
Aku terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Ghifari. Juga Bang Haidar. Ntah mengapa hati kecilku berkata kalau ada yang aneh dari mereka. Terutama Bang Haidar. Ghifari memang berkata kalau Bang Haidar itu sedang mencari keberadaan adik kandungnya. Namun, mangapa dia mencurigai aku? Benar-benar aneh.
Tapi mengingat bagaimana Bang Haidar begitu giat mencari keberadaan adiknya membuat aku sedikit iri dan berpikir. Apakah keluargaku juga tengah mencariku? Ah, rasanya tidak mungkin.
Namun, bila kutilik dari wajah ibuku, Ibuku memang seperti berasal dari keluarga berada. Eh, setidaknya ini hanya pemikiranku tanpa dasar ya. Tapi rasanya tidak mungkin kalau ibuku adalah ibu dari Bang Haidar karena aku tahu kalau dunia tidak sebesar daun kelor.
Bila memikirkan tentang keluargaku yang bahkan namanyapun aku tidak tahu, membuat aku merasa sedih. Di satu sisi aku ingin mengetahuinya namun di sisi lain aku takut menerima kebenaran buruk. Aku sangat menyayangi ibuku. Dan aku tidak tahu apakah aku akan menerima kenyataan dan mau menerima keluarga yang bisa kubilang telah menelantarkanku atau tidak.
Aku sangat yakin ibuku berada di atas kursi roda bukan tanpa alasan. Aku ingin sekali mengetahui dari mana aku berasal. Siapa keluarga ibuku dan siapa ayahku? Apa betul Aaron adalah nama ayahku?
"Ada apa, Nak?" tanya Bi Shanti, atau kupanggil Bi Arum saja?
Aku ingin sekali memanggil Bu Shanti dengan sebutan Bi Arum. Sebagaimana ibuku mengenal beliau. Namun, setelah mendengar perkataan Bi Shanti yang menyuruhku memanggil beliau dengan sebutan Bi Shanti membuat aku pun menurut saja.
Aku tidak mau membangkang beliau.
"Bi, apa bibi memiliki keluarga?" tanyaku kepada Bi Shanti
Mengetahui ada seseorang yang kini bisa kuajak bicara dua arah saat di rumah tentu memiliki kebahagiaan sendiri. Aku sangat merindukan Bi Linda. Dan kehadiran Bi Shanti, dengan cepat bisa mengobati rasa rinduku itu.
"Tentu saja." kata Bi Shanti dengan wajah tersenyum.
"Oh ya? Di mana keluarga Bi Shanti sekarang?" tanyaku benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi.
"Di sini." kata Bi Shanti.
Aku mulai berpikir keras. Di sini. "Di rumah ini?" tanyaku memcoba meyakinkan Bi Shanti karena takut beliau salah bicara.
"Iya, keluarga Bibi ada di sini. Hanya di sini." kata Bi Shanti.
Seketika matanya berkaca-kaca. Aku memang tidak tahu apa yang terjadi namun aku bisa merasakan sesuatu yang janggal telah terjadi.
"Aku? Dan Mama?" tanyaku untuk memastikan sekali lagi.
Bi Shanti tersenyum lalu mengangguk. Meski tersenyum air matanya juga tetap mengalir.
"Iya, hanya kalian sekarang keluarga, Bibi." kata Bi Shanti
"Maafkan aku, Bi.." kataku, tidak enak hati karena menanyakan keluarga beliau.
Aku tentu merasa bersalah. Ternyata bukan hanya aku dan ibuku yang tidak memiliki keluarga, melainkan Bi Shanti juga.
__ADS_1
Aku mengamati wajah Bi Shanti dengan saksama. Ada kesedihan yang mendalam yang beliau sembunyikan di balik senyum dan air matanya.
Di saat-saat seperti ini aku teringat keluarga Ghifari. Keluarga besarnya itu benar-benar membuatku iri. Rumahnya besar, penghuninya banyak.. Argh, meski kondisi Papanya Ghifari tidak sedang dalam keadaan sehat. Setidaknya Ghifari masih memiliki Papa. Sedangkan aku.. Mengetahui namanya pun baru kemarin. Itu juga masih abu-abu.
Aku hanya bisa menghela nafas dalam hati. Jujur, sebagai seorang anak aku tentu ingin memiliki seorang ayah. Ayah yang selalu ada untukku. Namun, ntahlah ke mana ayahku berada sekarang. Aku pun baru mengetahui kalau ayahku bernama Aaron.
Tunggu, bila kuperhatikan wajah Bi Shanti selalu terlihat sedih ketika aku menyebut nama Aaron.
