Pemanis Sendu

Pemanis Sendu
PS 23 - Tentang Bi Shanti


__ADS_3

Kini Bi Shanti dan aku sudah berada di kamar Mama. Bi Shanti dengan haru memeluk mama. Meski diam, aku tahu. Mama merasa senang berada di pelukan Bi Shanti. Syukurlah. Itu artinya Bi Shanti benar-benar dekat dengan mama dan orang baik. Aku tak perlu mencurigai apapun dari Bi Shanti.


"Aku mencarimu kemana-mana, Mbak." Kata Bi Shanti.


"Andai aku bisa menemukanmu lebih cepat. Pasti semuanya tak berujung seperti ini. Maafin Arum, Mbak. Maafin Arum." Kata Bi Shanti.


Tunggu. Mengapa Bi Santi memanggil dirinya sendiri Arum? Otakku terus kupacu untuk berfikir. Sepertinya Arum benar nama asli Bi Shanti. Tapi aku tak habis pikir mengapa beliau harus berbohong akan namanya. Pasti banyak hal telah terjadi hingga beliau menggunakan nama yang berbeda. Aku benar-benar penasaran.


"Arum?" tanyaku.


Bi Shanti seakan baru sadar kalau di ruangan itu ada aku. Beliau melepaskan pelukannya. Lalu menatapku sambil tersenyum.


"Iya, itu nama Bibi. Arumi Santi. Banyak hal yang terjadi, Ara. Nanti perlahan Bibi akan memberitahumu. Jadi, tetap panggil bibi, Bi Shanti ya. Karena itu akan baik untuk semuanya." Katanya.


Aku mengangguk pasti. Mencoba memahami situasi.


"Jadi, Bi Shanti kenal dengan mama? Kenapa sejak awal Bibi tidak bisa mengenali ibuku?" tanyaku.


Beliau tersenyum. "Ya. Sangat kenal. Dia adalah sahabatku. Bibi sudah curiga kalau ibumu adalah sahabatku, hanya saja bibi ingin mencari bukti dan waktu yang pas untuk mengatakannya kepadamu. Hingga saatnya, Bibi melihat foto kalian bertiga di atas lemari. Ibumu, Mbak Nindy, dan Mbak Linda."


"Benarkah? Ayo Bi ceritakan tentang mama. Mama orang yang seperti apa?" tanyaku antusias.


Bi Santi tertawa, "Lihat, Mbak. Anakmu itu sepertinya penasaran denganmu. Apa ya?" kata Bi Santi. Beliau menatapku. Aku menatapnya dengan raut penasaran.


"Ibumu itu, dulu anak yang ceria, pintar, berani, dan..." Bi Shanti menggantungkan kata-katanya sambil terkekeh. "Pemarah."


"Lho, pemarah, Bi? Bibi pernah dimarahi mama?" tanyaku.


"Bukan hanya dimarahi, Bibi bahkan pernah di disiram oleh mamamu." kata Bi Shanti, sambil tertawa dan memandang jauh ke depan seperti sedang mengenang masa lalunya.


"Tunggu, Bi. Aku masih belum ngerti apapun." kataku.


"Dulu kami berasal dari pesantren yang sama. Ibumu sering menyebut-nyebut kalau pesantren itu adalah penjara awalnya. Tapi lama kelamaan, ibumu menamai pesantren itu penjara suci. Awal datang ke pesantren Bibi ingat betul bagaimana kelakuan ibumu. Hahaha. Ibumu tak pernah takut dengan apapun. Dia suka memberontak dan tak pernah mau menaati peraturan hingga sering di hukum. Namun, lambat laun, ibumu itu berubah menjadi gadis yang baik, pintar, dan menjadi idaman di pesantren kami. Lalu..." kata Bi Shanti. Belum selesai Bi Shanti bercerita aku buru-buru memotong.


"Mengapa mama menyiram Bi Shanti?" tanyaku. Aku benar-benar ingin tau.


Bi Santi terkekeh, "Kamu benar-benar penasaran ya? Mbak Nindy, aku izin menceritakan ya." kata Bi Santi sambil memandang mama lalu kembali menatapku. "Dulu di pesantren, Bibi adalah pengurus." katanya.


"Apa itu pengurus?" tanyaku lagi.


"Bagaimana menjelaskannya ya. Pengurus itu semacam santri yang dipercaya untuk mendisiplinkan santri." kata Beliau.


Aku hanya beroh ria. Lalu kembali menunggu cerita selanjutnya.

__ADS_1


"Saat itu ibumu tak mau bangun. Kami punya peraturan bila ada santri yang tak mau bangun setelah dibangunkan baik-baik lebih dari 3x. Maka tindak disiplinnya adalah menyiram santri tersebut. Dan..." kata Bi Shanti.


Aku tak paham sungguh. Mengapa Bi Shanti tadi mengatakan bahwa beliaulah yang disiram oleh mama bukan sebaliknya?


"Dan Bibipun menyiram mamamu sesuai peraturan. Namun, saat itu ibumu tidak terima dan justru membawa Bibi ke kamar mandi dan mengguyur Bibi di sana." kata Bi Shanti sambil tertawa.


Mendengar cerita itu, akupun ikut tertawa. Ternyata sekarang aku tau mengapa kadang perilakuku bar-bar. Ini pasti keturunan dari ibuku.


"Tapi percayalah, Nak. Mamamu adalah wanita paling baik yang pernah kutemui. Aku berutang banyak pada mamamu." kata Bi Shanti sambil mengusap kepalaku.


Ada satu hal yang benar-benar terlintas di benakku. Ayah. Aku menimang-nimang apakah boleh kutanyakan pertanyaan mengenai siapa ayahku sekarang. Aku sangat berharap Bi Shanti mau menjawab pertanyaanku.


Karena dulu saat Bi Linda masih hidup, beliau tidak pernah menjawab pertanyaanku itu. Namun, di sini ada ibuku.


Apa tidak apa-apa? Sepertinya tidak akan terjadi apa-apa.


"Lalu, Bi. Apa Bi Shanti tau siapa ayahku?" tanyaku.


"Tentu saja..." kata Bi Santi.


Namun, kata-katanya seperti tercekat di sana. Aku memicing. Bi Shanti mengarahkan pandangannya ke arah ibuku. Raut ibuku kembali tak berekspresi. Padahal, sejak bertemu dengan Ghifari, mama bisa tersenyum. Tidak lebar memang hanya saja bisa terlihat bahwa itu adalah senyuman.


"Siapa, Bi?" tanyaku.


Syukurlah beliau mau menjawab pertanyaanku.


"Apakah ayahku bernama Aaron?" tanyaku.


"Apa Bi Linda yang mengatakannya?" tanya Bi Shanti.


Benarkah nama ayahku adalah Aaron? Namun, ntah mengapa pertanyaanku dijawab dengan pertanyaan juga.


Aku tak mau bohong. Jadi, akan akupun menjawab dengan jujur.


Aku menggeleng, "Bi Linda tak pernah mengatakan siapa ayahku. Bahkan, beliau berkata kalau aku tak boleh mencari tau siapa dan di mana keberadaan ayahku."


Beliau tersenyum, "Linda benar. Lalu, kamu tau nama Aaron dari siapa, Nak?" tanya Bi Shanti.


Aku mengambil sobekan sepucuk surat yang kutemukan kepada pada Bi Shanti. Beliau membacanya. Lalu memberikan surat tersebut padaku dan menyuruhku menyimpan surat tersebut.


"Lalu, ke mana Mbak Linda?" tanya Bi Santi.


Sepertinya Bi Santi benar-benar tidak tahu keadaan keluargaku.

__ADS_1


"Pergi. Meninggalkan kita selamanya." kataku.


...***...


Hari ini seperti biasa Ghifari menjemputku untuk pergi ke toko. Meski sama-sama menjemput dengan hari-hari lain. Namun, kali ini kami hanya diam saja hingga duduk berhadapan di tokopun tak ada perubahan. Dia sedang sibuk dengan ponselnya.


Alasan kediaman kami ini karena pengakuan cintanya kemarin. Biarlah. Aku ikuti saja apa maunya. Aku memandang dia yang sedang asyik dengan ponselnya. Dia duduk di hadapanku. Meski ada meja di antara kita namun karena meja ini ukurannya kecil jadi jarak kamu cukup besar.


Sampai sekarang aku iri dengan pekerjaan Ghifari. Sepertinya dia hanya bekerja sesekali, namun bisa meeting sana sini. Sebetulnya dia yang aneh atau memang aku yang tidak tahu apa-apa? Memikirkan ini aku tersenyum.


"Lo kenapa senyum-senyum? Ngelamunin yang jorok-jorok lo ya?" celetuk seseorang.


Aku pun tersadar. Ternyata Ghifari sedang memandangku.


Aku memutar bola mata. Meredakan salah tingkah. "Sembarangan." kataku hendak menoyor kepalanya. Namun, saat sedang melayangkan tangan, dan menatapnya, terbesit diotakku kejadian kemarin. Lalu aku urungkan untuk menoyornya.


"Kenapa gak jadi? Pasti lo keinget kemaren ya?" katanya sambil terkikik.


Kali ini aku benar-benar menoyornya sungguhan. Karena kesal. Dasar orang aneh. Dia bagaimana mungkin dia mengatakan hal demikian seakan tak ada beban?


"Lo tuh ya! Ih, nyebelin banget si!" kataku. Mencubit lengannya.


"Tapi sayang Bi Shanti datang di saat yang tidak tepat. Padahal kemarin gue mau..." katanya. Aku buru-buru membekap mulutnya.


Kurasakan pipiku panas dan merah. Ghifari benar-benar ajaib. Sikapnya berubah-ubah. Tapi dari sekian banyak sikapnya, jujur aku menyukai Ghifari yang seperti ini. Ghifari yang ceria, Ghifari yang menyebalkan, Ghifari yang mudah membuat pipiku merah, Ghifari yang suka membuatku marah.


Aku tak suka Ghifari yang serius, aku tak suka Ghifari menangis, aku tak suka Ghifari yang frustasi, aku tak suka Ghifari yang pemarah, dan aku tak suka Ghifari terluka.


"Lo tuh gak boleh ngomong begitu! Banyak orang banyak bambang, malu-maluin banget sih! Dijahit aja harusnya inimah mulutnya." kataku.


Tak mau melepaskan tanganku sebelum Ghifari mengatakan ampun. Aku memang jahat. Tapi biar saja, toh itu karena ulah dia sendiri.


"Ampuuun!" katanya. Akupun melepaskannya.


"Bilang aja lo mau pegang-pegang gue kan?" kata Ghitari. Aku berniat untuk membekap mulutnya lagi namun dia tertawa dan pergi.


Sepertinya dia ada urusan mendadak. "Gue pergi dulu, nanti gue jemput, oke? Jangan kangen. Berat. Biar aku saja." katanya, lagi-lagi mengutip kata-kata Dilan dalam novel dan film Dilan karya Pidi Baiq.


Aku hanya bisa terkekeh.


"Mbak Ara, tadi Bang Haidar telepon cari Mbak." kata Aisha menghampiriku.


Baru mau kuucapkan terima kasih, pintu toko terbuka. Dan panjang umur: orang yang sedang kami bicarakan muncul. Bang Haidar.

__ADS_1


__ADS_2