Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 8 - Kebohongan Pertama


__ADS_3

"Assalamualaikum." Gifari memberi salam, akupun mengikutinya.


"Waalaikumsalam. Eh, anak mama udah pulang." kata seorang ibu, jika ku perhatikan, ibu tersebut sebaya dengan ibuku. Aku taksir dia adalah ibu Ghifari.


Beliau memakai jilbab panjang, cantik, dan anggun.


Ghifari mencium tangan ibunya. Akupun melakukan hal yang sama. Untuk beberapa saat wanita itu tertegun melihatku.


Aku menyikut Ghifari, aku benar-benar takut kalau Ibu Ghifari adalah seseorang yang galak. Aku tidak mau dimarahi saat ini. Apalagi di hari pertama bertemu.


Ghifari hanya menoleh sekilas lalu mencoba menenangkanku lewat sorot matanya.


Dan tidak lama kemudian, raut wajah beliau normal kembali. Aku bersyukur dalam hati.


"Jadi, ini calon menantu mama? MasyaAllah cantik sekali. Pantas kamu menolak perjodohan Ghifari." kata Ibu Ghifari.


Matanya menoleh ke arahku. Aku tersenyum. Bagaimanapun aku tidak bisa mengabaikan tatapannya yang berarti mengharuskan aku membalas tolehannya itu bukan?


"Maafin saya, Tante. Nama saya Azzahra." kataku lagi.


"Oh, tidak. Tante justru senang Ghifari lebih memilih kamu ketimbang perjodohan itu. Tante yakin kamu anak yang baik, Nak." kata Ibu Ghifari lagi.


Aku menoleh ke arah Gifari sekilas. Aku benar-benar bingung harus berbicara seperti apa.


Jujur ini pertama kalinya aku diperkenalkan oleh seorang laki-laki kepada keluarganya. Aku benar-benar gugup. Terlebih ini hanyalah kepura-puraan, mengingatnya aku jadi tambah gugup. Namun, aku tidak bisa terlihat gugup. Aku harus bisa mengatasi ini semua.


"Terima kasih, Tante. O iya, Tante, ini.. maaf karena hanya bisa membawa ini." kataku, sambil tersenyum, aku menyerahkan bingkisan itu.


Ibu Ghifari tersenyum lalu mengambil bingkisan yang diberikan olehku dengan wajah yang cerah. Matanya berbinar-binar.


Aku bingung harus melakukan apa lagi.


"Ehem.. Calon menantunya capek itu Ma nggak disuruh masuk." kata Ghifari.


"Ya Allah, Mama sampai lupa. Mari, Nak Azzahra masuk." Kata Ibu Ghifari.


"Za saja, Tante. Tidak apa-apa." kataku.


Awalnya, aku ingin meminta kepada Ibu Ghifari agar memanggilku dengan sebutan Ara. Seperti semua orang yang mengenalku. Namun, aku merasa harus memiliki nama panggilan yang sedikit mencerminkan pribadi yang baik. Jadi, aku memilih nama 'Za' dari pada 'Ara'.


"Nama yang cantik, Za." kata Ibu Ghifari.


"Masuk, Nak. Tante buatkan minum dulu.." kata Ghifari.


"Nggak usah repot-repot, Tante." kataku.


"Tidak, tidak repot sama sekali." kata Ibu Ghifari lalu pergi meninggalkan aku dan Ghifari.

__ADS_1


Aku bisa bernafas lega seketika saat melihat Ibu Ghifari yang pergi membuatkan minum. Aku menatap Ghifari. Aku ingin pulang.


"Gue mau pulang.." kataku merajuk pada Ghifari, aku menyentuh lengannya.


Seketika Ghifari mematung saat aku mulai menggoyangkan lengan tangannya.


"Ara, jangan kayak gini. Lo mau nikah sama gue hari ini juga? Gue si gak masalah." kata Ghifari.


"Ih, maksudnya gimana? Apa kaitannya sama nikah?" tanyaku tidak mengerti apa maksud dari ucapan Ghifari.


Ghifari menatap tanganku.


"Kalo keluarga gue tau lo udah pegang-pegang gue, kita bisa dinikahin, soalnya kita bukan mahram jadi gak boleh pegang-pegang." kata Ghifari.


Aku langsung melepaskan tangan Ghifari. Bagaimana pun aku tidak mau dinikahkan hari ini oleh keluarga Ghifari.


Aku sungguh baru tau kalau aku tidak boleh main asal menyentuhnya karena kami belum mahram. Aku bahkan baru pertama kali mendengar kata itu.


"Anak pintar." kata Ghifari seperti sedang berbicara dengan anak kecil.


"Gue takut.." kataku jujur.


"Nggak usah takut. Keluarga gue baik-baik kok. Lo cuma perlu biasain diri aja biar jadi bagian dari keluarga ini lagi." kata Ghifari.


"Lagi?" tanyaku sampai mengerutkan keningku karena bingung.


