
Akupun mulai menjalani hari-hariku dengan toko kue yang diberikan Ghifari padaku. Aisha juga sangat baik. Sepertinya Ghifari memang sudah dengan sengaja mempersiapkan segalanya, buktinya dari nama toko, dekorasi, dan Aisha, semuanya serba baik. Ghifari seakan menunjukkan kalau dia akan selalu memberikan yang terbaik untuk diriku. Setidaknya ini hanyalah pikiranku. Tentunya bisa benar namun bisa juga salah.
Sesekali Gifari mengajakku ke rumahnya dan aku nasih mendapat perlakuan sangat baik di sana. Meski keluarga Ghifari sangatlah baik kepada diriku namun Ghifari masih menyebalkan seperti biasanya, mungkin ini adalah bawaan lahir seorang Ghifari.
Jika benar sifat menyebalkan Ghifari memang sudah bawaan lahir, maka aku benar-benar akan jadi manusia paling repot sedunia.
Dan akupun tidak lagi khawatir dengan Mama. Karena di rumah ada Bi Shanti yang terlihat sangat menyayangi dan tulus merawat Mama. Jadi, kini aku bisa mengurus Toko Kue Ara's Cake ini dengan baik. Aku benar-benar semangat dalam mengembangkannya karena ini adalah pemberian Ghifari. Aku tentu tidak akan membiarkan toko ini tidak laris hingga akhirnya bangkrut, itu akan melukai Ghifari, pemberi toko, iya hanya tuan muda kaya yang mau menghibahkan toko bagus kepadaku tidak lebih.
Kini aku sedang berada dalam toko, aku mengamati para pengunjung. Dalam hati diam-diam aku menantikan kehadiran Ghifari. Menantikan seorang Ghifari yang menyebalkan. Mungkin ini disebabkan karena aku yang tak punya teman selain dia juga Aisha.
"Ra!" seseorang menepuk pundakku dari belakang saat aku melamun. Aku menoleh.
Sebetulnya tanpa aku menolehpun aku sudah tahu siapa laki-laki menyebalkan yang sudah berani mengejutkanku.
"Lo gak ada kerjaan apa ke sini terus?" tanyaku ketus.
Dia terkekeh. "Lha, ini kan gue lagi kerja." katanya.
"Kerja apaan? Ngerjain gue, iya." kataku.
Ghifari lagi-lagi terkekeh. Sepertinya semua kemarahan dari mulutku benar-benar membuat dia senang.
"Ke rumah gue, yuk!" ajaknya.
"Mau ngapain?" tanyaku.
"Maen aja, yuk!" katanya, sambil menarik tanganku.
"Eh, gue belom bilang Aisha!" kataku.
"Udahlah gak usah. Bosnya kan elo." katanya.
Ghifari kembali menarikku keluar. Aku benar-benar panik saat itu juga. Pasalnya Ghifari pernah mengatakan kalau ada anggota keluarga Ghifari yang melihat aku dan Ghifari bersentuhan, kami akan dinikahkan. Aku belum siap. Aku tidak mau hal itu cepat terjadi.
Semua orang tentu ingin menikah namun bukan pernikahan siapa cepat dia dapat yang aku inginkan.
Aku menoleh ke belakang lalu mendapati Aisha berdiri dengan wajah bingung. Aku sontak melepaskan tangan Ghifari lalu berbalik menatap Aisha. Semoga Aisha tidak salah paham. Ghifari terlihat seperti ingin mengajukan protes namun melihat di sana ada Aisha membuat Ghifari tidak jadi memprotes aksiku. Aku hanya bisa tersenyum sinis dalam hati.
"Aisha, aku pergi dulu ya?" kataku.
Aisha mengangguk. "Hati-hati!" katanya.
Aku mengangguk lalu kembali berjalan di samping Ghifari. Kali ini tidak ada acara tarik menarik seperti sedang lomba tarik tambang, tidak di tanganku, tidak juga di hatiku. Ah, aku pasti sudah tidak waras.
Sesampainya aku dan Ghifari di depan mobil, Ghifari membukakan pintu untukku. Aku langsung masuk.
"Makasih." kataku.
Ghifari memutari mobil dan langsung masuk ke kursi kemudi.
__ADS_1
"Ehh.." kataku, kali ini enggan memanggil namanya.
"Ghi-fa-ri. Coba panggil nama gue, jangan ah eh ah eh." katanya memprotes panggilanku. Ntahlah aku sedang malas memanggil namanya. Terlalu bagus.
"Gak mau." kataku mendebatnya.
"Yaudah gue gak nyaut." katanya acuh tak acuh sambil memakai sabuk pengaman miliknya.
Pikiran isengku langsung menyalakan mode 'on'.
"Iya nih, gue panggil." kataku.
