
Ghifari benar-benar mengantarku sampai di depan rumah. Pria angkuh ini turun dan membukakan pintu mobil. Persis seperti adegan-adegan di televisi yang sering aku tonton. Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal sama sekali. Walaupun mantan pacarku banyak, tidak ada satupun yang ku biarkan mengantarku pulang sampai di depan rumah.
Aku benar-benar gugup. Dalam hati aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku benar membiarkan dia mengantarku sampai di depan rumah?
Sungguh, aku tidak malu dengan keadaan rumahku yang apa adanya. Hanya saja keluargaku.. Argh, bagaimana aku menjelaskannya. Aku hanya sedikit takut dia akan mengetahui semua tentangku. Aku juga tidak tahu apa yang ada di dalam benaknya saat mengantarku untuk pertama kali ini.
Ck, padahal aku baru mengenalnya dalam 2x pertemuan tapi dia berhasil membuatku membawanya ke rumah. Benar-benar menyebalkan. Kenapa pula aku harus mau?
Kali ini posisi kita berdua sudah berada di depan rumahku.
"Masuk gih." katanya.
Aku meliriknya sekilas. Aku terdiam sebentar. Kali ini aku memikirkan hal tentang dia yang terlihat begitu percaya kepada diriku.
"Gue mau nanya, lo nggak khawatir gue bakalan kabur?" tanyaku.
"Gue percaya sama lo." katanya.
Aku hanya bisa berdecak sebal memikirkan dia yang langsung percaya begitu saja kepadaku. Dipercaya oleh seseorang memang menyenangkan tapi ntah mengapa dalam kasus ini aku justru sebal.
"Sebentar." katanya.
Dia pun membuka pintu mobil bagian belakang dan mengambil sesuatu dalam mobilnya. Lalu menyerahkan sesuatu kepadaku.
Aku mengamati sebentar, aku tau itu adalah makanan restoran tadi. Aku menerimanya dengan wajah pura-pura enggan. Dalam hati aku bersorak, hari ini ibuku akan makan enak jadi aku sangat senang.
Tapi, lagi-lagi. Aku tidak mau memperlihatkan wajah sebangku di hadapan Ghifari. Lagi pula untuk apa aku merasa senang di hadapannya? Bisa besar kepala dia nanti.
"Hape lo mana?" tanyanya.
Aku tidak mau berdebat dengannya. Awalnya aku tidak ingin memberikannya hanya saja karena aku sudah lelah dan aku ingin cepat-cepat bertemu dengan ibuku, akupun berniat memberikan ponselku kepada pria aneh bin ajaib ini.
Aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas selempang yang aku pakai, lalu menyerahkan ponsel itu kepadanya. Diapun menerimanya cepat. Lalu mengutak-atik ponselku.
Aku sempat mengulurkan leher untuk mengintip apa yang dilakukannya, bagaimanapun meski ponselku tidak menyimpan video porno atau apapun namun tetap saja aku selalu merasa cemas tiap ada orang lain meminjam ponselku.
Ternyata dia menyimpan nomornya sendiri di ponselku, dia bahkan sampai menelepon ponselnya agar nomorku juga muncul di ponsel miliknya.
Setelah selesai, dia memberikan ponselku kepada dirimu. Tentu saja.
__ADS_1
"Masuk sana." katanya sambil mengacak rambutku.
Sial, yang diacak rambut yang berantakan hati.
"Hey, inget ya kita cuman bohongan. Kenapa lo bertindak beneran sih?" kataku kesal. Sikapnya benar-benar tak baik untuk kesehatan jantungku.
"Tapi lo suka kan?" tanya, menggodaku. Sial.
"Mimpi aja sana!" kataku, mulai melangkahkan kaki.
Posisi Ghifari ada di depan rumahku jadi aku harus melewatinya jika ingin masuk.
Ketika aku sudah berada tepat di sampingnya akupun mengatakan, "Makasih."
Lantas aku lari masuk ke dalam rumah. Biarlah di belakang sana dia menertawakanku yang jelas aku masih tau sopan santun.
...***...
Di dalam rumah ibu menungguku. Aku menghampirinya. Sambil tersenyum bahagia ntah apa sebabnya. Aku datang lantas memeluk ibuku erat, lalu mengecup pipi kanan dan kiri ibu.
"Ma, tadi aku pulang diantar teman. Namanya Ghifari. Dia menyebalkan Ma, tapi dia baik." kataku.
