
Aku diam saja, meski di tanganku ada laporan keuangan toko kemarin, aku masih tetap diam, ntahlah pikiranku kosong. Aku jadi memikirkan ucapan dua perempuan menyebalkan tadi.
Ah, apakah boleh aku menyebutnya menyebalkan? Sebab, mereka bukanlah sedang membicarakan aku. Aku saja yang merasa sensitif.
"Ra?" panggil seseorang sambil mengibaskan tangannya di hadapanku.
Aku pun langsung tersadar dari lamunan panjangku.
"Eh, kok lo di sini? Bukannya lagi meeting?" tanyaku terkejut.
"Ck, udah selesai. Lo ngelamunin apa sih?" tanya Ghifari.
Aku hanya bisa menggeleng, mana mungkin aku mengatakan kepada dirinya bahwa aku memikirkan apakah aku bisa menikah atau tidak tanpa bertemu dengan ayahku.
"Bohong banget." kata Ghifari.
Aku diam saja. Aku bingung harus menjawab apa.
"Ra?"panggil Ghifari.
Aku mendongak.
Belum sempat Ghifari mengatakan sesuatu, ponsel yang ada di dalam sakunya berdering. "Sebentar ya?" katanya.
Aku mengangguk.
Ghifari mengambil ponsel tersebut dan melihat nama yang tertera di layar ponsel lalu dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, assalamualaikum, Ma. Oh, ini Ghifari lagi sama Za. Oke, kita ke sana sekarang juga. Iya waalaikumsalam." katanya lalu memutuskan panggilan telepon.
"Mama?" tanyaku.
Ghifari tersenyum, "Iya, Mama." katanya.
"Ada apa?" tanyaku.
"Kita disuruh ke rumah." katanya.
"Tunggu. Kita?" tanyaku.
"Iya, lo juga ikut." katanya.
"Mau ngapain?" tanyaku.
__ADS_1
"Kurang tau deh, kangen kali sama lo." kata Ghifari sambil mengangkat bahu.
Aku menimbang sebentar sebenarnya aku tidak mau ke rumah Ghifari karena ntah mengapa aku merasa tidak suka berada di sana meski semua orang baik kepadaku. Aku juga takut dinikahkan cepat-cepat.
Namun, aku tidak bisa menolak, sebab aku memang calon istri bohongan seorang Ghifari. Jadi, aku harus menuruti apa kata Ghifari.
"Yaudah, mau ke rumah jam berapa?" tanyaku.
"Sekarang aja yuk?" tanya Ghifari.
"Tapi ini.." kataku sambil mengangkat sedikit laporan keuangan tersebut.
"Ck, dari tadi juga gak dibaca kan? Udah nanti aja dilanjut laginya." kata Ghifari.
Aku hanya bisa mendengus sebal.
"Yaudah, bentar ya, bilang Aisha dulu." kataku sambil membawa laporan keuangan tersebut.
Ghifari mengangguk. Akupun menghampiri Aisha dan menyerahkan laporan tersebut lagi padanya untuk disimpan. Setelah itu aku kembali kepada Ghifari.
Kami pun berangkat menuju mobil Ghifari. Sesampainya di depan mobil, Ghifari terlihat seperti mencari sesuatu.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Yaudah, gue ambilin." kataku.
"Eh, gak usah. Lo masuk mobil aja." katanya sambil memencet kunci remote mobilnya.
Aku mengangguk. Sedangkan Ghifari masuk kembali ke dalam toko.
Aku pun menurut dan masuk ke dalam mobil dan menunggu Ghifari di dalam mobil tersebut.
"Duh, panas banget." kataku karena udara di dalam mobil memang pengap karena AC belum dinyalakan.
Aku bahkan tidak tahu cara menyalakannya.
"Dia punya kertas atau apa gitu gak ya?" tanyaku dalam hati.
Aku pun celingukan mencari sesuatu yang bisa kujadikan kipas. Aku menoleh kebelakang kosong. Ke semua arah pun kosong.
Lalu, pandanganku tertuju pada dasboard mobil yang belum aku buka.
"Buka aja kali ya. Nanti tinggal bilang ke Ghifarinya." kataku kepada diriku sendiri.
__ADS_1
Ghifari cukup lama di dalam. Aku bahkan berpikir kalau dia sedang melakukan pedekate dulu dengan Aisha. Aisha gadis yang cantik dan baik, tentulah Ghifari menyukainya.
Namun, Ghifari pernah berkata kalau dia mencintaiku. Ah, mungkin itu sedang khilaf saja. Lagi pula apakah pantas?
Memikirkan Ghifari yang sedang asyik mengobrol dengan Aisha membuat aku merasakan hawa yang tambah panas. Kemudian, aku langsung membuka dasboard mobil tersebut.
