
Keesokkan harinya.
Aku sedang duduk saja di pojok ruangan. Kita semua baru selesai bersih-bersih. Rasanya badanku remuk semua. Aku menghela napas, ku tepuk-tepuk punggungku yang pegal luar biasa.
"Tahanan 1002, ada kunjungan." Seorang sipir datang.
Aku pun langsung bangkit. Di sini, kita semua memang dikenal berdasarkan nomor, bukan nama. Tidak ada yang memanggil nama sama sekali, ntah mengapa.
Aku tahu orang yang datang adalah Bang Haidar. Jadi, aku pun langsung bangkit dan mengikuti langkah sipir tersebut. Belum genap aku sampai pintu seseorang menghadangkan kakinya di depanku hingga aku hampir terjerembab mencium lantai. Orang itu adalah Ibu Farah. Aku hanya bisa menghela napas saja sedangkan penghuni yang lain menertawakan aku. Mungkin bagi mereka, seperti ini adalah hal yang sangat lucu.
Aku pun sampai di tujuan, aku masuk ke dalam ruangan yang dikhususkan untuk bertemu dengan keluarga atau kerabat yang datang menjenguk. "Terima kasih, Pak." Ucapku kepada sipir tersebut.
Kemudian, aku pun masuk ke dalam, dan betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang ada di depan sana bukanlah Bang Haidar. Orang itu adalah Ghifari. Aku buru-buru berbalik dan langsung hendak membuka pintu namun tiba-tiba seseorang mencekal tanganku.
"Lepasin gue!" Seruku sambil mencoba meloloskan diri.
"Gak akan gue lepasin sampe kita ngobrol." Kata Ghifari.
Aku tentu tidak mau berbicara padanya. Ntahlah, aku belum siap. Bahkan sudah bertekad untuk tidak mau lagi bertemu dengannya. Aku sangat malu, terlebih dengan posisiku sekarang. Aku malu karena aku sempat melakukan hal-hal kasar kepadanya. Aku malu karena aku tidak mempercayainya. Aku juga malu karena statusku kini sebagai tahanan. Pokoknya aku tidak mau bertemu dengannya, belum siap, bahkan sepertinya tidak akan siap sampai kapanpun.
Aku terus meronta-ronta hingga akhirnya Ghifari memelukku. Aku terdiam sesaat dan air mataku jatuh begitu saja. Rasanya nyaman sekali berada di pelukannya. Namun, aku tidak boleh berlarut.
"Gue kangen sama lo." Kata Ghifari sambil mencium puncak kepalaku.
Sial sekali. Kenapa kalimat dan perlakuannya itu begitu hangat namun juga menyesakkan untukku. Apakah aku memiliki perasaan yang sama? Ah, bukan, apakah aku boleh mengatakan kalau akupun merasakan hal yang sama?
Tidak. Aku tidak akan lagi mengacaukan hidupnya. Cukuplah dia datang ke hidupanku yang sendu menjadi sebuah pemanis sesaat. Setidaknya dia sudah memberikanku rasa manis, meski tak akan pernah lama namun aku sangat bersyukur akan itu. Aku tak akan meminta hal yang muluk-muluk.
"Lepasin gue, Ghifari!" Seruku yang mencoba memukul-mukul dadanya agar dia mau melepaskan aku. Namun, seperti biasanya dia tetaplah Ghifari yang bebal, keras kepala.
"Gue lepasin tapi janji dulu kalau lo mau dengerin gue." Kata Ghifari.
Aku tak memiliki pilihan lain. Benar apa yang dikatakan oleh Bude Ulfa dalam suratnya. Ghifari memang licik, memiliki seribu satu cara untuk mencapai keinginannya. "Oke." Jawabku pasrah pada akhirnya.
Ghifari langsung melepaskan pelukannya padaku, aku langsung mundur beberapa langkah dan hendak kabur ke belakang namun tangannya kembali mendarat di pergelangan tanganku.
__ADS_1
"Lo udah janji." Kata Ghifari. Dia membawaku duduk di atas bangku yang sudah di sediakan. Di sana hanya ada kami berdua. Kami duduk saling berhadapan. Aku mengusap wajahku dengan kasar, berharap dia tidak melihat air mataku.
"Di mana Bang Haidar?" Tanyaku tanpa repot-repot menatapnya.
"Dia ada di luar." Jawab Ghifari.
"Ck, dasar tukang ingkar janji." Ucapku. Bang Haidar memang sudah berjanji kepadaku kalau tidak ada yang boleh menemuiku selain dirinya. Kalau ada yang datang menemuiku selain Bang Haidar, maka aku tidak akan mau ditemui oleh siapapun.
"Nyokap lo terus nangisin lo." Kata Ghifari.
Aku langsung menoleh ke arah Ghifari, "Lo pasti bohong. Mama pasti bahagia sama suaminya."
