
Aku kembali ke ruang tamu dengan teh beserta gelas di atas nampan. Sepanjang aku meletakkan teh ke atas meja aku merasa nenek itu terus memperhatikanku. Aku kembali lagi ke dapur. Membantu Ibu Ghifari memasak untuk makan siang.
Saat sedang asyik memasak, bel rumah berbunyi tanda ada seseorang datang. Ibu Gifari bergegas pergi untuk membuka pintu. Sedangkan Bude Ulfa sedang membawakan kue kering ke ruang tamu.
Kini aku sendirian. Berkutat dengan sayur-sayuran yang akan membuat semua orang lapar ketika sudah masak. Aku mulai memotong wortel. Untungnya sebagai gadis ku sudah tidak asing dengan dapur. Jadi perihal masak memasak aku tidak terlalu kesulitan.
Ghifari tiba-tiba muncul dengan wajah segarnya. Dia terlihat baru selesai mandi. Aku baru saja ingin membuka mulutku untuk mencaci makinya, namun dia buru-buru menaruh telunjuknya di depan bibirnya.
"Tahan. Lo bisa caci maki gue nanti kalo acara udah selesai. Oke?" katanya.
Kontan aku menggeram.
Melihat wajahku merah padam dia tertawa.
"Mau dibantuin nggak?" katanya.
"Nggak." kataku jutek.
Tiba-tiba Ibu Ghifari muncul. Sebisa mungkin aku menormalkan wajahku yang ketanggung menahan kesal.
"Tumben kamu dateng ke dapur?" tanya Ibu Ghifari.
Ghifari hanya bisa tertawa mendengar perkataan ibunya.
"Sana kamu ke ruang tamu aja, jangan gangguin calon mantu mama masak." kata Ibu Ghifari.
Aku hanya bisa tersenyum. Toh, hanya itu yang bisa kulakukan sebab aku tidak tau lagi harus berkata apa.
"Iya, Ma. Iya.." kata Ghifari.
"Aku ke ruang tamu dulu ya, Za." katanya.
Aku mengangguk. Ghifari pun pergi.
Bude Ulfa datang lagi mulai membantu kami masak lagi. kamipun berkutat dengan panci dan penggorengan. Selagi memasak aku memikirkan sesuatu. Ternyata keluarga Gifari islami sekali. Lihatlah pakaian yang dikenakan keluarga Gifari. Untunglah aku tidak salah kostum hari ini.
Setelah hidangan sudah ada diatas meja, seseorang datang lagi. Sedetik aku tertegun. Wajahnya seperti tidak asing. Dia menyapa sebentar lalu masuk ke dalam setelah sebelumnya tertegun sebentar melihatku.
Siapa dia? Tak lama berselang dia datang lagi bersama seseorang yang juga duduk di kursi roda. Beliau tertegun melihatku. Ada apa sebetulnya? Kenapa aku merasa hampir semua orang terkejut melihatku?
Ghifari juga muncul di samping kedua laki-laki itu. "Pah, Bang, kenalin namanya Azzahra, calon istri Ghifari." katanya.
Betul dugaanku. Laki-laki itu ayah dan Kakak Gifari. Tapi kenapa Ghifari tidak mirip dengan kaka tau ayahnya? Padahal, kaka dan ayahnya sangatlah mirip.
__ADS_1
Ntah, apa yang merasukiku, aku menghampiri keduanya lantas mencium tangan ayah dan kaka Gifari. Aku bahkan lupa mengenai kata-kata mahram milik Ghifari.
Ntahlah, seperti ada sesuatu yang aneh menjalar di tubuhku. Mengapa aku tidak merasa asing? Untuk apa pula aku repot-repot mencium tangan mereka padahal sebelumnya aku hanya mengatupkan tangan?
Makan malampun berlangsung dengan 2orang nenek, 2orang kakek, 3wanita sebaya ibuku, 3 suami mereka, 2anak remaja, 4anak kecil, gifari, kakaknya dan aku. Ramai sekali.
"Ini yang masak Nak Azzahra lho." kata Ibu Gifari.
Semua tertawa kecuali nenek yang tadi menangis melihatku. Dari raut wajahnya ia tidak suka dengan Ibu Ghifari, terlihat dari wajahnya yang terus menunjukkan wajah sinis kepada Ibu Ghifari.
"Betul, selain cantik, sopan, ramah, dia bisa masak, menantu idaman sekali dia. Haidar kamu kapan mengajak calon istrimu juga. Cari calonnya kayak Azzahra ya." kata Bude Ulfa.
