
Sial. Ini adalah tahap pemaksaan. Rasanya aku pernah mendengar adanya pasal yang menjerat orang-orang pemaksa dan pengancam. Untuk lebih lanjutnya aku tidak tau.
Aku terus memberontak namun dia tetap tidak melepaskannya. Mau tak mau aku harus berteriak. Aku tersenyum licik pada laki-laki arogan ini. Lalu mengumpulkan tenaga untuk berteriak.
"Tolong! Pak, Bu, saya diculik!" teriakku, teriakan yang cukup mengundang keingintahuan semua masyarakat yang datang.
Semua orang berjalan mendekat setelah mendengar aku yang berteriak demikian.
Pria di sebelahku terkejut namun air wajahnya cepat dapat ia kendalikan. Aku menikmati wajah terkejutnya yang sangat lucu dan membuatku ingin tertawa bila kami ada di saat yang berbeda.
Namun, aku harus kecewa setelah dirinya bisa mengendalikan air wajahnya.
"Maaf Bu, Pak, saya bukan penculik, dia istri saya, dia marah karena saya pulang dari kantor telat." katanya santai.
Semua orang yang awalnya ingin membantuku langsung menunjukkan wajah kesal kepada diriku.
Sial, ini namanya senjata makan tuan! -seruku dalam hati.
Semua orang mempercayai ucapannya. Malah kini beberapa diantara mereka justru menceramahiku untuk memaafkan laki-laki gila yang mengaku sebagai suamiku.
Suami? Seketika kurasakan sesuatu yang panas menjalari pipiku. Kabar baiknya, hujan terus menyamarkan semua yang aku rasakan. Jadi, setomat apapun pipiku bisa disembunyikan dengan baik.
Aku membiarkan diriku dibawanya pergi ke sebuah restoran terdekat. Di sana kita duduk berhadapan. Aku menyilangkan tangan di depan dada dan mengedarkan pandanganku ke arah lain. Aku tentu harus jual mahal kepada dirinya.
Dia memesan makanan untuk kita berdua lalu meletakkan daftar menu di meja. Aku hanya mengeluh tertahan, pasalnya pada saat aku melihat daftar makanan tersebut, aku teringat ibu. Ibu belum makan, sedangkan aku makan di tempat mewah. Aku mengusap wajah gusar, lalu menatap dia yang ada di hadapanku.
Aku harus pulang, namun sepertinya dia tidak akan mau melepaskanku bila dia belum mencapai apa yang menjadi tujuannya.
"Ada apa?" tanyaku kesal.
"Kita ngobrol setelah makan." katanya.
"Otoriter banget si." kataku.
"Hahaha, nama gue Ghifari." katanya sambil tertawa.
Dia mengulurkan tangannya ke arahku. Aku mengamati tangan itu dengan pandangan malas.
Melihat dia yang terus tertawa melihat tingkahku aku jadi merasa kesal dan panas dipipi di saat bersamaan. Perasaan yang sulit dijelaskan dan tidak mau kujelaskan.
"Ara." kataku, singkat. Aku tidak mau membalas menjabat tangannya. Sebagai perempuan aku harus tetap jual mahal.
"Ara? Maksudnya?" tanyanya seolah tak mengerti.
Kini aku tau selain misterius, dia pembohong. Namun sepertinya dia hanya ingin memancingku untuk menjelaskan padanya tentang siapa nama lengkapku. Aku memutar bola mata malas.
"Nama gue Ara. AzzahRA. Panggil aja gue Ara." kataku. Benar-benar malas menanggapi guyonannya.
Kata temanku dulu, hidup itu guyon. Dalam sekali artinya meski sebetulnya terlalu luas dan ambigu dalam segi arti.
Tak lama kemudian, makananpun sampai di meja kami. Kamipun melahap makanan tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Aku melirik jam tangan milik pria di depanku. Aku mulai gusar. Aku harus pulang membawa makanan untuk ibu.
Aku meletakkan sendok dan garpu di atas piring dengan posisi yang menandakan aku telah selesai makan. Dia mendongak.
"Kenapa nggak dihabisin? Tinggal sedikit lagi itu." katanya.
__ADS_1
"Gue harus pulang. Cepet kalo mau ngomong." kataku.
"Abisin dulu." katanya masih kekeh.
Aku menghembuskan nafas dengan kasar sambil mengerucutkan mulutku.
Percuma melawannya.