Akupun mendekatkan bibirku ke telinga Ghifari, aku merasakan tubuh Ghifari menegang. Tanpa memperdulikan Ghifari akupun bersiap berteriak di telinganya.
"Ghifariiii!" teriakku.
"Ya Allah, Ra. Bisa budek kuping gue!" kata Ghifari sambil mengusap-usap telinga kirinya yang tadi aku teriaki.
"Lho, tadi bukannya lo yang minta gue begitu?" kataku sambil memasang wajah tanpa dosa.
"Ya gak gitu juga. Kenapa? Kangen? Bilang." katanya tidak kehabisan akal.
"Ewhhh, gak ada tuh istilah kangen buat cowok kayak lo." kataku sedikit jahat.
"Ck, ntar kalo gue tinggal, lo pasti kangen sama gue." kata Ghifari dengan penuh rasa percaya diri.
Mobil pun melaju. Kini aku memutuskan untuk diam. Lagi-lagi radio memutarkan lagi Sheila On 7 yang berjudul Hari Bersamamu.
Ghifari yang awalnya sedang konsentrasi menyetir langsung menoleh ke arahku, "Maksudnya?" tanyanya.
Aku menunjuk radio mobil.
"Ini.. tiap kita jalan selalu lagunya ini. Sekali lagi bisa dapet piring kita." kataku.
"Ya biarin. Lumayan buat nambahin perabotan rumah tangga kita." kata Ghifari sambil terkekeh.
Aku mencubit lengan Ghifari.
"Aduh," ringisnya. "Kenapa dicubit si, Ra?" tanya Ghifari sambil sesekali melirikku.
"Lagian lo nyebelin banget jadi orang." kataku.
Ghifari hanya bisa tertawa.
"Eh.. g-gue mau nanya hal pribadi sama lo, Boleh gak?" tanyaku.
Tawa Ghifari seketika reda mendengar pertanyaan yang aku lontarkan. Aku jadi tidak enak hati mendapati sikapnya yang demikian.
"Boleh, mau tanya apa?" tanya Ghifari. Raut wajahnya kini serius
__ADS_1
"Tapi jangan marah ya.." kataku.
"Enggak. Mau nanya apa?" katanya, pandangan matanya tetap lurus ke depan.
"Emang gue jelek banget ya, sampe lo terus-terusan liat ke depan pas gue ngomong?" kataku.
"Hahhaahhahahaha. Gue kan lagi nyetir kalo gue liat ke elo, bisa-bisa nabrak. Lagian emang iya, lo jelek." katanya sambil tertawa.
"Ish, jahatnyaaa. Gak jadi deh. Nanti aja nanyanya." kataku 'ngambek'.
Ghifari menoleh sebentar ke arahku.
"Kenapa? Sekarang aja!" katanya.
Ghifari kembali serius. Kali ini aku jadi salah tingkah memikirkan wajahnya yang semakin tampan setiap sedang serius.
"Ra?" panggil Ghifari.
"Eh? Gimana-gimana?" tanyaku refleks.
"Segitu gantengnya ya gue sampe tampang lo mupeng begitu?" tanya Ghifari.
Mupeng adalah singkatan dari Muka Pengen. Aku mengabaikan pertanyaannya. Aku kembali fokus pada pertanyaanku.
"Abang lo sama lo kok gak mirip deh?" tanyaku.
Ghifari terdiam. Aku jadi salah tingkah. Juga merasa bersalah. Sepertinya aku menanyakan sesuatu yang sebetulnya tidak boleh aku tanyakan. Akupun jadi panik.
"G-gue salah ya?" kataku. "Kalo gak mau jawab gakpapa." kataku. Aku benar-benar merasa tidak enak.
"Dia bukan Abang kandung gue, Ra." katanya.
Aku hanya diam. Aku merasa bersalah menanyakan hal tersebut. Aku mengunci mulutku rapat-rapat. Rasanya aku ingin mengucap maaf.
"Maaf.." kataku.
"Nggakpapa." katanya.
Aku hanya diam. Aku tentu tidak boleh menanyakan hal tersebut lebih lanjut bukan? Meski sekolahku tidak tinggi tapi aku tau kalau tindakan itu termasuk tidak sopan.
"Kenapa diam?" tanyanya.
"Gakpapa." kataku.
"Udah gak usah ngerasa gak enak begitu. Gue biasa aja lagi." katanya. Kini dia menjawil pipiku. Dia mulai lagi.
Tapi aku senang melihat dia yang kembali normal. Itu tandanya aku juga bisa bersikap normal kepadanya.
"Ih, gue gak mau dicolek-colek!" kataku galak.
__ADS_1
Ghifari hanya tertawa. Aku terkekeh dalam hati. Aku lebih menyukai dia yang seperti ini.