
Aku memandangi rumah Ghifari sekilas, lalu menghembuskan nafas dulu sebentar. Aku harus bersikap biasa saja, mungkin saja Ghifari hanya tidak sengaja menyimpan potongan surat itu meski aku tahu sepertinya tidak mungkin ada yang ketidaksengajaan yang seperti itu.
"Ayo!" kata Ghifari.
Aku mengangguk. Ghifari terkekeh. Manis sekali.
Kamipun masuk ke dalam rumah dan seperti biasanya kami mengucap salam dan semua orang yang ada di dalam rumah membalas salam kami.
"Assalamualaikum." salam kami berdua.
"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakaatuh." jawab seseorang yang ada di dalam rumah.
Aku kini bisa melihat ada Budenya Ghifari dan ibunya Ghifari saja di ruang tengah. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah namun tidak ada melihat orang lain selain mereka di sana.
Mereka berdiri. Aku dan Ghifari pun menghampiri mereka. Setelah bercipika-cipiki dengan Ibu dan Budenya Ghifari aku pun dipersilakan duduk.
"Aku tinggal dulu ya?" kata Ghifari.
Aku hanya bisa mengangguk saja padahal aku lebih nyaman bersama Ghifari. Di hadapan kedua wanita paruh baya ini membuat aku merasa pembohong. Aku tentu tidak lupa akan statusku yang merupakan calon istri bohongannya Ghifari.
"Apa kabar Tante dan Bude?" tanyaku mencoba basa-basi.
"Kami baik, Nak." kata Ibunya Ghifari.
Aku tersenyum karena bingung harus mengatakan apa lagi kepada Ibunya Ghifari dan Budenya.
Ibunya Ghifari melirik Bude. Aku merasakan kalau ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan kepadaku. Namun, aku tidak mau membuka pembicaraan lagi.
Bude Ghifari menoleh ke kanan dan ke kiri seperti memastikan sesuatu, aku hanya bisa bingung dalam hati. Ntahlah, dimataku Bude seperti ingin memastikan kalau tidak ada orang lain di sekitar kami selain kami.
"Apa ibumu masih hidup?" tanya Bude tersebut.
Aku sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Budenya Ghifari tersebut. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Bude menanyakan sesuatu yang menurutku tidak sopan seperti itu.
Pada saat pertemuan keluarga waktu itu, kami tidak banyak mengobrol karena sibuk menyiapkan ini dan itu.
"Mbak,.." panggil Ibu Ghifari seperti ingin memperingatkan agar Bude bisa lebih sopan.
Aku tersenyum menyembunyikan rasa bingung sekaligus terkejutku.
"Masih, Bude. Masih hidup dan sangat sehat." kataku.
Ntahlah rasanya aku seperti ingin mengatakannya. Aku ingin menjelaskan kalau ibuku benar-benar dalam keadaan sehat.
Bude merasa terkejut begitu juga dengan Ibu Ghifari. Ntahlah. Bukankah mengetahui kalau ibu dari seseorang masih hidup adalah sesuatu yang normal.
__ADS_1
"Memang ada apa, Bude?" tanyaku.
"Ah, tidak apa-apa, Nak." kata Ibunya Ghifari seperti ingin menyudahi obrolan tentang ibuku.
Namun, Bude justru sebaliknya. Beliau langsung menanyakan hal lagi kepada diriku.
"Apa kau memiliki ayah?" tanya Bude.
Aku tersenyum lagi. Pertanyaan ini benar-benar mencurigakan dan seperti ah, aku tidak boleh bersuuzon namun mendengar apa yang ditanyakan oleh Bude membuatku ingin terus bersuuzon.
"Bude lucu sekali. Semua anak di dunia ini bukankah memiliki ayah?" tanyaku sambil tekekeh mencoba mencairkan situasi.
Bude menatapku dengan tajam.
"Ibumu, nama ibumu apakah Nindy?" tanya Bude.
"Mbak, ndak mungkin tho." kata Ibunya Ghifari.
"Sssttt! Diam kamu." kata Bude.
Aku menelan ludah dengan susah payah, aku merasa sangat kebingungan namun bingung saja tidak bisa mengeluarkan situasiku saat ini. Aku mencoba tenang dan tersenyum.
Melihat senyumanku membuat raut wajah Bude manjadi berubah. Beliau terlihat terkejut. Ada apa sebetulnya?
