Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 39 – Lelaki Tak Dikenal


__ADS_3

“Main yuk? Mau gak?” tanya Ghifari.


Aku berpikir sebentar, aku tentu tidak melupakan janjiku kepada Bang Haidar yang tidak akan mengatakan kepada Ghifari kalau aku sudah mengetahui semuanya dan aku sudah tahu kalau Bang Haidar adalah kakak kandungku.


“Nanti aja deh ya malem gue mager.” jawabku.


“Tamunya disuruh masuk, Nak!” seru Bi Shanti.


Aku pun langsung menoleh mencari keberadaan Bi Shanti. “Iya, Bi …” sahutku.


“Udah denger kan tamu yang terhormat? Jadi, silakan masuk.” kataku sambil mengerucutkan bibirku, meminggirkan tubuhku agar Ghifari bisa masuk ke dalam.


Ghifari terkekeh, aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke arah lain karena takut kembali jatuh pada pesonanya. Ah, akhirnya aku mengakui kalau aku mudah terjerat pada pesonanya. Namun, aku kini sadar kalau hal tersebut tidak boleh aku lakukan.


Ghifari mengacak rambutku dan langsung berjalan masuk dan duduk di ruang tamu.


Setelahnya, kami makan bersama seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ghifari pun tidak pernah mengungkit masalah aku yang menyuruhnya menjauh selama seminggu kemarin. Aku cukup bersyukur karena aku tidak perlu menyiapkan jawaban.


“Tante, Bibi, boleh kan kalau saya ajak Ara untuk keluar?” tanya Ghifari kepada ibu dan Bi Shanti.


Aku memutar bola mata karena sepertinya Ghifari masih tetap ingin aku ikut bersamanya, padahal aku benar-benar sedang tidak ingin pergi.


Mama tersenyum dan Bi Shanti tersnyum menggoda ke arahku, aku hanya bisa cemberut.


“Boleh, Nak. Tapi pulangnya jangan malem-malem ya?” kata Bi Shanti.


Sekarang masih pagi, seharusnya Bi Shanti meminta kepada Ghifari agar dia tidak membawaku pulang lewat dari tengah hari (baca: jam dua belas siang) bukan malam. Namun, aku tidak bisa melayangkan protes saat ini.


“Siap, Bi. Terima kasih ya, Bi, Tante …” kata Ghifari.


“Iya, Nak, sama-sama. Ara, kamu ndak mau bersiap-siap?” tanya Bi Shanti.


“Nanti, Bi, beresin ini dulu.” jawabku.


“Nggak usah, biar bibi aja. Kamu mending siap-siap.” kata Bi Shanti.


Aku pun mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamar, untunglah aku sudah mandi jadi aku hanya perlu berganti pakaian saja.


Setelah selesai aku dan Ghifari pun berpamitan kepada Mama dan Bi Shanti lalu kami masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil, aku memutuskan untuk diam dan terus memandangi jendela. Aku benar-benar tidak berniat untuk membuka percakapan sebab di kepalaku sudah terlalu banyak yang dipikirkan.


“Lo marah ya sama gue?” tanya Ghifari.


“Hmm …” kataku menyahuti seadanya.

__ADS_1


“Gue beliin es krim deh.” kata Ghifari.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala, aku bukan anak kecil yang disogok makanan langsung menurut, aku sudah dewasa meski tawaran es krim itu terasa sangat menggoda.


“Ra … jangan kayak gini dong, gue kan jadi bingung.” kata Ghifari yang sesekali melirikku.


“Kalo bingung pegangan.” jawabku seadanya.


Ghifari langsung terkekeh dengan apa yang aku katakan, aku benar-benar tidak tahu mengapa dia bisa terus terkekeh.


Lalu Ghifari mengajakku ke sebuah tempat yang sepi, namun tempat itu bagus aku akui. Dia mengajakku di sebuah taman di samping danau, aku baru tahu kalau di pinggiran Jakarta masih ada tempat sebagus ini.


Aku melipat tangan dan memandang danau itu dengan hati bertanya-tanya.


“Gue mau ngomong sesuatu yang penting, Ra.” kata Ghifari.


Akupun menoleh ke arahnya, aku mencoba menerka-nerka apa yang ingin dikatakanya. “Apa?” tanyaku.


Ghifari menatapku, aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke arah lain.


“Nikah sama gue, Ra.” katanya.


