Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 22 - Pernyataan Cinta


__ADS_3

Selama perjalanan, fikiranku terus terfokus pada kata-kata Bang Haidar. Apa maksud Bang Haidar sebetulnya? Mengapa dia mengatakan bahwa Gifari yang notabene adalah adiknya adalah sosok yang berbahaya?


Karena tak kunjung menemukan jawaban, jadi aku memutuskan untuk menganggap kalau pertengkaran mereka hanya sekadar pertengkaran kaka beradik yang lazim terjadi dan tak berarti. Aku tak mau meragukan Ghifari atau terbawa emosi Bang Haidar.


Setelah mengantarkan aku pulang, Ghifari pamit untuk langsung pergi. Setelah aku iyakan, diapun pergi. Aku terpaku pada mobilnya yang hilang ditelan malam. Aku menengadah, menatap langit sambil kukatakan dalam hati, "Ada apa sebetulnya?" Lalu mengangkat bahu. Tak ada jawaban.


Saat baru satu langkah hendak memasuki pintu. Suara mobil terdengar mendekat. Aku menoleh, ternyata Ghifari. Dia keluar dari mobilnya. Lalu keluar dan mendekatiku. Aku menaikkan alis bingung.


"Aku mau bicara." katanya.


Dia menggunakan aku kamu. Ini tandanya penting. Aku mulai menerka-nerka apa yang hendak dikatakannya. Mungkinkah dia akan menjelaskan apa yang terjadi antara dia dan Bang Haidar?


Aku melihat dia mengambil nafas untuk menenangkan diri. Aku tidak menjawab apapun. Aku membiarkan dia mengungungkan apa yang ingin dia katakan.


Ghifari diam. Akupun langsung bertanya. "Ada apa, Ghif?" tanyaku.


"Aku mencintaimu." katanya dengan serius menatap mataku.


Deg!


Apa aku tak salah dengar?


Akupun dengan refleks melotot. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Namun, jantungku..


Deg!


Deg!


Deg!


Ah, benar-benar kalimat yang cukup membuatku terdiam.


Apa maksudnya? Apakah dia sedang berbohong? Apa ini hanya akting belaka? Aku menatap matanya, mencoba mencari kebenaran di sana.


"Sungguh. Aku mencintaimu, Ra. Terlepas dari segalanya, aku benar-benar tulus mencintaimu hingga rasanya aku ingin mati membayangkan jika suatu saat nanti kau akan pergi meninggalkanku." katanya.


Matanya lurus memandang mataku, dan tangannya mulai menggenggam tanganku. Genggaman itu penuh kecemasan, gemetar, dan jujur. Aku terpaku, bingung harus mengatakan apapun. Aku seperti bukan aku. Jantungku benar-benar berdebar.


"Sungguh aku tak berhak menyuruhmu untuk mencintaiku juga. Aku hanya ingin mengatakan itu, aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Dan aku hanya ingin meminta satu hal..." katanya mulai menggantungkan kalimatnya. "Tetaplah di sampingku." katanya. Menatapku semakin dalam.


Dia menempelkan tanganku ke pipinya. Lalu, dia hendak mencium tanganku.


"Araaa!" teriak Bu Shanti.

__ADS_1


Aku dan Ghifari menoleh. Ada perasaan kehilangan di dalam hatiku.


Bi Shanti mendekat.


Aku buru-buru melepaskan tangan Ghifari dari pipiku. Semua kata-kata Ghifari seakan lenyap, tergantikan kecemasanku akan terjadi sesuatu pada ibuku.


"Sebentar, Ghif!" seruku pada Ghifari dan berlari.


Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung masuk ke dalam rumah. Kutinggalkan Ghifari dan Bi Shanti di depan rumah.


Sesampainya di dalam aku langsung mencari keberadaan ibuku. Ternyata ibuku sedang duduk di kamar. Dengan cemas aku hampiri beliau. "Mama, kenapa?" kataku, mencium keningnya.


Aku mulai memperhatikan ibuku. Memeriksa apa yang salah namun aku tidak menemukan ada yang bermasalah dengan Ibuku. Ibuku sehat, sepertinya tak ada apapun yang terjadi.


Tapi mengapa Bi Shanti berteriak seperti tadi. Setelah memastikan ibuku baik-baik saja. Akupun keluar hendak menemui Ghifari. Aku menyesal dengan apa yang kulakukan barusan. Seharusnya aku dengarkan dulu penjelasan Bi Shanti dan tidak langsung meninggalkan Ghifari begitu saja. Apalagi di saat dia menyatakan perasaannya padaku. Memikirkan hal tadi jantungku makin deg-degan dan kurasakan pipiku panas.


