
Hari ini seperti biasa Ghifari datang menjemputku. Bukan Ghifari namanya kalau tiap pagi tidak membuatku heboh karena terkadang suka datang pagi sekali.
"Ini lo gak salah?" tanyaku melihat Ghifari yang sudah ada di hadapanku padahal hari masih petang.
Aku melirik Ghifari lalu melirik jam dinding untuk memastikan kalau aku tidak salah dalam. Waktu masih menunjukkan jam 5.20 WIB. Waktu yang masih cukup pagi.
"Emang kenapa?" kata Ghifari enteng.
Aku hendak memprotesnya karena dirinya benar-benar ajaib. Ingin rasanya kukatakan padanya bahwa tidak ada tamu normal yang bertamu di jam sepagi ini.
"Gue numpang tidur sebentar ya." kata Ghifari yang langsung 'nyelonong' masuk dan duduk di ruang tamu.
"Nyebelin banget sih." kataku geram melihat tingkah laki-laki yang memiliki tingkah ajaib ini.
Ghifari tidak mengindahkan kata-kataku dan kini dirinya lebih memilih untuk tidur di sofa ruang tamu. Dia sudah memejamkan mata.
"Ya Allah, ni anak lama-lama harus diobatin sama Bang Haidar. Sakit jiwa." kataku menggerutu sambil memperhatikan Ghifari.
Tak lama kemudian, Bi Shanti datang, sepertinya beliau mendengar keributan diantara aku dan Ghifari.
"Siapa yang datang, Nak?" tanya Bi Shanti.
Aku hanya bisa menunjuk Ghifari menggunakan daguku. Bi Shanti langsung mengarahkan pandangannya. Seketika, Bi Shanti melihat Ghifari yang sudah duduk sambil memejamkan mata.
Alih-alih memarahi Ghifari, Bi Shanti justru terkekeh. Aku melotot tidak terima.
"Ih, Bibi. Kenapa Bibi tertawa?" tanyaku meyalangkan protes.
"Tidak apa-apa, Nak. Lucu saja. Tingkahnya mirip dengan seseorang yang Bibi kenal." kata Bi Shanti.
"Lho? Siapa?" tanyaku.
"Mas Aaron. Kakaknya Mbak Linda. Persis seperti dia, selalu berlaku semaunya namun selalu perhatian dan berhati baik." kata Bi Shanti.
Seketika Ghifari mengubah posisi tidurnya. Aku hanya bisa berdecak sebal. Aku yakin dia tidak sepenuhnya tidur.
"Kalau Om Aaron memang seperti dia sepertinya aku tahu mengapa mama tidak mau bersamanya, Bi." kataku asal.
"Husss.. jangan berkata seperti itu. Justru disanalah daya tarik Mas Aaron." kata Bi Shanti seperti tidak mau kalah. Beliau seperti tidak mau melihat aku mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang Om Aaron.
Aku mulai memicingkan mata, mulai menebak apa yang dirasakan oleh Bi Shanti, "Mengapa Bibi seperti sangat mengenal Om Aaron? Jangan-jangan Bibi pernah suka sama Om Aaron ya?" kataku sambil menaik turunkan alis.
__ADS_1
"Huss.. Ah, Bibi lupa kompor belum dimatikan." kata Bi Shanti yang langsung pergi meninggalkanku.
Aku hanya bisa terkekeh melihat tingkah Bi Shanti yang terlihat sekali menghindari percakapan ini. Aku jadi mulai bisa menyimpulkan bahwa sebelum menikah, Bi Shanti pernah jatuh cinta pada Om Aaron.
Aku sangat menyayangkan hal tersebut. Andai saja Om Aaron menikah dengan orang sebaik Bi Shanti tentu saja kehidupan keduanya pasti sangat bahagia. Namun, aku tahu, beberapa hal dalam hidup seperti: umur, jodoh, dan rejeki hanya Allah SWT saja yang tahu.
Kita sebagai manusia hanya merencanakan, Allahlah yang menentukan.
Aku menoleh ke arah Ghifari. Pikiran isengkupun langsung menyalakan mode 'on'.
Aku mengambil satu bulu kemoceng lalu aku dekatkan ke telinga Ghifari. Seketika Ghifari menggeliat, aku justru semakin senang melihat bagaimana dirinya bisa menggeliat. Aku melakukannya lagi.
"Ara.." panggil Ghifari dengan serak, matanya masih terpejam.
