Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 14 - Prasangka Berlebihan


__ADS_3

Sesampainya di kamar mama aku memperkenalkan Bi Santi pada mama juga sebaliknya. Seperti biasa mama tak bereaksi apa-apa selain tersenyum. Tapi aku bersyukur itu tandanya mamaku menyambut baik niat baik Ghifari yang mengirim Bi Santi.


Tak lupa akupun memberi tahu kepada Bi Santi apa yang harus dikerjakan Bi Santi. Setelah itu akupun keluar. Menghampiri Ghifari. Karena dia tidak ikut masuk ke kamar mama tadi.


Aku membiarkan Bu Shanti di kamar dan berkenalan dengan Mama. Jujur ntah mengapa aku tidak begitu khawatir bila Bi Shanti akan melakukan hal yang jahat karena Bi Shanti dibawa oleh Ghifari. Aku percaya kalau Ghifari adalah orang baik.


Saat aku keluar kamar, akupun mendapati Ghifari yang telah pulas di sofa. Aku mendekatinya. Apa yang harus aku lakukan? Dia terlihat lelah, terlihat dari kantung matanya. Akupun berinisiatif untuk membiarkannya tidur, tak mengganggunya. Saat aku hendak pergi. Terdengarlah suara Ghifari.


"Apapun yang nantinya akan terjadi, tolong jangan tinggalkan aku." katanya.


Hatiku berdebar tak karuan. Aku memandanginya lagi. Matanya terpejam. Pasti dia tengah bermimpi. Tapi apa sebetulnya yang sedang dimipikannya? Akukah? Atau orang lain? Entahlah.


Tanpa tahu harus berbuat apa. Aku mengangguk. Ntah untuk apa. Dan aku memilih duduk di kursi yang lain. Memandangi ia yang sedang pulas tidur.


Dua jam berlalu. Akhirnya Gifari bangun. Aku pura-pura menonton tayangan TV yang menampilkan sinetron tak bermutu. Setelah membuka matanya, diapun duduk sambil memegangi kepalanya.


Aku meliriknya, rasanya kasihan juga dia terlihat sakit kepala. Mungkin ini efek dari dia yang mengigau tadi.


"Minum." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.


Aku buru-buru menyodorkan air putih yang langsung dia tegak habis. Dalam hati aku bertanya-tanya beginikah penampilannya tiap bangun tidur?


Meski rambutnya berantakan, kadar ketampanannya tidak juga mau turun. Di saat-saat seperti ini rasanya semesta tidak adil. Seharusnya dia harus terlihat biasa saja bahkan jelek saat bangun tidur, bukan sebaliknya l.


Ghifari memandangku, setelah meneguk satu gelas air putih ia tampak segar kembali, "Makasih, calon istri." katanya sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku.


Ghifari mulai lagi. Sepertinya obat yang biasa diminum Ghifari habis. Rasanya aku harus cepat membawanya ke Grogol saat ini juga.


Aku memutar bola mata bosan. "Cuci muka gih. Udah jelek, makin jelek tau." kataku.


Dia hanya terkekeh lalu menuruti apa kataku. Tak lama kemudian dia kembali. Wajahnya kini benar-benar segar.


Lihatlah, apa kubilang tadi. Dia tidak memiliki celah untuk tidak tampan. Sial, jantungku kini mulai mengadakan pesta.


"Sana ganti baju. Kita berangkat." katanya.


"Ke mana?" tanyaku.


"Kerjalah." katanya.


"Apa maksudnya kita?" tanyaku polos.


"Lo sama gue. Kita." katanya sambil menaik turunkan alisnya.


Tapi kali ini aku tidak mau berdebat. Aku hanya ingin tahu maksud dari kata pergi dan kita yang dia maksud.


"Apaan si maksudnya?" tanyaku.


"Sana ganti baju dulu. Kayak biasa." katanya.


"Ghif, gue bawa aja deh ya bajunya? Gue takut mama.." kataku.


"Ara, dengerin gue. Tante juga pakai jilbab kan? Gue rasa beliau bakalan seneng kalo liat lo pake baju tertutup sama berjilbab." kata Ghifari.

__ADS_1


Kata-katanya masuk akal, hanya saja aku masih merasa ragu.


"Tapikan jilbab gue bongkar pasang, Ghif." kataku.


"Nggakpapalah, semua itukan butuh proses, siapa tahu nanti lo bakalan keterusan.. udah sana gakpapa." kata Ghifari.


"Keterusan? Nanti gue kalo keliatan kayak ibu-ibu gimana? Nanti cowok-cowok pada.." kataku mencoba menyela.


"Kata siapa lo pake jilbab kayak ibu-ibu?" tanya Ghifari.


"Ya, kata gue." kataku.


"Semua perempuan yang pakai jilbab itu cantik kok gak kayak ibu-ibu." kata Ghifari.