"Tidak apa-apa, Sayang. Bibi tidak sedih. Lagi pula ada kalian. Itu sangatlah cukup untuk Bibi." kata Bi Shanti.
Aku memeluk Bi Shanti. Ibuku masih di kamarnya. Semenjak kedatangan Bi Shanti, ibuku sudah bisa berekspresi. Ibuku bahkan lebih sering tersenyum melihat tingkah Bi Shanti yang meski sudah tua sering sekali menggoda ibuku.
"Bi, apa Bibi pernah menikah?" tanyaku.
Bi Shanti mengangguk.
"Bagaimana rasanya menikah, Bi?" tanyaku kepada Bi Shanti.
"Apa kamu sudah berpikir untuk menikah dengan Ghifari, Nak?" tanya Bi Shanti.
Aku benar-benar tidak menyangka kalau Bi Shanti akan menanyakan hal semacam itu. Aku benar-benar terkejut. Kini aku bingung harus menjawab apa. Tapi satu hal yang aku tau. Aku bisa menyangkal itu.
"Ah, Bibi. Tidak." kataku mengedarkan pandanganku ke arah lain.
Tentu saja pipiku terasa sangat panas. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa pipiku bisa sepanas ini.
"Bibiiii.." kataku sambil merengek.
Bi Shanti hanya terkekeh melihat aku yang salah tingkah di buatnya.
"Bagaimana dengan Bi Linda? Apa Bi Linda pernah menikah?" tanyaku.
Tiba-tiba aku teringat pada Bi Linda. Aku tidak tahu apakah Bi Linda pernah menikah atau tidak. Yang aku tahu, Bi Linda selalu bersama kami terlepas dari pengetahuanku mengenai beliau pernah menikah atau tidak.
Dulu aku tidak pernah berpikiran tentang ini. Namun, ntahlah rasanya aku ingin tahu semuanya. Aku penasaran dengan kehidupan Bi Linda.
"Bi Linda pernah menikah." kata Bi Shanti.
Aku langsung menoleh serius. Fakta ini baru aku tahu sekarang. Ternyata pemikiranku selama ini yang mengatakan bahwa Bi Linda belum pernah menikah sangatlah salah.
"Benarkah? Menikah dengan siapa?" tanyaku.
__ADS_1
Bi Shanti tersenyum.
"Namanya Minan. Dia adalah sahabat ayahmu." kata Bi Shanti dengan sorot wajah berbinar, beliau seperti mengenang sesuatu.
Namun seketika raut wajah itu berganti. Bi Shanti terlihat seperti kelepasan berbicara. Mau tak mau akupun curiga.
"Ayahku? Jadi Bi Linda menikah dengan sahabat ayahku?" tanyaku.
Bi Shanti tersenyum lalu mengangguk.
"Iyaa.." kata Bi Shanti.
"Berarti Om Minan sahabat Papa Aaron?" tanyaku penasaran.
Bolehkah kupanggil orang yang bernama Aaron itu papa? Setidaknya aku bisa menyebutkan nama ayahku setelah bertahun-tahun lamanya tidak mengetahuinya.
"Eh? Bukan." tiba-tiba Bi Shanti terkejut.
Melihat bagaimana Bi Shanti terkejut membuat aku semakin bingung. Ada apa lagi? Tapi aku tidak mau mendesak beliau.
"Papaku Aaron bukan?" tanyaku takut Bi Shanti salah menjawab.
Bi Shanti terdiam sebentar. Lalu mengangguk.
"Apa Bi Shanti mengenal siapa Papa?" tanyaku.
"Papa?" tanya Bi Shanti.
"Iya, Papa Aaron." kataku.
Lama-lama Bi Shanti menggemaskan juga.
Beliau tersenyum.
"Mas Aaron itu kakaknya Mbak Linda. Tentu saja Bibi mengenalnya. Mas Aaron laki-laki yang sangat baik." kata Bi Shanti dengan senyuman.
"Lho, jadi Papa Aaron itu Kakak Bi Linda. Pantas saja, Bi Linda selalu ada untuk kami." kataku.
Akhirnya, aku mengerti alasan Bi Linda mau merawat kami berdua selama hidupnya. Aku awalnya benar-benar tidak mengerti mengapa Bi Linda selama ini sangat baik kepadaku dan ibuku.
Aku tahu Bi Linda sahabat ibuku tapi apa semua sahabat akan melakukan hal serupa? Tapi hari ini setelah mengetahui satu hal tentang kebenaran Papa Aaron adalah adik dari Bi Linda, sekarang aku tahu. Alasan Bi Linda cukup kuat.
__ADS_1
"Lalu, di mana Papa Aaron?" tanyaku pada Bi Shanti.