
Ghifari menatapku. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain. Bagaimana pun aku perempuan normal yang memang mencintainya. Ah, mengapa aku membicarakan soal cinta di saat-saat seperti ini?
"Seharusnya gue dan nyokap gue yang ada di penjara." Kata Ghifari.
Aku menatap Ghifari. Aku bisa melihat dengan jelas mengenai bagaimana dia yang terlihat sedih dan menyesal. Aku ingin mengusap pundaknya namun aku tidak bisa melakukan itu.
"Nyokap gue udah bantuin Bude Ulfa selama ini. Beliau juga yang misahin lo sama keluarga lo. Meski nyokap gue selalu nangis setiap malam, tapi gue tau kalau beliau udah pernah berbuat jahat." Kata Ghifari. "Gue pengen gantiin Lo, Ra. Gue pengen gantiin lo ada di sini. Tapi gue nggak tau caranya." Sambungnya.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Gue tau lo sama nyokap lo itu orang baik sebenernya. Mungkin ya, nyokap lo emang pernah jahat banget sih. Dan gue juga udah pernah benci sama beliau. Karena gimana pun dia mengkhianati nyokap gue dan bener, bikin gue sama nyokap gue jauh dari keluarga." Kataku.
Ghifari menunduk, "Maafin gue dan nyokap gue ya, Ra. Gue bener-bener ..."
Aku langsung menutup mulut Ghifari hingga membuat Ghifari diam, lalu aku menarik tanganku.
"Gue tau kalian gak sejahat itu. Tante Farha juga udah menyesali perbuatannya kan? Kalau beliau nggak nyesel, beliau nggak akan bantuin mama dan gue buat keluar. Dan lo nggak salah apa-apa, Ghif." Kataku.
"Apa lo mau maafin kita?" Tanya Ghifari.
"Lo nggak salah apapun Ghif. Gue rasa lo gak perlu minta maaf. Dan kalau Tante ... Gimana sama mama?" Tanyaku ragu
"Mamamu berhati malaikat, Nak." Kata seseorang. "Mamamu juga sudah memaafkan semua kesalahan yang dilakukan oleh ibunya Ghifari. Bahkan, semua orang yang menyakitinya."
Aku menoleh dan mendapati kakekku yang tak jauh dari tempatku, "Kakek!" Kataku yang langsung berlari begitu saja kepada Kakek namun seketika ketika aku ingin memeluk kakekku, aku teringat siapa aku, aku hanyalah seorang pendosa. "Maaf, Kakek." Kataku.
Namun, di luar dugaanku, kakek justru memelukku. Aku tentu sangat terharu dan tangisanku lepas begitu saja.
"Cucu Kakek, apa kabar, Nak?" Tanya Kakek.
Aku menangis tersedu-sedu dalam pelukan beliau. Beliau ternyata masih mau memanggilku sebagai cucunya. "Maafin Ara, Kakek. Maafin Ara." Kataku.
"Iya, Nak. Maafkan kakek juga yang tidak bisa mencegah ini semua terjadi." Kata Kakek, suaranya bergetar.
Aku mendongak dan mendapati kakek yang sudah berkaca-kaca, aku pun langsung melepaskan pelukanku. "Kakek, kenapa kakek menangis?" Tanyaku. Apa mungkin melihat keadaanku sehingga beliau tidak tega?
Kini air mata kakekku jatuh begitu saja. Lalu aku dan Ghifari meminta kakek untuk duduk di bangku di bawah pohon diantara aku dan Ghifari.
__ADS_1
"Kakek merasa sangat malu kepada kalian. Sebagai laki-laki dewasa, kakek tidak bisa menjaga keluarga kakek." Kata Kakek. "Kamu pun menjadi seperti ini karena kakek." sambung beliau.
"Tidak, Kek. Ghifari tau kalau selama ini Kakek yang selalu mencoba meluruskan semuanya, Kakek selalu meminta aku dan Bang Haidar mencari keberadaan Tante Nindy dan Ara. Kakek sudah melakukan banyak hal." Kata Ghifari.
Aku baru tahu kalau ternyata Kakek masih mencoba mencariku. Mungkin ini sudah jalannya. Meski keluarga dari ayahku selalu mencari aku dan ibuku, namun mereka tidak bisa menemukan kami.
Dan... Melalui Ghifarilah kami bertemu kembali.
"Kalian anak-anak hebat. Kakek bangga kepada kalian." Kata Kakek yang memelukku dan Ghifari.
"Aku tidak hebat, Kakek." Kataku.
Kakek melepaskan pelukan kami dan menatapku. Air mataku jatuh lagi, aku merasa benar-benar jadi cucu yang tidak berbakti, aku kotor dan hina.
"Aku ... Aku adalah seorang pembunuh, Kek. Aku membunuh budeku sendiri." Kataku. Kali ini aku menangis. "Aku bingung kakek. Aku bingung, aku ... Aku tau kalau perbuatan membunuh itu dosa, namun sampai saat ini, aku belum bisa memaafkan Bude Ulfa." Kataku.
