Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 27 - Berhati Malaikat


__ADS_3

"Iya, wanita itu sudah menikah." kata Bi Shanti.


"Lalu apa yang terjadi setelahnya?" tanyaku yang semakin penasaran.


"Ibumu yang tahu kalau Mas Aaron dan Mas Minan diculik langsung berniat membebaskan mereka seorang diri. Saat itu semua keluaga tidak ada yang mempercayai ibumu, dan ibumu tidak berani mengatakan kepada ayahmu kalau Mas Aaron sedang diculik karena ibumu takut kalau ayahmu menjadi jauh lebih salah paham." kata Bi Shanti.


"Dan selanjutnya terlambat sudah, Nak. Mas Aaron dan Mas Minan sudah dalam keadaan meregang nyawa saat ibumu datang." kata Bi Shanti.


Dari cerita ini aku mulai bisa menebak apa yang terjadi.


"Lalu mama yang difitnah membunuh mereka?" tanyaku.


Air mata Bi Shanti menderas seketika. Beliau mengangguk.


"Dan sejak saat itu, ibumu menjadi buronan, Nak. Maafkan Bibi Nak karena harus menceritakan ini semua kepada kamu saat ini." kata Bi Shanti.


Air mataku menetes. Ternyata inilah kisah tragis di balik pertanyaanku tentang di mana keluargaku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kejadiannya benar-benar di luar nalar. Aku memeluk Bi Shanti sebentar.


"Inilah mengapa kami mencoba menyembunyikanmu dan ibumu. Karena kami takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada kalian." kata Bi Shanti.


"Siapa wanita itu. Bi?" tanyaku.


"Bibi ndak akan menjawabnya, biarlah, Nak. Jangan pernah mengorek perih masa lalu lebih dari ini. Kamu sendiri yang mengatakan kepada Bibi kalau kamu tidak akan bertindak lebih, bukan?" tanya Bi Shanti.


"Iya, Bi, aku tidak akan bertindak lebih." kataku menyesali kata-kata yang kuucapkan asal untuk meyakinkan bibi agar beliau mau bercerita pada awal percakapan.


"Kalau begitu, informasi dari bibi cukup, bukan?" tanya Bi Shanti.


Aku terdiam sebentar. Tentu saja belum cukup. Aku mulai berpikir untuk menanyakan satu pertanyaan lagi. Pertanyaan sebelumnya selalu mengarah kepada ibuku. Aku ingin sedikit mengetahui tentang kehidupan Bi Shanti.


"Bi, boleh aku tanya pertanyaan lain?" tanyaku yang masih memiliki pertanyaan yang cukup banyak di kepala.


"Pertanyaan apa?" tanya Bi Shanti.

__ADS_1


"Bi Shanti mengatakan kepadaku kalau Bibi pernah menikah bukan? Ke mana suami bibi?" tanyaku.


Bi Shanti hanya bisa tersenyum pahit mendengarkan pertanyaanku. "Dia meninggal ketika berhasil meloloskan kami bertiga." kata Bi Shanti.


Aku terperangah. Kejadian itu benar-benar menakutkan, ada tiga orang yang meninggal karena wanita itu. Dan ibuku yang menjadi buronan selama bertahun-tahun hingga ibuku menjadi seperti ini.


"Innalillahi wa innailaihi raajiun. Maafkan aku ya, Bi." kataku smabil memeluk Bi Shanti lagi.


Beliau sedikit terisak. Hatiku terasa teriris mendengar isakan tersebut. Aku kini mengerti mengapa Bi Linda begitu tidak ingin semua orang tahu nama asli ibuku bahkan tidak pernah membawa ibuku keluar saat banyak orang di dekat rumah.


Mungkin ini pula alasan Bi Linda memilih lokasi rumah yang sangat jauh dan terpencil.


Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan kepada Bi Shanti: tentang apakah keluargaku tahu kalau ibuku mengandung aku saat itu, tentang sejak kapan ibuku menjadi seperti ini, tentang mengapa Bi Shanti bisa terpisah dengan ibu dan Bi Linda, tentang mengapa Bi Linda tidak perlu memalsukan namanya, dan tentang banyak lagi.


Namun, aku sadar, aku tidak bisa mendesak Bi Shanti lebih jauh, beliau juga terlihat sangat terpukul atas insiden tersebut. Melihat beliau yang menangis seperti saat ini, rasa bersalahku muncul.