Aku lantas mengeluarkan makanan dari bungkusnya.
Aku menyuapi ibuku. Aku menatap wajah ibuku sebentar. Kali ini makanan ibuku habis. Aku tersenyum. Ibuku seakan mengerti kalau Aku telah mendapatkan pekerjaan baru. Meski aku hanya bekerja untuk berpura-pura menjadi calon istri Ghifari, tapi aku tetap senang.
Setelah menyuapi ibuku. Aku mencium ibuku dan aku membereskan makanan, lalu membawa ibu ke kamar.
...***...
Drrrrrtt...
Ponselku bergetar. Aku mengambilnya.
Siap-siap, gue jemput 30 menit lagi, di rumah lo.
Aku melotot kesal. Sejak kapan aku menyimpan nomor ponselnya? Aku tiba-tiba teringat kejadian semalam dimana dia meminjam ponselku. Aku kembali teringat bahwa dia memang menyimpan nomornya di ponselku semalam.
Nggak mau. –kukirimkan.
__ADS_1
Oke 20 menit. –balasnya
Aku bisa gila kalau begini caranya. Aku melempar ponselku ke sembarang tempat dan langsung pergi ke kamar mandi.
Aku benar-benar sial. Ini adalah hari Sabtu, biasanya aku selalu libur bekerja. Hari Sabtu adalah hari yang biasa aku gunakan untuk berleha-leha. Namun, lihatlah bagaimana pria menyebalkan itu mengirimiku pesan.
Dan 20menit tentulah tidak cukup untuk mandi dan berdanda. Namun, lagi-lagi aku harus melakukannya. Dengan sekuat tenaga aku langsung mandi bebek. Istilah mandi anak sekolah yang sudah kesiangan.
Lima belas menit ternyata cukup untukku mandi dan merias diri. Aku buru-buru ke kamar ibuku untuk berpamitan.
Lantas tepat 20menit setelah perjanjian, pintu rumahku diketuk seseorang. Aku mengepalkan tangan. Dia benar-benar orang yang tepat waktu.
Sabar, Ara.. Sabar.. -batinku mengabarkan diri sendiri.
Aku buru-buru membuka pintu, di sana dia sudah berdiri dengan setelan baju rapih seperti biasanya hanya kali ini terlihat lebih segar. Dia, Ghifari. Memang siapa lagi? Tama? Tidak mungkin dia datang ke rumahku dan mengemis cinta kepadaku, bukan? Argh, sial. Memikirkan soal Tama membuat mood-ku berantakan.
"Ayo." kataku agar kami bisa cepat-cepat pergi.
"Gue nggak pamit sama bokap-nyokap lo?" tanyanya.
"Gue cuman tinggal sama nyokap, trus.." belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia masuk ke rumah. "Hei! Gue lagi ngomong!" kataku.
Mau tak mau aku ikut menyusulnya.
Aku mematung, ibuku berada di depan sana. Dan Ghifari berjalan menuju ibu lalu mencium tangan ibuku. Di sana aku melihat ibuku tersenyum.
Aku benar-benar terperangah menyaksikan apa yang kini tengah terjadi.
Air mataku menetes tanpa permisi. Aku buru-buru menghapusnya. Ini kali pertama seumur hidupku melihat ibuku tersenyum. Apa ini sebuah keajaiban, Ya Allah?
Aku mengamati wajah Ghifari yang kini membalas senyuman ibuku. Aku menahan tangisku dengan menatap langit-langit rumahku.
"Tante, nama saya Ghifari, saya mau izin bawa anak tante yang cantik itu pergi keluar. Boleh kan tante?" kata Gifari.
Aku tersenyum kecut. Kepribadiannya memang tak bisa ditebak. Aku menghapus air mataku lagi. Aku tak kuasa menahan tangis. Di sana, ibuku hanya bisa tersenyum, beliau seakan sedang menanggapi Ghifari lewat senyumannya. Padahal selama ini ibu tidak pernah merespons apapun.
"Terima kasih, Tante." ucap Ghifari dengan tulus.
Aku menahan nafas, kuhapus air mataku dengan secepat mungkin takut Ghifari melihat.
__ADS_1
Aku lantas menghampiri Ghifari, lalu menariknya, "Dasar cowok nggak sopan! Tunggu di luar sana!" kataku, menariknya keluar rumah.