Nindy. Mengapa Budenya Ghifari tahu kalau ibuku bernama Nindy. Dua hal yang membuatku pusing kini aku dapatkan. Pertama, Ghifari menyimpan surat dari Om Aaron, dan kedua Budenya Ghifari menanyakan nama ibuku, sama seperti Bang Haidar.
"Bukan, Bude. Nama ibuku bukan Nindy. Memang ada apa?" tanyaku.
Raut wajah Ibunya Ghifari langsung sedih. Aku tidak mengerti dan tidak bisa menebak-nebak.
"Di mana rumahmu?" tanya Bude.
Aku berharap kalau Ghifari segera datang. Pertanyaan ini justru membuat aku takut. Aku seperti tahanan yang sedang diinterogasi. Aku benar-benar tidak bisa mengatasinya.
"Lho, Za?" panggil seseorang.
Aku mengedarkan pandanganku ke arah suara tersebut. Lalu seseorang yang kudapati adalah Bang Haidar, aku tersenyum dan refleks berdiri untuk mencium tangannya.
"Iya, Bang." kataku.
Aku berharap kalau Bang Haidar akan membawaku pergi dari sini.
"Ghifarinya mana?" tanya Bang Haidar sambil mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri.
"Lagi ke kamarnya, Bang." kataku.
__ADS_1
"Yaudah, kalo gitu ikut abang aja yuk!" kata Bang Haidar.
"Eh, tapi.." kataku sambil melirik tidak enak kepada Ibu Ghifari dan Bude.
"Ah, pergilah, tidak apa-apa." kata Bude.
Seketika beliau ramah sekali. Bang Haidar langsung menoleh ke arahku.
"Tapi Ghifari, Bang?" tanyaku bingung.
"Udah, nanti tinggal di chat aja, gampang." kata Bang Haidar.
Akupun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Aku merasa kalau ini adalah waktu yang tepat untuk mengetahui siapa ibu yang dicari oleh Bang Haidar. Aku benar-benar sudah tidak tahan.
Aku hanya memastikan saja, aku ingin memastikan kalau aku salah. Aku memang ingin sekali bertemu dengan keluargaku namun bukan keluarga kakaknya Ghifari juga.
"Kita mau ke mana, Bang?" tanyaku bingung.
"Ke cafe depan aja ya." katanya.
Aku mengangguk dan mengekori dirinya di sampingnya. Aku menunduk. Aku benar-benar bingung saat ini.
"Mereka nggak ngomong macem-macem sama kamu kan?" tanya Bang Ghifari.
Aku mendongak dan melihat wajah Bang Haidar. Rasanya aku ingin menanyakannya kepada Bang Haidar namun saat ini aku belum tahu siapa orang yang berada di pihakku.
Meski Ghifari menyembunyikan surat itu namun dalam hati aku merasa kalau Ghifari adalah orang baik. Dan di sisi lain aku merasa Bang Haidarpun baik juga kepadaku. Ntahlah, siapa diantara mereka yang berada disisiku.
"Enggak kok, Bang." kataku sambil memamerkan gigi putihku. Bang Haidar tersenyum, berbeda sekali dengan Ghifari yang sedikit-sedikit terkekeh.
Bang Haidar mengangguk.
Kami masih jalan kaki dan sebentar lagi kami sampai di kafe yang ditunjuk oleh Bang Haidar.
"Gimana adiknya abang udah ketemu?" tanyaku.
Bang Haidar menoleh ke arahku. "Belum, sebenarnya abang juga nggak tahu sih, Abang beneran punya adik atau nggak." katanya.
"Lho? Kok gitu, Bang?" tanyaku yang bingung.
Kalau Bang Haidar tidak yakin kalau dirinya memiliki adik kenapa dirinya terus mencari adiknya? Bukankah hal tersebut adalah sesuatu yang sia-sia?
"Iya, panjang ceritanya." kata Bang Haidar.
"Aku siap dengerin kok, Bang." kataku sambil terkekeh.
__ADS_1
Bang Haidar ikut terkekeh dan dia mengulurkan tangannya kepadaku, aku dengan refleks ingin menghindar, namun Bang Haidar langsung mengacak kepalaku.
Aku hanya bisa menggaruk tengkukku dari dalam kerudung yang tidak gatal.