Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 37 - Hasil


__ADS_3

Seminggu berlalu, Ghifari masih saja datang ke rumahku. Dan Bang Haidar juga terus datang namun tanpa sepengetahuan Ghifari. Bang Haidar sangatlah dekat dengan Mama. Semakin hari, mereka terlihat begitu dekat.


Hari ini adalah hasil dari tes DNA yang dilakukan Bang Ghifari dan Mama, Malam ini Bang Haidar mengatakan kalau dia akan datang ke rumahku.


Sore ini, aku mulai keluar rumah. Aku memang sudah sejak kemarin sembuh hanya saja aku masih malas bertemu dengan Ghifari.


Aku keluar rumah dengan kaos dan celana training. Aku ingin lari sore agar tubuhku segar kembali.


Gue harus gimana? -batinku.


Aku terus berlari dengan pertanyaan yang diulang, aku harus apa? Aku harus bagaimana? Aku benar-benar rasanya seperti hampir gila.


Peluh di dahiku sudah membanjir. Sesampainya aku di dekat sebuah danau. Aku menghentikan langkahku. Kakiku yang terus kuajak berlari terhenti begitu saja. 


Aku mendongak ketika ada seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapanku. Aku ingin tahu mengenai siapa orang yang kini tengah berdiri. Dan aku seketika terkejut.


"Kenapa lo bohong sama gue?" tanyanya.


Dia adalah Ghifari. Aku membeku ditempat aku ingin mengatakan kalau aku muak dengan semuanya, namun aku sudah berjanji dengan Bang Haidar untuk menghindari dan tidak melakukan apapun atau bicara apapun yang mengundang rasa curiga Ghifari.


"Gue nggak bohong." kataku.


Aku mengedarkan pandanganku ke arah lain. Muak sekali melihatnya. Bayangan tentang dia yang sudah berbohong dan kata-katanya kepada Ibunya membuat darahku seketika mendidih.


"Lo ngehindari gue?" tanya Ghifari.


"Enggak. Awas, gue mau lari lagi." kataku.


Aku pun bersiap untuk berlari namun Ghifari menghadangku agar aku tidak bisa berlari.


"Jelasin, Ra. Kenapa lo berubah dan hindarin gue?" tanya Ghifari.


Lo yang berubah sialannnnn! -seruku dalam hati.


"Apaan sih, Ghif. Gue cuma mau olah raga. Lagian lo sama gue kan cuma pura-pura. Gue mau lo wajar-wajar aja sama gue. Gue cuma calon istri palsu kan?" tanyaku.


Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan amarahku kali ini. Biarlah. Aku pun langsung berlari saat dia membeku di tempatnya.


"Ra, tunggu!" seru Ghifari yang tiba-tiba mencekal tanganku.


"Apa lagi? Gue lagi dapet ya, Ghif. Emosi gue lagi meledak-meledak." kataku.


"Jangan berubah, gue mohon." kata Ghifari.


"Gue itu manusia, Ghif. Makhluk dinamis. Gak bisa gak berubah kalau keadaan mulai berubah." kataku.


"Ra!" panggil Ghifari.


"Hati gue lagi nggak enak Ghif. Gue mohon kali ini biarin gue sendiri." kataku.


Aku sangat lelah. Aku tidak bisa membiarkan tangisanku pecah di hadapan laki-laki jahat seperti Ghifari Aku benar-benar tidka boleh untuk melakukannya.


"Oke, tapi kasih gue alesan." kata Ghifari.


"Gue nggak punya alasan, Ghif." kataku sambil menggeleng.


"Kalau gitu bilang sama gue, gue harus menunggu berapa lama?" kata Ghifari.


"Nggak tau." jawabku.


"Gue nggak mau pergi sebelum dapat kepastian." kata Ghifari.


Aku mengusap kepalaku gusar, Ghifari tipikal orang yang kerasa kepala. Dirinya selalu seperti itu dan tidak akan mau melepaskanku bila dia menginginkan sesuatu.

__ADS_1


"Oke, sebulan." kataku.


Ghifari menggeleng, "Nggak-nggak mau. Seminggu. Gue bakal datang lagi seminggu." kata Ghifari.


Ghifari pun berbalik dan hendak pergi. Aku hanya bisa menahan kesal di tempat karena Ghifari benar-benar bersikap otoriter.


...***...


Malam harinya aku menerima pesan dari Bang Haidar. Bang Haidar mengatakan kalau dirinya akan datang dan menjemputku untuk membawaku ke rumah sakit. Aku memang  penasaran.


Aku sudah bersiap, hanya tinggal menunggu Bang Haidar saja datang. 


Dan tak lama kemudian, Bang Haidarpun datang dan kita berpamitan kepada Bi Shanti dam Mama lalu langsung pergi meninggalkan rumah. 


"Ayo, Ra.." kata Bang Haidar sesampainya kami di rumah sakit.


Aku mengangguk.


Setelah tiba di suatu ruangan, seorang dokter memberikan hasil tes itu kepada kami. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. 


"Kamu yang buka, Ra?" tanya Bang Haidar.


"Bareng aja, Kak." kataku.


Aku menghembuskan nafas. Lalu, aku berdoa meminta petunjuk kepada Allah SWT agar mendapatkan hasil yang terbaik. Aku benar-benar sudah pasrah.


"Abang buka ya?" kata Bang Haidar.


Aku hanya bisa mengangguk dan Bang Haidarpun langsung membukanya. Kamipun terdiam setelah membaca hasilnya.


Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa saat ini. Air mata Bang Haidar turun begitu juga dengan air mataku. Aku bahkan sudah menggigit bibirku agar tidak menangis.


Bang Haidar terdiam.