***


Malam harinya aku memilih keluar dari rumah dan berjalan untuk mencari minyak gosok untuk ibuku. Aku memilih berjalan kaki karena aku memang tidak bisa naik kendaraan dan tidak punya juga.


Setelah keluar dari apotek, aku merasakan kalau ponselku bergetar. Akupun mengambil ponselku dan langsung melihat nama Bang Haidar di sana. Aku jadi ragu untuk menjawabnya namun bila aku tidak menjawab, aku merasa bersalah.


Lalu akhirnya akupun memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.


“Halo, Assalamualaikum, Bang?” sapaku.


“Waalaikumsalam, Ra.” Jawab Bang Haidar,


“Ada apa ya, Bang?” tanyaku.


“Nggakpapa, abang cuma mau tanya, jadi gimana kamu udah tanya mama?” tanya Bang Haidar.


“Niatnya mala mini aku baru mau bilang si Bang.” kataku jujur.


“Oh, yaudah, pokoknya kalau emang udah fix bilang abang ya?” kata Bang Haidar.


“Iya, Bang, nanti aku bilang kea bang.” jawabku.

__ADS_1


“Sekarang kamu lagi di mana?” tanya Bang Haidar.


“Lagi di jalan, Bang. Beli obat.” jawabku.


“Kamu sakit?” tanya Bang Haidar yang terdengar cemas.


Aku tersenyum membayangkan bagaimana wajah kakaku cemas di seberang sana. “Enggak, Bang. Cuma buat stok aja.” Jelasku.


“Oh, gitu. Jauh nggak apotiknya? Mau abang jemput?” tanya Bang Haidar bertubi-tubi.


“Hehehe nggak usah, Bang. Apoteknya deket sama rumah kok.” kataku.


“Yaudah kalau gitu, kamu hati-hati di jalan ya? Kalau ada apa-apa telepon abang!” perintah Bang Haidar.


“Iya, Bang. Siap!” seruku.


“Yaudah abang tutup ya, Assalamualaikum.” salam Bang Haidar dari seberang.


“Waalaikumsalam.” akupun membalas dalamnya dan langsung memasukkan ponselku ke dalam saku celana.


Aku pun melanjutkan perjalanan, dari tempat pembelian obat aku pun mulai berjalan menuju rumahku. Jarak antara rumahku dengan apotik cukup jauh namun masih bisa di tempuh dengan berjalan kaki.


Lalu, pada saat aku mulai berjalan, aku merasakan ada seseorang yang mengikutiku dari belakang. Jantungku seketika berdegup dengan kencang. Aku benar-benar tidak tahu apakah orang terse but benar-benar ada atau hanya sebatas ilusiku saja.


Aku pun memberanikan diri untuk berbalik dan mencoba mencari tahu siapa orang yang mengikutiku. Namunm ketika aku berbalik, aku tidak menemukan siapapun.


“Ya Allah …” ucapku.


Aku pun menatap ke sekeliling dan tidak mendapati siapapun, jalanan yang sepi membuat bulu kudukku seketika berdiri. Lalu aku pun memutuskan untuk terus berjalan menuju rumahku.


Namun, baru beberapa langkah aku merasakan ada kaki yang mengikutiku dari belakang.


Lalu, tanpa mau menoleh lagi, akupun langsung menekan asal-asalan ponselku. Aku berharap kalau aku menelepon Bang Haidar. Aku buru-buru menempelkan ponselku di telinga.


Tak lama kemudian, ponsel pun tersambung.


Langkah di belakangku kian cepat, aku pun berlari, “Bang, tolongin aku! Tolongin aku!” kataku berbisik. “Ada yang ikutin aku dari belakang, tolong Bang, tolongin aku.” kataku.


Akupun langsung memasukkan ponselku ke dalam kantong sweaterku yang barada di depan. Aku pun mulai berlari, aku tidak mau tertangkap. Akupun berlari sekuat tenaga hingga sampailah aku di depan rumahku, akupun langsung membuka rumah dan masuk ke dalam dan menutup pintu rapat-rapat.


...***...


...Setelah sekian purnama akhirnya aku update juga. Hehehe, jujur belakangan aku sibuk di ******/*******, Teman-teman, dan dari kemarin gak ada ide gitu buat lanjutin jadi baru bisa update sekarang deh....

__ADS_1


...Adakah yang masih setia nunggu? Hehe sehat selalu teman-teman ❤️❤️❤️...


...***...


__ADS_2