Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 33 - Kebohongan


__ADS_3

Aku tidak begitu lama mengobrol dengan Bang Haidar karena Ghifari keburu datang dan langsung membawaku pergi bersamanya. Dan karena dan memang tidak bisa menolak permintaannya, lagi pula calon suami bohonganku adalah Ghifari bukan Bang Haidar, sehingga aku menurut saja. 


"Lo kenapa sih? Kan gue lagi seru ngobrol sama Bang Haidar." kataku kepada Ghifari.


"Calon suami lo itu gue ya bukan dia." kata Ghifari.


"Calon suami bohongan ya, Bang. Inget itu." kataku mengingatkan Ghifari.


"Yeh, si Eneng beneran juga gakpapa. Abang rela rido." kata Ghifari.


"Rido udah cerai sama istrinya." jawabku asal-asalan.


"Rido yang mana anjir?" tanya Ghifari.


Aku langsung tertawa, menertawakan Ghifari yang mencoba mikir keras dengan apa yang aku katakan sebelumnya.


"Ini kita mau ke ke mana?" tanyaku yang berjalan di sebelahnya.


"Ya, ke rumah gue, ke mana lagi?" tanya Ghifari.


"Ah, gak asik banget mainnya di rumah." kataku.


"Lo tuh harus terbiasa di rumah. Deket sama semua orang yang ada di sana." kata Ghifari sok bijak.


Aku hanya bisa cemberut dan memeletkan lidahku kepada dirinya. "Nggak mau." kataku.


"Yeh, malah ngeledek. Gue serius tau." kata Ghifari.


"Ah, gue gak percaya sama lo." kataku jujur. Sangat jujur dari hati sambil menaikkan bahu.


"Padahal satu-satunya orang yang pengen banget gue bikin percaya itu lo." jawab Ghifari sambil mendesah.


"Kalo pengen dipercaya ya jujurlah. Kalau bohong mulu kapan gue bisa percaya?" tanyaku pada Ghifari.


Ghifari menghentikan langkahnya lalu akupun mengikutinya, ikut-ikutan berhenti. Ghifari langsung menoleh ke arahku dan seperti ingin mencari sesiatu di mataku. Aku mengedarkan pandanganku ke lain arah karena jantungku tidak pernah mau bersahabat jika ditatap Ghifari.


Bibirnya itu. Ah, aku tidak boleh berpikiran cabul. Bahkan baru memikirkan bibir saja membuat aku seperti orang mesum. Cabul dan mesum? Hih!


"Kenapa denger kata-kata lo barusan seakan gue bohong sama lo ya?" tanyanya to the point.


"Emm... ya lo berarti ngerasa tuh. Ngerasa bohong sama gue." kataku. Mataku sudah tidak karu-karuan ke sana ke mari. 

__ADS_1


Ghifari terdiam mendengar apa yang aku katakan.


"Boong lo ya sama gue?" tanyaku, mulai mencecarnya namun dengan nada santai.


"Bohong apa gue sama lo?" tanya Ghifari.


"Ya, bohong apa kek." jawabku.


"Enggak, gue gak boong sama lo. Semoga aja begitu." katanya.


"Semoga-semoga, ah, bohong kan lo berarti." kataku.


Tiba-tiba banyak orang melihat dan mengamati percakapan kami. Aku hanya mengabaikannya karena percuma saja, aku tidak tahu harus melakukan apa kalau mereka sudah memperhatikan kami seperti itu.


Ghifari mengedarkan pandangannya ke semua orang, dan tersenyum licik. Melihan senyumannya aku jadi tahu bahwa akan ada yang terjadi.


"Eh, enggak kok, Sayang. Kamu paling cantik sedunia gak ada yang lain lagi." kata Ghifari.


"Emang bener-bener ya lo. Bikin gue malu mulu." kataku langsung mempercepat langkahnya.


Aku jadi teringat bagaimana aku pernah membuat drama waktu pertama kali bertemu dengan Ghifari. Aku jadi berpikir kalau Ghifari sedang membuatku mengingat hari itu. Ah,dasar pendendam.


"Sayang! Sayang tunggu aku dong!" seru Ghifari.


Tak lama kemudian, kami pun sampai di rumah Ghifari. Aku sebenarnya malas karena aku tahu kalau aku di rumahnya, Ghifari selalu memilih pergi ke kemarnya dan membiarkan aku bertemu dengan ibu dan budenya. 


Aku sebenarnya kesal dan rasanya ingin pulang saja namun mau bagaimana lagi. Aku seakan terikat kontrak dengan seorang Ghifari yang terhormat. Apa aku menghormatinya? Tentu saja... tidak. Haha.


"L-kamu gak bisa ya temenin aku di sini aja, gak usah ke kamar?" tanyaku kepada Ghifari.


"Kenapa?" tanya Ghifari.


Sialnya aku selalu tidak punya jawaban setiap ditanya 'kenapa' oleh dirinya. Aku benar-benar tidak mengerti.


Aku menggeleng lemah.


"Yaudah bentar ya?" kata Ghifari.


Sebentar itu sampai Bang Haidar bawa aku keluar lagi kan? Aku benar-benar ingin mengatakan ini kepada Ghifari bila saja di hadapanku tidak ada ibu Ghifari dan Bude yang terus menatapku dengan tatapan seperti dosen penguji skripsi. 


Maksudku, aku memang tidak pernah mencecap bangku kuliah, namun kata-kata itulah yang dikatakan oleh orang-orang di media sosial sehingga aku hanya perlu mengutip sedikit.

__ADS_1


Ghifari pun masuk kembali ke dalam kamarnya. Lalu aku menelan ludah melihat wajah Ibunya Ghifari dan budenya. Aku bingung harus mengucapkan kata apa. 


"Sebentar ya, Nak." kata Ibu Ghifari.


"Iya, tante.." kataku.


Apakah aku biasanya memanggil beliau dengan sebutan Tante? Sepertinya iya. Ntahlah kakiku jadi gemetar melihat Budenya Ghifari yang seakan ingin menerkamku. Aku jadi merasakan perbedaan saat pertama kali masuk ke rumah ini dengan sekarang. 


Dulu saat aku pertama kali masuk ke rumah ini seingatku semuanya tidak seperti ini. Semua orang terlihat baik. Maksudku, bukan berarti mereka tidak baik. Hanya saja aku merasa sesuatu yang berbeda namun aku tidak bisa menjelaskan letak perbedaannya. 


Ah, sial. Sepertinya aku merasa begitu berani tadi tetapi mengapa sekarang menjadi seperti ini?


"Kau tau hukum sebab-akibat?" tanya Budenya Ghifari.


Aku tentu tidak tahu. Namun, bila aku katakan kalau aku tidak tahu, aku takut mempermalukan Ghifari. Jadi, aku hanya mengangguk dan pura-pura tahu saja, "Tau, Bude. Ada apa ya?" tanyaku.


"Semua yang terjadi di dunia ini pasti ada penyebabnya. Setiap ada sebab maka akan ada akibat dan sebaliknya. Sama seperti manusia. ketika hidupnya yang tentram dirusak oleh orang baru, maka akan ada yang terjadi pada perusak itu. Sesederhana itu." kata Budenya Ghifari.


Astaga apa hubungannya? -teriakku dalam hati.


Perutku seketika mual. Apakah beliau sedang menyebutku sebagai orang baru itu. Dan apakah aku telah merusak sesuatu atau semacamnya? Aku rasa aku tidak pernah melakukan hal tersebut.


"Bude, bolehkah aku ke kamar mandi sebentar?" tanyaku.


"Ya, silakan." kata Budenya Ghifari.


Aku mengangguk dan berdiri. Aku usahakan kalau langkahku tidak sampai lari. Aku tidak mau membuat Budenya Ghifari berpikir kalau aku pergi karena kata-katanya padahal memang itulah yang terjadi. Aku akui aku memang takut kepada dirinya dan sebetulnya aku tidak ingin pergi ke toilet.


Aku hanya ingin mencari keberadaan Ghifari. Aku merasa takut seketika. Ntahlah, seperti ada sesuatu yang membuatku ingin lari dari Budenya Ghifari. Aku ingin pergi menemui Ghifari.


Aku ingin memintanya untuk mengantarku pulang. Aku tidak mau di rumah Ghifari.


Aku mulai naik ke lantai atas dengan berhati-hati agar Budenya Ghifari tidak melihatku. Dan seketika aku menemukan sebuah kamar yang sedikit terbuka. 


Sontak aku langsung mengintip sebentar dan berharap kalau kamar tersebut adalah kamar Ghifari. 


Dan benar saja. Sepertinya semesta sedang berpihak kepada diriku karena aku memang melihat Ghifari yang kini sedang berada di dalam.


Akupun hendak mengetuk pintu namun Ghifari seperti sedang berbicara dengan Ghifari.


"Ma, apa susahnya, mama baik-baikin Ara? Mama tau kan siapa dia? Mama cuma perlu baik-baikin dia, bikin dia deket sama mama dan mama bisa minta maaf sama ibunya. Sesimpel itu. Buat dia gak bisa lepasin mama karena mama terlalu baik sama dia." kata Ghifari.

__ADS_1


DEG!


__ADS_2