Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 45 - Akhir Kejahatan


__ADS_3

Tubuh itu jatuh begitu saja. Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Di sana, Ghifari sudah terkapar menatapku sambil memegangi perutnya yang terkena peluru.


Aku mulai berlari ke arahnya. Aku langsung memeluk tubuhnya begitu saja. Dia sangat bodoh. Kenapa dia harus merelakan nyawanya demi aku? Apa dia pikir dia memiliki 9 nyawa?


“Ghif, …” panggilku dengan air mata berlinangan. Aku memeluknya sambil menangis. Aku membenci diriku sendiri karena aku sudah meragukan kesetiaannya.


Apa yang terjadi pada Ghifari kali ini tentu menunjukkan kalau dia sebetulnya berpihak kepadaku. Namun, apa yang aku lakukan? Setelah membuat kepadanya berdarah, aku harus membuat dia tertembak demi membebaskan aku.


“CEPAT PERGI, BODOH! SELAMATKAN MAMA!” seru Ghifari dengan sekuat tenaga.


Aku seketika teringat kepada ibuku. Apa yang dia katakan benar. Aku juga harus menyelamatkan ibuku. Kali ini, aku benar-benar bingung. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Di pelukanku Ghifari sudah terkapar dan mulai tak bersuara. Namun, di sana ibuku tak ada yang melindungi.


Aku mulai menangis.


Aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Di satu sisi, aku tidak bisa membarkan Ghifari sendirian, namun di sisi lain, aku juga tidak bisa membiarkan ibuku dalam keadaan bahaya.


Aku sangat bingung, benar-benar bingung. Apa yang harus aku lakukan saat ini, Ya Allah?


“PERGI, NAK! PERGI!” seru ibuku.


Aku mendongak, dan seketika aku melihat Bude Ulfa yang sudah tersenyum licik di tempatnya dan dia tengah mengacungkan pistolnya ke arah ibuku.


Tanpa berpikir lagi, aku langsung menerjangnya hingga letusan pistol ntah mengarah ke mana.


“Kau benar-benar perempuan yang sangat kejam!” Seruku yang sudah gelap mata.


Kami mulai berguling, aku mencoba mengambil pistol di tangannya namun meski beliau sudah tua, namun beliau masih memiliki kekuatan yang sangat besar, aku sampai tidak bisa mengimbanginya.


“Kenapa kau menghalangiku, Anak Sialan? Apa kau tau? Seharusnya kalian memang tidak pernah mececap kehidupan. Kalian itu sudah seharusnya mati sejak lama!” seru Bude Ulfa.


Aku langsung membenturkan kepalaku kepada Bude Ulfa. Hingga kepala kami sama-sama berdarah.


“Anak sialan!” seru Bude Ulfa.


Pistol itu kini beralih tangan kepadaku. Aku buru-buru bangkit, namun Bude Ulfa memukulkan balok kepadaku. Ntah dari mana balok itu berada.


Bude Ulfa langsung mengarahkan pistol itu, aku pun langsung mencoba menghalanginya dengan pandangan yang berkunang-kunang. Kepala bagian belakangku sudah berdarah. Namun, aku rela mati untuk melindungi ibuku.


Selama ini, Ibuku sudah banyak menderita. Aku tidak akan pernah membiarkan ibuku menderita lebih lama lagi.


Ibuku ntah bagaimana sudah berada di sisiku. Dia langsung memelukku.


“Astaghfirullah, Kak. Kau benar-benar keterlaluan, hentikan semua ini, aku mohon!” seru Ibuku.


Aku tau kakinya begitu sakit untuk digunakan berjalan, mengesot pun tubuhnya merasa kesakitan namun beliau tetap berlari menujuku dan mencoba melindungiku.


Bude Ulfa langsung mengambil balok lagi, lalu mengarahkan ke arahku dan hendak memukulku lagi, namun ibuku yang mencoba melindungiku membuat balok itu mengenai ibuku.


“Kau benar-benar keterlaluan, Bude!” Seruku.


“Berhenti, Kak. Aku mohon!” seru Ibuku kepada Bude Ulfa sambil membuang balok itu jauh-jauh.


"Ayo, lawan aku. Pukul aku!" Seru Bude Ulfa seperti orang gila.


Ibuku menggelengkan kepalaku, "Aku tidak akan pernah menyakitimu, Kak. Kita sudahi saja semua ini. Kasihan anak-anak. Mereka yang tak berdosa jadi terlibat."

__ADS_1


Bude Ulfa menatap ibuku sambil tertawa.


Aku benar-benar tidak paham kenapa ada wanita sejahat Bude Ulfa.


