
Setelah terdiam dan merenungi isi surat itu, tiba-tiba Kakek Surya mengatakan sesuatu.
"Kami akan mencabut tuntutan kami atasmu, Nak." Kata Kakek Surya. Nenek Rina menganggukkan kepalanya menyetujuinya.
"Benar, Nak. Kami akan mencabut tuntutan kami." Kata Kakek Rina.
Aku sudah menduga kalau akan ada pernyataan seperti ini. Namun, kali ini aku semakin mantap untuk mengatakan kepada semua orang mengenai pilihanku. Meski di dalam surat itu, Bude Ulfa tidak menyalahkanku dan mengatakan kalau ini takdir namun aku tetap harus bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan.
"Kek, Nek, aku mohon jangan cabut tuntutan itu. Aku mohon biarkan aku bertanggung jawab atas apa yang sudah aku perbuat. Dengan begitu, aku bisa merenungi kesalahanku dan bisa menyesali semua yang aku lakukan. Aku ingin tetap berada di sini, menjalani hukuman. Aku harap semuanya bisa mengerti atas keputusanku, karena meski aku bebas sekarang, aku akan dihantui rasa bersalah yang besar. Jadi, aku mohon, Kek, Nek. Jangan cabut tuntutan itu. Dan biarkan aku menjalani hukumanku." Kataku.
"Tapi, Nak. Lima Belas tahun bukan waktu yang sebentar." Kata Kakekku.
Aku tersenyum.
"Tidak, Kakek. Sebetulnya itu saja belum cukup untuk menghilangkan rasa kecewa dan kehilangan dari seorang ibu." Kataku sambil menoleh ke arah Nenek Rina.
Nenek Rina tentulah masih merasa sedih atas semua ini.
"Nak, nenek tidak apa-apa. Sungguh." Kata Nenek Rina.
Aku tetap menggelengkan kepalaku, "Aku mohon, Nek." Kataku memohon.
Aku menatap Kakek Labib, meminta bantuan.
"Kamu bersungguh-sungguh, Nak?" Tanya Kakek Labib.
"Aku bersungguh-sungguh, Kakek. Tolong bantu aku untuk menjelaskan kepada semuanya, Kek. Aku hanya ingin bertanggung jawab." Kataku berharap banyak.
Kakek Labib menganggukkan kepala beliau.
"Ara sudah memutuskan, kami juga sudah bicara sebelumnya di dalam. Saya harap kita semua bisa menghargai keputusan Ara." Kata Kakek Labib.
"Nak, kalau kami mengabulkan permintaanmu, kamu tetap mau dijenguk kan?" Tanya Kakek Surya.
Aku menganggukkan kepalaku, "Iya, mau, Kek. Semua boleh menjengukku kecuali Ghifari." Kataku.
"Astaghfirullah, Ra. Kok gitu?" Tanya Ghifari yang terkejut.
"Ra, lo marah gue ajakin nikah?" Tanya Ghifari.
Aku terkejut setengah mati mendengar pertanyaan Ghifari. Aku tidak menyangka kalau dia akan mengatakan hal itu di depan semua orang.
Astaga. Mau dikemanakan wajahku ini, Ghifari?
"Lo ngajakin ade gue nikah?" Tanya Bang Haidar yang aku yakin mewakili pertanyaan yang ada di benak semua orang.
Ghifari tergagap sebentar, seperti baru menyadari sesuatu. Pipiku sudah merah begitu saja. Rasanya aku ingin mencubitnya saat ini juga.
"Lo gila ya? Ade gue masih jadi tahanan lo ajakin nikah? Ngelamar di penjara pula. Gak modal lo!" Kata Bang Haidar.
Ghifari menghela napas, "Iya, Ghifari emang ngajak Ara nikah." Katanya.
Kemudian dia menoleh ke arah ibu dan ayahku.
__ADS_1
"Maaf kalau waktunya kurang pas, Papa maksudku Om Faiz dan Tante Nindy. Tapi Ghifari benar-benar cinta sama Ara. Ghifari takut Ara menikah dengan orang lain." Kata Ghifari.
Laki-laki itu memang aneh. Lihatlah, bagaimana dia secara tidak langsung melamarku di hadapan semua orang.
"Kamu masih bisa memanggil suamiku, Papa, Nak. Beliau juga papamu." Kata Ibuku lembut.
Ghifari menganggukkan kepalanya.
"Iya, kamu anak Papa. Papa menyayangimu seperti Papa menyayangi Haidar dan Ara. Tapi untuk hal itu, papa menyerahkan semuanya kepada Ara. Karena dialah yang akan menjalankannya." Kata ayahku.
Kepalaku rasanya pusing sekali. Tidak ada dalam mimpiku kalau aku akan dilamar oleh seorang laki-laki di dalam penjara.
Tiba-tiba sipir penjara datang, "Waktu kunjungan sudah habis. Silakan keluar." Kata Sipir yang datang.
Kakek Labib menghampiri sipir tersebut, "Tolong berikan mereka waktu 15 menit lagi. Kami akan keluar." Kata Kakek.
"Baik, Pak Kyai." Kata sipir tersebut yang dengan mudah memperbolehkan.
"Terima kasih." Jawab Kakek Labib.
