Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 40 - Penculikan


__ADS_3

Nafasku kian memburu. Aku telah mengunci pintu dan jendela dengan sangat rapat. Aku benar-benar takut. Aku tidak tahu siapa yang mengikutiku. Namun, aku yakin orang tersebut bukanlah orang baik-baik. Pikiranku kali ini hanyalah tertuju pada ibuku.


Setelah mendapatkan penjelasan mengenai masa lalu ibuku, sepertinya aku tidak bisa berhenti cemas dan laki-laki berpakaian hitam tadi menjadi salah satu alasan ketakutanku.


Aku tidak tau siapa laki-laki tersebut, namun yang jelas aku tahu kalau orang tersebut adalah orang jahat.


"Ada apa, Nak?" tanya Bi Shanti yang terlihat sangat cemas.


"Ada seseorang di luar, Bi. Aku nggak tau tau itu siapa tapi yang jelas, Dia orang jahat." kataku.


Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi dengan cepat dan sangat ketakutan.


Bi Shanti langsung mengamati dari kaca jendela. Aku buru-buru menarik Bi Shanti agar orang jahat itu tidak sampai melihat wajah Bi shanti.


"Ndak ada orang, Nak." kata Bi Shanti.


"Ada, Bi. Dia pakaian serba hitam." kataku.


Pada saat aku sedang menjelaskan apa yang terjadi kepdaa Bi Shanti, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Aku sontak terkejut. Kakiku mulai lemas dan aku mulai berpikiran yang tidak-tidak. "Siapakah yang datang ke rumahku malam-malam?" gumamku.


Bi Shanti mengamati wajahku dengan waut khawatir.


"Tolong jaga Mama, Bi. Apapun yang terjadi jangan biarkan mama sendiri." kataku.


"Tidak, Nak. Kamu mau ke mana?" tanya Bi Shanti yang terus mengkhawatirkan aku.


"Masuklah, Bi. Aku mohon." kataku.


Bi Shantipun menurut dan masuk ke kamar mama. Akupun mengambil nafas. Aku siap menjemput maut kalau memang yang datang ke rumahku adalah maut.


Akupun mulai membuka pintu yang sebelumnya sudah ku kunci rapat-rapat.


"Ada apa?" tanya seseorang yang sangat aku kenal. Dia adalah Ghifari.


Aku hampir saja terjatuh kalau saja dia tidak menahan tubuhku. Aku benar-benar hampir gila saat memikirkan orang yang mengetuk pintu adalah penjahat tadi.


"G-ghifari?" kataku.


"Iya, ini gue. Lo kenapa? Siapa yang ngejar lo? Kenapa lo sampai kayak gini?" tanya Ghifari.


"Gue nggak tau, Ghif. Ada orang yang ngikutin gue. G-gue ..." kataku.


"Apa?" tanya Ghifari.


"G-gue takut." kataku akhirnya.


Kali ini yang aku pikirkan hanyalah ibuku dan rasa takut itu benar-benar menyiksaku. Aku tidak tahu apakah kali ini dia berbohong atau tidak kepadaku. Yang jelas bersama dengannya, aku merasa aman.


Ghifari membawaku ke dalam pelukannya, "Lo aman sama gue. Lo nggak perlu takut sama apapun." kata Ghifari.


Tubuhku gemetar hebat. Aku benar-benar merasa ketakutan setengah mati. Dia mengusap punggungku dengan lembut memberikan rasa nyaman hingga ke relung hati.


PRANG!

__ADS_1


Suara dari dalam rumah membuatku langsung melepaskan pelukanku kepada Ghifari.


"Mama!" seruku.


Aku langsung berlari masuk ke alam begitu juga dangan Ghifari.


"Bi Shanti!" seruku ketika melihat Bi Shanti yang kini terkapar tak berdaya dengan kepala peluh luka.


"Di mana mamamu?" tanya Ghifari cemas.


Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah. Akupun menangis saat aku tidak menemukan ibuku di mana-mana.


"Mama, seharusnya ada di kamar ini, Ghif. Ya Allah, Mama... B-bi Shanti!" seruku yang tak karuan.


Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tubuhku bergetar.


"Aku akan mencari mamamu!" seru Ghifari.


Ghifari langsung berlari meninggalkanku untuk mencari mama. Dalam keadaan seperti ini aku sama sekali tidak memikirkan latar belakang Ghifari, yang aku tahu Ghifari adalah satu-satunya orang yang kini bisa aku andalkan.