Aku baru tau ternyata nama kaka Gifari itu Haidar. Bang Haidar hanya tersenyum tipis. Lantas melirikku sekilas. Ada sesuatu yang dipendamnya. Aku yakin itu.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Bang Haidar. Ternyata itu yang difikirkannya.
Belum sempat aku menjawab. Ghifari buru-buru memotong. "Kalian saling kenal?" tanyanya tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Aku menggeleng pelan.
"Ini untuk pertama kalinya." kata Bang Haidar.
Topik pembicaraan di atas meja sekarang hampir dominan memujiku. Dalam hati aku ingin berteriak. Menyalahkan Ghifari yang tega membohongi keluarganya yang begitu baik dan harmonis. Akupun merutuki diriku sendiri, sebab ntah mengapa aku justru merasa nyaman dengan keadaan ini. Saat aku tak sengaja melihat jam tangan Ghifari. Aku mulai gelisah. Ghifari menyadari tingkahku. Lalu melihat jam tangannya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Gu... A-aku harus pulang." kataku.
"Ma, Pa, semuanya, Ghifari lupa kalau ada janji. Ghifari dan Za harus pergi sekarang juga." kata Ghifari.
"Apa ndak bisa kalau makan dulu?" tanya nenek satu lagi yang terlihat juga seperti terus memperhatikan aku.
Ghifari menggeleng. "Enggak bisa, Nek. Soalnya ini penting banget." katanya.
Ghifari lalu menyuruhku bergegas, akupun menurut. Setelah meminta maaf kepada semuanya, kamipun pergi.
Sebelum pulang ke rumah, Ghifari membawaku ke sebuah restoran lalu membeli banyak makanan.
"Itu nggak kebanyakan?" kataku.
"Tenang gue abisin nanti." kata Ghifari.
"Maksudnya?"
"Iya, gue mau makan di rumah lo bareng nyokap lo."
__ADS_1
"Siapa yang izinin?"
"Nyokap lo pasti izinin gue."
"Lo kan tadi udah makan."
"Nggak inget kalo ada yang grasak-grusuk pengen pulang pas gue baru makan 2 suap?"
"Iya gue kalah-gue kalah. Dasar nggak mau ngalah banget sama cewek."
"Nggak ada alesan buat ngalah sama cewek macem elo."
"Tapi selalu ada alesan buat lo menang dari gue. Itu nggak adil."
"Namanya juga hidup."
Sesampainya di depan rumah, aku menyadari sesuatu. Aku masih memakai pakaian serba panjang. Apa kata ibuku nanti kalau melihat penampilanku berubah drastis? Kalau ibuku biasa saja bahkan menerima, aku tak keberatan tapi kalau ibuku justru memberikan respons negatif bagaimana? Itu akan mempengaruhi kesehatannya. Dan aku tidak mau.
"Gue harus ganti baju." kataku, menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" tanyanya bingung.
"Kondisi mama nggak bisa ditebak, gue takut..." belum selesai aku berbicara. Dia buru-buru mebuka pintu mobilnya.
"Ganti dalem mobil aja. Gue keluar. Nggak akan ada yang bisa liat lo dari luar." katanya.
Setelah ia turun. Akupun lekas mengganti pakaianku. Setelah selesai, akupun turun. Tentu dengan pakaian yang sama ketika aku berangkat dari rumah tadi. pakaian serba panjangku kuletakkan dalam kantong kertas yang sedang aku jinjing.
Kitapun masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum." teriakku ketika selesai mengetuk pintu. "Mama, Ara pulang." kataku.
Aku masuk ke dalam kamar, lalu membawa ibuku keluar kamar. Dan membiarkan Ghifari menemani beliau. Aku buru-buru ke dapur untuk mengambil peralatan makan. Lalu menghidangkan makanan ke ruang makan. Hal yang belum pernah kulakukan setelah Bibi Linda meninggal dunia. Pria itu aneh. Kenapa juga dia harus datang?
Setelah siap aku memberi kode kepada Ghifari untuk membawa ibuku ke ruang makan. Diapun menurut.
Manis sekali. Ah. Sepertinya otakku sudah rusak.
"Dasar perut karung." kataku mengatai Gifari.
"Tante nggak keberatan kan kalau punya menantu perut karung?" tanya Gifari.
Baru saja aku ingin memarahinya namun ibuku tersenyum. Aku balas tersenyum kepada Ibuku. Namun, aku mulai memikirkan banyak hal.
__ADS_1
Bagaimana ini? Aku pernah mendengar kalau keinginan seorang ibu memanglah melihat anaknya menikah.
Tapi kalau ibuku sampai tau hubungan palsu yang kujalani bagaimana? Dasar Ghifari. Lihat saja akan ku balas kau.