Ini kali pertama aku melihat aku diberikan tambahan waktu padahal sebelum-sebelumnya, baik Ghifari mau pun Bang Haidar tidak ada yang bisa membujuk sipir.
Mungkin karena semua orang tau siapa Kakekku. Dan mereka semua menghormati kakekku.
Semua orang pun langsung berpamitan denganku memelukku satu persatu. Aku sangat senang merasakan memiliki keluarga yang sangat menyayangiku. Ini memang impianku. Memiliki keluarga lengkap.
Kini tinggal aku dan Ghifari yang ada di ruangan itu, aku langsung mencubit pinggang Ghifari.
"Lo tuh bener-bener ya, Ghif. Bikin gue malu tau nggak?" Kataku kesal pada Ghifari.
Ghifari yang mendengar apa yang aku katakan langsung terkekeh begitu saja. Khas sekali suara kekehan Ghifari yang menyebalkan.
"Ya abis gimana. Lo bilang cuma gue yang gak boleh tengokin lo ke sini. Kalau gue kangen gimana?" Kata Ghifari.
Sial sekali. Pipiku benar-benar terasa begitu panas. Aku pun hendak mencubit pinggang Ghifari namun dia lebih dulu menghindar sehingga tanganku hanya mengenai udara.
"Ish, nyebelin." Kataku
Ghifari tersenyum dan mengusap kepalaku, "Jadi, gimana? Gue mau nungguin lo, Ra." Kata Ghifari.
"Oke." Kataku.
Aku bisa memberikan syarat ini. Aku tau kalau dia tidak akan pernah bisa melakukannya.
"Tapi gue punya syarat." Kataku.
"Apa?" Tanya Ghifari.
"Selama gue di sini lo gak boleh nengokin gue. Kalau dalam waktu setahun dua tahun perasaan suka lo udah hilang. Gue minta lo cari perempuan lain yang lebih baik dari gue dan setara sama lo." Kataku sambil tersenyum.
"Lima belas tahun, Ra... Gimana kalau gue denger kabar lo sakit?" Tanya Ghifari.
"Cukup doain gue aja biar gue cepet sembuh." Kataku.
__ADS_1
"Kalau gue kangen gimana?" Tanya Ghifari.
"Cukup doain gue aja." Kataku.
"Kalau gue keburu meninggal gimana?" Tanya Ghifari.
"Yaudah, gue yang doain lo." Kataku.
"Astaghfirullah!" Kata Ghifari.
Aku pun terkekeh begitu saja, kemudian aku menatapnya sambil tersenyum, "Kalau kita emang berjodoh, Ghif. Allah SWT pasti akan menyatukan kita lagi. Dengan cara yang paling baik. Jangan takut. Kita sama-sama perbaiki aja diri kita sendiri. Dan kalau emang lo menyukai perempuan lain, gue nggakpapa kok. Berarti kita gak berjodoh." Kataku.
"Ra, ... setahun sekali deh?" Kata Ghifari.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Gue takut kalau cinta yang lo maksud itu cuma rasa kasian dan rasa bersalah sama gue, Ghif. Dan gue takut kalau lo dateng ke sini, lo bakal merasa bersalah dan khawatir terus sama gue." Kataku.
"Trus kalau gue gak ketemu sama lo, gue gak bakalan khawatir gitu, Ra? Gue makin kepikiran, Ra." Kata Ghifari.
"Yaudah, lo boleh jengukin gue tiap hari. Tapi jangan pernah minta gue buat nikah sama lo, Ghif." Kataku.
"Ra, kasih gue pilihan yang mudah." Kata Ghifari.
Seorang sipir masuk ke dalam ruangan. "Waktu kunjungan sudah habis. Tahanan 1002 silakan kembali." Kata sipir.
Aku menganggukkan kepalaku. Lalu tersenyum kepada Ghifari, "Semua ada di tangan lo."
"Sepuluh menit lagi, Pak. Tolong!" Pinta Ghifari.
"Tidak ada penambahan waktu." Kata sipir tersebut.
Aku pun berjalan bangkit, "Sampai ketemu lagi, Ghif." Kataku. Aku pun mulai berjalan.
"Ara!" Panggil Ghifari.
Aku menoleh pada Ghifari.
Takku sangka, Ghifari langsung berlari memelukku. Aku terdiam, air mataku terjatuh begitu saja. Aku sadar kalau ini adalah pelukan terakhir kami kalau dia benar-benar ingin menikah denganku.
"Tunggu aku. Aku akan jadi orang pertama yang jemput kamu ketika kamu bebas." Kata Ghifari.
Aku menganggukkan kepalaku. Ntah mengapa kata aku-kamu yang dia katakan semakin membuatku ragu dengan ucapanku sendiri. Namun, aku tak bisa menariknya. Aku lebih bahagia jika dia bersanding dengan perempuan lain. Setidaknya jika dia tidak datang ke sini, dia bisa mencari perempuan yang jauh lebih baik dariku.
"Aku akan selalu doain kamu." Kata Ghifari.
"Makasih untuk semua yang udah kamu lakuin buat aku dan keluarga aku, Ghif. Aku juga akan doain kamu dari sini." kataku.
Cup.
Deg.
Sebuah kecupan mendarat di keningku. Aku tentu langsung membeku di tempat, mataku rasanya panas sekali. "Jaga diri kamu baik-baik, Ra."
__ADS_1