
Aku terdiam lalu berpikir.
Aku ragu. Apakah hari ini adalah hari yang tepat untuk memulai pencarian keluarga ibuku? Namun aku takut sebuah kebenaran akan menyakitiku. Biarlah kusimpan dulu. Aku akan menyimpannya di kamarku. Aku yakin surat itu ada kaitannya dengan keluargaku. Aaron. Apa benar dia ayahku?
...***...
"Ya ampun, perawan jam segini belom bangun."
Suara seseorang membangunkanku. Aku membuka mata. Aku mendapati Ghifari berdiri di sampingku. Aku yang terkejut, langsung duduk. Lalu mengamati tubuhku sendiri. Tak ada yang aneh. Aku mendesah lega.
Ternyata aku ketiduran di ruang tamu.
"Ngapain si lo pagi-pagi udah di rumah gue?" kataku sambil mengusap kelopak mataku.
"Mau bangunin calon istri gue. Emang gak boleh?" katanya.
Aku memutar bola mata bosan. Lalu aku melemparkan bantal sofa padanya, dia terkikik.
"Lo gak bosen apa ke rumah gue mulu?" tanyaku.
"Enggaklaah. Udah sana mandi, tuh ada ilernya. Jorok." katanya.
"Enak aja. Gue gak pernah ileran ya. Gue gak mau mandi, biarin aja nemenin lu dalam keadaan begini, biar lo ilfeel." kataku.
"Udah ayo mandiii!" katanya sambil menarikku dan mendorongku masuk ke kamar mandi, lalu dia menutupnya dari luar.
"Sial." kataku.
Akupun mandi, dan memakai kaos dan celana panjang, persis pakaian rumahan. Belum menyisir atau mengoleskan bedak di pipi.
Akupun teringat kotak yang lupa aku masukkan ke dalam lemari. Aku buru-buru keluar, aku biarkan rambutku yang basah dan berantakan.
Ghifari memandangku.
"Lupa sesuatu." kataku. Aku mengambil kotak tersebut dan langsung masuk ke dalam kamar dan menyimpannya di lemari paling bawah.
Lalu aku keluar sambil nyengir kepada Ghifari.
"Sok cantik." kataku.
"Emang cantik, wee.." kataku sambil menjulurkan lidahku.
Lalu setelah aku menyisir rambut aku pun keluar dari kamar.
"Bantar ya, Ghif." kataku.
Ghifari mengangguk.
__ADS_1
Aku melihat Ghifari belum dibuatkan minum. Aku berani bertaruh kalau Bi Shanti belum sempat membuatkan minuman untuk Ghifari.
Sesampainya di dapur aku mendapati Bi Shanti tengah menangis. Akupun menghampirinya. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa beliau bisa sampai menangis seperti itu.
"Bi Shanti, kenapa?" Tanyaku.
Mendapatiku mendekat beliau langsung memelukku. Aku yang bingung hanya bisa mengusap punggungku.
"Anakku.." katanya. Lalu menciumi rambutku.
"Tunggu, Bi. Maksud Bibi apa?" tanyaku bingung.
Air wajah Bi Shanti berubah. Beliau terdiam. Lalu mengatur nafasnya.
"Bibi tak punya anak, boleh kah bibi memanggilmu anakku? Bolehkah bibi menganggapmu sebagai anak bibi?" tanya Bi Shanti.
Aku merasa kasihan pada Bi Shanti. Beliau pasti hidup sendiri sama seperti aku dan ibu. Rasanya tak adil bila aku menolak permintaannya. Akupun mengangguk. Lalu Bi Santi kembali memelukku.
"Bi, Ara mau ke depan dulu ya, mau temuin Gifari." kataku.
"Iya, Sayang. Dia anak baik. Bibi suka melihat kalian bersama." Kata Bi Shanti. Seketika wajahku merah. Bibi terkikik.
"Ah, bibii.." kataku langsung pergi menemui Gifari. Kejutan apa lagi ini, Ya Allah?
...***...
Mata Ghifari kini menangkap kedatanganku. Aku langsung sadar lalu berjalan menghampiri Gifari dan ibuku. Kata Bi Shanti, ibuku sudah makan.
"Liat, Tante. Masa anak gadis jam segini baru bangun." kata Ghifari.
"Ih, nyebelin banget si." kataku geram.
Ghifari pun terkikik. Dia selalu bahagia melihatku marah.