Aku hanya bisa terkekeh lalu mengerjai Ghifari lagi hingga Ghifari terbangun sempurna.
"Bangun ih, gak boleh tau tidur abis subuh. Gak baik." kataku.
Ghifari memicingkan matanya ke arahku, aku hanya bisa mengangkat alis, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.
"Jauh-jauh." katanya.
Aku baru menyadari kalau jarak kita begitu dekat.
Aku yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ghifari sontak panas dan marah. Lagi pula di dunia ini tidak akan ada orang suka dikatakan jelek bukan? Terlebih wanita, dan aku merasa aku cantik tidak jelek seperti apa yang dikatakan oleh Ghifari.
"Muka lo lebih jelek." kataku langsung menoyor kepala Ghifari kesal.
Akupun langsung berdiri dan beranjak meninggalkan Ghifari dengan perasaan dongkol setengah mati. Lihatlah, bagaimana aku tidak dongkol, ditoyor saja dia tertawa. Seperti sedang tidak melakukan dosa saja.
"Canda, Ra!" kata Ghifari.
"Gak lucu!" seruku.
Ghifari hanya tertawa. Sepertinya melihatku tertawa menjadi bagian dari kesenangannya. Sial, kesenangannya mengapa harus di atas penderitaanku.
Aku lebih memilih ke dapur untuk membantu Bi Shanti.
"Ghifari menyebalkan ya, Ra?" tanya Bi Shanti.
Aku mengangguk sambil mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Tapi dia juga menyenangkan dan selalu membuat hatimu berbungakan?" tanya Bi Shanti.
Awalnya, aku mengira kalau Bi Shanti akan menjelek-jelekkan Ghifari, aku bahkan sudah menyiapkan bahan untuk menimpali. Tapi kenyataannya Bi Shanti justru sedang menggodaku. Aku jadi merutuki diriku sendiri yang hanya mendengar godaan dari Bi Shanti yang jauh dari kata standar saja mampu membuat pipiku panas, aku merasakan malu.
"Ah, Bibi.." kataku sebal.
"Ayo, bawakan ini ke depan. Kita sarapan bersama." kata Bi Shanti.
Aku hanya bisa mengerucutkan bibir lalu mengangguk. Bi Shanti hanya terkekeh melihatku. Bi Shanti sama seperti Ghifari gampang tertawa, aku jadi berpikir kalau wajahku seperti badut.
Akupun membawa nasi goreng buatan Bi Shanti ke meja makan. Bi Shanti membawa piring, sendok, dan gelas, lalu telur dadar dan kerupuk.
"Bibi akan bawa mamamu, kamu panggil Nak Ghifari." kata Bi Shanti.
"Tidak bisakah kita tukaran saja?" tanyaku.
Bi Shanti menggeleng. Akupun mengangguk.
Setelah itu, akupun langsung menuju ruang tamu ingin memanggil Ghifari sebagaimana Bi Shanti memintaku untuk melakukannya.
Ghifari sedang bermain games online.
"Ghif, disuruh sarapan sama Bi Shanti." kataku.
"Sebentar, tanggung, Ra." kata Ghifari.
Aku mendengus sebal. Seperti itulah Ghifari. Aku kadang suka sebal bila dirinya sudah berkutat dengan games online. Di saat-saat seperti ini rasanya aku ingin memusnahkan semua games online yang ada di muka bumi. Namun, aku tidka bisa melakukannya karena terkadangpun aku masih suka memainkannya untuk mengusir rasa bosan dan penat.
"Sarapan gak? Sarapan gak?" tanyaku sambil menutup layar ponselnya.
Ghifari mendongak, "Sarapanlah masa enggak." katanya.
Seketika kami berdua langsung tertawa mendengar percakapan absurd kami. Ghifari langsung mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Udah mati ya, Tuan Putri." kata Ghifari.
"Terima kasih ya, kurcaciku." kataku dengan nada digemas-gemaskan yang sebetulnya justru membuat aku jijik.
"Ck. Nih. sekarang siapa yang kurcaci?" tanya Ghifari sambil berdiri.
"Botol kecap yang kurcaci." kataku asal lalu berjalan menuju ruang tamu.
__ADS_1
Ghifari hanya tertawa di belakangku. Aku hanya bisa tersenyum. Untung aku membelakanginya jadi Ghifari tidak bisa melihat bagaimana senyumanku yang mengembang ini.