Aku berharap sangat banyak kepadanya.


"Tolong aku, Ghif!" kataku.


Ghifari sudah hilang dari pandangan. Aku pun kini fokus kepada Bi Shanti. Aku benar-benar merasa tidak tega melihat Bi Shanti yang mengeluarkan darah, "Bi, ... Bangun ..." kataku sambil menangis.


Aku benar-benar minim pengetahuan dalam hal seperti ini.


"Kita harus pergi dari sini!" kata Ghifari.


"Di mana, Mama?" tanyaku sambil menangis.


Ghifari menggelengkan kepalanya, "Kita bawa Bi Shanti ke rumah sakit dulu." kata Ghifari.


Aku pun menganggukkan kepalaku. Aku langsung mengekori Ghifari yang sudah menggendong Bi Shanti.


Namun, aku merasa harus tahu mengenai keberadaan ibuku. Aku mencemaskan beliau.


"Mama ke mana, Ghifari?" kataku sambil mengedarkan pandanganku.


"Orang itu membawa Mama. Tapi kamu jangan khawatir aku akan berusaha sekuat tenaga buat cari Mama." kata Ghifari.


Ghifari pun mendudukkan Bi Shanti di kursi penumpang dan aku duduk di smaping Bi Shanti.


"Kamu bisa mengendarai mobil?" tanya Ghifari.


Aku menggelengkan kepalaku. Aku merasa sangat bodoh saat ini.


Ghifari mengangguk dan langsung mengemudikan mobilnya mencari rumah sakit terdekat untuk menolong Bi Shanti.


Aku merasa begitu ketakutan dan kebingungan.


Aku merasa takut kalau sampai Bi Shanti mengalami luka-luka namun, aku juga mencemaskan Mama. Aku hanya bisa menangis saat ini. Kalau tidak ada Ghifari aku tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Ghifari langsung mengangkat Bi Shanti ke rumah sakit. Dan dengan cepat dokterpun langsung menangani Bi Shanti.


"Ghif ..." panggilku.


Air mataku terus menderas. Ghifari membawaku ke pelukannya sekali lagi.


"Gue cari mama dulu ya? Lo ggak papa kan kalau gue tinggal?" tanya Ghifari.


Akupun menganggukkan kepala. "Hati-hati." kataku.


Ghifari menganggukkan kepalanya lalu dia mengusap kepalaku lalu berlari pergi. Aku merasa bingung saat ini.


Seketika aku teringat pada Bang Haidar. Aku pun buru-buru meraba kantong sweaterku yang berada di depan, lalu aku menemukan ponselku.


Alhamdulillah. -batinku bersyukur.


Akhirnya, akupun langsung mencari nama Bang Haidar dikontak ponselku. Setelah menemukannya, aku buru-buru meneleponnya.


"Halo, Assalamualaikum." salam Bang Haidar di seberang sana.


"Waalaikumsalam." jawabku cepat. "Bang, ... mama Bang ... mama!" seruku.


"Ada apa?" tanya Bang Haidar yang terlihat panik.


"Mama diculik." kataku sambil menangis.


"Kamu di mana sekarang?" tanya Bang Haidar.


"Aku di Rumah Sakit Permata." jawabku.


"Kamu terluka?" tanya Bang Haidar.


"Bukan aku, tapi Bi Shanti." jawabku.


"Abang akan ke sana." kata Bang Haidar.


"Jangan, Bang. Lebih baik Abang cari mama sama seperti Ghifari." jawabku.


"Ghifari?" tanya Bang Haidar.


"Iya." kataku.


"Oke." kata Bang Haidar.


Bang Haidar pun memutus sambungan telepon. Aku kembali memasukkan ponselku ke dalam sweaterku.


Ya Allah, apa yang terjadi? Siapa yang tega menculik ibuku? Ya Allah, aku mohon sembuhkanlah Bi Shanti, jangan biarkan Bi Shanti kesakitan. -batinku.


Air mataku terus menetes. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa selain berdoa dan berdoa.


Aku mulai takut sesuatu terjadi kepada Mama. Apalagi dengan kondisi Mama yang seperti ini, tidak sehat membuat aku benar-benar mencemaskan beliau. Andai saja aku bisa lebih cepat menyembunyikan Mama ini semua tentu tidak akan pernah terjadi.


Tunggu! Apakah ini ada sangkut pautnya dengan masa lalu mama?

__ADS_1


__ADS_2