"Ganti baju gih. Aku mau ngajak kamu pergi." katanya.
Aku-Kamu. Aku mengeja kata itu dalam hati.
Akupun menuruti permintaannya tanpa banyak protes. Di kepalaku jujur aku memikirkan gelang dan surat itu, juga Bi Santi.
...***...
Sepanjang perjalanan aku diam, begitu juga dengan Ghifari. Aku menangkap hal yang tak biasa darinya. Kecepatan mobil yang kami kendarai semakin kencang. Ini membuatku takut. Ada apa dengan Ghifari. Sejak masuk mobil ini dia tidak seperti Ghifari yang aku kenal.
"Ghifari! Ada apa?" tanyaku.
Mendengar pertanyaanku. Ia justru memacukan mobilnya semakin kencang.
__ADS_1
Aku mulai ketakutan, dan diam-diam aku terisak. Aku menangis. Aku tak suka dia yang seperti ini. Hal ini menakutkan. Melihatku terisak perlahan dia menepikan mobilnya dengan cepat.
Aku benar-benar takut.
Aku menutup wajahku yang sudah berlinangan air mata.
"Kamu jahat." kataku. Hanya itu yang bisa kukeluarkan saat aku terisak.
"Maaf Ra, maaf." katanya.
Dia membuka sabuk pengamannya. Lalu mencondongkan tubuhnya kepadaku. Dia membuka tanganku. Agar bisa melihat wajahku. Ntah mengapa aku tambah terisak.
Aku mencoba mencuri pandang ke matanya. Namun, jika tak salah air matanya juga menetes dipipinya. Aku pasti salah melihat. Mataku semakin buram. Aku masih ketakutan. Kedua tanganku dicekal. Lalu dia membawa tubuhku ke dalam pelukannya.
"Maaf, maafkan aku." katanya.
Aku makin terisak. Aku merasakan punggungku basah. Apa dia benar-benar menangis? Mengapa dia menangis?
"Ghif.." kataku. Mencoba melepaskan pelukannya.
"Lima menit Ra. Lima menit." katanya. Suaranya bergetar.
Apa dia sedang menghadapi sebuah masalah besar? Masalah apa? Baru kali ini aku melihat seorang laki-laki menangis. Apalagi seorang Gifari, seorang laki-laki yang menyebalkan. Biarlah. Biarlah aku membantu meringankan bebannya. Toh dia sering membantuku. Aku pun ingin membantunya. Diam-diam aku balas memeluknya.
...***...
Kamu kenapa?" tanyaku.
"Aku tak mau kehilanganmu. Sungguh. Hanya itu." katanya.
DEG!
Aku diam. Dia diam. Aku tidak berniat untuk menanyakan lebih jauh tentang apa yang dia katakan kepadaku barusan.
Tak lama kemudian di kursi kemudinya, dia terlelap. Aku hanya bisa memandang wajahnya. Ada apa sebetulnya dengannya?
Aku tak begitu memperhatikan wajahnya saat di rumahku tadi. Kini kuamati dengan seksama, semalam dia pasti tidak tidur, itu terlihat dari kantong matanya.
Aku mengambil jaket milikku. Lalu menyelimutinya dengan jaket itu.
Kepalaku kini penuh dengan Ghifari. Apa yang terjadi padanya hingga dia hampir membuang nyawa kami dengan sia-sia. Walau aku tak tau masalah apa yang tengah dihadapinya. Tapi aku tau, masalah itu pastilah masalah besar.
Kau telah membantuku dengan membuat ibuku tersenyum, Ghif. Aku tak akan lupa. Aku akan membantumu. Meski nyawa taruhanku. Aku akan selalu di sampingmu jika memang itu yang kau mau. - batinku.
Aku kembali memikirkan gelang dan surat itu. Apakah ayahku benar bernama Aaron? Kalau memang benar dia ayahku. Di mana dia sekarang?
Mengapa beliau tega membuang ibuku dan aku? Mengapa kami tak pernah bertemu? Siapa pula kakek dan nenekku? Ke mana perginya semua keluarga-keluarga ibuku yang lain? Mengapa ibuku dibiarkan seperti itu.
__ADS_1
Mengapa ibuku menjadi seperti itu? Apa sebetulnya yang terjadi hingga tiap malam selama aku hidup selalu kudapati air mata ibuku menetes disela tidurnya?