Bang Haidar menoleh ke arahku dan menatap mataku.


Aku merentangankan tanganku sambil menangis. Bang Haidar langsung memelukku erat sekali.


Kami seketika tidak bisa mengatakan apapun begitu juga dengan Bang Haidar.


"Allah Mahabaik, Ra. Akhirnya Allah izinkan abang untuk ketemu sama kalian." kata Bang Haidar.


Aku hanya mengangguk dalam pelukannya.


Setelah dari rumah sakit kami pun duduk di sebuah taman yang sepi dekat rumah sakit. Aku harus mengatakan sesuatu kepada Bang Haidar. Kakakku, Kakak Kandungku.


"Bang.." panggilku.


"Iya?" tanya Bang Haidar.


"Ada yang ingin aku katakan." kataku sambil mengatur nafasku. Aku rasa ini adalah waktu yang tepat untukku mengutarakan apa yang terjadi beberapa waktu lalu kepada Bang Haidar.


"Apa?" tanya Bang Haidar.


"Sepertinya aku dan ibu harus pindah." kataku.


"Pindah?" tanya Bang Haidar.


"Abang tahu apa yang terjadi sampai kita berpisah?" tanyaku.


"Iya, Abang tau, Ra. Ini semua karena Bude Ulfa dan dan Tante Farha, Ibunya Ghifari." kata Bang Haidar.


Ake memejamkan mata. "Siapa mereka dalam hidup mama, Bang?" tanyaku.

__ADS_1


"Bude Ulfa adalah kakak dari Mama. Dan Tante Farha, setahu abang teman mama." kata Bang Haidar.


Air mataku menderas lagi. Aku jadi teringat pada cerita Bi Shanti yang menceritakan semuanya kepadaku. Meski tidak mendetail seperti nama-namanya. Namun, dari penjelasan Bang Haidar aku mulai sadar apa yang telah terjadi kepada keluarga mama. 


"Apa papa telah menikah dengan Tante Farha?" tanyaku penasaran.


"Abang pengen banget jawab enggak." kata Bang Ghifari.


Dadaku terasa sesak seketika. Aku mulai membayangkan bagaimana kehidupan mama yang jauh dari kata bahagia.


Tragis sekali hidup mama. Aku benar-benar tidak tega mendengarnya. Mama. Ibuku ini harus difitnah juga harus kehilangan satu-satunya laki-laki yang dia cintai.


"Benar-benar iblis, persis seperti apa yang dibilang sama Bi Shanti." kataku.


"Kamu tau sesuatu, Za? Siapa Bi Shanti?" tanya Bang Haidar.


Aku mengangguk. "Bi Shanti adalah sahabat mama, dia datang bersama Ghifari belum lama ini." kataku.


"Ghifari?" tanya Haidar.


Aku mengangguk.


"Usir saja, Za. Abang takut kalau Bi Shanti itu adalah mata-mata Ghifari. Abang yakin, Ghifari sudah merencanakan semuanya." kata Bang Haidar.


"Nggak bisa, Bang. Ghifari bahkan nggak tau siapa Bi Shanti." kataku.


"Kamu yakin?" tanya Bang Haidar.


"Aku yakin, Bang." kataku.


"Tapi kamu harus tetap waspada ya?" kata Bang Haidar.


"Iya, Bang. Pasti. Aku nggak nyangka, Bang. kalau Ghifari masukin aku ke rumah dengan tujuan licik." kataku.


"Inilah yang abang takutkan, Za. Ghifari akan menghancurkan keluarga kita lagi." kata Bang Haidar.


Aku mengangguk, "Aku sempat dengan percakapan dia dengan ibunya, Bang." kataku.


"Dia ngomong apa?" tanya Bang Haidar.


"Dia bilang ibunya suruh baik-baikin aku, dan ternyata Ghifari dan Ibunya sudah tahu siapa aku. Dan dia suruh ibunya untuk baikin aku biar aku maafin kesalahan ibunya." kataku.


Bang Haidar terdiam.


Aku merasa kalau ini adalah waktu yang tepat untukku pergi selama-lamanya. Ibuku sudah terlalu menderita selama ini dan aku hanya cukup tahu siapa kakak dan ayahku. Aku tidak mau masuk dalam keluarga menyeramkan itu.


Aku tidak mau mama merasakan penderitaan lagi.


"Aku dan mama harus pergi, Bang." kataku. "Aku sudah cukup senang bertemu dengan Abang dan pernah mencium tangan papa. Aku rasa inilah saatnya aku pergi bersama mama dan Bi Shanti. Aku tidak mau melukai Mama jauh lebih dalam lagi, Bang." kataku sambil terisak.


Bang Haidar menunduk.


"Lihat, Bang. Karena masa lalu sialannn itu, Mama jadi seperti itu. Bertahun-tahun, Bang. Bertahun-tahun aku selalu melihat mama menangis tiap malam. Bertahun-tahun aku menyaksikan mama di kursi roda tanpa bisa melihat dunia luar. Bertahun-tahun, mama sendirian bersama aku yang bahkan nggak tahu apa-apa." kataku.


Aku menangis. Aku tidak kuasa menahan air mataku lagi.


Bang Haidar langsung memelukku dan aku kembali menangis dalam pelukannya. 


...***...


...**Naaah, terungkap? 😂 Aku udah gak gantungin lagi ya. Pertanyaan yang sering kalian tanyakan tapi aku gak jawab juga udah kejawab. Maaf ya bukannya gak mau jawab cuma aku takut spoiler aja hehehe...


...Semoga suka yaa hehehe terima kasih udah baca yaaa.. sehat selalu, Teman-Teman.. ❤️❤️❤️**...

__ADS_1


...***...


__ADS_2