Lalu, agar cepat pulang aku dengan sengaja kumasukkan makanan itu ke dalam mulutku dengan cepat lantas menelannya.
"Cepet. Mau ngomong nggak? Gue harus pulang." kataku semakin gusar.
Dia menghentikan pergerakannya. Melihat raut wajahku sebentar, lantas meletakkan sendok dan garpunya.
Aku melirik makanannya. Jelas saja dia meletakkan sendok dan garpunya, makanannya sudah habis tidak tersisa.
Dia mengabaikan pandanganku.
"Gue mau lo pura-pura jadi calon istri gue." katanya.
Mendengar kata-katanya aku langsung membelalak.
Aku tak menyangka kalau hal ini akan terjadi. Benar-benar hidup ini guyon saja. Aku kira hal semacam ini hanya terjadi pada kisah picisan yang sering ditulis penulis muda amatiran zaman sekarang.
"Gue orang sibuk." kataku, akhirnya.
Pura-pura menjadi calon istrinya? Yang benar saja. Aku bukan pembohong seperti dirinya. Meski aku adalah orang miskin tapi aku tidak suka berbohong. Apalagi berbohong hal yang begitu besar. Berpura-pura menjadi istrinya juga hal besar bukan? Bisa-bisa aku betul-betul dinikahkan.
"Halah sibuk apa? Lo abis kehilanganpekerjaan lo kan? Gue liat lo di toko tadi." katanya.
"Lo ngikutin gue?!" kataku, setengah berteriak.
"Enggak! Gue nggak sengaja liat lo, dari pertemuan kita pertama gue rasa lo udah ditakdirin buat bantuin gue." kata Gifari lagi-lagi dengan gaya yang santai.
"Gue nggak mau." kataku.
"Gue bayar lo mahal." tawarnya.
Aku meringis. Mendengar kata bayaran setelah dipecat itu sebetulnya anugerah. Bahkan jiwa miskinku sudah meronta-ronta. Namun, aku benar-benar tidak bisa berbohong.
"Gue nggak bisa bohong." kataku.
"Lo bakal terbiasa." jawabnya enteng.
"Kalo keluarga lo nyuruh nikah beneran gimana?"
"Ya kita lakuin."
"Gue keberatan."
"Gue enggak."
"Gue benci sama lo."
"Guepun juga."
__ADS_1
"Gue mau pulang."
"Gue anter."
"Gue nggak mau."
"Berarti lo yang bayar makanannya."
Aku benar-benar kesal. Licik sekali Gifari. Jadi ini alasannya mengajakku ke restoran mewah? Dia tau aku tak punya uang. Lihat saja dia.
"Yaudah-yaudah iya. Terserah. Terserah lo."
"Deal?"
"Beliin gue makanan enak 3x sehari."
"Gampang."
"Beliin baju, sepatu, tas, dan semua keperluan gue."
"Setuju."
"Anter jemput gue kapanpun, di manapun."
"Beres."
"Upah gue nggak boleh madet."
"Baik, Nyonya."
"Gue mau bayaran dimuka."
Dia mengeluarkan dompetnya mengeluarkan semua lembaran uang merah yang jumlahnya tidak sedikit dari dalamnya, lalu menyerahkan uang tersebut kepadaku.
Aku terperangah. Kenapa gampang betul dia menyerahkan uangnya kepada orang yang belum dikenalinya? Apa dia bodoh?
"Ayo, gue anter lo pulang." katanya.
Tak lama kemudian kita sampai di dalam mobilnya. Aku meliriknya. Laki-laki yang bernama Ghifari ini langsung melajukan mobilnya. Dia terlihat lebih tampan saat menyetir mobil. Sial. Mengapa aku haru memikirkan hal seperti ini di saat yang tidak tepat.
Tapi mataku sepertinya sudah terpaku.
"Kenapa?" tanyanya. Sial aku ketahuan.
Argh, bagaimana aku tidak ketahuan. Aku menatapnya terang-terangan seperti ini. Akupun meneguk ludahku sendiri.
Tapi aku tidak mau mati gaya di depannya. Aku pun merasa harus memiliki topik pembicaraan agar aku tidak terlihat seperti sedang menatapnya terpesona.
"Lo gampang ngasih uang ke orang asing?" kataku, akhirnya kepalaku memberikan ide.
"Enggak." jawabnya singkat.
"Trus? Ini?"
"Insting gue nggak akan pernah salah."
__ADS_1
"Lo bakal kecewa."