
Setelah memasak aku pun menyiapkan makanan di atas meja. Mereka sebetulnya mau membantuku hanya saja aku sudah melancarkan sebuah ultimatum agar mereka tidak perlu membantu lagi pula ini hal sepele.
"Ghifari, Bang Haidar makanannya udah siap." teriakku.
Merekapun mendekat. Lalu, duduk di kursi mereka masing-masing. Kali ini aku merasa menjadi ibu bagi mereka. Kuamati Ghifari dan Bang Haidar yang sedari tadi tak pernah berniat untuk mengobrol. Beginikah cara orang kaya hidup? Entahlah.
Aku mengambilkan nasi untuk keduanya.
Saat Bang Haidar mulai menikmati makanannya, Ghifari hanya diam tak melakukan sesuatu. Mata Ghifari hanya tertuju pada ikan yang ada di piringnya. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati.
"Kok gak makan?" tanyaku.
"Udah gak kepengen makan." kata Ghifari.
Rasanya pada saat itu ingin sekali aku memukul kepalanya. Enak saja. Aku sudah susah-susah makan tapi dia tak mau menyentuh makanan yang aku buat.
Namun, aku sadar. Aku tidak bisa melakukannya karena di sana ada Bang Haidar. Dan aku tidak mau Bang Haidar berpikiran macam-macam dan langsung menikahkan kami.
"Eh? Kenapa gak kepengen makan?" tanyaku dengan nada suara yang sudah aku kontrol tanpa nada marah.
Ghifari terdiam. Padahal aku menunggunya bicara. Dia seperti berpikir sebentar.
"Dia gak bisa makan ikan." celetuk Bang Haidar.
Aku tertawa sambil menutup mulutku. Lucu sekali sudah besar begitu, Ghifari tidak bisa makan ikan.
Mendengar apa yang dikatakan Bang Haidar dan melihat bagaimana aku tertawa Ghifari seperti tidak terima. Aku berani bertaruh kalau gengsinya sudah terlalu tinggi untuk mengakui kalau dirinya memang tidak bisa makan ikan.
"Kata siapa? Bisa kok. Nih aku makan." katanya. Lalu makan dengan terburu-buru.
Aku terkejut.
"Eh, pelan-pelan!" seruku panik.
Aku benar-benar cemas. Dan benar saja, dia mulai terbatuk-batuk, terselak. Aku buru-buru menghampirinya dan memberikan air minum padanya. Setelah dia kembali pulih, aku mempunyai ide untuk memilihkan daging ikan agar tidak lagi menyatu dengan tulang. Kasihan Gifari. Dia pasti lapar.
"Sini aku pilihin tulangnya." kataku.
"Aku gak mau makan." katanya.
__ADS_1
"Kamu harus makan. Aku udah capek-capek masak masa kamu gak makan?" kataku.
Ghifari tidak lagi mengajukan protes.
Setelah memisahkan daging dengan duri, aku langsung menyerahkan ikan itu pada Ghifari. Ragu-ragu diapun mulai makan. Melihat dia sudah bisa makan, aku kembali ke kursiku lalu melanjutkan aktivitas makanku yang sempat terganggu tadi.
Aku benar-benar seperti ibunya Ghifari hari ini. Aku melirik Bang Haidar yang terus mengawasi gerak-gerik kami tanpa mengucapkan apapun.
"Kamu kuliah?" tanya Bang Haidar.
Aku melirik Gifari. Aku tidak tahu apa yang harus aku jawab saat ini. Aku tidak kuliah. Jangankan kuliah, sekolah saja ijazahku hanya sampai SMA paket C.
Di mana aku biasa datang hanya pada saat ujian berlangsung saja. Kadang jika kupikir-pikir ulang, sekolah paket itu seharusnya memang mengharuskan muridnya masuk sekolah setiap hari, namun karena rata-rata yang mendaftar sekolah paket adalah orang-orang 'sibuk' jadi setiap harinya akan sepi namun tiap ujian, jangan ditanya. Siswa gaib sepertiku pasti akan datang untuk mengikuti ujian.
Untungnya ntah terwarisi dari mana, aku cukup pintar dalam menghafal. Jadi semua materi yang dikeluarkan dalam kisi-kisi sebelum ujian akan aku baca, dan cukup baca sekali semua materi itu langsung menempel di kepalaku.
Bang Haidar menatapku menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Dia baru mau kuliah. Tahun ini." kata Gifari.
Sontak aku terkejut. Apalagi ini? Kebohongan apalagi yang kau rajut, Ghif?
Aku rasanya ingin berteriak dan bertanya kepada Ghifari mengapa dia mengatakan hal demikian. Namun, karena aku sadar posisiku yang saat ini adalah 'calon istri'nya maka aku harus terus mengikuti alur yang buat oleh Ghifari.
Bang Haidar tampak tidak menyukai pernikahan itu. Ntahlah, yg jelas ada nada tidak suka di sana. Apakah Bang Haidar menyukaiku?