Sesampainya di depan, aku tak mendapati mobil Ghifari. Sepertinya dia sudah pulang. Jujur aku merasakan kecewa. Di sana hanya ada Bi Shanti.


"Ghifari ke mana, Bi?" tanyaku kepada Bi Shanti.


"Dia sudah pulang, Nak. Sepertinya dia terburu-buru." kata Bi Shanti.


Aku mengangguk mengerti.


Tunggu, mengapa Bi Shanti mengusap matanya? Apa jangan-jangan beliau menagis? Mengapa demikian?


"Bi Shanti kenapa menangis?" tanyaku.


"Waduh, cuma kelilipan aja kok, Nak, hehe." kata Bi Shanti, sambil tertawa. Namun saat tertawa air mata itu makin deras.


"Ih, Bi Shanti kenapa?" kataku memeluk Bi Shanti. Jujur tawanya seperti begitu menyayat hati.


Beliau menangis di pelukanku. Ada apa dengan beliau?


"Bi Shanti sakit?" tanyaku setelah Bi Shanti melepas pelukanku.


"Ndak, Nak. Cuma lagi sensitif aja ini, PNS." katanya.


"PMS kali, Bi." kataku.


Kini aku mengerti mengapa Bi Shanti terlihat sangat aneh hari ini. Aku mengerti yang dirasakan Bi Shanti. Karena akupun sering demikian ketika sedang datang bulan.


Mendengar kata-kataku, Bi Santi tertawa lagi. Kali ini aku ikut tertawa.

__ADS_1


"O iya, tadi kenapa, Bi?" tanyaku penasaran.


"Oh itu, nggakpapa itu tadi anu. Apa toh. Anu, jujur Bi Shanti tadi mau bilang mesin cucinya mati sendiri." kata Bi Shanti.


"Ya ampun. Bi Shanti ternyata panggil aku karena mesin cuci? Aku kira karena mama. Jangan-jangan Bi Shanti nangis juga karena itu? Aku gak akan marah-marah kok, Bi. Tenang aja ya." kataku.


Beliau tertawa. Aku hanya bisa mengartikan tawa itu sebagai pembenaran atas apa yang kukatakan.


"Yuk, masuk Bi." kataku mengajak Bi Santi.


Kini aku benar-benar merasa bersalah pada Ghifari. Sepertinya dia benar-benar marah kepadaku. Lihat saja, dia pergi begitu saja. Apa aku keterlaluan tadi? Sesakit apakah hatinya aku perlakukan demikian? Terlalu banyak pertanyaan hari ini.


"Nak, bibi mau bicara." kata Bi Shanti.


Aku merasa de javu. Sepertinya ini karena rasa bersalahku pada Ghifari. Soalnya tadi Ghifari juga mengatakan hal demikian kepada diriku.


"Kenapa, Bi?" tanyaku.


"Boleh bibi tanya hal pribadi?" Beliau menjawabku dengan pertanyaan.


"Boleh, Bi." kataku.


"A-apakah nama ibunya Nak Ara itu, Nindy?" tanya beliau.


Aku terkejut.


Pasalnya aku tak pernah mengatakan nama ibuku pada siapapun termasuk Bi Shanti. Dari mana beliau tau nama ibuku. Akupun mulai bertanya-tanya dalam hati.


"Apa mungkin nama ibunya non, Nindy?" kata Bi Santi mengulangi pertanyaannya tadi.


Beliau memandangku. Air mata mulai berlinangan di mata beliau. Melihat aku yang diam saja menimbang jawaban, beliau melanjutkan, "Anindya Athaya Zahran?" katanya lalu air matanya sempurna menderas.


Aku seperti tersihir oleh air mata Bu Shanti. Ntahlah, ada perasaan yang tidak bisa aku gambarkan saat ini. Aku merasa kalau aku harus mengatakan hal yang seharusnya aku katakan kepada Bu Shanti.


Aku mengangguk.


"Bagaimana bibi bisa tahu?" tanyaku bingung.


Mengapa Bi Shanti bisa tahu nama lengkap mamaku? Apa jangan-jangan Bi Shanti mengenal mamaku? Atau jangan-jangan Bi Shanti keluarga mama? Aku mulai berharap banyak.


"MasyaAllah." kata beliau. Beliau tidak menjawab pertanyaanku.


Beliau langsung memelukku dengan penuh haru.

__ADS_1


__ADS_2