Ada secarik kertas. Eh, bukan hanya secarik ada 2 lembar. Aku langsung semangat mengambilnya. Aku memang hanya membutuhkan kertas-kertas untuk sekadar mengipasi diriku. Aku malas buka pintu mobil.
Namun, sebelum kugunakan aku memeriksanya terlebih dahulu sebab takut sesuatu yang penting dan tidak boleh lecek.
"Tunggu!" pekikku.
Aku membelalakkan mata setelah membuka lipetan kertas tersebut. Aku mengenali kertas tersebut.
"Kenapa ini mirip tulisan Om Aaron buat Mama? Ini halaman depan juga atasnya sobek." kataku.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku pun mulai membaca isi surat tersebut, masa bodoh dengan ketidaksopananku. Aku hanya ingin memastikan, itu saja. Itupun aku berharap kalau aku salah. Kalau ternyata aku benar aku benar-benar tidak tau apa yang aku lakukan pada Ghifari.
Surat ini ada di mobilnya, otomatis Ghifarilah yang menyimpannya.
Aku mulai membaca isinya..
Nin, ada banyak hal yang pengen gue sampaikan ke elo secara langsung, tapi itu nggak mungkin karena gue masih di pesantren dan jarak pesantren ke Jakarta itu jauh, ditambah lagi gue dapet takzir-an pondok jadi gue memutuskan nulis surat ini dan gue titipin ke Gus Faiz.
Pertama, gue mau minta maaf lagi ke elo tapi kali ini bukan masalah surat. Tapi ini masalah acara kabur kita yang berantakan. Hehe. Alasan gue ngajak lo kabur udah gue ceritain dari awalkan tentang gue yang cemburu liat abang gue yang kasih kepercayaan dia ke Gus Faiz buat jagain lo sampai kapanpun? Selain itu, gue juga udah ceritain kalo gue udah suka sama lo sejak pertama kali lo maen ke rumah gue bareng Bang Ilham, jadi gue cuma mau bebasin lo dari masalah-masalah lo lewat jalan kabur. Jangan marah sama gue ya. Demi apapun karena apapun, gue tulus sayang sama lo walaupun lo sayangnya sama Gus Faiz.
Nah, kedua, gue mau minta maaf soal kejadian di halte. Sebenernya yang manggil Gus Faiz itu gue, gue bilang kalo gue bakal bawa lo malem itu ke tempat yang paling pengen lo kunjungi, tapi gue gak nyebutin nama tempatnya, asli, gue gak bohong.
Tiap liat lo yang bengong-bengong sampai nangis mukul-mukul kepala lo, gue sadar lo akan hancur kalau misalnya jauh dari dia. Lo bakal kembali ke kehidupan baru lo yang gue bisa pastiin akan lebih rusak dari sebelumnya. Tapi gue nggak nyangka kalau bokap lo juga dateng dan nampar lo begitu aja. Maafin gue yang nggak bisa belain elo waktu itu karena kalau gue ikut campur masalah lo bakal lebih panjang. Gue pengen lo ngeutarain apa yang lo rasain kayak kemaren. Maafin gue karena nggak bisa nemenin lo ke rumah sakit apa lagi Jakarta karena gue keburu di seret sama Abdi Dalem Abah buat balik ke pondok dan jalanin hukuman gue.
Yang ketiga, gue mau sampein sesuatu ke elo. Masalah gelang yang lo pake. Kalau gue nungguin Gus Faiz yang kayak balok es itu nggak akan sampai cerita ini ke elo. Gue yakin itu. Gue liat lo sayang banget sama gelang lo yang satu itu. Itu bagus. Gelang itu sebenernya gelang dari Gus Faiz. Dulu Gus Faiz selalu nolak saat Bang Ilham mau nunjukkin foto lo ke dia. Waktu Bang Ilham paksa dia lagi buat ngasih liat foto lo, dia cuman ngasih gelang itu sambil bilang “Kalau Allah SWT memang mengizinkan saya buat jaga dia seumur hidup saya, dia pasti akan kembali ke saya. Lewat perantara gelang ini juga saya akan tahu siapa cewek yang kamu maksud. Dan saya janji akan penuhin semua permintaan kamu itu.”. Kalimat dia ini yang bikin gue benci sama dia, Nin. Dia gak keliatan interest ketika Bang Ilham nyuruh dia buat jagain lo.
Dan yang terakhir tolong bilang sama kakak lo Ulfa, makasih karena sukses bikin sepupu gue senyum-senyum sendiri setiap malem.
Kayaknya cuman itu yang mau gue sampaikan. Gue mohon balik ke pondok, tolong maafin kesalahan Linda, Adik gue. Gue nggak tega liat dia nangis karena perasaan bersalahnya karena belom bisa minta maaf langsung ke elo meski gue udah bilang kalo gue udah wakilin dia buat minta maaf ke elo.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Dari,
Yang tak berhasil membawa lo kabur
Aaron.
__ADS_1