"Sayangnya, sebelum Ara, maksudku Za kuliah, kami akan menikah, Bang." kata Ghifari.
Secara spontan aku terbatuk. Kali ini Ghifari memberikan minum kepadaku. Aku pun meminumnya.
...***...
Malam ini aku tidur dengan ibuku. Aku kembali merenung. Mataku tak bisa dipejamkan. Padahal tubuhku rasanya sangat lelah. Pikiranku kini bercabang. Memikirkan ibu, memikirkan Ghifari, memikirkan Bang Haidar, dan memikirkan diriku sendiri.
Aku yang tak bisa tidur memutuskan beranjak dari ranjang. Ibuku sudah sembuh dari sakitnya yang disebabkan mag hingga masuk rumah sakit, ternyata Bi Shanti benar-benar bisa merawat ibuku dengan baik.
Aku mengecup kening ibuku dengan singkat. Lalu, memilih membuka lemari pakaianku. Jujur, melihat keluarga Ghifari yang harmonis, diam-diam aku merasakan iri yang mendalam. Rasanya aku ingin berteriak. Di mana keluargaku?
Aku memang tidak bisa mengatakan kalau Ghifari dan Bang Haidar harmonis karena mereka terlihat saling bermusuhan tapi menurutku wajar karena mereka kakak beradik.
__ADS_1
"Keluarga gue sebenarnya siapa ya?" tanyaku pada diriku sendiri.
Seketika rasa penasaran itu muncul begitu saja dalam benakku. Aku merasa ingin mendapatkan sedikit informasi mengenai kaluargaku. Satu-satunya cara yang bisa ku lakukan adalah dengan mencari sesuatu di dalam lemari pakaian. Alasannya sederhana, aku sering menontonnya di televisi kalau biasanya para orang tua suka menyimpan rahasia di lemari pakaian.
Aku membuka lemari. Lalu menyisir isi lemari dari bawah ke atas. Dan seketika mataku menangkap sebuah kotak yang susah dijangkau.
"Itu kotak apa? Kenapa gue baru lihat?" tanyaku pada diriku sendiri.
Aku yang penasaran lantas langsung melompat untuk mengambilnya. Namun, tanganku tidak sampai.
Tidak kehabisan akal, aku langsung mencari kursi lalu mengangkat kursi tersebut ke depan lemari lalu aku naik ke atasnya.
Akhirnya, aku bisa meraih kotak tersebut. Aku langsung mengambilnya dengan hati-hati dan menurunkannya dengan hati-hati pula. Aku tidak mau membuat gaduh karena takut ibuku bangun.
Di dalamnya ada sebuah gelang berwarna perak. Gelang yang cukup indah menurutku. Aku tak tau siapa pemilik gelang ini, namun bisa kupastikan ini milik ibu atau bibi Linda.
"Gelangnya bagus." kataku. Aku mencoba gelang tersebut yang ternyata pas di tangan kananku.
Lalu, aku melepas gelang tersebut lalu mengamati gelang perak itu, ada sebuah ukuran yang aku tidak bisa bacanya. Tulisan itu huruf Arab tanpa harakat.
Aku meringis dalam hati. Ntah kapan terakhir kali aku mengaji. Sepertinya setelah Bi Linda pergi. Karena yang mengajarkan salat, mengaji, dan beberapa ilmu tentang Agama Islam memang Bi Linda.
Aku jadi teringat bagaimana Bi Linda menjelaskan itu semua kepadaku persis seperti ustazah-ustazah yang pernah aku temui di Masjid-masjid.
Aku tersenyum sekilas.
Di bawah gelang, aku melihat ada surat. Aku melirik ibu, ibu masih terlelap di tempatnya. Akupun memasukkan gelang di atas surat, lalu menutup dan mengambil kotak itu, kemudian keluar kamar.
Di luar kamar aku masih menoleh ke kanan dan ke kiri seperti maling. Setelah situasi kurasa aman karena tidak ada Mama maupun Bi Shanti akupun mulai membuka kotak dan mengambol surat yang ada di bawah gelang perak tersebut.
Sebetulnya yang aku pegang bukanlah surat utuh hanya potongan surat saja.
Untuk Nindy,
Assalamu’alaikum wr. wb.
Nin, ini gue Aaron. Sebelumnya gue mau minta maaf karena surat gue pasti belepotan dan rada bikin lo sakit mata karena jujur ini kali pertamanya gue bikin surat panjang-panjang kayak gini. Gimana kabar lo? Jujur gue kepikiran banget sama lo sejak kecelakaan kemaren-kemaren. Semoga cepet pulih ya.
Aaron.
__ADS_1
Siapa itu Aaron? Surat ini ditulis oleh Aaron. Apa dia ayahku? Apakah ayahku bernama Aaron?
"Mana lanjutannya?" kataku sambil membolak balikkan kertas. Namun tidak menemukan apapun.