Pencuri Cantik Milik CEO Arogan

Pencuri Cantik Milik CEO Arogan
Bab 13 : Pria Laknat


__ADS_3

"Di mana Kate? kenapa kau yang menyiapkan makanan untuk ku?" tanya Jully saat melihat Robert masuk membawa makanan untuk nya. Tidak biasanya Pria plontos itu mau mengurus nya kecuali saat Kate sedang menjalankan misi untuk mencuri.


"Apa kau mengirim Kate ke dalam bahaya lagi?" Jully merasa aneh karena Robert tidak kunjung menjawabnya. Dia yakin jika Kate saat ini tidak ada di rumah.


"Kau tenang saja. Kate pergi bukan untuk menjalankan misi. Tapi untuk bekerja."


Jully mengerutkan keningnya. Bekerja? Sejak kapan Robert mengijinkan Kate untuk bekerja? Dia merasa Robert sedang menyembunyikan sesuatu. Selama ini, setiap Kate ingin mencari pekerjaan di luar sana, Robert selalu melarang nya. Dia akan memberi tugas pada Kate untuk terus melatih kemampuannya dalam bela diri dan mempelajari tehnik baru untuk mencuri. Jadi terdengar aneh saat Robert berkata Kate sedang bekerja.


"Semalam dia pergi. Dia ingin berpamitan dengan mu tapi kau tidur begitu nyenyak. Makanya dia hanya menitipkan pesan padaku. Aku sudah melarang nya. Tapi aku pikir sebelum ada target baru lebih baik dia bekerja dulu." seru Robert.


"Bukankah kemarin kau bilang ada target baru? Kau sedang tidak membohongi ku kan?"


Robert gelagapan. Dia bingung harus menjawab apa. Memang benar kemarin dia mengatakan padanya jika ada target baru. Tapi semuanya gagal. Kate tertangkap dan sekarang dia tidak tahu bagaimana keadaan wanita itu. Apakah dia masih hidup atau sudah mati? Dan sekarang dia harus mencari alasan agar Jully tidak curiga. Setidaknya sampai dia tahu keadaan Kate.


"Misi di batalkan karena berlian itu tidak ada padanya. Dia membohongi publik dengan menyebarkan informasi jika dia memiliki berlian Heaven's Light untuk menarik keluar Kate. Makanya aku membatalkan misi itu."


Jully terdiam. Entah dia harus senang atau tidak. Tapi dia merasa jika Robert sedang membohongi nya. Jika benar apa yang di katakan Robert, tentu dia merasa senang karena Kate tidak masuk ke dalam jebakan targetnya. Tapi bagaimana jika itu hanya akal-akalan Robert saja. Dan kenapa Kate tidak memberitahu nya jika dia ingin bekerja?


"Makanlah!!! dan setelah itu kau harus istirahat. Sebelum Kate pergi dia berpesan pada ku untuk merawat mu. Jadi aku harap kau tidak membuat ku repot." Robert keluar dari kamar Jully. Jika dia terus berada di sana, bisa-bisa Jully bertanya terus dan lama-lama dia akan curiga. Lebih baik dia menghindar jika Jully bertanya soal Kate. Dan dia juga harus mencari alasan lain jika Jully kembali menanyakan Kate.


"Argh.. Kenapa semua jadi seperti ini? Aku tidak bisa diam saja. Aku harus mencari keberadaan Kate. Dia masih hidup atau sudah mati. Tapi aku berharap dia masih hidup sekarang." seru Robert.


****


Sementara itu, di istana megah milik Steven. Kate tiada henti mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah nya. Dia merasa jika Steven sengaja mengerjainya. Bagaimana tidak kesal, saat dia selesai membersihkan kamarnya, Steven menyuruhnya membersihkan kamar mandi dan menyiapkan air untuk mandi. Tapi setelah dia selesai mengerjakan nya, dia di buat murka dengan tempat tidur yang kembali berantakan.


"Kau terlalu lama membersihkan kamar mandi, sampai-sampai aku ketiduran karena menunggu mu."


Kate mendengus mendengar alasan yang tidak masuk akal yang keluar dari mulut Steven. Rasanya dia ingin menyumpal mulut pria itu menggunakan kaos kaki busuk dan menghancurkan aset berharga nya. Biar dia tahu rasa. Tapi sayangnya dia tidak berani melakukan nya karena Steven mengintai keluarga nya.

__ADS_1


Setelah selesai merapikan kembali tempat tidur Steven, Kate langsung pergi sebelum pria itu selesai mandi. Dia tidak mau nanti pria itu memintanya menyiapkan baju ataupun membantu nya berpakaian. Memikirkan hal itu saja sudah membuat nya merinding.