"Ah, ini pasti gara-gara lo gue jadi gak fokus. Maksudnya kalo besok-besok kalo lo ke sini lagi jadi lo udah terbiasa soalnya Lo udah jadi bagian keluarga ini." kata Ghifari.


"Siapa tau nikah beneran kan?" tanya Ghifari sambil terkekeh.


Aku langsung berniat untuk mencubit lengannya namun saat aku melayangkan tanganku Ghifari langsung memberikan ultimatum yang sangat jitu.


"Eh, jadi nikah nih kita hari ini?" tanya Ghifari.


Sial.


Aku pun memutar otak. Aku tidak mau kehabisan akal.


"Apaan sih. Orang gue mau benerin kerudung." kataku berbohong.


Ghifari terkekeh. Sial, aku benar-benar ingin menjitaknya sekarang juga.


"Lho, kalian belum duduk?" tanya Ibu Ghifari yang datang.


Aku langsung berbalik sambil tersenyum terpaksa, "Iya, Tante. Hehe." kataku.


"Ayo, duduk dulu." kata Ibu Ghifari. Akupun mengangguk.

__ADS_1


Kami duduk di ruang tamu. Lalu, setelah memastikan aku duduk, Ghifari bangkit. "Za, Aku tinggal dulu ya."


Aku speechless seketika. Satu kalimat tersebut benar-benar membuat sesuatu meledak di dalam sana.


Ingat Za, ini hanya sandiwara. -batinku.


Tanpa tau harus menjawab apa aku hanya tersenyum dan mengangguk. Seketika dia tertegun, ingin rasanya aku menjitaknya saat itu juga (lagi). Lalu, Ghifari pergi, mungkin ke kamarnya.


"Diminum, Nak." kata Ibu Ghifari.


"Terima kasih, Tante." kataku mengambil minum tersebut.


Tak lama setelah Gifari pergi, seseorang mengetuk pintu rumah, Ibu Gifari pun pamit untuk membukakan pintu. Aku hanya bisa mengangguk.


Dan dari sana masuk serombongan yang kutaksir adalah keluarga Gifari.


Mereka terlihat berbincang dengan bahagia di depan pintu. Aku mulai deg-degan. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku buru-buru mengambil ponselku. Mengirim pesan pada Gifari via Whatsapp.


Kapan keluar? –kukirim.


Aku buru-buru memasukkan ponselku ke dalam tas lagi. Lantas berdiri karena tamu yang datang menghampiriku.


"Ini calon istri Ghifari. Namanya Azzahra." Ibu Gifari memperkenalkanku pada semuanya. Akupun mencium tangan para ibu-ibu yang ada dalam rombongan.


Sedangkan untuk yang laki-laki aku hanya mengatupkan tangan di dada enggan mencium tangan mereka. Kata Ghifari kalau menyentuh laki-laki yang bukan mahram nanti aku dinikahkan. Dan aku tidak mau hal itu terjadi.


Ibu Ghifari memperkenalkan satu persatu keluarga yang ada di situ. Aku tidak bisa fokus mendengar apa yang dikatakan beliau. Sebab, di sana salah satu tamu, seorang nenek memandangku dengan tatapan yang tak bisa kujelaskan. Air matanya menetes. Aku menghampiri nenek tersebut. Aku jadi lupa kalau Ibu Ghifari sedang berbicara.


"Nenek kenapa? Apa Za salah bicara?" tanyaku pada nenek.


Sekilas nenek itu mirip ibuku. Jujur saja ada rasa yang tak bisa kujelaskan saat ini. Kenapa nenek itu menangis melihatku?


"Tidak, Nak. Sini, Nak, biar nenek mencium pipimu." Aku menghampiri nenek.


Beliau menciumku. Aku mencoba tersenyum lalu mengusap air mata nenek.


"Lho, Mama kenapa?" tanya mama Gifari dan seorang perempuan yang juga seusia Ibu Gifari.


"Mama senang melihat calon istri Gifari, dia cantik sekali. Mama baru tau kalau cucu mama bisa kenal perempuan juga. Hahaha." Nenek tertawa. Hingga semua orang ikut tertawa. Aku tersenyum. Tapi ntah mengapa yang ku tangkap dari kata-kata nenek lain. beliau seperti telah menyembunyikan sesuatu.


"Ya sudah, duduk dulu semuanya. Nak, kamu bantu Tante ya?" kata Ibu Ghifari.


Aku mengangguk sopan.


Aku berpamitan untuk membantu Ibu Gifari. Ternyata aku dibawa ke dapur untuk mempersiapkan minuman dan makanan untuk keluarga Gifari yang lain.


"Ini kakanya tante, kamu bisa panggil Bude Ulfa seperti Gifari." kata Ibu Gifari. Aku tersenyum.

__ADS_1


"Ini, Nak. Tolong bawa minuman ini ke ruang tamu ya, nanti kamu ke sini lagi." kata Ibu Gifari.


"Baik, Tante." kataku.


__ADS_2