakit sekali.
Pasalnya yang membuat ibuku seperti ini adalah aku sendiri, anaknya. Kami berdua masuk ke ruangan di mana ibuku dirawat.
Bayangan rasa bersalah kini mulai berkumpul di dalam dadaku. Aku benar-benar anak yang tidak berguna dan tidak becus mengurus ibuku. Aku menyesal. Benar-benar menyesal.
"Mama.. maafin Ara." kataku sambil memeluk ibuku yang kini masih terbaring dengan selang infus di tangan.
"Ra, ada KTP Tante?" tanya Ghifari.
Aku tertegun lalu menggeleng. "Gue gak bawa." kataku berbohong.
Padahal aku tidak pernah melihat ibuku memiliki KTP. Semuanya menggunakan data Bi Linda.
"Oke, gakpapa. Nama Tante siapa, Ra?" tanya Ghifari.
Aku menelan ludah sebentar.
"Linda. Nama mamaku Linda." kataku.
Akupun mengangguk.
"Ghif!" aku memanggilnya.
Ghifari berhenti dan menoleh.
"M-makasih." kataku.
Ghifari hanya tersenyum lalu mengangguk.
...***...
Kejadian kemarin benar-benar melukai hatiku. Aku tak bisa menjaga ibuku dengan baik. Itulah yang aku pikirkan secara terus menerus. Aku terus melamun di depan TV.
"Ara?" bahuku di guncang seseorang. Aku menoleh dan menemukan Ghifari ada di sana. Dialah yang mengguncang tubuhku.
"Gue ketok, gue salam, nggak ada sahutan, gue takut ada apa-apa makanya gue masuk. Lo kenapa?" tanyanya bingung.
Aku mendapati Gifari tidak sendirian. Di sampingnya ada seseorang kutaksir seumuran dengan ibuku tengah berdiri.
"Siapa?" tanyaku, sambil melirik ibu-ibu tersebut.
"Panggil aja Bi Santi. Mulai hari ini beliau yang bakal ngerawat mama." kata Ghifari, air ajahnya mantab. Aku sampai terpesona. Halah. Lupakan.
__ADS_1
Aku melotot kepada Ghifari, enak saja dia memanggil ibuku dengan sebutan Mama.
"Maksud gue Tante." kata Ghifari.
Aku menoleh ke arah orang yang dibawa oleh Ghifari. Apa kata Ghifari tadi? Merawat mama? Aku benar-benar harus mengklarifikasinya saat ini juga. Ghifari tentu tahu kalau aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar seorang perawat, dan meski tahu begitu mengapa dia tetap membawa perawat tersebut?
"Kita perlu bicara." kataku dengan raut wajah yang serius.
Sejujurnya, dalam hatiku, aku amat senang dia begitu memperhatikan aku, si calon istri gadungannya. Tapi masih ada banyak hal yang aku pikirkan untuk saat ini.
Aku beranjak. Dia mengikutiku dari belakang.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ghifari yang terhormat. Dengerin gue ya." kataku.
Mendengar panggilanku. Dia dengan gestur sok-sokan langsung membetulkan kerah kemejanya. Tindakannya amat lucu juga keren namun aku tak boleh terlena. Iya, aku tidak boleh terlena.
"Heh! Sok kegantengan banget lo!" kataku, sambil menjewer telinganya.
"Ala-lalalala, ampun-ampun!" katanya, meringis kesakitan.
Aku pun melepaskannya. Aku melipat tangan di depan dada.
"Gue nggak punya uang Ghifari untuk sewa begituan. Lo ngerti gak si?" kataku.
"Lo tenang aja. Gue yang bakal bayar. Lagian lo kan calon istri gue. Jadi udah kewajiban gue buat kasih yang terbaik buat lo." katanya dengan gaya sok serius.
Pipiku terasa panas. Aku harus melakukan sesuatu untuk pergi darinya.
"Heh apa-apaan lo. Kita itu cuman pura-pura. Inget itu. Kewajiban-kewajiban pala lo peyang. Yaudah lah terserah lo aja." kataku langsung pergi.
Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? -batinku.
Aku tidak bisa lagi mendebat Ghifari karena aku benar-benar tidak bisa mengontrol rona di pipiku. Aku benar-benar harus pergi dari dirinya saat ini juga.
Ghifari pun terkekeh seperti biasa. Kesal sekali rasanya melihat dia terus menertawakan aku. Lalu dia mengikuti langkahku.
Kami berdua menghampiri Bi Santi. Kali ini aku mencium tangan Bi Santi takzim.
"Maafin saya ya, Bi. Tadi saya kurang sopan. Nama saya Ara. Mohon bantuannya, Bi. Hehe" kataku pada Bi Santi.
Aku melirik Ghifari. Dia mendecak kecil.
"Iya, Non, ndak apa-apa." kata Bi Santi. "Saya hari ini sudah langsung bisa bekerja, Non?" tanya Bi Santi.
Aku pun mengangguk.
"Jangan non, panggil aku Ara saja ya?" kataku.
Bi Santi tersenyum lalu mengangguk.
"Perlu aku antar keliling rumah, Bi?" tanyaku sopan.
__ADS_1
"Ndak perlu nak. Nanti bibi keliling sendiri saja. Tapi kalau boleh bibi mau kenalan sama ibunya Nak Ara." Kata Bi Santi.
"Oh, boleh Bi boleh ayo ikut Ara." kataku