Di satu sisi aku merasa bersalah karena mendesak beliau untuk menceritakan tentang masa lalu itu namun di sisi yang lain aku merasa memang aku brhakmengetahui masa lalu itu dan ini adalah waktu yang tepat untuk beliau menceritakannya kepadaku. 


Lagi pula bagaimanapun aku adalah anak ibuku, jadi harus tahu sejarah tentang ibuku pula.


"Bi, terima kasih atas segalanya, maaf karena membuat bibi menangis seperti ini." kataku tulus pada Bi Shanti.


Bi Shanti mengangguk, lalu mengusap air mataku. "Kamu berhak tahu atas semuanya, Nak. Tidak apa-apa."


"Ingat ya, Nak.. terlepas dari semua yang bibi katakan kepadamu, kamu tidak boleh mencari keluargamu bahkan sampai berpikiran untuk membalas dendam." kata Bi Shanti.


"Apa Bibi tidak marah mendapati ini semua?" tanyaku yang tidak mengerti jalan pikiran Bi Shanti.


"Semua orang yang mengalaminya pasti memiliki perasaan marah dan dendam. Itu hal yang lumrah. Apalagi Bi Shanti. Bi Shanti tentu tidak rela membiarkan wanita itu hidup tenang namun ibumu pernah mengatakan kepada Bibi untuk tidak membalasnya. Bahkan ibumu menyuruh Bibi untuk memaafkan semua kesalahan wanita keji itu." kata Bi Shanti.


"Benarkah, Bi?" tanyaku seakan tidak percaya.


Aku benar-benar tidak menyangka kalau hati ibuku benar-benar bersih sangat bersih.

__ADS_1


"Iya, Nak. Ibumu benar-benar orang yang sangat baik. Itukah mengapa hingga saat ini Bibi sangat menyayanginya. Ibumu bahkan mengatakan kepada Bibi bahwa Bibi tidak boleh membalas kejahatan wanita keji itu dengan kejahatan. Katanya itu justru membuat kita tidak ada bedanya dengan wanita itu, sama-sama jahat. Ibumu bahkan meminta bibi untuk mendoakan agar orang tersebut kembali ke jalan Allah SWT dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT." kata Bi Shanti.


Aku mengangguk mengerti. Ternyata ibuku benar-benar orang baik. Aku jadi bangga menjadi anak dari ibuku.


"Ibuku beruntung memiliki sahabat seperti Bibi." kataku.


"Justru Bibilah yang beruntung memiliki sahabat seperti Ibumu." kata Bi Shanti.


Aku tersenyum mengangguk. "Aku jadi bangga, Bi. Sudah jadi anak dari ibuku." kataku sambil terkekeh.


"Memang selama ini kamu ndak bangga?" tanya Bi Shanti yang mulai menggodaku.


"Bukan itu maksudku, Bi." kataku.


Bi Shanti terkekeh mendengarkan apa yang aku katakan. Melihat beliau yang terkekeh membuat aku merasa lega karena Bi Shanti sudah bisa tertawa lagi. 


Mulai hari ini aku bertekad untuk bekerja lebih keras lagi dan bisa membuat Bi Shanti dan ibuku bangga kepadaku. Aku akan memperbaiki masa-masa kelam selama ini.


"Ayo, masuk?" kata Bi Shanti sambil mengulurkan tangannya kepadaku.


Akupun langsung meraih tangan itu dan ikut masuk ke dalam rumah sambil tersenyum lebar.


...***...


Malam ini aku tidak bisa tidur. Aku kembali memikirkan semua yang dikatakan oleh Bi Shanti. Kebenaran yang menyakitkan itu benar-benar membuat hatiku sakit. Aku menoleh ke arah ibuku yang kini tengah terpejam.


"Mama.. Ara sangat menyayangi mama." kataku.


Aku mulai memeluk ibuku dari samping. Aku benar-benar merasa sakit hati mengingat penyakit yang diderita ibuku berasal dari kejadian mengerikan di masa lalu ibuku yang diceritakan Bi Shanti.


Ayahku. Aku memikirkan beliau. Apa kabar dia sekarang? Aku berdecak dalam hati. Tentu saja beliau sedang tertawa bahagia bersama keluarganya.


Aku bertekad, mulai saat ini, aku tidak akan mencari tahu lebih dalam tentang masa lalu ibuku. Akupun tidak mau mengetahui keberadaan mereka dan mengenal mereka.

__ADS_1


Aku akan menunjukkan bahwa tanpa bantuan apapun dari mereka, aku dan ibuku masih tetap bisa hidup dengan bahagia.


__ADS_2