Aku mendengar ibu dan ayahku sudah kembali bersatu. Itu jauh lebih baik, aku memang sedikit membenci ayahku yang tak bisa mempertahankan ibuku, namun aku tahu kalau ayahku adalah sumber kebahagiaan ibuku.
Sebelumnya, Bang Haidar juga bilang kalau Ghifari dan ibunya sudah keluar dari rumah, dan keluarga ibuku dan keluarga ayahku ingin kalau kedua orang tuaku kersatu kembali. Ibuku awalnya menolak karena memikirkan aku, namun setelah Bang Haidar menyampaikan permintaanku kepada ibuku agar ibuku kembali pada ayahku, akhirnya beliau bersedia.
Aku tidak tahu kelanjutannya namun yang jelas menurut Bang Haidar kesehatan ibuku semakin membaik, aku sangat bersyukur tentang itu.
"Gimana cara beliau bahagia kalau anaknya di sini? Gak mau dibebasin, gak mau diringanin, gak mau diajak banding." Kata Ghifari.
Aku memang menolak semuanya. Lima belas tahun adalah waktu yang sudah sangat cukup untuk apa uang aku lakukan. Aku tidak mau ada pengurangan atas hukumanku, biarlah. Biarlah aku seperti ini, menebus dosa yang telah aku lakukan.
"Kenapa lo ker- ... Leher lo kenapa?" Tanya Ghifari.
Aku langsung terkejut dan langsung menutupi leherku. Aku yakin kalau apa yang ditanyakan Ghifari adalah leherku yang habis dicekek oleh Ibu Farah semalam. Aku memang sampai hampir mati sehingga aku yakin kalau bekasnya memang masih biru.
"Lo lebih baik pulang." Kataku.
"Leher lo kenapa?" Tanya Ghifari.
Aku diam saja dan menoleh ke arah lain, "Gue nggak papa." Kataku.
"Jawab pertanyaan gue, Ra. Leher lo kenapa?" Tanya Ghifari yang mulai mengulurkan tangannya namun aku memilih untuk menjauh.
"Gue udah jawab kalau gue nggakpapa." Kataku
__ADS_1
"Lo di jahatin di dalam sana?" Tanya Ghifari.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Gue nggak bisa kayak gini, Ra. Gue bakalan tetap cari cara buat bebasin lo. Dan lo harus mau." Kata Ghifari.
"ENGGAK. GUE BAKALAN TETAP DI SINI." teriakku.
"ARA!" Seru Ghifari.
Aku terkejut setengah mati mendengar suaranya yang begitu keras. Ruangan ini untungnya kedap suara, kalau tidak, sipir-sipir itu akan datang dan memperpanjang urusan.
"Sorry ..." Kata Ghifari.
Aku menelan ludah, ini kali pertama dalam hidupku dibentak olehnya seperti ini, aku tahu kalau dia sangat kecewa kepadaku, namun aku tetap merasa sakit.
"Lo lebih baik pergi. Gue udah bunuh bude gue sendiri. Jadi stop minta gue buat banding atau apalah itu. Ini hidup gue. Guelah yang berhak memilih jalan hidup gue sendiri. Lupain gue, Ghif. Lupain kalau lo udah pernah kenal sama gue." Kataku. "Di kurung lima belas tahun itu gak bisa kembaliin hidupnya dia. Jadi please stop minta gue buat mau dikeluarin lebih cepet."
Air mataku jatuh begitu saja, aku buru-buru menghapusnya.
"Lo enggak bunuh siapapun. Lo cuma bela diri biar nggak ada yang terluka lagi." Kata Ghifari.
"Sampe dia meninggal itu pembunuh, Ghif. GUE ITU PEMBUNUH." Kataku.
Aku bangkit dari tempat dudukku dan langsung berjalan menuju ke pintu keluar, Ghifari buru-buru menahan tanganku lagi. Aku langsung meloloskan tangannya.
"Tolong bilang sama Bang Haidar. Dia udah ingkar janji. Jadi, gue nggak gak akan pernah mau ditemuin lagi." Kataku.
Belum genap Ghifari membalas, pintu ruangan sudah dibuka dari luar, seorang sipir datang.
"Waktu kunjungan sudah habis." Kata sipir tersebut.
Aku bersyukur karena itu berarti aku harus berpisah dengan Ghifari.
"Pak, saya minta waktu lima belas menit lagi. Ara! Jangan pergi Ra! Gue belum selesai ngomong!" Seru Ghifari.
__ADS_1
Aku tak memperdulikan dia dan terus berjalan cepat tanpa mau menoleh. Meski begitu, aku tahu kalau dia kini tengah diusir oleh petugas. Itu lebih baik.
Setidaknya, kini aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri mengenai bagaimana keadaan Ghifari. Ternyata dia hidup dengan baik dan sehat. Meski tampilannya menjadi kacau dan dia terlihat lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu.