
Kalimat itu begitu menggantung, berada di paling bawah halaman surat itu. Aku pun langsung membuka halaman berikutnya. Bude Ulfa ini sepertinya memang sengaja membuatku penasaran. Padahal tadinya aku handak membuang kertas itu, tak kuasa membaca surat paling menjijikan itu.
Bude Ulfa-Bude Ulfa, aku tak habis pikir, bahkan setelah dia tiada, kesombongannya tidak juga redup, kebengisannya tidak juga menyurut. Aku tidak habis pikir mengapa di dunia ini ada orang sejahat dia.
Aku menghela napas.
Bude Ulfa seakan tahu bagaimana mempermainkan perasaanku, Bude Ulfa menulis nama Ghifari di halaman paling bawah.
Ghifari. Anak sialan itu sama persis seperti ayahnya, Aaron. Keras kepala dan licik. Dia menjanjikan pertemuanku dengan ibumu agar aku mau membebaskan ibunya. Aku memang menyandra ibunya secara tidak langsung, dia kujadikan kaki tangan sehingga dia tidak ditahan oleh polisi. Ghifari dan ibunya tahu persis tentang itu.
Aku menyetujuinya karena aku yakin dia tidak akan pernah bisa menemukan ibumu. Namun, ternyata aku salah. Anak sialan itu berhasil menemukan ibumu dan kamu di waktu yang kurang tepat. Dia mendatangkan kalian di saat aku belum memiliki rencana matang. Dan liciknya, diam-diam dia mengumpulkan semua bukti kejahatanku untuk dilaporkan, namun dia tetaplah bocah ingusan, aku tentu lebih tau apa yang ada di pikirannya.
Ghifari membawamu ke rumah untuk mengancamku setelah bukti-bukti miliknya aku hancurkan bersama bukti rekayasa yang aku buat untuk kembali menuntut ibumu dan ibunya agar masuk penjara. Saat itu, aku tak punya apa-apa lagi untuk menyeret ibumu dan ibunya ke Penjara, padahal aku sangat ingin menyaksikan ibumu menangis dan menderita. Aku sudah menunggunya selama bertahun-tahun.
Ghifari memintaku untuk bertaubat, meminta maaf kepada ibumu, ibunya, dan juga semua keluarga. Dia memintaku mengakui semua kesalahan. Tentu saja aku tidak mau. Di saat dia hampir membuatku menyerah, aku menemui titik kelemahannya. Dia menyukaimu.
Cinta memang merupakan sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal. Dia dengan mudah kuperalat lagi. Mudah saja memperalatnya, aku hanya tinggal mengancam akan membunuhmu, lalu dia memohon-mohon akan melakukan apapun yang aku minta. Dia pernah mengatakan kalau permasalahanku hanyalah dengan ibumu bukan dengan kamu. Tapi kukatakan padanya itu salah kamu karena lahir dari rahim Nindy.
Aku menculikmu dan ibumu, itu hanya semata karena marah kepada ibumu yang setelah bertahun-tahun menghilang, kembali dalam keadaan yang tak asyik untuk kusakiti. Bagaimana aku bisa berduel dengan orang cacat? Diam-diam aku merasa kesal, kesal dengan keadaan ibumu. Aku ingin ibumu kembali sehat. Aku pasti sudah gila karena memiliki pemikiran ini. Tapi, mungkin aku mengharapkan ibumu sehat agar aku bisa menyiksanya lagi.
Aku mengepalkan tanganku. Aku benar-bentar tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran perempuan jahat ini. Dia benar-benar orang yang sakit. Bagaimana mungkin dia mengharapkan ibuku sehat hanya untuk dapat menyiksa ibuku? Sungguh sakit jiwa!
Dan Ghifari, ntahlah. Aku sulit menjelaskan bagaimana perasaanku.
Saat aku melihat ibumu bisa berdiri, ntah mengapa ada rasa bahagia dalam diriku. Aku yang merasa kalau ini bukan aku pun terus menyangkal. Hingga akhirnya, aku terus mengawasi kalian berdua. Melihat kalian berdua yang terlihat sangat bahagia membuat aku sedikit terharu, aku iri pada Nindy yang dalam kondisi demikian masih memiliki kamu sebagai penguatnya.
Ghifari, anak itu kembali meracuniku, dia mengatakan kalau aku sebetulnya menyayangi ibumu, itulah mengapa hingga saat ini aku masih membiarkan ibumu hidup dan hidupku hancur. Di saat aku mulai mempercayainya, aku pun mengatakan padanya kalau aku akan mengurung kalian lebih lama sampai aku benar-benar punya alasan untuk membebaskan kalian, namun kalian tetap aku beri makan. Ghifari menyetujuinya dan mengatakan kalau dia sendiri yang akan memastikan kalau kamu dan ibumu tidak akan kabur.
Namun, setelah aku percaya padanya, Ghifari justru mengkhianatiku. Dia diam-diam menyusun rencana dengan ibunya untuk membebaskan kamu dan ibumu.
Padahal, aku masih ingin mengurung kalian hingga aku benar-benar yakin. Hingga akhirnya peristiwa tembak menembak kemarin terjadi.
__ADS_1
Apa kamu tau, Anak nakal? Sebelum kejadian itu, aku sempat menemui ibu dan ayahku, menceritakan segalanya dan memohon maaf, dan mereka memintaku untuk menyudahi semuanya.
Aku menulis surat ini di rumah sakit. Apa? Kau mengharapkan aku mati di tempat? Kamu jangan bermimpi. Meski akhirnya mati aku tidak mau mati di sana.
Dalam keadaan sakit ini, aku sadar, selama ini aku salah. Selama ini aku berubah menjadi iblis.
Aku tau kalau kau tentu sangat membenciku. Namun, aku tetap ingin menulis surat ini untukmu karena kamu adalah satu-satunya orang yang berani membalasku dengan cara yang sama yang aku lakukan.
Orang-orang itu, mereka hanya memaafkanku saja, tak pernah benar-benar membalas perbuatanku hingga membuat aku jera. Tapi kau ... Ketika aku menembak ibumu, kau berani menembakku. Aku salut pada anak sepemberani kamu. Pukulan kau balas dengan pukulan. Tembakan kau balas dengan tembakan. Gadis cerdas!
Pada akhirnya Nindy memang sosok yang punya keistimewaan, mungkin doa-doa yang dia rapalkanlah yang menyelamatkannya dari kejahatan yang datang padanya.
Aku tidak akan pernah memintamu untuk menyampaikan permintaan maafku kepada kedua orang tuamu, terutama ibumu, sebab aku tahu, kalau mereka akan kembali memaafkanku. Lagi pula ketika membaca surat ini kau tentu sedang berada di dalam penjara, bukan? Tapi kau tenang saja, tak akan ada yang berani membunuhmu di sana.
Dan ... Kalau aku benar-benar mati, kau jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu, ini memang sudah takdir. Aku juga tidak akan memaksamu untuk memaafkan kesalahanku karena aku tau itu adalah hal yang sulit.
Kalau kau bebas nanti, katakan pada ibu dan ayahmu kalau kepergianku adalah hadiah dariku untuk kebahagiaan mereka. Suruh mereka menikmati hidup, tidak plin-plan, dan bersungguh-sungguh dalam menjaga apa yang seharusnya mereka jaga.
Jangan pernah berikan surat ini kepada siapapun. Sebab, aku sungguh malu. Kalau kau berani memberikannya, aku akan menyentilmu dari ner
Aku mengusap air mataku. Perasaanku campur aduk saat ini. Kata terakhir itu sepertinya tidak bisa diselesaikan oleh Bude Ulfa.
Tulisan Bude Ulfa semakin tidak karuan. Aku jadi berpikir kalau di akhir kata yang tak bisa beliau lanjutkan, beliau tengah merengang nyawa.
Aku sama sekali tidak bisa berkomentar atas kertas-kertas ini. Tulisan yang awalnya memang sudah tidak rapi menjadi semakin acak-acakan hingga akhir.
Apakah ini jawaban dari doaku?
Sebelum ini aku sangat kebingungan. Aku terus memohon maaf kepada Allah SWT atas kesalahanku yang tak mengakui kalau perbuatan ku salah dan aku memohon ampunan karena aku tak bisa memaafkan kesalahan Bude Ulfa meski beliau telah tiada. Akupun terus meminta petunjuk mengenai bagaimana caranya aku bisa mengatasi ini semua.
Sejak peristiwa itu, aku merasa jadi monster. Di mana aku tahu kalau aku salah, namun jauh di lubuk hatiku, aku memang merasa lega dan bahagia atas kepergian Bude Ulfa, bahkan ketika Bude Ulfa benar-benar sudah tiada, aku masih tetap tidak bisa memaafkan beliau.
__ADS_1
Menurutku, tidak ada hal yang bisa membuat aku memaafkan beliau. Bayangan bagaimana Bude Ulfa yang bengis selalu membuatku benci kepadanya.
Untuk itulah aku menangis, memohon petunjuk kepada Sang Pencipta karena aku tahu kalau aku berdosa namun aku merasa tak berdosa. Ini sungguh menakutkan.
Inikah jawaban dari-Mu, Ya Allah? -batinku, aku menengadah ke atas sambil menangis.
Setelah puas menangis dengan menahan isakanku agar tidak mengganggu siapapun, aku menoleh pada Ibu Farah, di sana dia masih duduk tak mengucapkan apapun.
"Dia emang perempuan gila." Ucap Ibu Farah tiba-tiba. "Tapi dia temen gua yang paling baik. Dia pernah dipenjara di sini gara-gara ibu lu, trus temenan sama gua di sini. Dia juga yang bayarin kuliah ade gua sampe ade gue jadi perawat."
Aku terdiam.
"Bisa-bisanya di saat mau mati, dia bisa nulis surat sepanjang itu." Kata Ibu Farah. "Walaupun isinya ngalor ngidul, gua tetap gak bisa bayangin gimana susahnya dia nulis." sambung beliau.
Kali ini aku setuju dengan apa yang ada di dalam pikiran Ibu Farah.
"Ini, ibu dapat dari mana?" Tanyaku. Mengabaikan ucapan beliau.
"Dari adik gue yang kerja di rumah sakit. Dia yang ngerawat si Ulpa sampe mati. Sekarang dia udah mati. Seneng kan lu?" Pertanyaan yang begitu sarkas dilontarkan oleh beliau.
Aku terdiam.
"Kalau bukan karena si Ulpa nitip pesen sama Ade gua kalau gue nggak boleh bunuh lu, udah gua bunuh lu dari awal lu masuk sini." Kata Ibu Farah.
"Tapi dia udah jahat sama keluarga saya." Kataku.
Ntah mengapa aku ingin sedikit mencurahkan apa yang aku rasakan. Aku tidak menyangka kalau Bude Ulfa memiliki teman di penjara.
"Gua tau." Jawab Ibu Farah. "Tanpa lu bilang juga gua udah tau semuanya. Karena dia jahat sama keluarga lu, jadi lu mending bunuh dia kan? Ck, Lu dan keluarga lu pasti seneng sekarang." Katanya, masih sarkas.
Ibu Farah melemparkan bantalnya ke arahku dengan kencang. Beliau bukannya sedang menyuruhku tidur, bukan. Beliau ini sedang marah sehingga dia melemparkan barang yang ada di dekatnya ke arahku sebagai bentuk kekesalannya.
__ADS_1
Aku memejamkan mata, kemudian kuambil bantal yang beliau lempar dan langsung meletakkannya di samping Ibu Farah. Setidaknya, meski dia kerap kali jahat, namun dia tetap orang tua.