"Ah... Segarnya." Kate menikmati minuman dingin di dapur. Membersihkan kamar Steven membuatnya kehausan. Dia sangat lelah. Ini masih pagi, tapi dia sudah mendapatkan tugas yang begitu berat. Kate memang biasa membersihkan rumah selama Jully sakit. Tapi tidak selelah ini karena luas kamar Steven dua kali lipat dari rumahnya. Benar-benar luar biasa kaya.


"Sampai kapan aku harus menjadi budak manusia laknat itu? Huft.. Andai dia tidak mengincar Mommy, mungkin sekarang aku sudah merencanakan siasat untuk kabur." sebagai seorang pencuri profesional, tentu hal itu tidak akan sulit. Kate mempunyai seribu satu cara untuk kabur. Kecuali mereka menggunakan senjata untuk menangkap Kate. Mungkin dia bisa lolos tapi belum tentu nyawanya masih ada.


"Siapa kau?"


Kate mematung. Suara itu, suara yang dia kenal. James Alonso, Asisten pribadi Steven. Walau mereka hanya bertemu sekali, tapi Kate masih mengenal suara itu. Yah, mereka pernah bertemu saat Kate menyamar menjadi Bodyguard Steven. Dia bisa mendengar suara James saat berbicara dengan bos laknat nya itu. Kate memang mempunyai daya ingat yang bagus. Makanya dia bisa mengingat situasi saat dia pertama kali masuk ke rumah Steven.


"Kenapa kau tidak menjawab?" tanya James lagi.


Kate meletakkan gelasnya di meja. Dia memutar tubuhnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.


Deg


Kate mengerutkan keningnya. Jenny? apa baru saja James memanggilnya Jenny?


"Ak...


"Kau sudah datang, Jams."


Belum sempat Kate bicara, pria yang baru saja mendapat gelar mahluk laknat dari Kate, menuruni anak tangga dan berdiri di dekatnya.


"Iya Tuan." jawab James. Matanya tidak lepas dari wanita yang saat ini berdiri di dekat Steven.


Steven tahu apa yang ada di pikiran asistennya. Tapi melihat James menatap Kate seperti ini entah mengapa membuatnya tidak senang.


"Jaga matamu, James!!!"

__ADS_1


James tersadar dan menunduk. Dia hanya penasaran kenapa Nona Jenny memakai baju pelayan. Ah tidak!! jika di lihat lebih dalam, wanita itu terlihat berbeda dari Jennifer. Tapi.... Entahlah. Dia hanya ingin tahu dari mana Steven mendapatkan wanita itu. Apa Steven mulai gila dan mencari wanita yang mirip dengan mantan kekasihnya untuk di jadikan pelampiasan? semoga yang dia pikirkan tidak benar.


"Perlihatkan tanganmu!!" perintahnya pada Kate.


"Untuk apa?"


"Berani membantah?"


Kate mendengus dan mengulurkan tangannya. Steven memakaikan gelang di tangan Kate. Gelang yang indah. Apa Steven sedang melamarnya? Haha.. rasanya itu tidak mungkin.


"Apa itu?" tanya Kate.


"Kau tidak buta bukan?"


Kate menggeram kesal. Dia tahu jika itu gelang, tapi untuk apa Steven memberi nya gelang?


"Gelang ini sangat istimewa dan di desain khusus untuk menangkap tikus seperti mu." seru Steven yang mendapatkan pelototan dari Kate.


Steven terkekeh dan kembali berkata, "Gelang ini tidak bisa di lepas tanpa sidik jari ku dan di dalam gelang ini ada alat pelacak. Jadi kemanapun kau pergi, aku bisa menangkap mu lagi."


Kate menarik tangannya dari genggaman Steven. Dia mencoba melepas gelang di tangannya. Tapi bukannya terlepas, gelang itu justru membuat tangannya sakit.


Steven tersenyum sinis dan menarik tangan Kate. Dia menekan berlian berwarna perak dan gelang itu terbuka. Kate mengusap pergelangan nya yang sakit. Tapi lagi-lagi Steven menarik tangan nya dan memakaikan kembali gelang tersebut di tangannya.


"Aku tidak perlu repot mengawasi mu. Dengan benda ini di tangan mu, aku bisa tahu posisimu. Dan aku sarankan jangan mencoba menghancurkan gelang ini atau kau akan kehilangan nyawamu."


glek


Kehilangan nyawa hanya karena menghancurkan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya? Gila!! ini benar-benar gila. Apa dia akan menjadi budak pria laknat itu seumur hidup? argh.. memikirkan hal itu membuat Kate menggila. Baru sehari saja dia sudah begitu kesal. Apalagi jika berhari-hari, berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun. Seperti nya setelah ini dia harus membicarakan hal ini pada pria laknat itu. Sampai kapan dia di hukum seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2