"Nak, apa yang membuatmu tidak bisa memaafkan kesalahan budemu?" Tanya Kakek.
"Aku tak memiliki alasan untuk memaafkannya, Kek." Kataku.
Aku mengambil sebuah kertas surat yang ditulis oleh Bude Ulfa. Aku memberikannya kepada Kakekku. Masa bodoh meski Bude Ulfa mengatakan kalau aku tidak boleh memberikannya pada siapapun.
Kakek membaca surat itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Setelah selesai membaca surat itu, Kakek mengusap rambutku.
"Kakek, apakah Allah mau mengampuni dosaku? Apakah Allah masih mau menerima permintaan maaf dari orang yang tak pernah menyesal melakukan tindak pembunuhan? Maukah Allah memaafkan dosa monster sepertiku?" Aku menangis tersedu-sedu. Beliau memelukku lagi.
"Nak, Allah SWT itu Maha Pengampun. Selalu memaafkan dosa hambanya yang benar-benar bertaubat kepada-Nya." Kata Kakek.
"Tapi aku monster, Kek. Aku bahkan tidak memiliki rasa bersalah sama sekali." Kataku.
"Benarkah kamu tidak merasa bersalah sama sekali?" tanya Kakek.
Aku terdiam. Aku tidak bisa menjawab. Aku juga bingung.
"Kamu tidak mau dikeluarkan dari sini, tidak mau meminta keringanan atas hukumanmu, dari dua hal itu saja sudah menunjukkan kalau kamu bukan monster, Nak. Kamu masih memiliki rasa bersalah." Kata Kakek.
Aku menatap Kakek. Benarkah?
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mau dibebaskan?" Tanya Kakek.
"Aku ingin menebus kesalahanku, Kek. Aku ikhlas berada di sini dan menjalani hukuman yang telah ditetapkan." Jawabku.
Kakek tersenyum kepadaku. Senyuman yang meneduhkan dan begitu tulus.
"Itu namanya kamu telah menyesali apa yang kamu lakukan, Nak. Kalau kamu tidak memiliki hati, kamu akan meminta dikeluarkan dari sini sejak pertama kamu masuk ke sini. Tapi kamu tidak melakukannya. Seperti yang kamu katakan, kamu ingin menebus segala dosa yang kamu lakukan. Itu menandakan kalau kamu bukan monster." Kata Kakek.
Aku pun kembali menangis. Aku sangat bersyukur karena aku bisa bertemu dengan kakekku di tengah kebimbanganku. "Aku sayang Kakek." Kataku.
"Iya, Nak. Kakek juga sayang kamu. Dan Ghifari juga. Dialah yang merencanakan ini, dia datang pada Kakek dan meminta tolong kakek agar bisa mengisi ceramah di sini. Dia juga tulus kepadamu." Kata Kakek.
Aku menatap Ghifari. Ghifari di tempatnya hanya bisa mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sebesar itukah yang dia lakukan?
"Sekarang ibunya Ghifari sedang melaporkan diri ke polisi." Kata Kakek.
Aku terkejut setengah mati. "Melaporkan diri untuk apa?" Tanyaku.
"Karena ingin menebus kesalahannya di masa lalu." Kata Kakek.
Aku langsung menggelengkan kepalaku. Hal itu tidak boleh dilakukan. "Tidak, Kek. Itu tidak boleh terjadi. Bukan Tante Farha yang menyebabkan itu semua terjadi. Tante Farha mungkin merasa bersalah karena aku meminta beliau menjelaskannya di kantor polisi. Sungguh, Kakek. Aku tidak tau kalau ternyata Tante Farha tidak sejahat yang aku pikir. Beliau tidak melakukan kesalahan apapun."
"Kau mau menemuinya, Nak? Kedua orang tuamu juga tengah menunggumu di ruang pertemuan." Kata Kakek.
Aku terkejut setengah mati. Bagaimana ini?
"Temui mereka, Nak. Jangan siksa mereka dengan rasa bersalah dan khawatir yang begitu besar. Katakan apa yang mau kamu katakan. Kita semua menyayangimu." Kata Kakek.
Aku pun terdiam dan menunduk. Kemudian aku menganggukkan kepala.
"Alhamdulillah. Setelah kakek selesai, mari kita datangi mereka, Nak." Kata Kakek.
Aku menganggukkan kepalaku, "Terima kasih Kakek. Terima kasih masih mau menerimaku sebagai cucu Kakek." Kataku.
Kakek tersenyum lalu beliau mengusap air mata beliau, "Sampai kapanpun, kalian berdua adalah cucu kakek." kata Kakekku.
Kakek kembali ke Aula untuk melanjutkan acara. Kemudian aku dan Ghifari kembali duduk berdua.
__ADS_1
"Nikah sama gue, Ra." Kata Ghifari.
Deg.