"Aku telah memaafkan semua kesalahanmu, Kak. Aku juga meminta maaf karena aku telah menyakitimu." kata ibuku.


"Mama, aku tidak mau mendengar mama meminta maaf kepada iblis seperti Bude." kataku.


"Bagaimana pun dia tetap Budemu, Nak. Orang tua yang harus dihormati." kata Ibuku yang terlihat panik dan khawatir kepadaku.


Bude Ulfa mengambil balok itu lagi dan hendak mengarahkan balok itu kepadaku. Namun, mama tiba-tiba mengambil balok itu dan hendak memukulkan balok itu kepada Bude Ulfa. Tapi tidak diteruskan.


"Ayo, lanjutkan!" seru Bude Ulfa.


Ibuku menggelengkan kepalanya dan langsung membuang balok itu lagi. "Hentikanlah, Kak. Aku mohon." pinta ibuku. "Rasanya sakit sekali melihat anakku seperti ini. Aku tidak kuasa melihatnya kesakitan."


“Tak akan pernah kuhentikan sampai kau benar-benar pergi meninggalkan dunia ini!” seru Bude Ulfa.


DOR!


Pistol itu mengeluarkan pelurunya dan mengenai dada ibuku. Aku buru-buru mendorong Bude Ulfa sampai jatuh, lalu menginjak wajah Bude Ulfa dengan kencang hingga darah langsung bercucuran. Ku injak perut Bude Ulfa, ku tendangi bagian vitalnya.


Bude Ulfa mulai tidak berdaya.


“Tempatmu disiksa bukan di penjara, melainkan di neraka!” seruku.


Kuacungkan pistol itu ke arah Bude Ulfa. Aku sangat membencinya.


“Jangan bergerak!” seru beberapa orang.


Aku menyeret Bude Ulfa dan mengacungkan pistolku di kepala Bude Ulfa, “Tolong selamatkan Ghifari dan Mama. Aku mohon selamatkan mereka.” kataku kepada Bang Haidar.


Aku menangis sejadi-jadinya. Namun, rasa benciku kepada manusia yang kini lehernya tengah aku tarik sangat besar. Dia sudah membuat hidup semua orang menderita. Penjara saja tidak cukup untuknya.


Biarlah, aku akan mengakhiri semua kejahatannya.


“Jangan begitu, Dik. Lepasakan dia! Biar polisi yang mengurusnya!” seru Bang Haidar.


"Dia tak akan berhenti hanya karena masuk penjara, Bang." seruku.


“An …, Anin …, istriku …” suara seseorang.


Aku menoleh ke arah sumber suara. Kini aku menatap laki-laki yang kutahu adalah ayahku sendiri. Faiz. Orang yang telah menelantarkan ibuku dan aku selama bertahun-tahun.


“M-Mas Faiz …” sahut ibuku.


Kini Ayahku tengah memeluk ibuku. Setelah sekian lama. Akhirnya aku bisa melihat kedua orang tuaku bersama, namun sayangnya, aku tidak mau menyebut laki-laki itu sebagai ayahku. Kemana saja dia? Kenapa dia justru datang ketika kondisi ibuku kritis seperti ini?! Dia sungguh bukan ayahku!


“DIA BUKAN LAGI ISTRIMU! KAU MENELANTARKANNYA SELAMA BERTAHUN-TAHUN!” seruku.


Aku benar-benar benci kepada ayahku dan semua orang yang ada di sana kecuali Bang Haidar, Ibuku dan Ghifari.


Ayahku menatapku, “Nak, papa mohon, maafkan papa. Kembalilah, lepaskan budemu itu.” kata ayahku.


“Kau bukan ayahku! Selama ini aku tak punya ayah!” seruku.

__ADS_1


Bude Ulfa yang sedari tadi tidak bergerak pun langsung bangkit dan langsung mengambil alih pistol yang ada di tanganku. Aku yang tak siap langsung berlaih posisi. Kali ini, aku adalah sandraan dari Bude Ulfa.


“BAWA IBUKU DAN GHIFARI! CEPAT! MEREKA KEHILANGAN BANYAK DARAH! CEPAT!” seruku.


“LEPASKAN ANAN SAYA, ULFA!” seru Ayahku. “KAU SUDAH MEMBUAT KAMI MENURUTIMU, APA LAGI? KENAPA KAU MASIH MELAKUKAN INI? KALAU KAU DENDAM, BUNUH SAJA SAYA, JANGAN ANAK ATAU ISTRI SAYA!” Seru ayahku.


Aku benci kepada diriku sendiri namun ntah mengapa ketika laki-laki itu menyebutku sebagai anaknya, aku merasa sangat bahagia, dadaku terasa sesak karena rasa bahagia dan benci di dalam hati ini mulai berdentaman.


“Lepaskan anakku, Kak Ulfa. Lepaskan!” kata Mamaku yang sudah pucat sekali.


Darah mulai keluar dari mulut Ibuku. Aku tau kalau itu sangat menyakitkan bagi Ibuku.


Mendengar suara ibuku. Bude Ulfa langsung menatap ibuku dengan tatapan iblisnya.


“Selama ini aku menunggumu, Dik. Menunggumu untuk kembali. Aku sangat yakin kalau kamu belum meninggal dunia. Dan beberapa hari lalu akhirnya aku melihat kamu benar-benar masih hidup. Aku sangat membencimu setengah mati. Aku membencimu yang selalu menerima semua yang aku lakukan kepadaku. Aku membencimu karena kau hidup begitu lemah dan tak pernah mau membalas apa yang aku lakukan! Aku membencimu karena semesta seakan terus berpihak kepadamu dan terus membuatmu hidup dengan damai.” seru Bude Ulfa.


“Selama aku hidup, aku selalu berusaha memaafkan kesalahanmu. Aku tahu kamu membenciku. Tapi aku tak mau membalasmu dengan kebencian yang lain. Kau adalah kakakku. Bagaimanapun kau anak mama dan papa, sama seperti aku.” kata ibuku.


Aku menangis mendengar apa yang beliau katakan. Ibuku sangat baik dan tulus. Air mataku menderas.


Bagaimana tidak, aku seperti melihat malaikat dalam dirinya. Aku benar-benar tidak melihat tanda-tanda manusia. Ibuku benar-benar orang yang sangat baik. Bahkan setelah menerima semua perlakuan ini, beliau masih bisa memaafkan.


“Itu tidak membuatku puas. Karena aku tidak bisa membuatmu sakit. Aku akan menyakitimu lewat anakmu. Aku tak peduli apakah aku harus mengakhiri hidupku sekarang atau tidak, namun yang jelas, kalaupun aku mati, aku mati bersamamu yang menahan rasa sakit di dada karena melihat anakmu sendiri mati ditanganku!” seru Bude Ulfa. "Jangan pejamkan matamu dulu sebelum anakmu memejamkan mata!"


“Manusia jahanam!” seruku.


Aku langsung memutar tangan Bude Ulfa. Kemudian, Bude Ulfa pun langsung menembak ke arahku, seketika aku terkena tembakannya.


DOR!


“ARAAAAA!” seru Bang Haidar, Ayahku, Ibuku, dan semua orang yang ada di sana. Kakek nenek dari ibu dan ayahku. Mereka semua berada di sana. Untuk apa mereka datang?


Bagian perutku terasa perih sekali. Namun, aku tahu kalau rasa inilah yang juga dirasakan oleh ibuku. Aku bukan manusia lemah. Aku masih bisa menahan rasa sakit.


Kali ini semuanya harus berakhir, ntah dengan atau tanpa nyawaku.


Aku membalikkan pistolnya. Pistol yang telah dia gunakan untuk menembak dua orang yang paling aku cintai, Ghifari dan Mama. Aku akan membuatnya juga merasakan apa yang kami rasakan.


“KAU BUKAN MANUSIA, KAU HANYA IBLIS! KEMBALILAH KE TEMPAT ASALMU!” seruku yang langsung menarik pelatuk dan menembak Bude Ulfa tepat di jantungnya.


DOR!


Aku dan Bude Ulfa kini jatuh bersamaan. Untuk terakhir kalinya, aku mencoba meyakinkan diriku kalau Bude Ulfa benar-benar memejamkan matanya.


"TIDAKKKKK! ULFAAA!" Seru seseorang yang kini tengah menghampiri Bude Ulfa. Ibunya ibuku.


Aku memperhatikan Bude Ulfa, untuk kembali mematikan kalau dia telah memejamkan mata.


Bude Ulfa kini sudah menggeletak di tanah bersamaku dengan mata terpejam. Tak ada pergerakan lagi, tidak ada perlawanan lagi.


“Kejahatanmu telah berakhir.” kataku kepad Bude Ulfa.


"Kau masih saja membela anak yang salah, Nek." gumamku kepada nenekku.


Mama, maafkan aku, hingga akhir ini, aku tetap tidak bisa membuat Mama bahagia. -batinku.

__ADS_1


Air mataku seketika menetes dan aku mulai memejamkan mata.


__ADS_2