"Gue udah jomlo nih mohon maaf. Nanti kalo nggak ada yg ngelirik gue gimana?" kataku mendramatisasi.


"Tenang. Gue bakal tanggung jawab." kata Ghifari.


"Tanggung jawab? Lo bakal kenalin gue sama cowok tajir?" tanyaku antusias.


"Hahahaha. Ngarep. Sana ganti baju buruan." kata Ghifari.


"Gak mau jawab dulu." kataku.


"Kalo gak ada yang mau sana lo, nanti gue aja yang jadi suami lo." kata Ghifari.


"Idihhh.." kataku.


"Udah siang kali, bangun, jangan mimpi." kataku.


"Udah sana ganti baju!" kata Ghifari.


"Tapi.." kataku.


"Lo ganti baju sendiri apa gue gantiin?" tanyanya.


"Yeu, mesum." kataku langsung berjinjit dan menoyor kepalanya lalu langsung berlari ke dalam kamar.


"Araa.." panggil Ghifari mengajukan protes.


Aku hanya bisa terkekeh mendengar Ghifari memanggil namaku dengan kesal. "Emang enak." kataku sambil terkikik geli.


Kali ini aku sudah memantapkan hati untuk memperlihatkan penampilan baruku kepada mama.


Setelah selesai berpakaian aku pun keluar. Di ruang tamu sudah ada Mama dan Bu Santi.


Di luar dugaan mama tersenyum, akupun menyimpulkan bahwa ternyata sedari kemarin aku hanya berlebihan saja. Aku terlalu berlebihan berpikir kalau mama akan terkejut melihat penampilan baruku.


Ternyata beliau terlihat senang. Aku jadi merasa bersalah karena pakaian inipun sifatnya hanya sementara. Nantilaah, aku pikirkan lagi.


Setelah keluar, aku dan Ghifari pun pamit kepada Mama dan Bi Shanti.


"Bi, kalau aku tinggal kerja sebentar nggakpapa?" tanyaku pada Bi Santi.

__ADS_1


Bi Santi baru saja datang jadi aku merasa tidak enak untuk langsung memintanya bekerja.


"Ndakpapa, Nak Ara. InsyaAllah Bi Shanti akan merawat mamamu dengan baik." kata Bi Shanti.


Aku tersenyum.


"Terima kasih ya, Bi. Aku pergi dulu." kataku sambil mencium tangan Bi Shanti. Bagaimanapun beliau sebaya dengan Mama.


Bi Shanti tersenyum dan mengangguk.


"Mama, Ara kerja dulu ya." kataku sambil mencium tangan dan pipi mama.


"Tante, Bibi. Kami pergi dulu." kata Ghifari.


"Assalamualaikum." kami mengucap salam berbarengan.


Kamipun masuk ke dalam mobil Ghifari. Lalu Ghifari langsung melesat pergi.


"Kita mau kerja di mana?" tanyaku.


"Nanti juga lo tau." kata Ghifari.


Aku hanya bisa cemberut mendengar jawaban yang sangat tidak memuaskan dari seorang Ghifari. Namun, aku tidak bisa melakukan apapun.


Kini kami hanya diam. Hanya suara radio yang kini mengisi kekosongan suara di antara kami. Lagu yang kini diputar adalah lagu Sheila On 7 dengan judul Hari Bersamanya.


Aku mengutuk lagu itu dalam hati. Aku tidak membencinya. Sungguh aku sama sekali tidak membenci lagu itu. Bahkan aku sangat suka, hanya saja saat ini situasinya seperti pas saja. Maksudku, judul lagu dan keadaan aku dan err.. Ghifari.


Aku pun menggelengkan kepala mencoba mengusir apa yang ada di dalan kepalaku.


"Lo kenapa?" tanya Ghifari.


Aku mencoba memutar otak. Dan seketika aku teringat Bi Shanti. Aku harus menanyakan beberapa pertanyaan kepada Ghifari.


"Ghif, Bi Shanti gak akan jahatin mama kan ya?" tanyaku.


"InsyaAllah enggak. Lo tenang aja. Gue gak asal pilih orang kok." kata Ghifari.


Jalanan kini macet. Ntah mengapa kini semua orang mulai galak memencet tombol klakson. Benar-benar membuat sakit kepala.


"Emang lo bisa ketemu sama Bi Shanti dari mana?" tanyaku.


Ghifari diam. Matanya lurus ke depan.


"Ghif!" panggilku.


Ghifari tidak menoleh, sepertinya dia tidak mendengar pertanyaanku.


"Ghifariiii!" seruku.


Ghifari pun menoleh, "Eh, Ra, ada boneka Mampang tuh. Lucu banget mirip elo." katanya.


"Sialan." rutukku kesal.

__ADS_1


__ADS_2